Misi Mengikuti Mahesa

1891 Kata
"Terus kalo Kezia?" Hira dan Sasi masih terus melanjutkan bagaimana mereka membicarakan rumor pernikahan anak CEO yang beritanya sempat nge-boom waktu itu. Sampai sekarang pun, tidak ada yang tahu siapa sebenarnya mereka dua anak CEO yang menikah karena dijodohkan oleh kedua pihak keluarga terpandang. Menurut Hira, pihak keluarga dan dua anak yang menjalani pernikahan itu memang sengaja menutupinya dari publik. Namun untuk alasannya, Hira tidak bisa menemukan dengan pasti kenapa pihak kedua keluarga itu menutupi pernikahan anak mereka padahal sebuah pernikahan resmi bukan privasi. "Kalo Kezia, masih bisa jadi." Hira memulai perkiraan menurutnya. "Kan kita sama-sama nggak tau, apa hubungan Kezia sama Kak Mahesa di belakang kita. Mereka bisa aja.. udah nikah, 'kan?" Sasi buru-buru meremehkan pemikiran tidak masuk akal itu. Selama ini yang ia lihat dari dua tahun terakhir, Mahesa sama sekali tidak berubah dari pertama kali Kezia berniat mendekatinya waktu masih di SMA. "Nggak mungkin, jelas. Lo kenal Kak Mahesa, 'kan?" Hira masih ingin mencoba menerangkan bagaimana ia bisa berpendapat demikian. "Iya, kenal. Tapi kan yang gue bilang, kita sama-sama nggak tau. Bisa aja mereka emang nggak mau anak-anak tau kalo mereka udah nikah, makanya pihak keluarga juga tutup mulut aja." "Tapi Ra, analogi soal Kak Mahesa nikah sama Kezia itu jelas mustahil. Persentasi kemungkinannya nggak ada satu persen, satu SMA dan alumni yang ngampus di sini juga tau gimana ambisnya Kezia ngejar Kak Mahesa dan gimana ambisnya juga Kak Mahesa selalu ngehindar dari Kezia." "Kalian ngomongin gue?" Ya.. mungkin karena asyik membicarakan topik panas rumor pernikahan anak CEO waktu itu, suasananya jadi kembali lagi agak tegang seperti ketika Kezia mengelak semua kenyataan yang ada. "Bagus ya, nggak ada gue, gue yang jadi bahan omongan." Hira maupun Sasi seratus persen akan merasa lebih baik dikejar anjing sampai jarak 3 kilometer, daripada diambekin Kezia sampai satu hari penuh karena mood yang sedang tidak baik atau murni kesalahan keduanya. "Eh? Nggak kok Zi, kita.." Sebenarnya Kezia ingin meluapkan kekesalannya saat ini juga. Mendiamkan Hira dan Sasi dalam seharian penuh bahkan lebih dari itu, agar mereka berpikir jangan coba-coba mencari masalah kalau Kezia memang tidak mulai duluan. Dari SMA kenal, ternyata tidak membuat Kezia bisa gampang diluluhkan oleh kedua temannya ini— "Kak Mahesa." —kecuali sosok seorang Mahesa datang tiba-tiba. Mahesa baru saja berjalan melewati ketiganya, membuat Kezia tiba-tiba dan seketika saja melupakan yang sudah merusak mood-nya hari ini. Hira dan Sasi menoleh ke arah mana Kezia segera menempatkan posisi berdirinya, dan di satu titik mata mereka berhenti, senyum keduanya langsung mengembang merasa lega karena penangkal kekesalan Kezia sudah ada di depan sana. "Kenapa?" "Nggak.. kenapa-napa sih, cuma mau nyapa aja. Kak Mahesa udah makan?" "Urusannya apa sama kamu?" "Nanya aja Kak, maaf kalau—" Mahesa berjalan secepatnya begitu saja. Tidak peduli Kezia masih ingin bicara. Tidak peduli apa yang akan Kezia bicarakan. Tidak peduli apa konsekuensi tidak meletakkan ajaran tata krama Ibunya pada saat berbicara dengan Kezia. Bahkan tidak peduli siapapun melihatnya sangat kaku berhadapan dengan sosok yang gampangnya disebut ratu kampus angkatan 18. "Kak Mahesa, tungguin." Mahesa berhenti lagi saat Kezia menarik tangannya, tetapi tidak berlangsung lama ia melepaskan tangannya dari si gadis. "Apa lagi?" "Aku mau.. Kak Mahesa.." "Maaf nggak bisa, saya sibuk." Mahesa berlalu pergi lagi, bahkan tanpa sempat Kezia mengejarnya. Karena tangan gadis yang hendak mengejarnya, kompak ditahan oleh Hira dan Sasi sampai mundur menyamai di mana mereka berdiri. "Aduh! Kalian apa-apaan sih? Gue mau ngejar Kak Mahesa." Hira langsung menghadang di depan Kezia yang sudah mencak-mencak karena tidak dibiarkan mengikuti Mahesa yang baru saja pergi dari tempat yang sama. Sementara Sasi bertugas menahan badan kecil Kezia dari sisi kiri. "Kak Mahesa bakal tetep gitu-gitu aja, kalo lo nggak berani ngenal dia labih jauh." "Bodoamat, gue maunya kenal lebih deket." Hira memegangi kepala, memikirkan betapa bodohnya Kezia kalau usurannya sudah berkaitan dengan cinta. Sampai-sampai berpikir jernih pun sulit sepertinya. "Zia, maksud gue gini. Dari sekian tahun lo ngejar-ngejar Kak Mahesa, di titik mana akhirnya lo tau latar belakangnya?" Kezia sontak berhenti meronta-ronta dari pelukan Sasi atas dirinya. Mengedipkan kedua kelopak matanya hampir berkali-kali, seraya memikirkan apa yang baru saja Hira katakan. "Latar.. latar belakang?" *** Jam pembelajaran hari ini habis. Aldo buru-buru memasukan satu buku dan satu pensilnya ke dalam tas. Setelah itu tatapannya langsung dijatuhkan pada Kezia lalu sebuah dering chat masuk ke handphone-nya. [Lo nggak usah sok baik mau ngajak pulang bareng, gue masih ada urusan.] Aldo buru-buru mengetikkan balasan. [Mau kemana emang? Sama gue aja.] [Kepo amat sih, bukan urusan lo, nggak usah ikut campur.] Satu balasan muncul lagi di daftar notifikasinya dan langsung ia buka saja. [Lo dibaikin ngelunjak ya, dasar.] Di bangku depan sana, gadis berambut panjang hampir sepinggang mengeram kesal. [Dih, emang siapa juga yang mau dibaikin sama cowok kayak lo. Udah! pokoknya nggak usah ikut campur.] Kezia buru-buru berdiri setelah mengetikan chat terakhir. Hira dan Sasi di masing-masing kanan kirinya pun juga ikut berdiri dan ketiganya segera berjalan keluar kelas jika Aldo cs tidak tiba-tiba menghadang di ambang pintu. "Mau apa sih lo, Aldo? Minggir!" "Iya santai atu, Bu Zia." Ada sesuatu yang membuat pandangan mata Aldo sedikit lebih difokuskan pada tubuh Kezia, setidaknya sebelum benar-benar keluar meninggalkan kelas dari ambang pintu. Tidak ada yang tahu apa yang sedang laki-laki ini lakukan, karena yang mereka lihat hanya Aldo bertengkar dengan Kezia yang sudah super biasa terjadi seperti hari-hari sebelumnya. Jadi ketika Aldo sampai di luar kelas, Kezia dan kedua temannya buru-buru berlari keluar menuju tempat parkir. Yang Aldo lihat, mereka menaiki mobil matic Hira yang warnanya hijau dan mobil itu secepatnya keluar dari area kampus. Berhubung hari ini Aldo ada latihan basket di kampus, jadi kemungkinan besar tidak bisa pulang lebih awal dari Kezia yang entah kemana karena Aldo sendiri tidak tahu. "Hey, kamu Aldo yang kemarin bukan?" Aldo diam saja, setidaknya sampai suara itu muncul membuatnya tersadar kalau pernah melihat seseorang yang mengucapkannya. *** "Oke Ra, siapin fisik dan mental lo ya. Soalnya ini ide ini awalnya muncul dari otak lo," ucap Kezia pada Hira yang sudah siap di kursi kemudi mobilnya. Tinggal menunggu saja mobil yang akan diikuti saat ini. Sasi menoleh ke belakang dan melihat mobil target siap keluar dari area kampus. "Heh, udah! Jangan kebanyakan instruksi, itu mobil target udah meluncur." Hira ikut menoleh di mana pandangan Sasi dijatuhkan. Sampai Kezia sendiri melihat mobil target melewati mobil yang mereka naiki. "Hira, Gas!" "Ok." Yang menyetir buru-buru menginjak gas mobilnya dan mengikuti kemana mobil target melaju. Dua penumpang di dalam sana, hanya memperhatikan situasi saja, tahu-tahu ada pengendara yang sekiranya akan mengganggu perjalanan mereka. Mata Kezia fokus, tatapan itu hanya ditujukan pada sebuah mobil mewah berwarna hitam di depan sana. "RA, AWAS ADA YANG MAU NYALIP!!" "Jangan biarin, Ra! Nanti kita ketinggalan mobil target." Sasi hampir merasakan tubuhnya mati di dalam mobil karena kecepatan Hira dalam mengemudikan mobil ini. Duduk di belakang rupanya tidak mengurangi resiko ketakutan kalau sewaktu-waktu mengebut diperlukan. "TAPI NYETIRNYA PAKE LOGIKA DONG, INI GUE SENDIRI DI BELAKANG." "Lo kalo takut, tidur aja Sas. Susah amat." "YA MANA BISA! INI HIRA NYETIRNYA KENCENG BANGET, AUTO INALILLAHI GUE." "Ya udah kalo nggak punya solusi, diem aja." Begitu respon Kezia terhadap bagaimana Sasi berteriak ketakutan di belakang sana. "Udah Ra, gas aja. Keburu— AWAS MOBIL DEPAN BERHENTI DI TENGAH JALAN." "Waduh nyari ribut nih orang." Si pengemudi berprotes, sementara Kezia frustasi mobil target terus melaju. "ITU LAMPU MERAH, LO BERDUA LIAT!" Hira buru-buru menginjak rem dan wajahnya seketika bersih dari ketegangan. Kezia masih mengawasi depan, yang mana mobil target masih terus melaju hampir jauh meninggalkan mobil mereka ini. Sementara Sasi yang duduk di belakang, merasakan kondisi jantungnya lebih baik dari sebelumnya yang penuh dengan teriakan maut hampir ingin mati konyol karena mengejar mobil target yang awalnya ide Hira sendiri. "Yah.. lo gimana sih Ra, mobil target keburu jauh tuh!" Hira menoleh ke arah Kezia yang merasa kecewa. "Zi, ini lampu merah. Mau lo kita dapet masalah di kepolisian cuma gara-gara nerobos lampu merah, ha?" "Lagian ini salah lo juga Ra, ide konyol ini kan munculnya dari otak lo." Kezia diam saja. Tidak ada respon darinya sejak Hira menerima ucapan menohok dari Sasi yang pada kenyataannya memang ini ide dari dirinya. Kezia sendiri sebenarnya tidak begitu exited dalam menanggapi ide Hira, karena jelas rintangannya akan begitu terasa. Namun karena si pemilik ide terlihat yakin dan optimis meyakinkannya, jadi tidak ada alasan yang jelas kenapa ia tidak mencoba lebih dulu daripada hanya diam di tempat dan buang waktu sia-sia tanpa ada progres yang jelas. "Udah ijo tuh! Jalan!" Hira menginjak gas begitu Kezia memberikan aba-aba. Sasi yang ada di belakang sana, langsung berpegangan erat pada dua sofa depan yang didudukinya dan Kezia. "Lebih ngebut dong, Ra. Liat mana mobil target?" Kezia itu gegabah. Melakukan apapun itu, ia harus buru-buru menyelesaikannya entah apapun resikonya. Beda dengan Sasi yang sedikit lebih mampu memahami situasi bahkan dalam keadaan tegang yang ancamannya adalah nyawa. "Toko buku depan." "Dih, apaan sih lo? Tujuan kita ngejar mobil target, bukan ke toko buku. Dasar ngada-ngada lo!" Mungkin saja Hira hampir gila mendengar kedua temannya bertengkar saat ini, kalau ia sendiri tidak melihat langsung tempat parkir toko buku yang Sasi maksud ada mobil si target. "Mobil target ada di sana, Zi." Kezia buru-buru menolehkan pandangan matanya begitu Hira secepat mungkin membelokkan arah mobilnya dan di parkir di tempat yang sama dengan mobil target. Di dalam mobil, mereka bertiga saling pandang dan mengelilingkan pandang ke arah dalam toko buku ini, sayangnya tidak ada tanda-tanda target terlihat di ujung pelupuk mata mereka. "Masuk ke toko buku ini, dan target sampe tau kita ngikutin dia, itu sama aja bunuh diri." Hira diam sebentar, baru setelah itu mengeluarkan sekotak masker dari nakas mobilnya. Ia memberikan masing-masing satu masker untuk Kezia dan Saski. "Ide bagus." Begitulah respon Kezia. Ketiganya langsung mencari benda apapun yang bisa menjadi pelengkap untuk menutupi identitas mereka. Kezia sendiri dengan topi baseball-nya, Sasi memakai kacamata hitamnya, dan Hira menggunakan sebuah syal ceruti yang ada di mobilnya untuk berjilbab ala-ala. Kezia, Hira dan Sasi langsung keluar dari mobil setelah berhasil menutupi identitas mereka. Langkah kaki ketiganya kompak dibuat mindik-mindik persis maling baru menyusun rencana memasuki rumah korbannya atau paling tidak sama seperti orang-orang kurang kerjaan yang memiliki kegabutan tingkat akut sedang main t****k challenge atau prank. Buku ini Untuk Kamu karya Danield. Sebuah buku yang menjadi pandangan pertama Mahesa saat pertama kali pergi ke rak buku jenis psikologi. Bukan untuk pelajaran pastinya, hanya untuk dibaca-baca saja atau diambil pesan-pesannya. "Buat apa tuh, Kak Mahesa beli buku begituan?" "Nggak tau, kan kita sama-sama kenal cetek sosok seorang Mahesa." "Ngomongnya jangan keras-keras woy!" Mahesa buru-buru membawa buku itu pada kasir. Tiga mata-mata yang sejak tadi mengintainya masih bersembunyi di balik rak-rak buku dan ketiganya mengambil asal buku-buku untuk dijadikan alasan pergi ke toko ini. Begitu kasir memberitahu nominalnya, Mahesa segera membayar dan membawa buku yang dibelinya dalam kantong paper bag. Setelah itu, langkah kakinya buru-buru digerakkan keluar dan memasuki mobilnya setahu tiga mata-mata yang mengintainya. "Ini Mbak uangnya." Kezia memberikan uang pada kasir dalam jumlah yang lebih dari harga sebenarnya beberapa buku yang ia dan dua temannya ambil asal waktu mengikuti Mahesa. "Udah, ayo buruan. Target keburu jauh." Kezia memberikan komando pada kedua temannya. Setelah itu mereka bertiga kompak keluar dari toko buku dan tetap memantau sekitar saat akan memasuki mobil Hira. "Ayo cepetan, ih! Target keburu jauh nanti." Ketiganya masih mengendap-endap dari teras toko buku ke arah mobil Hira. "Target yang mana, yang kamu maksud?" Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN