"Makasih karena kemarin kamu sudah mau datang ke acara Papa sama rekan-rekan Papa, Papa senang sekali kamu ada di sana."
Mahesa menaikkan ujung kanan bibirnya. "Sama-sama, Pa."
Jujur saja, Mahesa masih syok karena Papanya kemarin benar-benar tulus membanggakannya. Selama ia kenal pria paruh baya ini kurang lebih seusianya sekarang, tidak pernah ia tahu ternyata Papanya bisa terlihat setulus tadi malam. Mahesa tahu, sangat tahu bahkan, kalau semua orang tidak selalu diselimuti dengan satu sisi, melainkan mereka memiliki dua sisi yang berlawanan.
Mahesa tidak mau bagian mana pun, yang bisa disebutnya sangat menyebalkan dari Papa. Mahesa hanya bisa melihat bagaimana Papanya adalah sosok yang hebat, yang mampu membuat kehidupannya terbelah menjadi dua atau bahkan harus kehilangan satu bagiannya tetapi bisa dengan sangat mudah disempurnakan karena keadaan. Mahesa sendiri yang pernah bilang, dunia punya kontrol buat bikin manusia tidak seenak mereka melakukan apa yang mereka mau. Namun Mahesa tidak pernah bilang, kalau dunia adalah pencipta sebuah kekacauan.
"Hari ini kamu nggak ada jadwal ke kampus?"
"Nggak ada Tante, hari ini free."
Namanya Gressia Aira. Wanita dewasa dengan make up cukup tebal yang duduk di sebelahnya tiba-tiba menaikkan tangan dan mengelus rambut Mahesa. "Nggak mau ikut Papa kamu aja ke kantor? Sekalian belajar kerja di kantor, kan nanti kamu juga yang jadi pewaris tunggal Papa kamu."
"Bener, Hesa." Hendriawan membenarkan saran dari istrinya. Ia sendiri juga berharap putra tunggalnya mau ikut bekerja bersamanya di kantor. "Hampir tiga tahun sejak kamu berusia cukup, Papa masih terus menunggu kapan kamu akan mau ikut Papa kerja di kantor Papa. Jadi, apakah sekarang waktunya?"
Mahesa belum siap. Sama sekali belum siap untuk menerima kenyataan walau di kantor yang super besar itu tidak ada lagi saham atas nama Mamanya. Sama sekali belum siap kalau di sana ia akan menjadi pewaris Papanya yang pada kenyataannya ia akan dianggap bahagia dengan segalanya yang serba ada. Sama sekali belum siap.. kalau pada akhirnya ia hanya akan hidup dengan Papanya. Hanya dengan Papa bersama istri mudanya.
"Ee.. nggak deh Pa, nanti aku mau ngejarin tugas yang kemarin belum selesai. Rekap rencana kegiatan semester untuk Minggu depan, juga belum aku selesaiin, Pa." Mahesa sebenarnya berat harus menatap wajah kecewa Papanya yang mau tidak mau hanya mengangguk-angguk terima. "Maaf aku masih belum bisa ikut."
"Belum bisa atau belum siap sebenarnya?"
"Tante apaan sih, belum bisa."
Hendriawan masih terus mengembangkan senyum ke arah istri dan anaknya. Melihat mereka berdua bisa sedekat dan seakrab ini, seolah dunianya sedang mengalami proses kebahagiaan yang luar biasa.
"Kalau memang belum siap, ya jujur aja Mahesa. Papa kamu akan selalu nunggu kamu siap kok, karena kamu adalah putra tunggalnya. Iya, 'kan Mas?"
"Iya, Mahesa. Papa masih berharap, kamu memiliki waktu untuk belajar bekerja di kantor Papa."
Mahesa buru-buru menyelesaikan dalam memakan sarapannya. Harapan kecilnya untuk sekarang, tidak ditanya-tanyai lagi mengenai apapun yang bersangkutan dengan bisnis atau Mama. Karena ia sendiri belum siap menerima, kalau Mama sudah pergi selama-lamanya. Selama yang ia kira hanya sebentar, ternyata sangat lama tidak kira-kira. Ia yang dari awal terpaksa menerima anggota keluarga baru sampai sekarang terbiasa bagaimana rasanya hidup bersama orang yang sebenarnya tidak pernah ia sangka hadir di hidupnya.
"Maaf Pa, Tante. Aku mau ke kamar dulu, ngambil jaket, laptop sama hp." Mahesa buru-buru mengungkapkan apa yang sejak tadi ingin ia keluarkan dari mulutnya. "Rencana aku mau ngerjain tugas sama rekapan rencana kegiatan semester di kafe biasa aku ke sana."
Dan ketika Mahesa sendiri yang mengatakan akan ke kafe, otaknya langsung mengingat sendiri kejadian di toko buku kemarin. Tentang bagaimana ia yang berbicara sejujur-jujurnya di depan kebanyakan orang, seolah Mamanya tidak pernah mengajarinya sebuah tata krama.
***
Yang Mama bilang, adalah yang Aldo lakukan. Jadi mau semarah apapun Kezia sekarang, Aldo hanya akan berpikir itu disebabkan hormon. Aldo sengaja membelikan makanan satu kantong kresek merah kemarin, adalah agar Kezia memakannya sampai habis dan melupakan semua masalah yang membuat istrinya itu lelah seharian. Sayangnya ada yang Aldo sedikit lupakan, kalau makan camilan sembarangan apalagi sebanyak itu.. bukan Kezia banget. Aldo baru teringat, kalau yang ia kasih cemilan sebanyak untuk satu RT itu adalah seorang model.
Iya, bodoh memang. Aldo sendiri mengakui itu. Karena dari yang keseringan Aldo lihat, Kezia sama sekali belum tidak terlihat seperti model. Aldo hanya bisa melihat Kezia adalah seorang gadis cerewet yang badannya super cungkring dan kelakuan sangat manja.
Yang Aldo lihat sekarang, adalah Kezia yang sesungguhnya. Kezia yang biasanya ngamuk-ngamuk waktu kamar mandi digunakannya duluan, parfum milik Kezia sebotol yang habis karena ia gunakan, dan beberapa hal lain yang bisa dibilang sepele tetapi selalu dibesar-besarkan.
Gadis yang saat ini mendominasi isi pikiran Aldo masih diam di sofa ruangan direktur ini. Melakukan hal klise, seperti scrol media sosial, bolak-balik mengecek gelembung chat dari seseorang dan mungkin juga sedang menunggu jam makan siang tiba walaupun.. jelas masih lama.
Aldo ingin bertanya, apakah si oknum gadis ini lapar atau butuh sesuatu. Namun rasa gengsinya kelewat batas maksimum, takut-takut bukannya Kezia memberikan jawaban atas pertanyaannya, ia malah kena semprot karena katanya sok ikut campur dan tidak pernah tulus.
"Nggak usah nanya-nanya."
"Tau daripada lo gue mau nanya sesuatu sama lo?"
"Muka kaku lo kebaca banget, kenapa? Takut salah lagi?" Kezia akhirnya justru bertanya. "Udah tobat lo, baru aja gue maki-maki. Ternyata lo bisa gampang juga disadarin sama amarah yang gue buat-buat, haha."
Aldo menganga saat mendengar pengakuan Kezia. "Apa? Maksud lo.. lo nggak seriusan marah gitu?"
"Enggak.. gue cuma iseng aja sok-sokan marah sama lo. Pengen tau, gimana sih respon lo kalau gue marah-marah?"
Jujur, Aldo benci dipermainkan, walaupun pada kenyataannya ia sudah mempermainkan. "Jadi lo teriak kenceng-kenceng dari tadi, itu apaan?"
Kezia tertawa lebih dulu. "Prank."
"Prank?!"
"Selamat Bapak Aldo Pangeran Raharja, anda berhasil kena prank."
Aldo memiringkan kepala, bersiap keluar dari posisinya di meja direktur menuju di mana Kezia duduk dan menertawakan kepolosannya waktu baru saja di-prank. "Awas lo, Zi."
Kezia merasakan jantungnya berdegup lebih kencang saat Aldo tiba-tiba berjalan ke arahnya. "Eh eh, mau ngapain lo? Jangan macem-macem!"
Justru karena Kezia bilang jangan macem-macem, hasrat Aldo untuk memberikan istrinya itu pelajaran semakin kuat. Jadi saat jemarinya sampai di area perut Kezia, langsung saja digunakannya untuk menggelitiki pemilik perut tanpa ampun, setidaknya untuk saat ini.
"Haha, haha." Kezia langsung bergerak lepas saat Aldo menggelitiknya. "Aldo, jangan main gelitikan gini, haha. Aldo!"
"Siapa suruh lo main prank-prank segala, ha?"
Kezia masih tertawa terbahak-bahak dan bergerak-gerak banyak karena Aldo benar-benar serius menggelitikinya. Setidaknya sampai rasa kram di perutnya terasa amat sakit ditambah gelitikan Aldo yang belum berhenti.
"Aldo, stop! Perut gue kram!" Permintaan pertama Kezia sama sekali tidak direspon. "Aldo, please stop! Perut gue beneran kram dan sakit banget."
Sampai di permintaan kedua, baru Aldo menghentikan tangannya yang menggelitik kuat perut Kezia. Mata Aldo difokuskan pada gerakan Kezia yang persis seperti bagaimana Mamanya mempraktikkan seorang gadis yang mengalami haid dan perut kram sampai sakit dirasa.
"Zi.. perut lo beneran kram?"
"Banyak bacot banget sih lo, iya lah." Kezia langsung mengeluarkan kalimat-kalimat kesalnya. "Lo kalo nggak ngerti diem aja, gue mau keluar—"
Aldo ternyata menahan Kezia untuk berdiri bahkan meninggalkan ruangan ini dalam keadaan perut yang kram dan sakit. "—Udah biar gue aja yang keluar. Lo mau apa?"
"Emang menurut lo.. gue mau apa?"
"Ya.. gue.. gue, nggak tau."
"Sok tau sih, makanya nanya dulu."
"Ya.. ya udah lo maunya apa?"
Kezia masih terus menahan kram di perutnya yang semakin menjadi-jadi, tetapi jujur Aldo sendiri tidak bisa mendefinisikan atau menggambarkan bagaimana rasanya.
"Apel sama s**u rendah kalori, cepetan."
"Di kantor mana ada stok makanan kayak gitu?"
"Ya lo keluar lah, cari di luar." Kezia mengatakan apa yang harus suaminya lakukan. "Di minimarket kek, mana kek yang penting dapet apa yang gue mau. Lagian tadi siapa yang sok-sokan nahan gue keluar dan mau keluar cariin yang gue mau? Lo sendiri, 'kan?"
"Ya, iya " Aldo baru saja kalau yang ia hadapi adalah Kezia. Putri bungsu Keluarga Mauran yang terkenal ngeyelan dan manja, jadi mustahil untuk menang di tengah sebuah permintaan jebakan. "Tapi gue pikir lo mau teh anget, atau nggak makanan buat makan siang gitu."
"Ya lo pikir pesenan gue itu buat apaan?" Kezia mempertanyakan hal konyol, setidaknya untuk dibicarakan saat ini. "Buat ngasih makan ayam?"
"Ya, nggak gitu juga." Aldo masih belum juga berangkat, padahal Kezia sudah menahan emosinya dalam dan kuat-kuat. Tahu begitu, Kezia mungkin tidak akan mau disuruh hanya duduk dan semua yang ia mau akan dituruti.
"Ya udah kalau gitu cepetan sana beliin pesenan gue!" Kezia masih terus mengungkapkan kalimat-kalimat kesal padahal rasa kram perutnya seperti sudah di ujung tanduk. "Lo mau gue mati konyol karena telat makan siang dan perut kram doang, ha? Atau karena ini emang bagian dari rencana lo buat ngalahin gue?"
"Lo ngomong apaan sih, iya, iya ini dibeliin."
***
Sejauh ini, tidak ada satu orang pun yang tahu kalau Hira menyimpan sebuah rahasia besar. Masih tentang dirinya sendiri, alias love secret.
Hubungan ini ia jalani belum lama, masih sekitar satu bulanan kurang dua hari kalau hari ini masih terjalin. Karena kebanyakan love secret atau virtual boyfriend tidak bertahan lama karena banyak sekali bakteri yang menjadi penyebab penguraiannya.
Kalau disebut pacaran sebenarnya belum, karena Hira belum pernah tahu rasanya ditembak seorang cowok apalagi yang ia sukai. Sebahagia yang bagaimana, kebanyakan cewek-cewek menunggu-nunggu gebetan mereka menebak dengan cara yang super romantis.
Sayangnya kalau kisah awalnya seperti hubungan Hira dan love secret-nya, boro-boro berharap ditembak super romantis, bisa saling mengabari setiap hari saja sudah lebih dari cukup. Karena mengingat ya.. berpacaran secara rahasia itu tidaklah mudah.
Hira masih akan terus chat dengan crush-nya, jika sebuah dering telepon dari handphone-nya tidak tiba-tiba berbunyi.
"Kak Mahesa.. mau ngapain dia?"
Dan setelah sedikit terheran seseorang itu memanggil nomornya setelah sekian tahun kenal, Hira baru mengangkatnya saat ini.
"Halo.. ada apa Kak?"
"Hari ini saya ada di sebuah kafe, kamu bisa datang ke sini bantuin saya?"
Hira langsung heran ketika sebuah pernyataan konyol diajukan. "Bantuin Kak.. bantuin ngapain? Saya nggak bisa apa-apa."
"Bantuin mudah, kalau kamu mau. Saya akan tunggu di kafe yang saya datangi sekarang, alamatnya nanti saya chat setelah kamu bilang mau."
"Ya.. tapi kan, bantuin apaan dulu gitu. Biar aku juga tau gimana gambarannya supaya bisa bantu Kak Mahesa."
"Eh, maaf nggak jadi."
"Dih?"
Hira rasa Mahesa hanya salah sambung. Yang seharusnya menghubungi perangkat-perangkat penting di kampus, tetapi tiba-tiba nyasar meneleponnya dengan akhir yang tidak jelas, sama sekali. Haha, konyol.
[Aku mau kita ketemuan, aku berani jamin anak-anak nggak ada yang tau.]
Dan seketika pikiran Hira langsung sumringah kedapatan diajak keluar oleh seseorang yang dianggapnya special selama ini. Harapannya, tidak akan ada anak-anak yang tahu tentang hubungannya dengan si doi sampai waktu sendiri yang mengungkapkannya.
[Ok, chat aja alamatnya dimana. Aku mau siap-siap dulu.]
Jadi begitu Hira mengetikkan balasan chat terakhir di gelembung paling bawah obrolannya dengan si doi, ia langsung saja membuka lemari dan memilih baju yang pas untuk melakukan pertemuan hari ini. Walaupun di hari-hari biasanya juga, ia bisa bertemu, tetapi sekarang kesannya harus dibuat benar-benar beda.
Bersambung.