"Mahesa."
Di satu titik laki-laki berambut agak panjang dengan jam tangan sport di tangan kirinya langsung berhenti begitu sebuah nama disebutkan. Yang bisa dilakukan sekarang, adalah hanya menunggu berapa detik lagi waktu yang harus ia buang sia-sia dengan mendengarkan ocehan gila wanita memakai heels di balik punggungnya.
"Nanti Papa kamu akan ada acara sama rekan-rekan bisnisnya, dia minta kamu datang tepat waktu. Jadi, secepat mungkin kamu harus segera pulang dari kampus."
Mahesa itu anaknya sopan. Jadi mau siapapun yang dia hadapi, tidak ada alasan mutlak yang sanggup membuatnya lupa bagaimana Mamanya mengajarinya tata krama sebaik yang tidak pernah Papanya ajarkan. Dia hanya diam, mendengar wanita berbibir warna merah berbicara yang menurutnya tidak pernah ada habisnya, setidaknya untuk sekarang.
"Jangan diem aja, Mahesa. Ini permintaan Papa kamu sendiri."
"Iya, nanti kalo sempet aku dateng."
Baru saja hendak melangkah, wanita yang sejak tadi berbicara itu kembali menahannya. "Jangan cuma disempetin, tapi harus diprioritasin. Kamu itu penting buat Papa kamu."
Mahesa menyeringai kurang percaya, karena keadaan justru berbeda dengan apa yang wanita itu katakan. Ia tidak langsung memberikan respon dalam bentuk ungkapan, tetapi lebih dulu membalik wajahnya menatap si wanita dengan jelas.
"Iya, sebelum Tante dateng." Itu yang sebenarnya sakit untuk diungkapkan Mahesa, tetapi kalau tidak segera terucap rasanya akan lebih sesak. "Tapi sebelum Tante dateng pun, aku nggak terlalu penting-penting amat juga sih di hidup Papa. Karena yang jadi nomor satu Papa sampai sekarang, adalah bisnisnya, perusahaannya, hartanya, uangnya baru Tante. Jangan tanya aku, aku nomor sekian."
Sakit sebenarnya membicarakan rasa sakit sendiri kepada orang yang menjadi penyebab rasa sakit itu. Walaupun secara logika, penyebab utamanya adalah Papa sendiri. Seorang CEO majalah Billone yang terhormat.
"Kenapa omongan kamu jadi ke situ lagi, sih?"
"Ya, nggak papa. Mumpung inget ya omongin aja."
Wanita yang sejak tadi diajak bicara Mahesa tidak berkutik dari posisi elegannya yang berdiri dengan tangan dilipat di depan d**a. Karena sementara itu, Mahesa baru saja mengungkapkan kata-kata yang ia rasa masih dianggap wajar saja.
"Udah ya Tan, aku berangkat ke kampus. Bye."
Mahesa buru-buru melangkahkan kaki keluar dari area rumahnya dan memainkan kunci mobil. Walaupun rasanya seperti— perih sekali membayangkan apa yang tadi ia bicarakan atau yang setiap hari ia bicarakan dalam olah kata dna kalimat yang sedikit dibedakan.
Di mata Kezia sendiri, Mahesa itu sosok sempurna. Sosok seorang laki-laki tampan yang cerdas dan tegas. Laki-laki yang memang begitu bahkan sangat pantas untuk dikejar dan diperjuangkan. Seperti yang pernah Kezia katakan sendiri, Mahesa ibaratkan berlian langka yang jarang ditemukan dalam tumpukan batu kali. Persis hanya satu per seribu, jadi Kezia tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati Mahesa walaupun pemilik hatinya masih membekukan organ perasa cinta itu sejak lama dan entah akan dicairkan di waktu apa.
***
"SASII!!!"
Jika teriakan yang keluar dari mulut Hira melebihi kapasitas yang bisa terdengar ke telinga Sasi, mungkin saat ini juga si pemilik telinga akan kehilangan fungsi utama indra pendengarannya. Peneriak nama Sasi itu juga sama sekali tidak kira-kira atau toleransi kalau setiap manusia punya kelemahan, termasuk bagaimana respon telinga dalam menanggapi sebuah suara.
"Dasar Mak toa! Teriak nama gue keras banget, kayak gue b***k tingkat akut aja."
Hira lebih dulu menertawakan cara Sasi mengungkapkan rasa kesal karena kesehatan pendengarnya yang jadi taruhan. "Haha, ya kali aja lo jadi b***k. Kan gue dengan senang hati mau bantu lo yang kadang bisa denger kadang nggak, gue bisa perjelas buat lo."
"Gue itu nggak b***k, Hira. Cuma kadang nggak jelas aja kalo ada yang ngomong sama gue, tapi bisik-bisik."
"Iya, sorry Sas. Baperan amat sih." Hira menangkup kedua pipi Sasi dengan kedua tangannya. "Tapi.. lo mau denger berita panas hari ini nggak?"
"Soal apa?"
Berhubung yang dibahas adalah berita terhangat, seketika langsung bisa melupakan dosa Hira padanya karena mendengar berita terbaru hari ini jauh lebih seru. Kedua tangan Hira pun buru-buru dipegangnya juga dengan kedua tangan, matanya bertemu dengan Hira yang sepertinya sudah siap siaga mengungkapkan berita terhangat padanya.
"Soal rumor yang waktu itu."
"Yah.. ya nggak seru dong kalau itu. Kan kemarin udah dibahas, ngapain dibahas lagi? Udah basi, nggak panas dong."
Hira menghela napas karena mungkin Sasi belum tahu-menahu tentang yang satu ini. Tentang versi lebih lengkapnya rumor samar-samar pernikahan dua anak CEO yang konon bisa saja memang anak kampus ini.
"Masih panas. Emang persoalan sama, tapi ini sub judul yang seru. Lo tau?"
"Ya, nggak lah. Lo aja belum cerita, " balas Sasi.
"Jadi gini, karena kemarin kita sempet curiga nih kandidat terkuat yaitu Aldo sama Kezia, gua jadi inisiatif buat nama lebih lanjut sama Galih."
Sasi buru-buru mengangkat kepala. "What?! Galih? Sejak kapan lo jadi sering kontact-an sama dia? Kok lo nggak cerita-cerita? Nggak seru lo."
"Iya, nanti aja gue cerita soal itu. Sekarang yang kit bahas soal rumor pernikahan tadi."
"Ya, udah."
"Kata Galih, Aldo belum nikah. Karena kita juga tau sendiri kan, Aldo itu masih suka gonta-ganti cewek. Jadi kandidat terkuat Aldo, fail."
***
Waktu di mana Aldo sontak saja menari Kezia ke dalam selimut padahal dalam keadaan itu, keduanya sama-sama tidak memakai pakaian dalam apapun kecuali handuk yang dipakai setelah mandi. Apalagi kulit keduanya juga bergesekan dalam kondisi yang masih lumayan basah, tetapi memang terpaksa berpelukan di dalam selimut karena keadaan benar-benar mendesak.
Kezia merasa sesak saat itu. Mungkin hampir saja ia akan mati, kalau Aldo sama sekali tidak memberikannya celah untuk bernapas secara sempurna. Tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana keduanya yang sama-sama tidak menyadari kalau yang mereka lakukan bisa saja memancing adegan mesra yang— Oh s**t.
"Kenapa lo?"
Kezia menoleh ketika bertanya padanya setelah memikirkan hal konyol yang terjadi kemarin siang.
"Nggak usah nanya, gue nggak mood jawab."
Aldo tertawa kecil sebagai bentuk sindiran. "Pertanyaan gue retorik kali, kalau lo nggak mau jawab ya diem aja, nggak usah pakek ngasih tau mood jawab atau nggak."
"Serah."
Aldo itu kadang songong kadang asyik juga. Kezia melihatnya, begitu. Karena siapa yang kemarin malam tiba-tiba mengacak-acak rambut istrinya sembarangan, mengungkapkan panggilan sayang dengan sangat lembut dan mesra lalu sama-sama muntah-muntah setelah mendrama, itu ya Aldo laki-lakinya. Laki-laki yang sebenarnya multitalenta karena mampu menyesuaikan sikapnya dalam situasi yang berbeda-beda. Aldo tahu dimana ia harus bersikap dewasa, kekanak-kanakan, kocak, seru, ngeselin, sombong, menghibur dan lain-lain yang bisa dilihat dalam jangkauan Kezia.
"Kampus udah di depan, lo turun di mana?"
Kezia diam dulu, baru menoleh ke arah kiri bagian kaca pintu mobilnya. "Di sini aja deh, kayaknya nggak ada anak-anak."
Aldo langsung menepikan posisi mobilnya dan berhenti, lalu Kezia keluar baru menutup kembali pintu mobil suaminya.
Kezia buru-buru membuang muka setelah turun, tidak peduli mau apapun yang akan dilakukan Aldo setelah ini. Namun ternyata Aldo masih menunggunya dan tidak langsung meninggalkannya begitu saja.
"Ngapain lo masih di sini?" tanya Kezia. Yang ia lihat sekarang adalah Aldo si kepo yang masih belum juga melajukan mobil ini padahal jelas-jelas ia sudah turun. "Buruan sana pergi, keburu anak-anak liat."
Ternyata, Aldo memang sengaja berhenti di sana karena menunggu Kezia dan ingin mengatakan sesuatu pada istrinya itu.
"Apa lagi, sih?" tanya Kezia untuk kedua kalinya.
"Nanti lo pulang sama gue aja lagi ya, kali aja lo butuh gue anterin ke minimarket buat beli makanan ringan, cemilan atau sejenisnya biar gue anterin."
Tumben, pikir Kezia dalam hati.
"Nggak usah kepedean, gue cuma lagi baik aja hari ini. Pokoknya nggak usah naik taxi atau ojek, tetep bareng gue aja."
Kezia masih tidak bisa langsung memberikan respon yang spesifik dan jelas. Karena ia sendiri tidak mengerti kenapa si anak Om Algo dan Tante Lana ini tiba-tiba sok baik padanya, padahal selama ini ya sedemikian lah kelakuannya.
Bersambung.