Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pagar sebuah rumah mewah milik keluarga Hye Rim. Eun Ji yang berada di dalam mobil itu, akhirnya menurunkan kaca mobil dan memperhatikan rumah itu.
Kalau perusahaan tempat ayah Hye Rim benar-benar bangkrut, rumah ini akan kosong. Hye Rim dan ayahnya pasti pergi dari rumah ini, juga pasti meninggalkan dirinya dan Jin Young di kota Seoul ini. Entah ke mana Hye Rim dan ayahnya akan pergi nantinya, yang jelas mereka pasti akan berusaha memperbaiki dan mengulang semuanya lagi dari awal. Eun Ji belum siap ditinggalkan oleh Hye Rim.
••
Mark melangkah tergesa memasuki satu per satu ruangan di rumahnya dan membuka laci-laci atau semua barang yang dapat dibukanya. Ia mencari dompetnya. Sudah beberapa hari ini, dia memang tidak melihat dompetnya sama sekali.
Ia kemudian menghentikan aktivitasnya sejenak, menghela napas lalu berdiri dengan berkacak pinggang. Ia sudah lelah. Sudah hampir setengah jam ia habiskan hanya untuk mencari benda kotak berukuran kecil itu. Rencananya untuk pergi mungkin saja harus ia batalkan.
"Aish ... bagaimana aku akan membayarnya?"
Mark tiba-tiba saja teringat akan gaun milik Eun Ji yang sebelumnya ia bawa ke sebuah toko baju untuk diperbaiki. Sekarang tanpa dompet, bagaimana Mark akan membayarnya?
Menyerah, Mark kembali melangkahkan kakinya malas menuju kamarnya. Namun baru selangkah, ia berhenti. Ia kembali teringat sesuatu.
••
Mark mengetuk pintu rumah itu tiga kali. Tidak perlu menunggu lama, seseorang membukanya.
"Annyeong haseyo, Ahjussi," sapa Mark seraya membungkuk sembilan puluh derajat pada Ayah Eun Ji.
"Kau mencari Eun Ji?" Ayah Eun Ji bertanya, dan dijawab dengan anggukan penuh semangat dari Mark.
"Sayang sekali. Dia sedang tidak di rumah. Dia sudah pergi dari pagi, dan sampai sekarang belum pulang. Aku tidak sempat bertanya juga," jawab ayah Eun Ji dengan nada menyesal. Namun tidak lama kemudian, ia melanjutkan. "Bisakah kau membantuku mencarinya? Aku juga sudah mencoba menghubunginya, tapi dia tidak menjawab," pintanya.
"Baik, Ahjussi."
••
"Ke mana aku harus mencarinya?" gerutu Mark kesal sembari sesekali menendang batu-batu kecil di tanah. Ia terus mengamati tiap pejalan kaki yang berjalan melewatinya dan beberapa kendaraan yang berlalu lalang.
Tidak lama setelah itu, Mark mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di dekatnya saat ini. Merasa tidak asing dengan mobil itu, Mark memperhatikan mobil itu, hingga kaca belakangnya diturunkan.
"Mark! Apa yang kau lakukan?" sahut Eun Ji, seraya kepalanya melongok keluar.
Meskipun agak terkejut, akhirnya Mark menjawab juga. "Aku mencarimu!"
••
Sesaat hanya ada keheningan di dalam mobil itu. Mark dan Eun Ji sama-sama mengamati jalanan luar lewat kaca di sebelah mereka masing-masing. Merasa bosan, Mark akhirnya bersuara. "Bagaimana bisa dompetku ada padamu? Apa kau diam-diam mencurinya? Apakah yang ayahmu berikan selama ini masih kurang, huh?" tuduh Mark, membuat Eun Ji menoleh dan menatapnya malas.
Laki-laki ini, sebenarnya Eun Ji mau saja menghentikan permusuhan ini. Tapi Mark selalu punya seribu satu cara untuk membuatnya naik darah.
"Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu? Bukannya kau sendiri yang meninggalkannya di kamarku saat hari pertama kita mengerjakan tugas itu? Dan kau mau menyalahkanku?!"
"Aku mana tahu? Sudahlah, aku minta maaf!" balas Mark dengan suara tak kalah kencang.
Setelah mereka kembali diam, Eun Ji kembali mengalihkan pandangan pada jalanan luar. Sekali lagi, entah kenapa ada perasaan lain yang mengganjal di hatinya setelah baru saja membentak Mark. Jujur, Eun Ji tidak benar-benar ingin marah. Hanya saja, Eun Ji kadang tidak mampu mengontrol dirinya sendiri, terutama mulutnya. Ditambah lagi, Eun Ji sudah cukup stres memikirkan keadaan Hye Rim.
••
Eun Ji mengangkat bantalnya, mengacak selimutnya, membuka tasnya, lemari, namun ia tak kunjung mendapat barang milik Mark itu. Ia mulai mendengus kesal, sambil terus mengingat-ingat kapan dan di mana terakhir kali ia menyimpan dompet itu.
"Oh iya!" seru Eun Ji seraya menjetikkan jarinya, setelah ia tiba-tiba saja teringat sesuatu.
Segera dihampirinya laci meja belajarnya, lalu menemukan sebuah dompet cokelat di sana. Lagi-lagi Eun Ji membukanya, dan mendapati foto itu lagi. Foto Mark bersama ibu dan ayahnya. Ia kembali teringat kata-kata yang tertulis tepat di bawah gambar sang ibu.
'Miss You, Mom :')'
Setelah beberapa detik Eun Ji memperhatikan foto itu, ia kemudian menutupnya kembali dan bergegas keluar dari kamarnya. Di depan kamar, Mark menunggunya. Begitu melihat dompetnya yang dipegang oleh Eun Ji, Mark lantas merebut benda miliknya itu dari tangan gadis itu.
"Terima kasih!" ucap Mark lega.
"Apakah ... Ibumu juga sudah meninggal?" tanya Eun Ji ragu.
Senyum Mark akhirnya pudar.
"Ya." Mark mengangguk pelan.
"Maaf, tapi kita punya nasib yang sama." Eun Ji tersenyum, berharap Mark tahu bahwa dia tidak sendiri. Ada Eun Ji bersamanya.
Mark mengalihkan pandangannya pada gadis yang berdiri di hadapannya itu. Sesaat kemudian ia ikut tersenyum, mengingat Eun Ji juga kurang lebih bisa mengerti bagaimana perasaan Mark sekarang. Mereka sama-sama kehilangan dan hanya mampu mengenang sosok Ibu dalam hati mereka.
"Ya ... tapi kita masih punya ayah, kan?" Mark memegang bahu Eun Ji.
Eun Ji kemudian mengangguk. Lalu bersama-sama dengan Mark turun ke lantai bawah sebelum Mark akhirnya pamit.
Eun Ji terus memandangi punggung Mark sampai Mark masuk ke dalam rumah. Eun Ji mengulum senyum dan mulai berpikir, tidak seharusnya ia membenci Mark.
••
Kedua mata yang dari beberapa jam yang lalu terpejam itu akhirnya terbuka perlahan. Masih dengan mata yang setengah terbuka, dilihatnya cahaya terang menembus gorden jendela kamarnya. Perlahan tapi pasti, mata itu akhirnya terbuka dengan sempurna juga. Eun Ji menggeliat sebentar di atas tempat tidur empuknya itu lalu bangun. Ia kemudian meregangkan otot-otot tangannya sambil menguap. Gadis itu kemudian beralih pada jam weker yang ditaruhnya di atas laci-sebelah tempat tidurnya. Pukul enam lewat empat puluh lima menit. Setelah melihat itu, ditaruhnya kembali jam weker itu di tempat semula.
Eun Ji baru beberapa langkah mendekati pintu kamarnya, ketika sesuatu tiba-tiba saja teringat olehnya. Ia membulatkan mata terkejut, lalu berlari secepat kilat untuk mengambil jam wekernya kembali. Sudah lewat satu menit dari waktu yang ia lihat sebelumnya. Matanya kemudian sibuk mencari kalender. Ketika didapatkannya kalender itu, ia menyentuh salah satu tanggal dan menggeser ujung jari telunjuknya ke kanan hingga tiba-tiba saja terhenti. Terhenti pada sebuah tanggal yang sudah dilingkari oleh tinta hitam sebelumnya. Matanya beralih pada tulisan kecil dibawahnya.
'Back to school!-,-'
Setelah membaca itu, sekali lagi, matanya membulat dan tidak perlu menunggu lama lagi, gadis itu segera mengambil handuk dan langsung melesat ke kamar mandi.
Setelah kurang lebih lima belas menit ia berada di dalam kamar mandi, Eun Ji akhirnya keluar juga. Ia bergerak secepat mungkin mengatur semua barangnya untuk dibawa ke sekolah. Masih dengan rambut yang basah dan kurang rapi, ia melesat ke lantai bawah dan segera keluar dari rumah,tanpa berpamitan.
Langkah yang tergesa-gesa itu terhenti. Matanya mendapati sosok Mark yang baru saja keluar dari rumahnya.
Apakah dia terlambat juga? tanyanya dalam hati.
Setelah mengetahui objek yang diperhatikan ikut memperhatikannya, Eun Ji memalingkan wajahnya ke arah lain. Kemudian melangkahkan kakinya cepat, meninggalkan Mark. Yah.. anggap saja tidak terjadi apa-apa.
Baru beberapa langkah ia meninggalkan rumahnya, Mark menyusulnya. Eun Ji yang menyadari itu hanya memutar bola matanya malas, lalu tetap berjalan, tampak tidak ingin peduli dengan laki-laki itu. Sementara Mark hanya tertawa kecil begitu melihat ekspresi yang ditunjukkan Eun Ji. Merasa tidak terima karena diabaikan, Mark kemudian berdiri di hadapan Eun Ji, bermaksud menghentikan langkah gadis itu. Harapan Mark untuk membuat gadis itu berbicara, gagal. Gagal total. Setelah mendongak untuk melihat Mark yang lebih tinggi darinya, Eun Ji berbelok untuk melewati Mark begitu saja. Mark tidak tinggal diam. Ia kembali berdiri menghalangi jalan Eun Ji. Dan itu terulang sekali lagi.
"Kau! Pergi dari hadapanku!" Eun Ji menunjukkan tatapan penuh amarahnya pada Mark. Sementara Mark, hanya tertawa diam-diam, merasa usahanya berhasil untuk membuat gadis itu berbicara.
"Kenapa tertawa?!"
"Tidak apa-apa. Usahaku berhasil" jawab Mark dengan ekspresi penuh kemenangan.
Muak dengan Mark, Eun Ji segera berjalan melewati sisi lain tempat Mark berdiri. Lagi-lagi Mark mengejarnya.
Eun Ji menatap pasrah gedung sekolahnya yang tampak sepi itu, lalu dengan malas melangkah memasuki gedung itu. Begitu pula dengan Mark, yang hanya tertawa kecil melihat sikap gadis itu, lalu ikut berjalan di belakangnya.
Ternyata masalah tidak hanya datang dari satpam sekolahnya tadi, saat Eun Ji benar-benar harus memasang wajah memelasnya dan memohon pada satpam agar diperbolehkan masuk. Sekarang, mereka harus dihadapkan dengan guru etika. Namun setelah melewati perdebatan yang cukup panjang itu, akhirnya mereka dapat kembali ke kelas.
Namun ternyata masalah itu belum berakhir. Mereka masih harus menghadapi Kim ssaem, si guru matematika killer jika mereka tetap bersikeras untuk masuk ke kelas.
"Mark!" Eun Ji memanggil Mark, membuat orang yang dipanggil akhirnya menoleh.
"Hm?"
"Kau tetap akan masuk?"
Mark mengangguk. "Memangnya kenapa?" tanya Mark bingung.
“Dia punya segudang hukuman untuk murid yang terlambat masuk kelas.” Eun Ji memperingatkan.
"Apa salahnya kita mencoba?" Mark bersikeras.
Baru saja Eun Ji memegang lengan Mark untuk menahannya, Mark sudah lebih dulu membuka pintu kelas. Sedetik kemudian, seluruh pasang mata tertuju pada mereka. Tidak terkecuali Kim ssaem, wanita berambut sebahu yang kini menunjukkan tatapan 'anak ini berani juga'.
••
Eun Ji menghentikan aktivitasnya sesaat. Kemudian mengatur pernapasannya. Ia bahkan baru menyelesaikan dua putaran dari sepuluh putaran yang disuruh oleh Kim ssaem.
Lelah, Eun Ji akhirnya menepi ke pinggir lapangan dan duduk sana. Setelah berlari mengelilingi lapangan sekolah ini benar-benar menguras tenaganya. Belum lagi Kim ssaem menyuruh mereka untuk membersihkan gudang sekolah dan aula. Rasanya Eun Ji benar-benar akan merasakan yang namanya patah tulang.
Mark yang melihat Eun Ji kelelahan, ikut duduk di sebelahnya sambil meluruskan kaki.
"Kau tahu, ini semua salahmu. Dan seharusnya kau menyadari itu," tuduh Eun Ji.
"Kenapa kau menuduhku? Kau terlambat juga karena salahmu sendiri," protes Mark, tidak terima disalahkan.
"Tapi kalau kau tidak membuka pintu kelas itu kita tidak akan seperti ini sekarang."
"Maaf, aku tidak tahu kalau jadinya akan begini," ucap Mark merasa bersalah.
"Aku kan sudah bilang tadi.”
Sesaat setelah mengatakan itu, Eun Ji bangkit dari duduknya dan kembali berlari.
"Maaf,” ucap Mark sekali lagi setelah kembali mengejar Eun Ji dan mencoba mengimbanginya.
"Apa dengan meminta maaf lalu semuanya ini akan berakhir?" Tidak ingin mendengar jawaban Mark lagi, Eun Ji mempercepat larinya. Sementara Mark akhirnya berhenti berlari dan memperhatikan gadis itu yang masih berjuang melawan rasa lelahnya demi menyelesaikan hukuman yang diberikan Kim ssaem ini.
Mark meringis ketika nyeri di perutnya yang sejak tadi ditahannya membuatnya makin tidak nyaman. Mark membungkukkan badan, menumpu satu tangan di lututnya sementara tangannya yang lain memegangi perutnya. Rasanya ia tidak kuat lagi menjalani hukuman ini sampai selesai.
••
Setelah selesai berlari, Eun Ji segera mengambil tasnya yang sebelumnya ditaruhnya di pinggir lapangan. Lalu beranjak pergi dari sana. Namun baru selangkah, ia berhenti, kemudian ia berbalik, dan menemukan Mark yang terduduk di lapangan entah sedang apa.
Bagaimana bisa dirinya merasa lelah karena harus berlari memutari lapangan ini sepuluh kali, sementara Mark hanya duduk diam dan bertindak sebagai penonton? Bahkan Mark belum menyelesaikan hukuman pertama ini.
Eun Ji segera menghampiri dan kini berdiri di hadapannya. Mark mendongak dan untung saja, Eun Ji yang berdiri di depannya cukup menghalanginya dari matahari.
"Apa?"
"Kau masih bertanya lagi?" Eun Ji tampak kesal. "Kau ... laki-laki macam apa kau ini? Kau membiarkanku berlari mengelilingi lapangan ini, dan kau hanya duduk dan bersantai di sini?" bentak Eun Ji, tidak terima.
"Ya, ya, aku minta maaf,” ucap Mark, kemudian berdiri dan membersihkan bagian belakang celana panjang hitamnya.
Sesaat keduanya sama-sama terdiam. Eun Ji masih mempertahankan tatapan kesalnya dan Mark yang menyadari itu menoleh ke arah lain, seolah-olah tidak ingin menanggapi lebih tatapan itu. Mark melangkahkan kakinya, bermaksud meninggalkan gadis itu dan tatapan mengerikannya.
"Mark Kim!"
Mendengar namanya dipanggil oleh Eun Ji, ia menoleh.
"Jika kau tidak melakukannya, Kim ssaem sudah siap memberikanmu hukuman yang lain, yang mungkin lebih berat dari ini.”
••
Mark yang sejak tadi berlari cepat, akhirnya melambat. Dari raut wajahnya benar-benar terlihat kelelahan. Bukannya kasihan, Eun Ji malah tertawa diam-diam. Kini Mark benar-benar berhenti berlari, sambil membungkuk dan menahan tubuhnya dengan memegang atas lututnya, kelelahan. Keringat sudah membanjiri sekujur badannya. Rasanya ia tidak sanggup lagi berlari memutari lapangan ini sekali lagi.
Eun Ji yang melihat itu hanya tertawa penuh kemenangan. Setidaknya, laki-laki itu juga harus bisa merasakan bagaimana lelahnya dia saat melakukan hal yang sama tadi.
Mark tetap berusaha untuk melawan rasa lelahnya demi menyelesaikan hukuman ini. Ya, kalau saja Eun Ji tidak mengancamnya, Mark juga tidak akan mau berlari seperti ini.
Putaran terakhir berhasil dilewati oleh Mark. Sekarang tubuhnya benar-benar lemas hingga akhirnya terduduk di tanah. Merasa hal itu tampaknya mulai serius, Eun Ji yang sebelumnya duduk di pinggir lapangan itu bergegas menghampiri Mark dan berjongkok di sampingnya.
"Gwaenchana? " Eun Ji memegang bahu Mark.
Dapat ia lihat dengan jelas betapa pucatnya Mark saat ini. Mark hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Mark memaksa tubuhnya untuk berdiri, meskipun teramat sangat sulit. Eun Ji tidak tinggal diam, ia mengejar Mark yang sudah dua langkah menjauhinya.
Eun Ji seketika berhenti melihat Mark tiba-tiba berhenti melangkah. Ia makin terkejut lagi, saat tiba-tiba tubuh Mark semakin lemas dan nyaris terjatuh. Eun Ji segera melesat dan dengan sigap menahan tubuh Mark yang lebih berat dari tubuhnya sendiri.
"Mark!”
••
Jin Young sesekali melirik ke kiri, tempat di mana Hye Rim duduk. Ya, lebih tepatnya lagi, di sebelahnya. Sejujurnya, Jin Young sangat senang bisa menjadi deskmate Hye Rim. Dan yang perlu dipertanyakan adalah kapan datangnya perasaan seperti ini?
Hye Rim melakukan hal yang sama, ia juga sesekali melirik Jin Young yang duduk di sebelahnya dengan gugup. Sebelumnya, Hye Rim duduk dengan Jae Ki. Dan yang membuat deskmate-nya berubah adalah karena Jin Young, yang entah kenapa ingin pindah ke kelasnya, dan meminta untuk menjadi deskmate Hye Rim di kelas. Niat awal untuk membuang perasaan sukanya terhadap Jin Young, lagi-lagi gagal.
Setelah beberapa saat, akhirnya ia menyadari sesuatu. Sejak pagi tadi, setelah Mark dan Eun Ji ketahuan terlambat masuk ke kelas dan dihukum, mereka masih belum juga kembali.
Apa Kim ssaem memberikan hukuman yang berat untuk mereka? pikir Hye Rim.
Hye Rim kemudian menengok ke belakang, sebuah bangku yang kosong, tempat di mana Eun Ji duduk. Ia tidak menyangka akan dibenci seperti ini oleh sahabat sendiri. Dan Hye Rim menyesali itu.
••
Hye Rim tampak ragu saat akan memasuki ruang guru. Sambil memegang makalah dengan cover berwarna hijau itu, ia melangkah pelan dan terus menggigit bagian bawah bibirnya dengan gugup. Ia takut. Takut kalau Park ssaem akan bertanya yang macam-macam tentang makalah yang dibuatnya sendiri, juga bingung harus beralasan seperti apa agar Park ssaem percaya padanya.
"Park ssaem," Hye Rim mulai memanggilnya ragu.
Orang yang dipanggil akhirnya menoleh, dan mendapati Hye Rim berdiri di samping meja kerjanya. Park ssaem kemudian melepas kacamatanya, lalu tersenyum.”Ada apa?”
"Ini ..." Hye Rim menyodorkan makalah itu sembari menunduk, berusaha menghindari tatapannya.
"Ah, tugas itu ..."
Baru saja Park ssaem akan mengambilnya dari tangan Hye Rim, ada tangan lain yang mengambil makalah itu lebih dulu, sehingga membuat tangan Park ssaem terhenti di udara yang sekejap kemudian diturunkan. Pandangannya kini beralih pada gadis lain di sebelah Hye Rim. Hye Rim tak mampu menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Eun Ji di sampingnya. Eun Ji tersenyum simpul, lalu menyodorkan makalah lain kepada Park ssaem.
"Eun Ji ....” Hye Rim menatap Eun Ji tak percaya, sekaligus terharu.
"Apa maksudnya ini?" Park ssaem bertanya, tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
"Makalah yang sebelumnya Hye Rim ingin berikan itu ... salah. Itu adalah makalah pertama yang kami buat, tapi sayangnya ada banyak yang salah. Jadi kami memutuskan untuk membuat yang baru,” jelas Eun Ji seraya tersenyum. Kemudian melanjutkan, " Yah ... untung saja aku ingat dan cepat sampai di sini. Kalau tidak, mungkin saja nilai kami akan hancur.”
Park ssaem mengangguk paham. “Lain kali jangan ceroboh, Kim Hye Rim."
Hye Rim masih menjadi satu-satunya yang tak mengerti dengan situasi ini.
Eun Ji segera membungkuk untuk memberi hormat sebelum bergegas keluar dari ruang guru, yang kemudian disusul Hye Rim.
"Lee Eun Ji!" panggil Hye Rim secepat mungkin, dan Eun Ji langsung menoleh.
"Kau ... kenapa melakukan ini?"
"Tugas kelompok itu tetaplah tugas. Dan masalah kita itu adalah urusan pribadi kita. Kurasa masalah pribadi kita sama sekali tidak ada kaitannya dan tidak boleh mempengaruhi tugas kelompok."
"Eh, tapi ... aku sama sekali tidak membantumu untuk tugas itu. Dan kau tetap memasukkan namaku?"
"Aku ini adalah orang baik yang memperlakukan semua orang itu sama dalam hal ini. Sekalipun ia tidak bekerja, aku tetap akan menulis namanya. Jadi tenang saja. Kau bisa berterima kasih padaku nanti saja," kata Eun Ji bangga, sebelum ia menepuk pundak Hye Rim dan berlalu dari hadapannya.
Melihat Eun Ji yang tersenyum padanya dan perlahan menjauh, Hye Rim tidak dapat menahan senyum bahagianya. Sepertinya Eun Ji tidak lagi membencinya. Semoga saja.
••
Eun Ji baru saja membuka pintu UKS ketika matanya tidak mendapati siapa pun di dalam ruangan itu. Tanpa menunggu lama, ia bergegas mencari Mark. Tidak mungkin ia meninggalkan Mark saat sedang sakit seperti sekarang. Lagipula, semuanya ini salahnya, karena sudah memaksa Mark untuk berlari memutari lapangan itu sepuluh putaran.
Eun Ji berlari menuju kantin untuk mencari Mark. Namun nihil. Mark tidak ada di sana.
"Eun Ji kenapa?” tanya Jin Young setelah melihat Eun Ji yang tampak panik mencari seseorang.
Hye Rim kemudian mengikuti arah pandang Jin Young, lantas mengerutkan kening.
Eun Ji yang masih berlari di sepanjang koridor, sesekali menoleh ke kiri kanan untuk mencari sosok Mark. Ia bahkan sudah ke kelas, tapi Mark juga tidak ada di sana.
"Lee ssaem," panggil Eun Ji begitu berpapasan dengan Lee ssaem. "Apa Lee ssaem melihat Mark? Mark Kim?"
"Ah, dia ..."
Eun Ji menatap Lee ssaem dengan mata berbinar. Ia menunggu.
"Dia yang pernah berciuman denganmu, kan?"
Eun Ji melongo. Ia ... tidak mengharapkan jawaban seperti itu.
"Y-ya ..." Eun Ji memaksakan senyumnya, dan berasumsi kalau semuanya baik-baik saja, tidak ada maksud lain dari pertanyaan Lee ssaem itu.
"Saya tidak tahu. Memangnya ada apa?"
"Ehm ... tidak apa-apa." Eun Ji tersenyum kemudian membungkuk dan segera pergi dari sana.
"Tunggu!"
Suara Lee ssaem menghentikan langkah Eun Ji.
"Beberapa hari ini ... dia sering ke lapangan basket untuk berlatih. Mungkin dia ada di situ," kata Lee seonsaengnim.
Segera setelah mendengar itu, Eun Ji langsung berlari menuju lapangan baskat indoor.
Dan benar, ada Mark di sana. Mark tengah berlari-lari kecil sambil men-dribble bola basket dan melakukan shooting beberapa kali. Eun Ji kemudian menutup pintu ruangan yang tampak sepi itu. Kemudian, ia melangkah mendekat. Entah apa yang membuatnya tak tahan untuk tersenyum melihat usaha Mark itu. Awalnya, ia berniat memaksa Mark untuk kembali berisitirahat. Namun begitu melihat Mark sedang berlatih begitu keras, mungkin ia harus mengurungkan niatnya.
Eun Ji baru selangkah hendak meninggalkan Mark, dan sebuah bola basket menggelinding ke arahnya. Eun Ji tanpa ragu mengambil bola itu, lalu berbalik ke arah Mark yang berdiri di tengah lapangan sambil tersenyum ke arahnya. Eun Ji memegang bola itu dengan kedua tangannya, lantas melangkahkan kaki menghampiri Mark. Dan entah kenapa ia malah merasa gugup dan ragu sekarang. Namun sebisa mungkin ia menyembunyikan kegugupannya di depan Mark.
Tanpa berkata apa-apa, Eun Ji menyodorkan bola itu.
"Ajarkan aku bermain bola basket. Aku rasa kau cukup pandai dalam hal ini."
"Siapa bilang?" bantah Eun Ji, meskipun dalam hatinya ia mengiyakan pernyataan Mark tadi.
"Ayolah ... ajari aku ... kali ini saja."
Eun Ji membulatkan matanya, geli. Ya, merasa geli terhadap apa yang dilakukan Mark barusan. Apa dia sedang berusaha membujuk Eun Ji untuk mengajarnya? Atau dia sedang berusaha membuat Eun Ji tertarik padanya? Mark merengek padanya! Eun Ji menahan dirinya untuk tak tertawa dan segera menepis tangan Mark. Meski jujur saja, saat Mark merengek seperti anak kecil tadi, Mark terlihat sangat lucu, hingga membuat Eun Ji salah tingkah. Eun Ji tidak biasanya tak terkontrol seperti ini saat berhadapan dengan seorang laki-laki. Dan, Mark orang pertama yang membuat perasaannya tak keruan.
"Okay,okay ... baiklah."
Mark tersenyum senang.
"Tapi ... apa kau sudah kuat? Atau kau masih sakit? Kalau masih sakit, sebaiknya jangan dulu. Kau harus segera pulih," kata Eun Ji khawatir.
“Ya, aku laki-laki. Aku seharusnya kuat." Mark melakukan peregangan, untuk membuktikan pada Eun Ji bahwa ia baik-baik saja.
"Baiklah."
Eun Ji mulai memegang bola itu lalu bersiap untuk mengajar Mark.
Dari kejauhan, di dekat pintu masuk ruangan itu, tampak Hye Rim dan Jin Young sama-sama berdiri di sana, dan menyaksikan mereka. Sesaat kemudian, Hye Rim tersenyum. Tidak dengan Jin Young, ia tak bisa berbohong bahwa ia masih merasa cemburu dengan kedekatan mereka. Karena dari awal, ia memang membenci laki-laki itu, Mark Kim.
"Mereka terlihat cocok bersama,” ucap Hye Rim, yang tanpa disadarinya cukup menyinggung perasaan Jin Young. Ingat akan perasaan Jin Young, senyuman yang dipancarkan Hye Rim sejak tadi kini tak terlihat lagi. "Jangan cemburu." Hye Rim menyenggol lengan Jin Young, dan berhasil membuat Jin Young tersadar dari lamunan singkatnya.
"Sudahlah. Aku tidak ingin mengganggu mereka," kata Hye Rim dan segera beranjak pergi dari sana. Tak lama kemudian, Jin Young akhirnya menyusul Hye Rim.
Beberapa saat setelah Eun Ji dan Mark berlatih, mereka memutuskan untuk duduk di tengah-tengah lapangan basket indoor itu. Keduanya kelelahan. Mark yang menyadari Eun Ji kelelahan akhirnya berdiri dan mengambil tasnya di pinggir lapangan.
Mark kembali duduk di tempat sebelumnya lalu merogoh isi tasnya. Dan tidak lama kemudian, ia mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tasnya. Disodorkannya botol air mineral itu tepat di depan wajah Eun Ji, membuat Eun Ji terkejut dan sontak menjauhkan wajahnya dari botol air mineral yang sebelumnya hanya berjarak beberapa centi di depan wajahnya itu.
"Minumlah." Mark menggoyang-goyangkan botol itu, membuat Eun Ji-yang memang tengah kehausan itu-menelan ludah sambil terus memandangi air yang terguncang di dalamnya.
Namun, ia menolak. "Aku tidak membutuhkannya.”
"Benarkah? Kalau begitu ... biar aku yang meminumnya."
Mark baru saja akan memutar penutup botol itu, ketika tangan Eun Ji tiba-tiba memegang botol itu.
"Aku juga mau minum."
Sambil tersenyum penuh kemenangan, Mark melepaskan botol itu dan kini berpindah ke tangan Eun Ji. Secepat mungkin Eun Ji meneguk setengah dari isi botol itu. Lalu menghela napas ketika ia menjauhkan botol itu dari mulutnya. Setelah menutupnya kembali, Eun Ji menyodorkannya kembali pada Mark.
Mark kembali membuka botol air mineral itu dan meneguk sisanya sampai habis. Eun Ji melihatnya sekilas, sebelum ia menyadari apa yang terjadi.
"Kau ... kenapa ....?”
"Hm? Wae? Apa ada yang salah?" Mark menatap Eun Ji bingung.
"Kenapa kau minum dari botol itu juga?" Suara Eun Ji meninggi dengan kening berkerut kesal.
Butuh beberapa saat untuk Mark menyadarinya. "Oh, ciuman tidak langsung?"
Eun Ji menganggukkan kepala tanpa mengakhiri tatapannya pada Mark.
"Hei ... bukankah kita sudah pernah melakukan 'yang langsung'?" goda Mark.
Eun Ji mendengus kesal. Perkataan Mark barusan kembali mengingatkannya akan hal itu. Sudah lama ia berusaha melupakan first kiss yang sudah mendatangkan banyak masalah itu.
"Kau ..." Eun Ji kehabisan akal meladeni Mark. "menyebalkan!"
Mark yang melihat bagaimana gadis itu ngambek hanya cekikikan. Namun sedetik kemudian, ia menyadari betapa dirinya sangat suka melihat Eun Ji yang terganggu karenanya.
••
Ketika tiba di kelas, Eun Ji langsung duduk di bangkunya, menenggelamkan wajahnya di balik kedua tangan yang dilipat di atas meja. Kejadian tadi masih terus terputar dengan baik di otaknya. Jujur saja, Eun Ji tidak pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya. Bahkan untuk Lee Jin Young, satu-satunya laki-laki yang paling dekat dengannya, Eun Ji hanya menganggapnya sebagai sahabat dan tidak bisa lebih dari itu. Sedangkan Mark, Eun Ji bingung dengan perasaannya terhadap Mark. Semuanya terasa begitu aneh. Terlebih lagi, ia bisa merasakan betul bagaimana jantungnya berdetak tak karuan saat dia mencoba mengajarkan Mark cara memasukkan bola basket dengan baik ke dalam ring. Bahkan ketika mereka bersentuhan saja, Eun Ji merasa aneh dengan respon yang diberikan tubuhnya. Dan Eun Ji tidak mengerti kenapa dan bagaimana itu terjadi.
Eun Ji perlahan mengangkat kepalanya ketika mendengar sebuah suara di dekatnya. Sangat dekat.
Eun Ji sontak menjauh dari wajah Jin Young yang tepat berhadapan dengan wajahnya dalam jarak yang cukup dekat. Jin Young yang duduk di kursi di depan Eun Ji hanya tertawa kecil melihat reaksi Eun Ji itu. Tidak hanya Jin Young, Hye Rim juga terlibat.
"Ada apa? Kau benar-benar mengejutkanku!" omel Eun Ji pada Jin Young kesal.
"Tapi kau tetap lucu."
"Oh, tunggu sebentar!" Eun Ji menyipitkan matanya, merasa ada sesuatu yang ganjal di kelasnya.
"Kau ... kenapa di sini? Tumben sekali," tanya Eun Ji yang merasa aneh dengan keberadaan Jin Young di kelasnya yang tidak seperti biasanya.
"Oh, aku? Mulai sekarang aku akan belajar di kelas ini."
“Apa? Kau serius?”
Detik berikutnya, mata Eun Ji secara tidak sengaja mendapati Mark yang berjalan santai memasuki kelas sambil menenteng tasnya dan langsung duduk di bangkunya. Entah bagaimana perasaan aneh itu mengusik Eun Ji ketika ia melihat wajah itu. Atau mungkin otaknya yang mulai rusak, karena tiba-tiba saja Eun Ji ingin berlama-lama memperhatikan Mark. Yah, kali ini Eun Ji mencoba untuk jujur. Mark memang tampan.
Eun Ji tidak ingin terpengaruh dengan cara berpikir para murid perempuan di kelasnya yang dengan mudahnya menyukai laki-laki yang hanya terlihat menarik secara fisik, tapi mungkin untuk Mark sekarang, akan ada pengecualian.
Matanya masih tertuju pada wajah Mark, ketika sesuatu melambai-lambai tepat di depan wajahnya. Membuat gadis itu tersadar dari lamunannya saat itu juga, lalu menoleh ke arah si pemilik tangan.
"Kau ... benar-benar menyukainya, ‘kan?"
Eun Ji berusaha tetap tenang dan membuang pandangan ke arah lain. Eun Ji hanya diam, namun otaknya terus bekerja keras untuk mendapatkan jawaban yang tepat untuk dikatakannya pada Jin Young.
Sebelum Eun Ji sempat menjawab, bel masuk kelas tiba-tiba berbunyi. Eun Ji diam-diam bernapas lega. Ia harus berterima kasih pada bel itu. Setidaknya, Eun Ji sudah berhasil menghindari pertanyaan Jin Young. Meskipun ia tau, Jin Young pasti akan terus mencari tahu tentang bagaimana perasaannya terhadap Mark yang sebenarnya. Masalahnya, bagaimana jika Eun Ji tidak yakin dengan dirinya sendiri?
••