"Dan satu lagi pertanyaannya, jadi lo udah beneran jatuh cinta sama Aldo?"
Pertanyaan itu menyeruak ke keseluruhan organ saraf Rere yang sesaat sebelum terjadi gencaran kerja rodi secara besar-besaran. Kalimat yang baru saja dilontarkan Indri berhasil membuatnya hampir saja mengatakan hal bodoh yang dulu sempat membuatnya takut menjadikan Aldo mesin ATM-nya. Semakin kesini, Aldo bukan hanya mesin ATM, tetapi dia adalah sumber Rere bisa pertama kali menggunakan hati sebagaimana fungsinya.
"Re, tuh kan diem!"
Rere menghela napas begitu temannya yang lain protes ia tidak memberikan jawaban atau respon apa-apa. Karena jujur sejujurnya, sejak awal ia mengaku kalau Aldo adalah penghasil uang bulanan pada teman-temannya, sejak itu juga ia tiba-tiba merasakan terkesima pada sosok laki-laki tampan yang sangat ramah pada perempuan bahkan waktu Rere hampir saja ambruk akibat kebanyakan minum alkohol, Aldo datang dan menggendongnya pergi dari kerumunan orang dalam diskotik.
"Udah, fix! Rere beneran jatuh cinta sama Aldo."
"Ya, emangnya kenapa kalau gue beneran jatuh cinta sama Aldo? Normal, 'kan?"
Cindy menertawakan itu. Pertanyaan konyol yang dilontarkan Rere, seolah si gadis sudah kehilangan jati dirinya sejak lahir —ralat sejak kehilangan arah di usianya yang masih remaja.
"Normal yang biasa lo bilang itu, adalah normal saat lo nemuin seorang cowok yang mampu kasih lo uang lebih dari yang lo targetin. Seorang cowok yang bener-bener bisa dijadiin mesin ATM, karena secara realistis kebutuhan lo banyak."
"Kalo sekarang berubah emang nggak boleh?"
Fika baru saja meneguk segelas kecil minuman penenangnya, baru setelah itu memberikan respon tawa kecil saat Rere mengatakan sudah mengubah kenormalan prinsip hidupnya.
"Boleh aja, tapi hati-hati."
"Hati-hati kenapa?"
Fika langsung melirik ke arah Indri, yang secepat kilat mengembangkan senyum menggoda sambil menyeka rambut karena seorang laki-laki berbau duit lewat di sebelah kanan sana.
"Hati-hati kalo main sama cowok yang lo pake hati. Karena belajar aja dari kebiasaan kita selama ini, cowok yang bisa beneran setia sama satu cewek itu mustahil. Hampir nggak ada malah populasinya."
Sampai begitu Indri menyelesaikan penjelasan untuk Rere, Fika dan Cindy hanya ikut manggut-manggut sambil mengembangkan senyum masing-masing.
"Dan Aldo bukan cowok yang bisa hidup cuma sama satu cewek, lo tau 'kan?"
Rere sedikit terkesiap mendengarnya. Entah kenapa tiba saja hatinya sedikit merasa ada goresan luka ketika baru menyadari Aldo memang tidak bisa sesayang itu padanya. Karena nama terang Aldo sudah tercetak tebal dan bergaris bawah playboy sesuai yang orang-orang kenal.
"Jadi gimana? Masih mau jadi korban cowok cuma karena lo main pake hati?"
Rere membuang muka, kali ini tidak ada keberanian sama sekali untuk menatap kedua wajah temannya yang sudah jelas-jelas membeberkan bagaimana keadaan yang sebenarnya. Rere tidak pernah setakut ini, tidak pernah setakut bagaimana pun ketiga temannya menakut-nakutinya karena ia sama sekali tidak memiliki rasa takut kecuali mungkin tentang yang satu ini.
"Santai aja, Re. Kita bilang gini bukan buat ngelarang lo jatuh cinta sama Aldo kok. Kita bilang gini, biar lo nggak terlalu terjerumus perasaan yang akan ngerusak semua tatanan hidup lo. Karena ya alasannya jelas banget, jangan pernah main hati, kalau nggak mau sakit hati. Jadi kalau main, cukup gunain otak aja. Biar nggak dibodohin. Bener nggak, Cin?"
"Yoi," balas Cindy.
Rere benar-benar bingung. Rasa takutnya tiba-tiba juga ikut menyeruak di ujung saraf otak yang baru saja dipergunakan secara gila-gilaan karena ucapan-ucapan fakta dari ketiga temannya.
"Jadi gimana?" Pertanyaan itu dilontarkan oleh Indri yang baru saja kembali setelah menggoda laki-laki berduit di pojok kanan sana. "Semua pilihan dan keputusan ada di tangan lo sendiri. Kita cuma ngingetin, nggak ada niat apa-apa di balik yang baru aja kita omongin. Tapi karena lo temen kita, tugas ngingetin emang harus dilakuin."
"Iya gue ngerti kok." Rere mengucapkan kalimat itu sembari mengambil tas selempangnya dan bangkit dari kursi. "Tapi buat sekarang, gue pulang dulu. Pikiran gue bener-bener kacau buat nerima apa yang daritadi kalian omongin. Saraf gue nggak mampu nampung semua yang kalian bilang dalam satu kali kerja. Jadi lebih baik gue pulang duluan aja. Nggak tau kenapa, minum banyak alkohol buat hari ini malah bikin gue jadi pusing banget."
***
Kezia berdiri menghadap jendela, sementara pintu kamar baru saja ditutup oleh Aldo yang baru saja mengakhiri sandiwaranya. Jadi begitu mata mereka bertemu saat menoleh bersamaan, masing-masing langsung ingin muntah.
"Iyuh!"
"Lo kenapa sih, tadi sok nggak mau maafin gue segala?"
"Aldo b**o! Ya itu kan bagian dari akting t***l!"
"Ya, tapi nggak usah sok jual mahal kayak tadi. Kasih maaf kek seharusnya."
"Itu sama aja gantung diri. Bukan drama namanya kalau nggak dihiasin ngambek-ngambekan, lo— gimana sih anjing?"
"Eh, dosa lo nganjing-nganjingin suami sendiri."
dan bla bla bla...
Beberapa cerocosan lain terus saja terdengar bahkan sampai Aldo memutuskan untuk melepas atasannya dan masuk kamar mandi untuk cuci muka. Kezia membuang jauh-jauh arah pandang matanya dari si suami, mahal kalau harus digunakan hanya untuk yang pahit-pahit.
Suara Aldo baru terdengar samar sampai berangsur tidak terdengar begitu Kezia menarik selimut untuk bersiap tidur. Yang ada di bayangannya saat ini, hanya besok bisa bangun pagi dan tidak kesiangan lagi agar mandi lebih cepat sehingga sampai di kampus ketemu Kak Mahesa yang tidak bisa beralasan apa-apa untuk menolak PDKT-nya.
Jadi begitu Aldo kembali dari kamar mandi, bisa dilihatnya Kezia yang sudah menutup hampir kseluruhan sela kelopak mata.
"Buset, ini anak cepet banget ngoroknya."
"Ngomongin orang ngapain waktu orangnya tidur, omongin aja langsung waktu orangnya bisa lihat dan denger dengan jelas."
Sedikit ralat dari apa yang Aldo katakan tadi sebelum masuk dan sandiwara di depan Mama Lana direncanakan spontan. Gadis yang disindir mungkin bisa mendengar dengan jelas, tetapi mungkin tidak bisa melihat dengan jelas kalau Aldo baru saja mengikutinya berbicara sok-sokan.
"Nggak usah ngajak berantem malem-malem bisa nggak sih? Kunci mulut lo baik-baik, cowok kok banyak banget bacotannya."
Kezia masih menutup matanya, tetapi semua yang ia katakan jelas hanya tertuju pada Aldo.
Awalnya Aldo rasa, tidak akan jadi masalah kalau Kezia hanya mengulang kalimat yang ia maksud sebelumnya. Namun karena gadis itu melunjak yang terlihat jelas karena menyindir lebih lagi, mungkin sudah saatnya memberikan istrinya itu perhitungan.
"Awas lo ya, Zia."
Aldo buru-buru menaiki ranjang, mendekati Kezia yang sudah berusaha tidur sejak tadi. Aldo meletakkan telapak tangannya di tengah atas kepala Kezia, begitu si gadis terkejut dan membuka mata, tangan itu langsung bergerak mengacak-acak rambut panjang berwarna hitam itu dengan segala tenaga.
"Aldo begoo!!!"
"Ahaha, siapa suruh lo ngatain suami sendiri sembarangan."
"Apaan? Suami? Lawan berkedok suami kali.."
Bersambung.