"Thanks Yo!"
Aldo mengelapi keseluruhan bagian wajah dan lehernya atau yang lain yang sekiranya berkeringat karena seusai latihan basket. Pandangan matanya saat ini masih mengarah lurus-lurus ke arah gadis berambut coklat yang keluar dari area olahraga kampus ini.
Sergio senyum-senyum waktu Aldo berterimakasih padanya. Sementara yang lain masih dalam tahap mengulang-ulang latihan bersama coach. Hanya mereka berdua yang kini berada di sisi tepi lapangan basket.
"Tapi gimana bisa sih lo kenal dia, dan segampang itu buat dia suka sama gue."
Sergio menertawakan ucapan Aldo lebih dulu, sebelum akhirnya meminum sebotol air dalam tumbler miliknya. "Kalo masalah kenal, dia itu langganan salon nyokap. Bukan gampang lagi kalo masalah buat cewek suka sama lo, gue nggak promosi apa-apa. Kebetulan aja waktu dia scrol i********:, gue liat dia kepoin akun lo. Dan gue nanya, tau Aldo ya?"
Aldo mendengarkan sambil memainkan rambutnya yang basah. Sementara Galih dan Fajri baru mengelapi beberapa bagian tubuh mereka yang terkena keringat dan baru akan membuka tutup botol minuman masing-masing milik mereka, lalu langsung meminumnya.
"Dari situ.. ya gue jujur dong, kalo lo temen gue. Jadi dia tambah kepo, sampe minta bantuan buat bisa ketemuan sama lo."
Aldo manggut-manggut mendengar bagaimana ceritanya Sergio mempertemukannya dengan Nidya, gadis berambut coklat yang juga sempat ditemuinya di kafe waktu itu. Sayangnya, waktu itu si gadis bersama pacarnya, ya auto mundur alon-alon.
"Tapi waktu di kafe, epic banget sumpah." Fajri tiba-tiba ikut berkomentar. "Waktu si Aldo sok-sok da-da da-da, ternyata ada cowoknya di belakang. Ya auto menciut nyalinya, haha."
"Bacot lo."
Galih yang hanya mendengarkan, akhirnya juga ingin ikut nimbrung dalam topik yang sedang dibahas. "Walaupun sebenarnya niat Nidya emang nyapa lo, kenyataannya dia diikutin sama cowoknya. Sedih bro dengernya, playboy angkatan kita di-prank sama sama satu cewek."
"Haha, lucu ya? Cewek gue banyak, di-prank sama satu cewek aja, nggak kerasa."
***
"Kamu itu nggak lebih dari anak manja yang obsesinya selalu over dan harus selalu bisa kamu dapatkan. Kamu cuma berpikir, semua yang kamu mau harus terjadi."
Satu kalimat itu, hampir membuat Kezia hancur dalam satu kali detik awal diucapkan.
"Padahal dunia punya kontrol sendiri untuk buat manusia nggak seenak mereka melakukan apa yang mereka mau tanpa memikirkan konsekuensinya. Kamu terlalu terbiasa mendapatkan apa yang mau, jadi tidak ada sedikit saja yang bisa kamu syukuri selain mengejar cinta konyol semacam ini."
Lalu kalimat selanjutnya, Kezia ingat betul bagaimana sesaknya ketika Mahesa mengatakan dengan sejujur-jujurnya apa yang dirasakan laki-laki itu.
"Jangan egois, Kezia. Kamu yang cinta sama saya, tapi saya yang tidak suka kamu selalu mengusik kehidupan saya. Kamu harus belajar caranya menerima sesuatu yang memang benar-benar tidak bisa kamu miliki. Jangan pernah berharap lebih sama saya, karena saya bukan wujud kenyataan yang bisa kamu dapatkan hanya dengan kemauan."
Sampai pada kalimat terakhir yang sontak membuat hampir keseluruhan organ Kezia kehilangan fungsinya. Karena siapa yang selama ini menjadi goals paling tinggi dalam daftar check-list miliknya, ternyata justru menjadi perusak semua tatanannya.
Dan hanya di tengah malam ini, Kezia meluapkan segala yang ia rasa. Segala dari keseluruhan rasa sakit yang pernah mampir ke hatinya, tidak pernah terasa amat lebih sakit seperti ini. Seperti sudah tidak ada hal lain yang sanggup menyaingi ras sakit saat ini, saat di mana Mahesa benar-benar sudah tidak menginginkannya lagi untuk hadir sebagai perusuh. Walaupun niat awal ingin menjadi penyemangat, nyatanya bagi Mahesa, dia hanya perusuh. Perusuh yang membuat tatanan kehidupan Mahesa yang kata laki-laki itu sendiri dulunya baik-baik saja, tetapi jadi berantakan ketika dia datang.
Kezia tidak peduli kalau memang harus menangis bukan di rumahnya sendiri. Melainkan di pojokan kamar mandi, yang suhunya bisa saja membuatnya mati kedinginan. Asal Aldo tidak tiba-tiba kepo dengan masalahnya, semua akan tetap baik-baik saja.
Untuk kali ini, memikirkan bagaimana kalau Aldo selalu kepo dengan urusannya bukan waktu yang tepat. Karena yang ia rasakan, sudah lebih dari rasa sakit yang pernah ia rasa di waktu sebelum-sebelumnya.
"Zia.. lo nangis?"
Namun ketika suara laki-laki di luar kamar mandi berhasil di dengarnya, Kezia merasa dirinya hampir gila. Bisa-bisanya di waktu yang sangat tidak tepat, Aldo menanyakan hal bodoh yang sekarang memang sedang dilakukannya.
"Apaan sih, kepo."
"Sorry kalo lo mikir gitu, gue cuma nanya aja. Lo baik-baik aja, kan?"
Semakin Aldo bertanya, semakin Kezia merasa ingin membantainya ketika keluar.
"Kepo banget sih, lo. Nggak usah ikut campur."
"Gue bukannya mau ikut campur, cuma kasihan aja liat lo harus nangis malem-malem di kamar mandi lagi. Padahal cuma masalah sepele."
Kezia diam saja di dalam kamar mandi sana. Sementara Aldo di luar segera mengeluarkan sekantong kresek merah berisi snack, coklat, s**u kotak dan semacamnya dari tas punggungnya.
"Tadi gue ke minimarket beliin lo ini, tapi gue lupa ngasih karena gue pikir lo udah tidur duluan."
Kezia masih diam.
"Terserah sih, mau lo terima atau nggak. Jangan kelamaan di dalem ya, buruan tidur. Kata Papa, besok kita harus ke kantor buat kerja. Jadi harus bangun pagi."
Sekiranya itu adalah kalimat terakhir yang Kezia dengar karena setelahnya tidak ada kalimat lain lagi. Sepertinya, Aldo sudah berangkat tidur tanpa mau memikirkannya yang masih ingin menangis lagi di dalam kamar mandi ini.
***
Yang Aldo lihat dari kemarin, kemarinnya lagi kemarin-kemarin waktu emosi Kezia naik-turun adalah tentang istrinya yang sedang mengalami siklus haid. Aldo bisa tahu, karena Mamanya sendiri yang memberikannya pengetahuan tentang hal semacam ini. Kata Mamanya, sewaktu-waktu punya istri, Aldo tidak akan terkejut apa yang harus dilakukan ketika ego sang istri sedang memanas dan emosinya meluap-luap. Apa-apa salah, sang istri yang salah sekalipun, suaminya yang harus meminta maaf.
Jadi begitu Kezia memperlihatkan ciri-ciri yang pernah disebutkan Ibunya, Aldo mencoba sebaik mungkin dalam memperlakukan istrinya itu.
"Lo kenapa dari semalem aneh, diam mulu, cemberut aja dari tadi pagi. Ada yang salah?"
Aldo baru bertanya pada istrinya setelah memasuki kantor perusahaan milik Papanya. Hari ini sengaja Papa dan Mamanya tidak ikut karena memberikan kesempatan untuk mereka berdua bisa bertanggungjawab atas apa yang sudah ditugaskan untuk mereka.
"Ada. Muka lo berbedu kayak meja."
Jawaban itu langsung muncul saat keduanya berjalan berdampingan dan langsung menjadi pusat perhatian para staff. Kezia sebenarnya malas harus datang ke kantor mertuanya hari ini, tetapi sejauh yang katanya ia ingin menguasai harta keluarga Raharja, baru kali ini sepertinya yang menjadi titik langkah pertama. Tante Lana sempat pesan, untuk memperlihatkan kemesraannya dengan Aldo saat bekerja. Jangan membuat staff bertanya-tanya, karena menggandeng lengan suami adalah sebuah kewajiban profesional kerja di kantor ini. Garis bawah, khusus keluarga pemilik perusahaan.
"Pagi, Bu Kezia, Pak Aldo."
"Pagi, tumben manggilnya Pak?"
Satu staff laki-laki yang pertama mengucapkan salam itu langsung ditanyai Aldo karena perubahan saat memanggil bosnya.
"Karena Bapak sudah menikah, seperti yang Ibu Lana katakan juga, kalau harus memanggil Bapak bukan 'Mas' lagi."
"Oh." Aldo manggut-manggut mendengarnya. Sampai tidak sadar baru saja akan meninggalkan Kezia jika istrinya itu tidak tiba-tiba menarik jasnya. "Baik kalau begitu, saya ke ruangan saya dulu."
Aldo memberikan tatapan tegas, seperti konsep pria tampan pendiam yang berwibawa sembari menaikkan lengannya yang digandeng oleh Kezia sampai keduanya berjalan bersama menuju ruangan khusus yang disediakan untuk mereka.
Pintu ruangan langsung ditutup saat keduanya sudah masuk, dan hanya ada mereka berdua di dalam sana. Kezia masih tetap diam saja, sementara Aldo memperhatikannya yang sudah kehabisan kata-kata untuk bertanya.
"Ngapain lo ngeliatin gue?"
Aldo buru-buru duduk di bangku utama ruangan direktur ini. Sementara Kezia lebih memilih duduk santai di sofa yang tersedia sebagai fasilitas juga di ruangan ini.
"Justru gue yang harusnya nanya, ngapain lo dari tadi masuk kantor bahkan dari tadi pagi diem aja kayak orang bisu, sampe gue harus ngeliatin lo heran?"
"Bukan urusan lo."
"Yaa.. gue nggak bilang ini urusan gue juga. Gue cuma bingung aja sama sikap lo, yang dari kemarin malem kayaknya berubah dari bar-bar yang kebangetan jadi diem sok kalem gini. Lo ada masalah?"
Kezia menghela napas, baru kali ini rasanya Aldo sok peduli padanya sampai harus bertanya-tanya. "Emangnya kalo gue ada masalah, lo sanggup bantu? Atau nggak.. lo sudi bantu? Nggak, 'kan?"
"Siapa bilang nggak?"
Seratus persen bahkan lebih Kezia yakin Aldo akan menertawakannya kalau sampai pertanyaan-pertanyaan itu berhasil dilontarkannya. Namun ternyata perkiraan salah besar, Aldo justru merespon dengan kemungkinan lain.
"Siapa yang bilang, kalo gue nggak akan pernah mau bantu kalo lo ada masalah?"
Kezia diam, memperhatikan seksama pertanyaan yang baru saja Aldo lontarkan.
"Siapa juga yang bilang kalau gue mau dapet bantuan dari lo?"
"Nah." Aldo segera membalas pertanyaan Kezia secepat yang ia bisa. "Berarti lo yang bermasalah. Jelas-jelas gue nggak pernah bilang kalo gue nggak mau bantu lo, kalo lagi ada masalah. Padahal di kenyataannya, lo sendiri yang nggak mau nerima bantuan dari gue."
"Iya, emang gue nggak mau nerima bantuan apa-apa dari lo."
Kezia menaikkan nada bicaranya sampai lebih dari satu oktaf, pandangan matanya juga berubah tajam menatap Aldo yang duduk sok sibuk di kursi direktur utama kantor perusahaan ini.
"Seharusnya lo mikir, alasan terjelasnya kenapa gue sama sekali nggak mau nerima bantuan dari lo. Logisnya, semua hal di dunia ini butuh alasan. Setidaknya untuk bagaimana seseorang mulai memilih seseorang untuk dipercaya."
"Maksud lo?"
"Karena lo nggak pernah tulus."
"Kata siapa?"
"Kata gue sendiri, kenapa? Nggak terima?"
Aldo masih diam saja Kezia mengungkapkan kejujurannya padahal sudah sangat memancing keributan jika Aldo tidak sanggup menahan kekesalannya. "Siapa bilang gue nggak terima?"
"Udah deh lo nggak usah sok baik, kalo pada kenyataannya lo itu nggak sebaik yang cewek-cewek lo pikir."
"Dan siapa bilang cewek-cewek gue pernah mikir gue baik? Mereka semua tau gue suka mainin perasaan cewek, tapi mereka sendiri yang mutusin pengen tetep sama gue padahal jelas-jelas tergarisbawahi sendiri, nama gue terkenal karena gue playboy. Lo tau itu, 'kan?"
"Nggak salah lagi, dunia pun juga setuju kalo lo nggak pernah tulus. Alasan terkuat yang buat gue nggak akan sebodoh cewek-cewek mainan lo, adalah karena lo nggak pernah tulus, udah. Sisanya lo sendiri pikir, di mana letak yang buat gue nggak akan pernah naruh percaya sama lo."
Aldo malas harus membahas ini. Membahas hal yang seharusnya tidak akan pernah ia bahas dengan jelas, karena cukup sulit menerima kalau kenyataannya ia memang seorang pemain hati dan perasaan yang cukup handal. Bahkan kalau hanya sekadar untuk menyakiti, rasanya hanya dengan membalikkan satu telapak tangan, semua akan terjadi.
"Eh, Zia. Gue nggak maksa lo buat naruh percaya sama gue ya, gue cuma mau jadi pendengar aja, kalau mungkin lo butuh. Karena yang gue lihat, lo ada masalah sejak semalem."
Kezia semakin menaikkan nada bicaranya. "Ya, sama aja. Dengan cerita apa masalah gue ke lo, itu sama aja gue naruh percaya sama lo yang udah gue wanti-wanti semua itu nggak akan pernah terjadi. Ngerti lo?"
Aldo tertawa kecil, setelah memperhatikan bagaimana Kezia semakin meluap-luap dalam mengungkapkan apa yang dia rasakan. "Yaa.. ya udah kalo lo nggak mau cerita, gue juga nggak maksa, 'kan?"
Kezia buru-buru berdiri saat Aldo akhirnya mengucapkan pertanyaan k*****s di akhir pertengkaran mereka hari ini. Wajahnya masih cukup memerah akibat terbakar kesal, Aldo yang hampir menguras tenaga.
"Jelas. Dari pernyataan lo aja, sama sekali nggak memperlihatkan kalau lo sama sekali nggak cocok buat dijadiin orang yang bisa sepenuhnya dipercaya. Lo itu.. pantesnya cuma jadi playboy selama. Yang naruh hati di mana-mana, perhatian tiada tara, dan otak yang hanya digunakan buat jadi pendukung kelakuan busuk jadi cowok brengsek."
Bersambung.