Dibohongi Secara Terang-Terangan

1029 Kata
"Harus banget pulang malem?" Aldo berhenti di satu titik ketika Kezia ternyata sudah berdiri menunggunya di ruang tamu rumahnya. Gadis berambut panjang yang memakai hot pants super pendek itu memegang sebuah pisau pemotong buah dan satu buah apel merah. Tatapan si gadis sama sekali tidak diarahkan kepadanya atau berniat mengarahkan pandangan padanya. "Suka-suka gue," respon Aldo. Tidak peduli seberapa malam ia akan pulang, karena ini rumahnya, katanya suka-suka. Pisau buah di tangan Kezia tiba-tiba ditusukkan pada apel merah yang sejak tadi juga dipegangnya. "Bagus Pak Aldo, yang keras aja ngomongnya. Biar rusak semua rencana kita.." Aldo menyeringai santai, sama sekali tidak peduli dengan apa yang Kezia maksud. "Maksud lo apaan sih, nggak jelas banget. Ini udah malem, nyokap sama bokap gue palingan juga udah tidur. Lagian lo ngapain sih nungguin gue sampai makan apel aja pake pisau segala. Primitif dasar." "Lo tuh yang primitif!" Kezia buru-buru bangun dari duduk santainya di atas sofa ruang tamu. Baru memakan sepotong apel merahnya setelah memutuskan berjalan pergi meninggalkan Aldo yang masih diam di tempatnya. "Orang kalau IQ-nya rendah dan isi otaknya cuma cewek aja gitu tuh, dasar playboy." "Lo kalo ngomongin orang di depannya langsung aja, ngapain harus pelan-pelan?" Kezia itu kadang ceroboh. Ceroboh dalam melakukan apa yang seharusnya ia lakukan dengan cara lain, tetapi entah kenapa blank tiba-tiba. Jadi begitu Aldo menatapnya dengan alis naik turun sok tampan, Kezia justru diam dan membuang muka ke arah lain. Namun tiba-tiba tangan laki-laki sok tampan itu menahan pinggang kecilnya dan sontak saja matanya dan si laki-laki bertemu pada satu titik. Lana tersenyum senang. Baru saja ia membuka pintu kamar, yang menjadi pandangan utamanya kini adalah Aldo yang memeluk pinggang Kezia di ujung paling bawah anak tangga. Kezia mungkin sedikit paham alasan Aldo tiba-tiba memeluk pinggangnya, ternyata di depan kamar mertuanya sana Tante Lana melihat mereka berdua. Jadi yang yang ia lakukan sekarang adalah berpura-pura mesra dengan anak mertuanya. "Ngapain sih peluk-peluk?" Perlu sedikit waktu untuk Aldo memahami bagaimana skenarionya. Sampai akhirnya benar-benar mengerti ke arah mana Kezia membuat alurnya. "Maaf Sayang, lain kali nggak deh janji.." Lana semakin mengembangkan senyum. Tangannya bergerak dilipat di depan d**a, seraya menikmati kerukunan anak dan menantunya yang masih lucu-lucu dalam berumahtangga. Kezia akting kesal. Berusaha melepas pelukan Aldo terhadap pinggangnya dengan manja yang dimanja-manjakan. "Sayang maafin aku." Kezia masih diam aja selama berusaha melepas pelukan Aldo yang juga akting cukup baik. Mimik wajahnya benar-benar natural, sampai siapapun orang yang melihatnya sudah pasti akan melihat mereka benar-benar mesra termasuk hanya Lana. "Sayang.." "Kamu ngerti nggak sih, aku bilang lepasin? Kamu nggak ngerti Bahasa Indonesia?" Aldo mencoba melirik ke arah di mana Mamanya berdiri memperhatikannya akting bersama Kezia. Ternyata wanita paruh baya itu masih di sana dan benar-benar tidak berniat segera masuk ke kamarnya. "Iya.. tapi please maafin aku dulu. Besok-besok lagi aku janji nggak akan pulang malem, kalau urusannya nggak penting. Dan sekalipun penting sampai harus pulang malem, aku bakal ijin dulu sama kamu boleh apa nggak, yaa?" "Terserah! Nggak usah ngomong sama aku, ngomong aja sama tembok sana!" Kezia akhirnya berhasil melepaskan pelukan Aldo terhadap pinggangnya. Ia langsung berjalan melewati tangga cepat-cepat menuju kamar tanpa peduli melewati Lana yang hampir melepas tawa melihatnya dan Aldo bermesraan di anak tangga paling bawah. "Sayang.. Sayang.. maafin aku." Aldo buru-buru mengikuti Kezia yang meninggalkannya lebih dulu masuk ke dalam kamar mereka berdua. Sementara saat melewati Mamanya, Aldo langsung meminta uluran tangan dari wanita paruh baya itu untuk cium tangan. "Kalian itu udah nikah. Tanggung jawab kamu bertambah karena Kezia sekarang istri kamu. Jangan biasa pulang malem, normal kalau Kezia marah karena kamu bandel dibilangin." Itu nasehat asli, tanpa skenario, rencana atau bahkan alur yang dibuat-buat. Sayang apa yang baru saja membuat Mama Lama memberi Aldo nasehat, hanya sebuah drama, rekayasa atau sekadar pura-pura. "Iya Ma, aku masuk dulu ya." Aldo ingin buru-buru menyusul Kezia ke kamar, terapi tiba-tiba Mama Lana menahannya. "Perempuan itu normal kalau dikit-dikit ngambek. Tugas laki-laki cuma harus lebih peka aja dan kasih perhatian lebih supaya si perempuan merasa dihargai. Ego perempuan itu gede banget, jadi kamu harus banyak-banyak ngalah dan minta maafnya sekalipun Kezia yang salah." Males banget. Dalam hati Aldo menolak mentah tetapi di kejadian aslinya hanya tersenyum mengerti agar si Mama tidak curiga. *** "Re, lo kenapa sih? Bad mood banget keliatannya." "Iya, kenapa ih? transferan dari Aldo macet?" "Atau klinik kecantikan yang lo datengin Minggu ini, mbak-mbaknya ngeselin?" Rere hanya diam sementara teman-temannya bertanya alasannya diam saja sejak awal bertemu di diskotik ini. Tadi siang Aldo bilang ada pekerjaan di kantor, tetapi ternyata pergi ke kafe bersama Sergio, Fajri dan Galih tanpa sepengetahuannya. Ketika ditanya jawaban Aldo terkesan kurang memuaskan, seperti tidak ada niat minta maaf atau merasa bersalah karena berbohong. Mungkin itu yang menjadi pikiran Rere sejauh ini. "Re, kita nanya lo ini? "Rere, are you okay?" "Re, lo sehat, 'kan?" Rere menyangga kepalanya yang terasa lebih berat dari biasanya. Dihadapankan dengan banyak pertanyaan teman-temannya, ia masih cukup bingung untuk menjawab. "Udah deh ya, gue tambah nggak mood kalau lo pada nyerocos banyak tanya." "Enggak, tapi lo beda banget hari ini. Kenapa sih?" Rere diam dulu. Baru setelah mood-nya satu tingkat lebih baik, ia mengangkat kepala dan menatap masing-masing wajah teman-temannya. "Kalo cowok udah berani bohong, tandanya dia kenapa?" Salah satu temannya sedikit merasa heran. "Oh! wait. Lo nanya soal sikap cowok? Sejak kapan tiba-tiba lo serius masalah hati?" "Sejak kehadiran Aldo kali." "Udah luluh lo?" Rere memiringkan kepalanya saat pertanyaan lain bermunculan lagi. "Langsung kasih jawabannya aja bisa nggak sih? Nanyanya apa, jawabnya apa." "Biasanya nih, seorang Rere kalau lagi bad mood minum alkoholnya dibanyakin, kenapa sekarang sok mikir?" Mungkin untuk hal lain Rere akan memperbanyak minum alkohol. Namun untuk masalah yang sekarang, entah kenapa minum alkohol banyak-banyak tidak akan memberikan pengaruh apa-apa. "Ini masalahnya beda, kalian nggak ngerti sih." "Ya, boro-boro ngerti Re, lo aja ditanya kenapa malah nanya balik yang udah jelas kita nggak tau apaan jawabannya." Salah tempat Rere bertanya pada teman-temannya sekarang. Lebih baik ia mencari info sendiri alasan Aldo membohonginya dengan sepele. Padahal kalau mau jujur saja hanya ingin bersama ketiga temannya hari ini, rasanya pasti akan lebih baik daripada dibohongi secara terang-terangan. "Dan satu lagi pertanyaannya, jadi lo udah beneran jatuh cinta sama Aldo?" Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN