Satu Langkah

1118 Kata
Kezia belum menang. Bahkan belum berada di titik di mana rencana mulai dijalankan. Selama lebih dari tiga minggu Kezia hidup bersama suami dan kedua mertuanya, tidak pernah dirasanya bosan atau bahkan sama sekali tidak betah. Tante Lana baik, jauh seperti bagaimana bayangan Kezia tentang sosok mertua galak. Om Algo juga ramah, benar-benar figure seorang Papa yang baik untuk anaknya dan sekarang bertambah untuk menantunya. Aldo sendiri, tidak perlu didefinisikan terlalu mendetail, karena pendapat Kezia tentang laki-laki itu masih tetap sama setidaknya untuk sekarang. Sama-sama playboy nomor satu mau di SMA Bakti Nusa atau Universitas Trisakti. "Gimana?" Sebuah pertanyaan muncul membuat kedua orang tuanya, mertuanya dan Aldo ikut mengangkat kepala mereka. Kezia sendiri masih membeku selama pikirannya belum benar-benar jernih mengenai langkah selanjutnya yang harus ia ambil. Ralat, Langkah pertama. "Gimana apanya, Pa?" "Ya, kamu sama Aldo." Pandu langsung menjawab segampang membalikkan telapak tangan seolah tidak sedang ada beban apa-apa yang ditanggung putrinya. "Gimana kalian?" Aldo langsung tersentak mendengar pertanyaan intens semacam ini kembali harus didengarnya. "Kalian apaan sih, Om." "Loh.. kok Om? Papa Aldo, sekarang kamu sudah jadi menantu Papa. Kamu adalah suaminya Kezia." "Ee.. iya, maksudnya Pa." Jawaban Aldo itu singkat. Namun undangan tawanya benar-benar menyebar sampai satu meja makan dibuat tertawa puas-puas. Setidaknya Aldo dan Kezia sama sekali tidak ikut-ikutan. "Pa, jangan nanya gitu lah." Mecca menyiku lengan suaminya yang kali ini benar-benar intens menanyakan tentang bagaimana Putri dan menantunya menjalani pernikahan ini. "Kasihan Aldo sama Kezianya yang sampe keringetan tuh, mau jawabnya." Dan sekali lagi, tertawaan untuk mereka berdua terdengar memenuhi ruangan VIP restoran ini malam ini. Tidak ada yang bisa Kezia katakan lebih dari hanya jawaban-jawaban ringan dan singkat ketika Papa dan Mamanya menanyakan hal-hal apa saja yang terjadi selama pernikahannya dengan Aldo terjalin. Kalau dari kebiasaan masa sebelum menikah, Kezia itu selalu menomorsatukan bercerita pada Papanya. Namun untuk sekarang, rasanya sudah benar-benar gila dirinya jika membiarkan mulutnya lemes jujur tentang segalanya. "Tapi Papa beneran penasaran gimana sih, first impression kamu ketika mendadak harus nikah sama Aldo dan.. akhirnya kalian menjalani pernikahan ini sudah sampai sejauh ini." Pandu mengelus rambut panjang putrinya dibarengi perasaan sayang yang sekiranya sama sekali tidak berkurang. "Jujur aja, Papa penasaran. Apa salah satu dari kalian ada yang mau cerita?" Aldo dan Kezia sama-sama saling mengarahkan pandangan mata bawah. Berharap otak mereka bisa saling bekerja sama menemukan alasan terkuat dan cerita terngasal dengan potensi bisa dipercaya sangat besar. "Nggak ada yang mau jawab?" "Aku bahagia, Pa." Jadi segampang itu lah Kezia mengungkapkan hal asal katanya, padahal sejauh ini ia tidak pernah merasa tidak bahagia berada dalam lingkup Keluarga Raharja. "Om Algo sama Tante Lana, baik banget sama aku. Mereka bisa jadi orang tua buat aku, mereka benar-benar berusaha menempatkan diri mereka supaya aku ngerasa ada Mama sama Papa di Keluarga Raharja. Maaf ya Pa, aku jadi harus ngerasa sayang juga sama Tante Lana dan Om Algo." Pandu tersenyum mendengar bagaimana putrinya menceritakan apa yang dirasa saat hidup di Keluarga Raharja. "It's okay, sayang. Of course kamu boleh, bahkan sangat boleh kalau kamu mulai merasa sayang sama mertua kamu. Tapi yang Papa sayangkan, kenapa manggil Om Algo sama Tante Lana bukan Papa dan Mama?" Kezia diam tidak berani menjawab. Selanjutnya ia hanya mendengar Papanya sedang memberinya nasehat tentang bagaimana seharusnya memanggil mertua dengan baik. "Mungkin Kezia masih belum terbiasa." Itu kata Lana, sosok Mama yang super sabar dan kalem. "Iya Mas Pandu, Kezia itu anaknya baik. Dia benar-benar bisa menunjukkan kalau dia adalah menantu yang pantas untuk bisa dianggap anak sendiri." Algo juga mulai ikut berkomentar. "Saya sendiri kagum sama Kezia, dia mampu—" Dan begitu saja tiba-tiba tangan Aldo ditumpukan di atas punggung tangan Kezia. "—Jadi istri yang baik buat aku." Setidaknya begitu lah respon Aldo yang buru-buru memotong kalimat Papanya. "Ya.. walaupun kadang suka marah-marah nggak jelas." "Dih, mujinya kok gitu?" Kezia langsung kesal saat Aldo bukannya memuji, justru seolah mengejek. "Iya, dengerin dulu sayang." Aldo langsung berusaha meredamkan kekesalan istrinya dengan merangkul pundak si doi. "Itu kan aku bilangnya walaupun, jadi masih ada baiknya. Maksud aku itu.. walaupun kamu kadang suka marah-marah nggak jelas, tetep aja aku sayang. Tetep aja, kamu istri yang terbaik buat aku. Soalnya kalo marah-marah, itu emang karena aku sendiri yang bandel dibilangin, maaf ya." Kezia menghela napas yang sebenarnya kesal, kini berubah agak sedikit risih dengan kepura-puraan yang Aldo sedang langsungkan. "Om, maaf ya Putrinya aku buat marah-marah cuma karena aku bandel." "Hah.. apa?" "Eh —maksud aku, Pa." Dan begitu lah sampai beberapa suara tawaan terdengar lagi setelah Aldo mengakhiri kalimatnya. *** Kalau untuk hari ini, Kezia harusnya pergi ke kantor bersama Aldo. Namun ia lebih memilih pergi ke lokasi pemotretan di daerah Jakarta Timur ditemani kedua temannya, seperti biasanya. "Fine. Kalau gitu nggak harus repot ngurusin makan siang lo, yang selalu ngerepotin." Kezia tidak merespon apa-apa, kecuali kekesalan yang dipendam dalam-dalam. Tidak ada kata yang muncul, karena itu hanya buang-buang waktu. "Tapi walaupun lo nggak ikut ke kantor, seenggaknya lo bilang ke Papa sama Mama, biar mereka nggak nanya-nanya ke gue." Kezia masih diam saja. "Kan repot jadinya kalau, mereka nanya-nanya istri kamu kemana? Kenapa nggak diajak? Diajak dong Al, biar dia nggak bosen di rumah, dan blablabla.." Sampai saat ini, Kezia tetap diam saja. Seolah sekarang jiwa cerewet Kezia sudah merasuk jauh dalam tubuh Aldo menjadikan mereka berkepribadian terbalik. Kezia bahkan sampai heran pada suaminya, bisa-bisanya sekarang jauh lebih banyak omong daripada sok kegantengan memuji-muji ke-playboy-annya. "Iya, iya bawel." Kezia masih membenarkan bulu matanya yang terlihat belum lentik sempurna. "Jadi bawel banget, bukannya buru-buru berangkat kerja, malah sok-sokan nasehatin gue." "Biar lo nggak lupa Sumiati." "Gue nggak bakal lupa, Jainudin." "Ya udah." "Dih, ya udah." Aldo segera merapikan jasnya sebelum berniat keluar kamar dan tiba-tiba sebuah tangan menarik lengan jasnya. Sangat begitu jelas itu ulah Kezia. "Apaan lagi, sih?" Jujur, Aldo tidak ada niat sama sekali untuk bertanya setelah dibilang bawel di awalnya. Jadi ia hanya menoleh ke arah Kezia dengan wajah yang kurang lebih hanya datar. Kezia masih diam, sampai perlahan mengangkat ujung bibir kanannya dengan seluruh sikap sombong yang ia punya. Semua itu diikuti dengan gerakan tangannya yang mengambil sebuah kartu berwarna hitam dari dompetnya, dan seketika itu ia tertawa licik. Mata Aldo benar-benar menunjukkan keterkejutan saat melihat benda bernilai itu dipegang oleh Kezia. "Nggak usah kaget gitu dong liatnya, ini blackcard yang dikasih bokap lo. Bukan seluruh aset harta yang keluarga lo punya." Kezia mengatakan itu sembari menurunkan benda yang menjadi kesombongannya kali ini. "Lo masih punya kesempatan kok buat bergerak, tapi sorry, gue udah satu langkah lebih dulu." Sulit mendefinisikan bagaimana Aldo merasa dikalahkan saat ini. Bahkan ketika Kezia buru-buru pergi meninggalkan kamar dan menutup pintunya, Aldo masih diam saja di tempatnya. Seolah ia hanya akan membiarkan Kezia menertawakan kebodohan dalam melangkahnya. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN