8

2154 Kata
Di antara banyaknya murid yang berdesakan keluar dari kelas itu, hanya Eun Ji dan Mark yang masih duduk dalam diam dan entah memikirkan apa. Padahal, bel pulang sekolah sudah berdering nyaring sejak kurang lebih lima menit yang lalu. "Kau.. tidak pulang?" Setelah mengumpulkan keberanian yang cukup, Eun Ji akhirnya bertanya. "Kau pulang saja dulu. Aku masih mau di sini. Jangan menungguku.” Menunggunya? Yang benar saja! "Memangnya aku menunggumu?" balas Eun Ji, merasa laki-laki itu terlalu kepedean. "Lalu kenapa kau masih di sini?" "Yah ... itu ... ya! Aku baru mau pulang sekarang.” Eun Ji segera bangkit dari duduknya dan meraih tasnya, kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu. Namun sebelum semakin jauh, Eun Ji akhirnya berhenti, dan berbalik. "Ehm ... apa kau tidak apa-apa?" tanya Eun Ji ragu. Merasa bingung dengan pertanyaan itu, Mark mengerutkan dahi. Tapi tidak lama kemudian, Mark akhirnya tersenyum. Tidak, bukan tersenyum, tapi lebih tepatnya menahan tawa setelah menyimpulkan maksud dari pertanyaan itu. "Sudahlah. Jangan khawatir. Aku bukan tipe laki-laki yang takut jika ditinggal sendiri. Kau pulang saja dulu." Mark melipat tangan di depan d**a dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, masih tersenyum percaya diri. Eun Ji mengernyit, lalu berjalan menghampiri Mark yang masih duduk di tempatnya, di ujung belakang kelas. Kali ini, Eun Ji ikut melipat tangan di depan dadanya. "Aku tidak menyangka kau akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi seperti ini. Kau pikir ... maksud pertanyaanku tadi karena aku khawatir meninggalkanmu sendiri? Kau benar-benar ...." Eun Ji menyeringai. "Lalu?” Mark bertanya dengan bingung. Eun Ji menghela napas, kemudian menjawab, “Badanmu sudah baikan? Kalau masih sakit ...." Eun Ji memberikan jeda di sela-sela kalimatnya, "mungkin aku akan menunggumu. Karena aku tahu ini juga salahku." Eun Ji menundukkan kepalanya, malu untuk mengungkapkan itu, sebenarnya. “Ah, itu. Tidak apa-apa. Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Kau pulang saja,” jawab Mark yakin. Setelah Eun Ji mengangguk mengerti, ia kemudian berbalik, hendak melangkahkan kakinya. "Apa kau khawatir padaku sekarang? Apa aku harus tersanjung?” Mark tertawa. Saat Eun Ji memutar badan kembali untuk menghadapi laki-laki itu, Mark sudah berdiri, menyampirkan tas di pundak, dan berlalu meninggalkan Eun Ji dengan tawa penuh kemenangan. •• Sambil berjalan di belakang Mark, Eun Ji sesekali mendengus kesal. Hanya melihat punggungnya saja ia geleng-geleng kepala. Kenapa dirinya harus dipertemukan dengan laki-laki menyebalkan seperti Mark Kim? Jujur saja, ini pertama kalinya Eun Ji merasa sangat kesal terhadap seorang laki-laki dalam hidupnya. Mark, laki-laki itu yang secara tidak sengaja hadir dalam hidupnya dan membuatnya merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Ini akan menjadi pengalaman baru bagi seorang Lee Eun Ji tentang perasaan yang baru juga dirasakannya. Eun Ji benar-benar harus kuat menghadapi laki-laki seperti Mark. Eun Ji menghentikan langkah sepersekian detik setelah melihat Mark juga berhenti. Sesaat kemudian, Mark melanjutkan langkah lagi. Eun Ji bernapas lega, lantas mengikuti langkahnya hingga keningnya membentur punggung Mark ketika laki-laki itu menghentikan langkahnya lagi dengan mendadak. Eun Ji meringis mengusap keningnya. Mark kemudian berbalik, lalu menatap gadis itu. "Kalau mau pulang sama-sama, seharusnya bilang dari tadi. Jangan diam-diam menguntitku. Atau yang kukhawatirkan kalau kau diam-diam mengagumiku,” ucap Mark, membuat Eun Ji mengernyit. Tak ingin berurusan lebih lama dengannya, Eun Ji mengembuskan napas seraya geleng-geleng kepala, lalu kembali berjalan mendahului Mark. Sekali lagi, Mark hanya bisa tertawa diam-diam melihat reaksi gadis itu. Menurutnya, itu lucu. •• Sesekali Jin Young melirik gadis yang duduk di dalam mobil bersamanya itu, Kim Hye Rim. Dan entah kapan datangnya perasaan aneh yang selalu dirasakannya akhir-akhir ini saat sedang berdua dengan Hye Rim. Tidak seperti dulu lagi. Jin Young kembali sadar. Ia tidak lagi dekat dengan Hye Rim sejak pertemuannya dengan Eun Ji. Seakan-akan Eun Ji mampu mengambil semua perhatiannya, dan membuatnya melupakan Hye Rim. Wajar saja jika sekarang dirinya dan Hye Rim jadi sulit untuk bisa berinteraksi seakrab dulu. Apalagi, setelah Jin Young tahu bagaimana perasaan Hye Rim terhadapnya. Raut wajah yang tidak biasanya Jin Young lihat. Hye Rim tampak begitu gelisah. Jika Jin Young bisa menebak, mungkin saja Hye Rim sedang sibuk memikirkan bisnis ayahnya yang sedang di ujung tanduk. Jujur saja, sempat terlintas di benak Jin Young untuk memeluk gadis itu dan menenangkannya. Tapi, nyatanya itu tidak semudah yang ia pikirkan. "Sudah sampai,” ucap Hye Rim, membuat Jin Young menginjak rem mendadak. "Maaf.” Jin Young menyengir. "Gomawo.” Setelahnya, Hye Rim segera keluar dari mobil Jin Young. Jin Young tak langsung pergi. Ia menunggu gadis itu masuk lebih dulu. Meski Hye Rim tampak baik-baik saja, tapi Jin Young tahu gadis itu hanya berusaha untuk kuat dan tidak ingin membuatnya khawatir. Bisakah Jin Young membuat Hye Rim kembali ceria seperti dulu lagi? Namun dirinya sendiri belum mampu melupakan perasaannya pada Eun Ji. •• "Hari ini.. kita akan mengambil nilai olahraga,kan?" Eun Ji baru menutup loker setelah mengambil seragam olahraganya ketika Jin Young tiba-tiba muncul. “Berhenti muncul tiba-tiba seperti ini lagi,” kata Eun Ji menghela napas. “Baik, Nona Lee.” “Berhenti atau aku tidak akan membantumu dekat dengan Hye Rim kembali," canda Eun Ji. "Oke!” Jin Young mendengus. “Aku sudah cukup kesulitan menghadapinya dan kau seperti ini.” Eun Ji menepuk bahu Jin Young. “Tenang saja. Aku akan membantumu mendapatkan hatinya kembali.” Jin Young mengerjap, bahkan ketika Eun Ji sudah berlalu meninggalkannya sendirian di kelas. •• "Lee Eun Ji!" Eun Ji segera berdiri saat mendengar namanya dipanggil oleh Park ssaem, guru olahraga pria bertubuh tinggi tegap itu. Setelah mengambil salah satu bola basket, Eun Ji berdiri menghadap tiang ring dengan pandangan fokus tertuju pada keranjang di atas sana. Eun Ji men-dribble bola tiga kali, sebelum akhirnya melempar bola hingga berhasil masuk ke dalam ring. Eun Ji tersenyum puas, melihat hasil akhirnya. Ia berhasil memasukkan bola itu ke dalam ring sebanyak enam kali. Tak jauh darinya, Mark yang sedang menunggu giliran juga turut memperhatikannya sambil tersenyum. "Kau melakukannya dengan baik,” puji Mark ketika Eun Ji sudah kembali duduk di dekatnya. Sebagai balasan, Eun Ji tersenyum malu. Apa yang kulakukan, sih? Eun Ji geleng-geleng kepala, berusaha menyadarkan dirinya. Kenapa ia malah tersenyum untuk pujian Mark? Ini pertama kalinya Eun Ji melakukan hal itu pada Mark setelah sekian lama Mark hanya mampu membuatnya naik darah. "Aku tidak menyangka kau akan berhasil memasukkan bola itu enam kali. Aku bahkan hanya berhasil tiga kali,” kata Hye Rim yang baru saja menghampiri Eun Ji dan Mark. "Makanya kau harus belajar banyak dari Eun Ji,” balas Jin Young. “Hei, aku juga sudah banyak berlatih,” protes Hye Rim tak terima. Eun Ji tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat interaksi kedua sahabatnya itu. "Mark Kim!" Pandangan Eun Ji beralih pada Mark yang berdiri segera setelah mendengar namanya dipanggil Park ssaem. Eun Ji kemudian tersenyum penuh harap. Ada secercah harapan yang timbul di hatinya, agar Mark dapat berhasil kali ini. Bahkan kalau bisa, Mark melakukannya lebih baik dari dirinya sendiri. Lemparan kesepuluh. Mark sudah berhasil memasukkan bola ke ring lima kali. Untuk yang terakhir ini, Mark mengerahkan seluruh fokusnya. Bola dilempar. Dan, masuk. “Yeah!!!” Seruan Eun Ji lantas membuat semua pasang mata tertuju padanya. Eun Ji yang sedang tertawa gembira sambil melompat-lompat, kini menyadari keanehan dari tatapan semua orang untuknya. Sontak Eun Ji terdiam dan kembali duduk dengan kepala tertunduk menahan malu. Sementara Mark yang melihatnya diam-diam tertawa, tak menyangka Eun Ji akan bereaksi berlebihan seperti itu. Mark pergi mengambil minum, kemudian kembali dan menyodorkannya pada Eun Ji yang terdiam menatapnya. "Untuk menghargai kebahagiaanmu karena aku berhasil melakukannya.” “Ja-jangan berlebihan. Aku hanya senang keberhasilanmu juga karenaku,” balas Eun Ji gelagapan. “Ya, ya, terserah.” Tak jauh dari mereka, Jin Young sedang berdiri dan memperhatikan mereka. Tak ada yang bisa dilakukannya selain diam dan membiarkan semuanya terjadi. Cepat atau lambat, Eun Ji juga pasti akan menyadari perasaannya yang sesungguhnya terhadap laki-laki yang pernah dibencinya itu. “Aku tahu kau tidak menyukainya,” celetuk Hye Rim di sampingnya. "Ya ... aku memang tidak menyukainya. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Bahkan dengan diam, itu mungkin jalan yang terbaik,” jawab Jin Young pasrah. •• Tidak ada yang membuat Eun Ji lebih bahagia di sekolah selain kabar bahwa gurunya tidak masuk dan akan mengosongkan pelajaran. Jae Min, desk mate-nya yang banyak tingkah bicara itu juga sedang berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Eun Ji menenggelamkan wajahnya di balik kedua tangan yang dilipat di atas meja. Ingin menutup mata dan berusaha untuk mengosongkan pikiran agar ia bisa menggunakan sisa waktu satu jam ini untuk tidur. Namun mungkin keberuntungan sedang tidak berpihak pada dirinya saat ini. Suara berisik yang muncul di dekatnya membuat matanya terbuka namun masih dalam posisi yang sama. Matanya mencoba melirik ke samping, dan mendengus kesal. Mungkin, Jimin sudah kembali dan mencoba untuk mengganggunya lagi. Meskipun begitu, Eun Ji tetap berusaha untuk tak memedulikannya. "Aku yakin kau belum benar-benar tidur, Eun Ji.” Mata Eun Ji kembali terbuka mendengar suara yang tak asing itu. Penasaran, ia mengangkat wajah untuk melihatnya. Mark duduk di sebelahnya, menopang pipi sambil menatap Eun Ji. "Tolong jangan membuatku ingin pergi dari sini," kata Eun Ji, lalu kembali ke posisi sebelumnya. "Ayolah ... aku ke sini karena aku juga bosan. Apa kau tidak bisa membuat suasana jadi menyenangkan sekali saja?" Setelah beberapa saat mereka saling diam, Mark memutuskan untuk menoleh ke arah Eun Ji yang kini menunjukkan wajahnya yang sedang tertidur. Entah dia benar-benar tertidur atau berpura-pura, yang jelas, Mark dapat mengatakan wajah yang sedang tertidur itu cantik. Eun Ji memang cantik, hanya saja, Mark terlambat terpesona olehnya. “Kenapa kita harus selalu bertengkar? Kalau saja kita berteman sejak dulu, sudah kupastikan kau akan jadi milikku sekarang,” gumam Mark. Dan Eun Ji tentu saja mendengarnya. "Apa yang kau katakan barusan? Jadi milikmu? Sebaiknya kau berkaca dulu sebelum mengatakan hal itu. Paham?" •• Eun Ji yang masih melangkahkan kakinya dan memutuskan untuk menuju ke perpustakaan, sesekali mendesah dan memejamkan matanya rapat-rapat. Rasanya ia sudah muak dengan perasaan aneh yang melandanya akhir-akhir ini, jika bersama Mark. Terkadang Mark memang sangat menyebalkan, tapi justru tingkahnya itu yang membuat Eun Ji rasanya betah berlama-lama bersamanya. Ditambah lagi sekarang, ia tahu Mark diam-diam mengikutinya dari belakang. Namun sebisa mungkin Eun Ji tetap diam dan tidak menghiraukannya. Sesampainya di ruangan yang penuh dengan buku-buku dan diselimuti kesunyian itu, Eun Ji langsung duduk di salah satu bangku yang terletak di sudut ruangan, dan kembali menenggelamkan wajahnya dibalik kedua tangan yang dilipat di atas meja, melanjutkan tidur. Ia terlalu malas untuk bergerak hari ini. Suara kursi yang digeser membuat mata yang terpejam itu kembali terbuka. Eun Ji hanya mendengus kesal, karena ia tahu pasti bahwa orang yang berusaha mengganggu ketenangannya tidak lain adalah Mark. Lagi. "Kupikir kau akan melakukan hal-hal yang bermanfaat di sini, ternyata kau hanya tidur,” cibir Mark. “Apa yang tidak bermanfaat dari menggunakan waktu kosong untuk beristirahat? Kau harus menanyakan itu pada dirimu sendiri. Datang ke sini dan mengganggu orang.” Setelah itu, Mark tak bersuara lagi. Yang didengarnya kemudian hanya suara kursi yang bergeser. Sepertinya, Mark sudah tidak ada. Tapi, kenapa Eun Ji malah tidak tenang? Eun Ji mengangkat wajahnya, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan, untuk mencari sosok Mark. Tidak ada siapa pun, hanya dirinya seorang diri. "Mark!" Eun Ji terpaksa memanggilnya. Namun tetap saja, tidak ada balasan. Eun Ji berusaha tak peduli. Berkali-kali ia menarik napas dan mengembuskannya, meyakinkan dirinya bahwa tidak apa-apa sendirian di sini. Eun Ji masih di posisi yang sama, ketika tangan seseorang memegang bahunya. Eun Ji tak kuasa menahan pekikannya. “Aaaaaa!” Mark menutup kuping. “Hei, ini aku!” Eun Ji terdiam. Sadar bahwa itu Mark, Eun Ji berdiri menatapnya penuh amarah. “Apa kau tidak bosan selalu menggangguku?” bentak Eun Ji, lalu beranjak pergi meninggalkan Mark. Mark tidak tinggal diam, ia menaruh buku yang sempat diambilnya ke rak lain, lalu mengejar Eun Ji. "Bukannya kau yang memanggilku? Kenapa sekarang kau malah marah seperti ini?" tanya Mark heran. "Tapi kau tidak harus mengagetkanku seperti itu, kan?" balas Eun Ji. Mark mengalah. “Oke, aku minta maaf.” Sudah cukup pertengkaran itu sampai hari ini. Mark sudah muak dengan pertengkaran antara dirinya dan Eun Ji. Mulai hari ini, ia pastikan dirinya dan Eun Ji akan mulai menjalin pertemanan dengan baik. Semoga saja. •• Entah kesialan apa lagi yang didapatkan Eun Ji hari ini. Ia terlalu nyenyak tertidur sampai-sampai tidak mendengar bunyi jam wekernya yang sudah diaturnya untuk berdering setengah jam lebih cepat dari biasanya. Dengan langkah tergesa, Eun Ji menuruni anak tangga rumahnya dan langsung melesat keluar dari rumah tanpa memedulikan perutnya yang masih kosong. Baru beberapa langkah meninggalkan rumahnya, Eun Ji memperlambat langkahnya, ketika seseorang tiba-tiba saja menyalipnya dari belakang. Eun Ji menatap laki-laki yang melaju dengan skateboard itu dengan mata memicing. "Mark?” Eun Ji bergumam. Mungkin benar, dia Mark. Ah, bukan mungkin lagi. Buktinya sekarang laki-laki itu malah berhenti beberapa meter di depan Eun Ji, kemudian berbalik. “Kau mau berangkat ke sekolah bareng?” tawarnya. Eun Ji tidak menjawab. Ia kembali melangkahkan kakinya seolah tak peduli dengan tawaran itu. Sebenarnya tidak dapat dikatakan tidak peduli juga, Eun Ji hanya malas untuk berurusan lebih banyak dengan Mark di situasi darurat seperti ini. Eun Ji masih melangkahkan kakinya hingga melewati Mark yang masih terdiam di tempatnya, dengan satu kaki bertumpu pada papan skateboard-nya. Ia kemudian melaju, menyusul dan menyejajarkan posisi dengan Eun Ji. "Tolong jangan membuatku terlambat lagi hari ini,” ucap Ji datar, tanpa menoleh sekali pun pada Mark yang berada di sampingnya. "Hmm ... kurasa kita sudah terlambat.” Mark mengecek arlojinya lalu tersenyum Sesaat kemudian Eun Ji menghentikan langkahnya. Tangan Eun Ji dengan lancangnya meraih tangan Mark dan memastikan apakah Mark berbohong. Eun Ji memejamkan mata frustasi, waktu mereka hanya tersisa lima menit. “Kita bisa menjalani hukuman bersama-sama,” ucap Mark tenang. "Kau saja. Jangan aku lagi.” "Maksudmu ... kau ingin bolos?” “Mungkin ....” "Kalau begitu ... ayo!" seru Mark bersemangat, kemudian meraih tangan Eun Ji dan membawanya pergi dari sana. “Mark!” ••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN