Kolaborasi

2314 Kata
"Kata siapa?" Setelah membuka pintu kamarnya cepat-cepat, Aldo langsung menutupnya kembali. Langkah kakinya langsung bergerak cepat mengikuti Kezia yang keluar dari kamar sejak tadi tetapi belum juga sampai di anak tangga. Baru setelah langkah keduanya melaju sejajar, Aldo sengaja memperbaiki kerah kemejanya dan merapikan lengan jasnya, seolah baru saja lecet karena tersentuh Kezia. Tatapannya diangkuhkan seperti sedang memperlihatkan kewibawaannya, sampai untuk sekali itu Kezia hanya menaikkan satu alis kanannya. "Lo udah dapet blackcard, 'kan dari bokap gue?" Jadi waktu tiba-tiba saja Aldo mempertanyakan hal yang sudah jelas tadi, Kezia sontak melebih-lebihkan raut kemenangan di wajahnya. "Dan itu.. lo anggap satu langkah lebih maju daripada gue, ya 'kan?" "Of course." Kali ini Aldo memilih berhenti dari gerakan jalan mereka yang bersamaan, lalu tertawa kecil seolah sedang dijadikan balasan karena tadi ia yang ditertawakan. "Tapi lo mana tau.. gue justru ada di langkah satu yang lebih tinggi dari level lo." Kezia langsung berhenti di anak tangga pertama saat Aldo mengejutkannya dengan sebuah pernyataan yang perlu dipertanyakan. "Satu langkah yang lebih tinggi levelnya dari gue? Eh, lo nggak usah halu, Mukidi. Jelas-jelas gue yang yang udah melangkah lebih dulu daripada lo." Aldo memilih masih diam di tempatnya, dengan posisi kedua tangan dilipat di depan d**a. Sampai Kezia sendiri yang dihantui rasa penasaran yang dibuat sok disombongkan, karena malu harus direndahkan. "Sulastri. Denger ya, gue nggak akan ngomong lebih dari ini." Kezia menahan gejolak penasaran yang sudah ia kira akan segampang ia memamerkan blackcard pada suaminya itu tadi, ternyata jauh tidak seperti bayangannya, kalau Aldo justru tidak blak-blakan mengatakan langkah yang sudah diambilnya. "Ini bagian dari rencana." Aldo mempertegas kalimatnya dengan mendekatkan wajahnya pada Kezia agar istrinya bisa benar-benar memahami. "Bodoh kalau gue segampang itu bilang apa langkah pertama gue, karena bisa aja lo ngerusak semua itu." Kezia justru memilih menertawakan perkataan Aldo. "Kenapa? Kalo gue berusaha ngerusak, artinya lo takut kalah sama gue?" "Tentu aja, nggak." Aldo menegaskan kalimatnya lagi, kali ini jauh lebih lugas agar seseorang yang sedang diberinya pengertian bisa jauh benar-benar paham. "Gue nggak pernah takut sama semua ancaman yang lo omongin. Karena lo cuma bisa ngomong bukan gerak. Jadi, buat gue gue harus ngerasa takut sama semua ancaman lo cuma gara-gara gue ngungkapin apa langkah pertama gue." Kezia masih mengulang tertawaannya lebih jelas lagi. "Ya, terus kalo itu bukan takut namanya apa dong? Sok berani?" "Nggak kebalik, ya? Bukannya lo yang selama ini mendem dalem-dalem rasa takut lo, biar bisa kelihatan jadi seorang pengancam yang handal?" Jujur saja, Kezia tidak paham kemana arah pembicaraan Aldo kali ini. Dilihat dari bagaimana intonasi Aldo mempertegas setiap ucapannya, tidak satu pun Kezia lihat itu hanya pura-pura. Kezia sendiri sebenarnya tidak bodoh, tetapi entah langkah pertamanya yang memamerkan blackcard itu sudah sesuai rencananya atau justru bagian dari perusak semua rancangan rencananya. "Kenapa diem? Baru kepikiran kalau langkah pertama itu seharusnya nggak diomongin ke musuh?" Kezia buru-buru menolehkan wajahnya ke arah Aldo yang saat ini benar-benar membuat otaknya harus berpikir lebih dari biasanya. Entah karena memang seharusnya ia diam saja seperti kata Aldo, atau ucapan Aldo hanya untuk menakut-nakutinya karena pada dasarnya rencana itu bebas mau dipamerkan pada siapa saja, tergantung bagaimana si perencana memproges detail yang harus dilakukannya. "Sama sekali nggak. Gue puas bisa bilang itu ke lo, karena gue nggak takut apapun yang bakal terjadi setelah itu, dan apapun yang bakal lo lakuin buat ngerusaknya." Kezia juga melakukan hal yang sama, mempertegas kalimatnya, seolah sedang dijadikan balasan karena Aldo juga baru saja melakukannya. "Lo sama gue, punya progres dan rencana yang nggak sama. Lo nggak bilang apa langkah pertama lo, karena kemungkinan pertama lo takut dan kedua lo khawatir langkah pertama itu nggak akan berkembang sampe langkah kedua. Karena yang namanya takut dan khawatir itu wajar, kalo yang diambil adalah langkah besar. Langkah yang sekiranya bisa menjadi penentu kita bakal menang atau justru dikalahkan." "Gue bakal bilang apa langkah pertama gue ke lo, kalo lo mau kasih tau pengeluaran lo perbulan biasanya." Kezia mengangkat sudut bibir kanannya, lagi. "Nggak tertarik, sorry." Aldo menghela napas, sementara Kezia buru-buru menuruni anak tangga dan menghampiri kedua orang tua suaminya di meja makan. -Bab Selanjutnya- Kezia buru-buru memasuki mobil yang datang sebagai suruhan Papanya setelah berpamitan pada kedua mertuanya. Di dalamnya sudah ada satu supir yang siap mengantarnya pemotretan hari ini. "Kalo Kezia ada jadwal pemotretan hari ini, kenapa nggak kamu aja yang nganterin Al?" "Iya, kamu kan suaminya. Seharusnya kamu yang nganter Kezia langsung dong buat pemotretan, malah biarin istrinya pergi gitu aja sama temen-temennya." Aldo menghela napas dulu, baru menoleh ke arah Papa dan Mamanya setelah mobil Kezia keluar dari area rumahnya. "Ya, kan Papa sendiri yang suruh aku fokus kerja di kantor. Katanya aku udah berumah-tangga, harus bener-bener rajin masuk kerja biar bisa menghidupi istri aku." "Permasalahannya kan beda di sini, Aldo." Lana yang merespon kata-kata Aldo tanpa berpikir lama-lama. "Kezia jadwal penting loh, seharusnya aku temani dia. Lagian kamu juga nggak bilang dari kemarin-kemarin, kalau Kezia mau ada jadwal pemotretan." "Kezia juga baru bilang sama aku hari ini, Ma." "Tapi mau hari ini atau kemarin-kemarin, kalau kamu bilang ke Papa sama Mama buat ijin nggak masuk kerja karena menemani Kezia pemotretan, nggak mungkin lah Papa sama Mama nggak kasih ijin." Bertengkar sepele, lagi. "Ya, udah lah, Ma. Udah terlanjur juga." Aldo merespon lagi sebagai percakapan terakhir kali ini karena ia sendiri yang memilih buru-buru masuk ke dalam rumah sampai disusul kedua orang tuanya. *** "Hai, Kak!" Kak Yunus. Fotografer handal yang setiap Kezia ada jadwal, beliau lah yang diminta pihak perusahaan untuk memotret langsung. Model-model majalah yang cukup populer, dia lah yang ada di balik foto-foto keren itu. "Eh, Zia! Gimana kabarnya?" Baru saja selesai memotret model lain, Kak Yunus langsung memutar badan merangkul Kezia yang baru saja menyapanya. "Baik banget, Kak Yunus sendiri apa kabar?" "Baik juga dong, gimana kuliah kamu?" Kezia memilih duduk di bangku yang ada di belakang Kak Yunus sedang memotret modelnya sekarang. Sementara Hira dan Sasi juga ikut saja duduk di dua sisi kursi di mana Kezia duduk. "Ya, gitu biasa aja." Kezia merespon kurang semangat karena kenyataannya mungkin pertanyaan kurang diminatinya. "Kak Yunus mah kalo nanya, kebiasaan yang ditanyain soal kuliah. Kan aku yang bukan anak ambis, jadi minder." "Haha, iya deh maaf." Kak Yunus masih terus saling balas membalas perkataan sembari terus menjalankan kerja memotretnya. "Ngomong-ngomong kamu udah tau kalau hari ini kamu akan diminta collabs sama model lain." Kezia tidak tahu sama sekali, ia bahkan baru mendengar kabarnya hari ini dari Kak Yunus. "Model.. lain? Siapa Kak? Model asli majalah ini juga?" "Sama aja sih kaya kamu, model terpopuler di majalah ini. Cuma emang jadwal kalian berdua jarang.. bahkan kayak nggak pernah bareng deh." Kezia mendengarkan, tidak ingin menduga-duga siapapun yang dimaksud Kak Yunus. Namun entah kenapa rasa penasaran tiba-tiba bergejolak tidak bisa ditahannya. "Yang mana? Kok aku sama sekali nggak pernah liat dia ya?" Kak Yunus terus memotret modelnya dan melihat beberapa hasil fotonya lewat kamera sebentar saja sambil mengobrol dengan Kezia. "Ya, kan aku bilang emang nggak pernah satu jadwal sama kamu. Padahal kalo dari perkiraan aku, kalian masuk ke perusahaan ini nggak beda jauh sama dia. Kalau kamu udah dari sekitar dua sampai tiga tahun yang lalu, dia kayaknya masuk waktu kamu udah dua bulan jadi model di majalah ini." "Lama juga ya, berarti. Sekarang dia udah dateng?" "Belum kayaknya, masih di jalan mungkin." Kak Yunus masih terus berusaha membalas setiap pertanyaan Kezia yang kesannya begitu penasaran dengan seorang model yang akan melakukan pemotretan bersamanya hari ini. "Tapi masa iya, kamu nggak pernah tau. Foto dia itu yang selalu ada di halaman cover, sama kayak kamu." Hira dan Sasi hanya mendengarkan setiap detail percakapan Kezia dan Kak Yunus, sampai salah atau dari mereka alias Hira menemukan setumpuk majalah bermerek perusahaan ini di bawah meja. "Nggak pernah tau sih kayaknya Kak, lagian pihak majalah juga mendadak ngasih taunya. Aku juga nggak dikasih tau dulu lagi kalo mau ada collabs buat aku hari ini." "Zi.. ini bukan, si?" Hira memperlihatkan Majalah Billone yang diambilnya dan yang di covernya terdapat foto model lain yang bukan Kezia. "Yang mana?" Kezia melihatnya, sosok gadis cantik dengan konsep yang ditampilkan kebanyakan terkesan seksi. Hira menatap wajahnya, tidak ada ekspresi apapun selain diam saja yang entah membatin apa. "Yang mana sih, Ra? Buat gue kepo aja lo." "Nih! Yang ini." Hira mengganti posisi majalah yang dipegangnya dari didekatkan ke arah Kezia jadi ke arah Sasi. "Kalau sepenglihatan mata gue sendiri nih, konsep Mbaknya itu kesannya seksi-seksi nggak sih?" "Eh, tapi ini kayak gue pernah liat langsung deh Mbaknya." Kezia yang mendengarnya, langsung mendekatkan wajahnya pada Sasi yang baru saja mengatakan kalau pernah melihat sosok model di cover Majalah Billone yang satu ini. "Yang bener lo, di mana?" "Seinget gue, di kampus." "Di kampus?" *** "Taksi mana sih, ini?" Rere baru saja keluar dari apartemennya. Baru saja selesai mandi, selesai ganti baju, selesai mengeringkan rambut, selesai make up dan baru juga selesai mencari heels berkilau yang sejak tadi mengajaknya ribut karena ternyata nyelip di bawah ranjang. "Gila masih jam segini, panas juga." Rere terus mengeluh karena kesiangan bangun dan harus panas-panasan menunggu taksi yang lewatnya belum tentu ada. Padahal harusnya hari ini ia harus buru-buru ke lokasi kerja. Kekesalan Rere terus memuncak kalau saja mobil mewah Aldo tidak tiba-tiba melaju dari tepi jalan ke arah tempat parkir lokasi apartemennya. Matanya langsung berbinar begitu pengendara mobil membuka kaca sebelah kanan mobil itu dan berhenti. "Sayang.. udah kangen ya, sama aku? Sampe seneng banget gitu aku dateng." Rere tidak membalas apapun, yang ia lakukan sekarang hanyalah buru-buru memasuki mobil Aldo dan memasang safetybelt ke badannya. Baru setelah tatapan Aldo jatuh pada raut cemasnya, ia juga baru mengangkat wajah sedikit lebih tenang dari sebelumnya. "Hari ini aku ada pemotretan, tapi cari taksi nggak ada yang lewat-lewat juga dari tadi." Itu masih sebagian dari cerita Rere yang tidak ingin dipanjang-panjangkan. "Ini karena aku bangun kesiangan juga kali, jadi semua serba buru-buru sampe kayaknya aku telat nanti nyampe sana." "Jakarta Timur. Udah, kamu buruan anterin aku ke sana, please!" "Iya, iya. Tapi kamu sambil terus cerita, ya?" Aldo melajukan mobilnya, mungkin ada gangguan pada fungsi telinganya atau kurangnya konsentrasi dirinya. Karena sejak dari awal Rere bercerita, Aldo sama sekali tidak muncul pertanyaan apa-apa di benaknya bukan karena apa-apa tetapi karena memang niatnya hanya mengantar si pacar bekerja. "Untung aja kamu dateng, jadi kemungkinan telat aku yang udah kelewatan batas, agak berkurang walaupun aku yakin sih, aku berangkat sama kamu sekarang tetep bakal telat." "Ya, tapi maaf aku nggak bisa tepat waktu juga." "Nggak papa, sayang." Rere membelai rambut cepak pacarnya dengan segala rasa nyaman yang ada. "Kamu udah punya feeling bisa akhirnya tiba-tiba dateng ke sini aja, aku bersyukur banget. Makasih ya, udah mau jadi andalan aku." "Sama-sama." "Ngomong-ngomong, hari ini aku pemotretannya collabs lo." "Oh ya, sama siapa?" Rere segera menggeleng, yang ia tahu dari pengabaran Yunus adalah hari ini ia collabs dengan salah satu model yang juga cukup populer di kalangan pecinta Majalah Billone. Padahal setahu Rere sendiri, hanya ia yang sampai saat ini menjadi kandidat utama sebagai cover majalah terlaris antara para model Majalah Billone. Ternyata satu model lain ada juga yang berposisi sama dengannya atau bahkan lebih tinggi darinya. "Kurang tahu sih, fotografer aku nggak bilang soalnya." "Cantik nggak?" Rere menautkan alis, cowoknya kalau masalah perempuan memang selalu terdepan. "Apa kamu bilang?" "Nggak, kamu cantik." Rere tertawa kecil, sama sekali tidak percaya. "Bohong banget. Aku denger tadi kamu ngomong apa." "Ngomong apa emang?" "Cantik nggak?" Rere mempraktikkan ulang bagaimana Aldo menanyakan perempuan yang akan menjadi teman collabs pemotretannya hari ini. "Telinga aku masih berfungsi normal sayang, aku nggak b***k. Jadi aku denger jelas apa yang kamu bilang." Aldo justru menertawakan Rere yang sok-sokan kesal karena ia bertanya tentang perempuan. "Ya kalo denger, ngapain tadi nanya supaya aku ngulang?" "Ngetes aja, kamu mau ngulang lebih jelas apa nggak." "Dih, nggak kok, Sayang." Kalau seperti ini urusannya, mau tidak mau Rere pasti sudah meleleh. "Pasti masih cantikan kamu, kamu kan cewek paling cantik di hati aku." "Masa sih? Cewek kamu kan banyak, nggak cuma aku." "Tapi kamu yang nomer satu." "Sejak kapan? Semua cewek kamu, pasti kamu bilang ada di nomer satu juga di hati kamu. Iya, 'kan? Ketebak banget tau." *** "Yang bener aja lo, mana iya sih dia anak kampus kita." Sasi berusaha mengingat, karena kadang-kadang memorinya bisa bekerja dengan baik, kadang-kadang juga tidak. Karena dari sebanyak kejadian yang selama sebulan terakhir terjadi, kemungkinan hanya beberapa saja yang mampu Sasi ingat dalam jangka waktu cukup panjang. Seperti trendingnya rumor pernikahan anak CEO dan nomor telepon rumahnya kalau sewaktu-waktu lupa membawa handphone dan hanya ada telepon umum waktu ia di luar. "Mahasiswa apaan, gaya seksi bener kayak gini. Fiks, dandanan dia bakal kena sanksi bolak-balik sih kalo—" "—Kan masih kalo itu Ra, lagian ini kan konsep pemotretan majalahnya, bukan buat outfit sehari-hari. Gimana sih lo?" Hira dan Kezia memulai sedikit keributan kecil sembari menunggu Sasi memutar otaknya untuk mengingat siapa perempuan yang ada di majalah ini. "Eh, gue baru inget." "Apaan?" Dan pertanyaan singkat itu langsung muncul bersamaan oleh Kezia dan Hira yang sama-sama sudah penasaran tingkat tidak waras. "Dia emang bukan anak kampus kita, seinget gue." Sasi perlahan mulai menjelaskan. "Karena dia adalah pacar dari salah satu mahasiswa di kampus kita —Aldo!" "What?! Aldo?" "Aldo?!" Sasi masih belum memastikan ingatannya benar, bisa saja masih salah karena otaknya diputar terpaksa. "Eh, bukan. Maksud gue, gue nggak tau jelas dia pacarnya Aldo atau bukan. Tapi seinget gue, ini cewek adalah cewek yang sama, sama yang pernah mau gue ceritain ke kalian." "Cerita yang mana?" tanya Hira. "Yang waktu itu gue baru aja balik dari ngantri minuman boba di kantin. Yang gue bilang, penampilannya modis banget." Hira langsung mengerti, ia jadi ingat kalau saat itu ia dan Kezia menolak mentah-mentah cerita Sasi karena mungkin prediksinya akan membosankan saja. "Iya, iya gue juga inget." "Herannya kenapa gue nggak pernah ketemu sama dia, ya? Padahal jelas-jelas kita berada di perusahaan majalah yang sama." Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN