Eun Ji masih menatap pemandangan di depannya itu dalam diam. Matanya berbinar melihat pemandangan itu. Sungai Han. Di sinilah ia dan Mark berada sekarang.
Sebenarnya tempat ini tidak asing bagi Eun Ji, karena Eun Ji sudah sering berkunjung ke tempat ini saat ia masih bersama ibunya dulu.
Dan kini, dia ada di sini, bersama Mark. Rasanya Eun Ji jauh lebih suka ke tempat ini jika bersama Mark seperti ini. Eun Ji juga tak menemukan alasan yang jelas mengapa.
Sesekali Eun Ji melirik laki-laki yang berdiri di sampingnya itu. Marktampak jauh lebih tampan sekarang, pikir Eun Ji. Mark yang menatap pemandangan itu dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya, membuat Eun Ji merasa tidak salah jika menyebutnya tampan. Eun Ji memang baru menyadarinya sekarang. Dan itulah salahnya.
"Kenapa? Kenapa terus melirikku seperti itu? Kalau memang ingin melihat, lihat saja,” ucap Mark, lagi-lagi, dengan percaya diri yang tinggi.
"Apa maksudmu? Siapa yang melirikmu? Jangan terlalu percaya diri,” balas Eun Ji, jadi salah tingkah.
Mark hanya tertawa kecil mendengarnya. Lalu kemudian menoleh pada gadis di sebelahnya itu.
"Aku rasa ke tempat ini jauh lebih menyenangkan dari pada di sekolah,” ujar Mark, kembali memandangi indahnya sungai Han itu.
"Kenapa? Kupikir setiap laki-laki itu sama. Mereka tidak menyukai hal-hal semacam ini,” kata Eun Ji heran.
"Karena.." Karena aku kesini bersamu, bodoh. Kau benar-benar sulit untuk peka pada perasaan orang lain.
Sebelum sempat menjawab, Mark lagi-lagi menoleh ke arah Eun Ji, dan mendapati Eun Ji yang tengah menunggu kelanjutan jawabannya.
"Karena aku memang suka,” jawab Mark berbohong, lalu kembali memandangi sungai itu.
Eun Ji hanya mengangguk mengerti. Jawaban Mark tidak seperti yang diinginkannya.
"Sebenarnya tempat ini jauh lebih indah saat malam hari,” kata Eun Ji.
"Oh, benarkah? Kalau begitu kau berhutang menemaniku ke tempat ini lagi saat malam hari.”
"Kenapa bisa begitu?”Eun Ji tentu saja dibuat bingung dengan perkataan Mark tadi. Yang membuatnya lebih heran lagi, saat Eun Ji melihat Mark malah tertawa.
"Kau seharusnya berterima kasih karena aku sudah membantumu untuk bolos. Dan sebagai terima kasihnya kau harus menemaniku ke sini lagi saat malam hari. Ok?” Mark lantas mengacak pelan rambut Eun Ji, lalu melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
Eun Ji terus memikirkannya sampai ia mengejar Mark. "Memangnya kita bisa bertemu di malam hari? Kita hanya bertemu saat di sekolah dan di rumah jika sempat,” kata Eun Ji, masih tampak berpikir.
"Terserah kapan saja. Aku tidak menyuruhmu untuk menentukan harinya. Yang jelas, aku menunggu untuk saat itu tiba," ucap Mark, sambil terus berjalan pelan dengan pandangan ke arah depan dan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Membuat ia makin menarik di mata Eun Ji.
Mereka terus berjalan semakin jauh dari sungai Han. Kali ini bukan lagi Mark yang mengejar Eun Ji, yang terjadi adalah sebaliknya. Dan jujur saja, Eun Ji bingung ke mana Mark akan pergi saat ini. Yang dilakukannya adalah tetap diam dan mengikuti langkah kaki Mark.
Mereka akhirnya tiba di taman yang terletak tidak jauh dari sekolahnya. Mark duduk lebih dulu di tengah bangku panjang itu, lalu meregangkan otot-otot tangannya. Setelah melakukan peregangan itu, matanya beralih pada Eun Ji yang berdiri diam di hadapannya sambil menatapnya kesal.
"Kau tidak mau duduk?" tanya Mark bingung.
Eun Ji kemudian melipat tangannya di depan d**a.
"Kau pikir aku bisa duduk kalau kau duduk di tengah seperti itu?"
Mark lantas menoleh ke sisi kiri dan kanan bangku yang tersisa. Mark menyeringai, lantas menarik Eun Ji hingga terduduk di sisi kanannya yang sempit.
Eun Ji memukul lengan Mark kesal. Iamendorong tubuh Mark menjauhinya.
Mark terkikik dan menggeser tubuhnya hingga memberi jarak di antara mereka.
Setelah itu, keduanya kembali diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Inilah saat-saat yang cukup membuat Eun Ji tidak suka. Di saat mereka hanya berdua dalam keheningan seperti ini. Terasa canggung bagi Eun Ji.
Masih dalam suasana yang sama, Eun Ji tiba-tiba saja merasa sesuatu yang tidak enak dari perutnya. Tak lama kemudian, ia sadar. Sudah sejak beberapa jam yang lalu ia belum memasukkan makanan apa pun ke dalam perutnya. Dan mungkin jika tidak segera diisi, perutnya akan berteriak-teriak sebentar lagi. Tapi bagaimana bisa? Rasanya malu untuk membicarakannya dengan Mark.
Tapi tak lama kemudian, perutny benar-benar berbunyi. Eun Ji membulatkan matanya seketika.
Harapan agar Mark tidak mendengarnya hanya menjadi harapan yang tidak terwujudkan. Mark mendengarnya. Kini Mark hanya menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari sumber suara itu. Sebenarnya, Mark tahu suara itu berasal dari perut Eun Ji.
"Kau lapar?" Mark tiba-tiba bertanya.
Memang memalukan, tapi inilah satu-satunya jalan terbaik menurutnya. Jadi, Eun Ji mengangguk.
Setelah menjawab, yang didengar Eun Ji di detik berikutnya hanyalah suara deham dari Mark.
Eun Ji lantas menoleh, lalu mendapati Mark tampak tak peduli dengan dirinya yang sedang kelaparan.
Mark yang menyadari Eun Ji memperhatikannya, ikut menoleh.
'Tolong jangan perlihatkan wajahmu yang seperti itu. Aku tidak tahan' batin Mark.
Setelah beradu pandang dengan Eun Ji dalam waktu singkat, Mark mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia tidak tahan. Tidak tahan melihat raut wajah yang ditunjukkan gadis itu. Semua yang dilakukan gadis itu, baik sengaja maupun tidak disengaja selalu berhasil membuatnya gemas.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Mark mulai merasa risih dirinya diperhatikan seperti itu oleh Eun Ji.
Tanpa menjawab, Eun Ji lantas berdiri, lalu segera beranjak dari sana. Sambil melangkah ia merogoh isi tasnya. Masih dengan tangan yang berada di dalam tas, Eun Ji membulatkan matanya. Benda yang dicarinya tidak ia temukan di sana.
"Tidak mungkin," gumam Eun Ji panik, masih dengan tangan yang sibuk mengacak isi tasnya.
Namun tetap saja tidak ada hasilnya. Dompet yang dicarinya sejak tadi itu tidak juga ia temukan. Apakah ia harus pulang saja? Tapi, Eun Ji tidak mungkin pulang dan meninggalkan Mark sendirian.
Eh? Kenapa Eun Ji harus peduli?
Eun Ji segera memukul kepalanya sendiri sembari menutup matanya rapat-rapat, tampak berusaha menghilangkan pikiran gila itu dari otaknya.
Eun Ji kemudian berbalik. Baru saja ia berbalik, Mark sudah berdiri di sana dengan senyum yang terus nampak di wajahnya.
"Mau kutraktir?"
Sebelum Eun Ji sempat menjawab, Mark langsung merangkul Eun Ji dan mengajaknya pergi. Eun Ji hanya bisa diam. Tapi sekaligus bingung dengan apa yang dilakukan Mark ini. Benar-benar di luar dugaannya.
••
"Ah ... akhirnya!"
Saking senangnya, Eun Ji mengelus-elus perutnya yang kenyang. Ia baru saja menghabiskan dua porsi jajangmyeon kesukaannya.
Sambil melangkah keluar dari restoran, Eun Ji berusaha mengimbangi langkah Mark.
"Gomawo," ucap Eun Ji pelan seraya tersenyum.
Mark mendengus geli. “Sudah kenyang?”
Eun Ji mengangguk seperti anak kecil.
“Lee Eun Ji,” panggil Mark di tengah perjalanan mereka.
“Hm?”
"Hmm ... bisakah kita menjadi teman mulai sekarang? Aku hanya merasa tidak baik untuk selalu beradu mulut saat kita bertemu,” ungkap Mark. Sebagai laki-laki, Mark tidak terbiasa mengungkapkan apa yang dirasakannya. Namun, untuk Eun Ji kali ini adalah pengecualian. Mark ingin bersama gadis itu, untuk sekarang, sebagai teman. Meski mungkin, hatinya menginginkan lebih.
Eun Ji tertegun mendengarnya. Ia sampai bingung harus berkata apa. "Eh ..."
"Sudahlah. Kau tidak perlu menjawabnya. Pertanyaan itu terlalu konyol.” Mark tertawa hambar.
Jujur saja, dalam hati terdalam Eun Ji, Eun Ji juga merasakan hal yang sama. Ia juga muak selalu bertengkar dengan Mark setiap bertemu. Eun Ji penasaran, bagaimana rasanya berada di sisi laki-laki itu ... sebagai teman?
“Tapi, karena kita sudah makan bersama sekarang, kurasa jawabannya sudah jelas.” Eun Ji mengangkat bahu sambil mengulum senyum. "Kita ke mana sekarang?" Sebelum Mark bersuara, Eun Ji segera bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ke mana saja.”
Mark berharap, hari ini akan menjadi hari panjang pertamanya berdua dengan Eun Ji.
••
Di tengah heningnya kelas yang sedang mengadakan ujian, entah sudah yang ke berapa kali Jin Young mendesah, tak tenang. Hye Rim yang juga terganggu dengannya akhirnya diam-diam menoleh, dan mendapati laki-laki itu yang tampak gelisah. Bukan baru saat ini, Hye Rim bahkan sudah melihatnya sejak tadi. Hanya saja ia berusaha untuk diam.
Jin Young tak tahan lagi. Ia akhirnya memutar kepalanya ke belakang untuk melihat bangku Eun Ji yang kosong di samping Park Jae Min. Jin Young khawatir seperti ini karena gadis itu tidak biasanya bolos. Hye Rim tentu saja menyadari dan mengetahui apa yang sedang dilakukan Jin Young saat ini. Ia tahu, Jin Young khawatir tentang Eun Ji. Dan ada sisi dalam Hye Rim menginginkan dirinya yang mendapat perhatian sebesar itu dari Jin Young.
“Lee Jin Young,” bisik Hye Rim.
"Lee Jin Young! Kim Hye Rim! Kalian sedang apa?" Jin Young dan Hye Rim sontak membeku di tempat dengan kepala tertunduk.
••
"Ini semua karena kau, Lee Jin Young!" tuduh Hye Rim kesal, masih sambil berlari pelan untuk memutari lapangan. Tidak hanya kertas ujian mereka yang diambil sebelum mereka selesai mengerjakan soal, sekarang fisik mereka pun harus dihukum seperti ini.
"Kenapa menuduhku? Itu salahmu karena kau yang mengikuti apa yang kulakukan. Seandainya saja kau tetap diam dan tidak menghiraukanku, kau tidak akan dihukum seperti ini!” balas Jin Young tak terima.
Bagaimana aku bisa diam sementara kau sendiri yang membuatku tidak tahan dengan sikapmu? batin Hye Rim.
Sebelum ada di antara mereka yang membuka mulut lagi, suara lain yang tiba-tiba muncul dan mendekat membuat keduanya bingung. Kemudian menoleh ke belakang bersamaan.
"Eh? Park Jae Min, kenapa kau ... di sini?" tanya Jin Young terbata-bata, setelah mendapati desk mate Eun Ji itu juga ikut berlari di belakang mereka.
Ketiganya lalu berhenti bersama. "Aku juga dihukum karena kalian terus melihat ke arahku dan Kim ssaem pikir aku juga terlibat!” seru Jae Min jengkel.
“Maaf ...,” balas Hye Rim yang merasa bersalah.
"Tapi kurasa berlari seperti ini juga akan sedikit membantumu."
Mendengar Jin Young berkata seperti itu, Jae Min akhirnya berhenti berlari, lalu berbalik menghadap Hye Rim dan Jin Young yang ikut berhenti.
"Apa maksudmu?”
"Ya ... karena kau bisa sedikit menurunkan berat badanmu," jawab Jin Young bercanda, kemudian mengajak Hye Rim kembali berlari. Meninggalkan Jae Min yang masih berdiri diam dan berkacak pinggang di tempatnya.
“Lihat saja! Empat tahun dari sekarang tubuhku akan lebih bagus darimu!" teriak Jae Min kesal, lalu menyusul Jin Young dan Hye Rim.
••
"Kakiku pegal. Apa kita tidak bisa beristirahat saja?" keluh Eun Ji kesal, sambil menggoyangkan kakinya pelan.
"Shtt! Jangan keras-keras!"
Eun Ji masih menatap Mark dengan kesal. Bagaimana tidak? Setelah berjalan-jalan dari tadi, sekarang Mark menyuruhnya untuk menemaninya pulang ke rumah, dengan alasan Mark ingin mengambil sesuatu.
Jujur saja, Eun Ji juga takut kalau sampai ayahnya mendapatinya di sini. Mungkin telinganya akan panas mendengar omelan dari sang ayah hingga larut malam.
Mark mengamati situasi. Mobil yang biasanya terparkir di halaman depan rumahnya tidak terlihat lagi sekarang. Ayahnya sudah berangkat, mungkin.
"Kau mau ikut?" Mark bertanya.
Eun Ji tampak berpikir sesaat, di saat yang sama teringat ayahnya. Mau tidak mau, ia harus mengiyakan ajakan Mark.
Rumah Mark tampak sepi. Yang terdengar di sana hanyalah suara angin yang keluar dari AC yang masih menyala di ruang tamu. Bahkan langkah mereka tidak terdengar sama sekali.
"Pekerja di sini, ke mana? Sepertinya mereka tidak ada," bisik Eun Ji sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan dan tidak menemukan siapa pun di rumah ini.
"Mungkin dia tidur, atau sedang di dapur," jawab Mark dan dibalas dengan anggukan tanda mengerti oleh Eun Ji.
Jarak ruang tamu menuju ke kamar Mark yang sebenarnya cukup dekat, hanya perlu naik ke lantai dua dan menemukannya, terasa seperti perjalanan panjang. Mereka sangat hati-hati dalam melangkah, takut kalau bibi akan mendapati mereka yang bolos dan melaporkannya pada ayah Mark, yang tentunya juga akan berimbas pada Eun Ji sendiri.
'PRRAAANNGG!!'
Suara itu lantas mengagetkan keduanya. Suara vas kaca yang terjatuh dan pecah menggema di seluruh ruangan. Eun Ji yang mengetahui hal itu terjadi karena dirinya, hanya bisa memejamkan mata dan membeku di tempat, merutuki dirinya sendiri.
Saat baru saja mendengar suara langkah kaki orang lain yang mendekat, dengan sigap Mark menarik lengan Eun Ji untuk mengikutinya memasuki sebuah ruangan yang Eun Ji yakini adalah sebuah gudang.
Ruangan kecil dan sempit dengan banyak barang di dalamnya serta gelap itu membuat keduanya tidak bisa bergerak bebas. Mark masih menahan tubuh Eun Ji untuk tetap bersandar pada dinding dekat pintu dan membekap mulut Eun Ji dengan tangannya.
Samar-samar terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, disertai dengan gumaman dari seorang wanita paruh baya.
“Eh? Kenapa vas ini bisa terjatuh?” Suara dari luar terdengar.
Setelah itu, suara gagang pintu yang diputar makin membuat Mark maupun Eun Ji tegang. Jantung Mark dan Eun Ji berdegup kencang. Mereka menahan napas.
Pintu baru saja terbuka setengah ketika suara gumaman dari wanita itu terdengar kembali. "Tidak ada apa-apa.”
Pintu gudang kembali tertutup. Mark dan Eun Ji sama-sama bernapas lega. Mark kemudian menurunkan tangannya yang sebelumnya membekap mulut Eun Ji, tanpa mengubah posisinya yang berdiri sangat dekat dengan Eun Ji.
Dalam posisi seperti itu, perhatian Mark teralih pada sepasang mata indah berwarna coklat itu. Mark bahkan tidak tahu, apa yang membuatnya begitu tertarik untuk menatap sepasang mata milik Eun Ji itu. Dan semakin lama menatapnya, semakin jantung Mark berdegup kencang, hingga akhirnya Mark menyadari kalau ia menyukai mata itu. Anehnya, kenapa Mark baru menyadari betapa banyak hal yang disukainya dari gadis itu sekarang?
Eun Ji yang merasa diperhatikan dalam jarak yang sangat dekat itu, akhirnya ikut menatap wajah Mark. Wajah yang tampak sempurna itu membuat mata Eun Ji sulit teralih darinya. Eun Ji juga tidak tahu kapan datangnya perasaan seperti ini. Semuanya terjadi begitu saja. Dan ini adalah pertama kalinya dalam hidup Eun Ji selama ini.
Detik berikutnya, Eun Ji segera tersadar. "Kenapa kau melihatku seperti itu?"
Setelah mendengar teguran Eun Ji, Mark ikut tersadar. Masih dengan kegugupannya, ia melangkah mundur, mencoba untuk tidak berdiri dalam jarak yang sangat dekat dengan Eun Ji.
"Kau juga melihatku, ‘kan?" Mark tak ingin kalah.
Yang terdengar berikutnya adalah suara kunci yang dimasukkan dan diputar ke dalam lubang kunci di bawah gagang pintu gudang, yang berarti ....
"Pintunya dikunci?” tanya Eun Ji panik kemudian segera menuju pintu.
Sial. Pintu benar-benar terkunci.
Baru saja Eun Ji akan membuka mulut untuk berteriak, tangan Mark yang memegang lengannya membuat Eun Ji mengurungkan niatnya.
"Kenapa?” tanya Eun Ji, masih panik.
"Percuma saja." Mark melangkah mendekati dinding dan bersandar sembari melipat tangan di depan dadanya.
"Kenapa percuma?"
"Kalau ruangan ini dikunci, berarti semua ruangan dikunci dan bibi Jung akan pergi," jawab Mark santai.
"Ke mana?"
"Mungkin dia pergi berbelanja."
Eun Ji akhirnya mendesah dan menyandarkan punggungnya pada pintu. Ia hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi saat ini.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Eun Ji lemas.
"Menunggu saja."
Setelah menjawab seperti itu, Mark kemudian menyalakan lampu ruangan itu.
Saat itu juga, Eun Ji kembali melangkah mendekati tumpukan-tumpukan barang yang ada di sana. Sampai akhirnya ia menemukan sesuatu yang mungkin menarik perhatiannya.
"Ini kau? Kau sangat lucu," seru Eun Ji gemas menatap foto kecil Mark yang ia temukan tanpa sengaja di dalam sebuah box.
"Tentu saja itu aku. Memangnya siapa lagi? Lagipula, sudah banyak orang yang mengatakan itu lucu.” Mark membalas.
Mata Eun Ji kemudian teralih pada selembar foto lain. Ia mengangkatnya dan memperhatikan orang yang ada di dalam foto itu.
"Apa yang coba kau pamerkan di sini?" cela Eun Ji melihat foto Mark tanpa baju yang dipegangnya.
Mark tiba-tiba menyambar foto itu darinya. "Kenapa kau lancang seperti itu? Kalau kau ingin menyimpannya bilang saja," gumamnya kemudian sambil mengelap foto itu dengan seragamnya.
"Sudahlah. Aku juga malas berdebat denganmu.” Eun Ji mengangkat bahu tak peduli.
Kembali lagi mata Eun Ji teralih pada sesuatu. Sebuah kalender. Ia melihat tanggal hari ini, 20 november. Eun Ji mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu yang sepertinya ia lupakan hari ini. Tak lama kemudian, matanya membulat. Benar, ada sesuatu yang dilupakannya hari ini.
"Mark, hari ini Kim ssaem akan mengadakan ujian, kau ingat?" tanya Eun Ji.
"Ah, ya! Aku ingat!"
"Sial.”
Eun Ji menaruh kembali kalender itu di tempat sebelumnya lalu melangkah dengan gontai mendekati dinding dan duduk bersandar.
"Maaf," ucap Mark yang tampak merasa bersalah, lalu ikut duduk di sebelah Eun Ji dan meluruskan kakinya.
Eun Ji menoleh. "Bukan salahmu. Aku yang sejak awal berniat bolos, ‘kan?”
Mark pikir, Eun Ji akan mengomel lagi seperti yang biasanya gadis itu lakukan. Mungkin, hatinya mulai melunak pada Mark. Dan mungkin, itu pertanda baik.
"Kau ... tidak marah?" tanya Mark, memastikan.
"Tidak. Buat apa aku marah?" jawab Eun Ji meyakinkan Mark. "Lagipula kita bisa mengikuti ujian susulan.”
Eun Ji kembali memandang sekitar, mencari sesuatu yang mungkin menarik perhatiannya hingga pandangannya terhenti pada sebuah skateboard bekas.
Begitu menyadari sesuatu, Eun Ji bertanya, "Ah, tunggu! Bukannya tadi pagi kau membawa skateboard-mu?"
Mark akhirnya mengingatnya juga. “Benar juga!” Namun, Mark lupa sejak kapan skateboard-nya tidak bersamanya lagi.
Mengetahui ia kehilangan skateboard kesayangannya itu, Mark mengerang, mengusap wajahnya frustasi.
"Aku pasti meninggalkannya di taman. Skateboard itu pasti sudah diambil orang," ucap Mark pasrah.
"Bagaimana kau bisa bilang begitu? Taman itu sepi. Mungkin saja skateboard-mu masih di sana. Nanti, aku akan menemanimu ke sana lagi. Tenanglah." Eun Ji menepuk pundaknya, berusaha menenangkan Mark. Merasa kepanasan, Eun Ji melepas jas almamaternya dan melipatnya. Tiba-tiba, terdengar suara jepretan kamera. Saat Eun Ji menoleh, Mark yang sedang membidiknya dengan kamera digital berwarna hitam, mengambil foto untuk kedua kalinya.
"Apa yang kau lakukan?” seru Eun Ji kesal.
"Aku sedang bosan. Tapi hasilnya tetap bagus. Sepertinya kau berbakat untuk menjadi model," kata Mark, sembari melihat-lihat hasil jepretannya di kamera.
Eun Ji tengah memakai kembali tas ransel itu di pundaknya, ketika suara Mark mengalihkan pandangannya.
"Lee Eun Ji!" Mark mengarahkan lensa kepada mereka, lantas berpose. Eun Ji akhirnya pasrah dan tetap berpose di belakang Mark.
"Hasilnya benar-benar bagus. Aku akan mencetak fotonya," kata Mark seraya tersenyum, masih memperhatikan hasil fotonya pada kamera itu.
"Aku tidak tahu kalau benda ini masih bagus. Aku akan memakainya mulai sekarang," katanya lagi, lalu mengalungkan tali kamera ke leher.
Mark kemudian menoleh ke arah Eun Ji yang tengah menutup matanya. Keringat yang mulai membasahi tubuhnya membuat Mark tidak tega untuk membiarkannya seperti ini. Dan juga, hal ini terjadi karena kesalahannya.
Mark lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah botol air mineral yang masih penuh dan tersegel. Ia membuka segelnya dan memutar tutup botolnya.
“Kau ingin minum?” Mark menyodorkan botol itu pada Eun Ji.
Mata gadis itu membuka, lantas bergantian menatap botol minuman itu dan Mark “Bagaimana denganmu?”
“Kau minum saja dulu.”
Setelah berpikir sejenak, Eun Ji akhirnya menerimanya, dan meminumnya lebih dulu. Setelahnya, Eun Ji menyodorkan sisa minumannya pada Mark.
"Terima kasih," ucap Eun Ji sambil memperhatikan Mark yang tengah meneguk isi dari botol itu hingga habis.
"Kau tidak marah?" tanya Mark kemudian, sambil menutup botol itu dan menaruhnya di sisi kirinya.
"Marah kenapa? Memangnya aku harus marah?" tanya Eun Ji bingung.
"Tentang ini ..." Mark menunjuk botol yang kini kosong itu, lalu menunjuk bibirnya.
"Oh, itu ...." Eun Ji bingung harus berkata apa. "Kita kan sudah berteman sekarang. Lagipula, aku merasa itu tidak salah di saat-saat seperti ini. Dan kita, hanya berteman."
Mendengar kalimat terakhir yang terucap dari mulut gadis itu, membuat Mark menoleh padanya. Mark tidak cukup yakin kalau dirinya dan hatinya sendiri bisa menerima kata-kata itu. Setidaknya, Mark berharap kalau Eun Ji menganggapnya lebih dari itu. Meskipun begitu, Mark tetap tersenyum untuk gadis itu.
Setengah jam berlalu, dan belum ada tanda-tanda bibi Jung kembali. Mark dan Eun Ji masih pada posisi yang sama. Tak kuasa menahan kantuk, mata Eun menutup dan kepalanya segera terjatuh. Mark yang melihatnya langsung mengulurkan tangannya untuk menahan kepala gadis itu hingga mendarat di bahunya. Setidaknya, posisi seperti ini lebih membuat gadis itu nyaman.
Mark benar-benar diam. Tidak tega untuk membangunkan gadis itu. Hingga akhirnya ia memilih untuk memejamkan mata dan akhirnya tertidur.
••
"Boleh aku duduk di sini?"
Suara itu lantas membuat Jin Young dan Hye Rim menoleh ke arah yang sama, dan mendapati Jae Min yang tengah berdiri di samping meja makan mereka.
"Tempat lain sudah penuh," katanya lagi.
"Ya, duduklah," jawab Hye Rim dengan sisa makanan yang masih dikunyah di mulutnya.
"Gomawo," balas Jimin senang, lalu duduk di salah satu bangku di meja itu. "Ngomong-ngomong, Eun Ji di mana? Dia tidak masuk sekolah? Apa dia sakit?" tanya Jae Min sembari menyantap makanannya.
Jin Young dan Hye Rim lagi-lagi menoleh dan menatap Jae Min dengan tatapan aneh. Jae Min yang menyadarinya, akhirnya berdeham. "Ada apa?" tanyanya bingung.
"Aku tidak tahu sejak kapan kau begitu peduli dengan Eun Ji."
Setelah menelan habis nasi yang ada di mulutnya, Jae Min menjawab, "Ehm ... apa salahnya bertanya seperti itu? Bukannya ini yang pertama kalinya Eun Ji tidak masuk sekolah tanpa pemberitahuan apa pun? Lagipula, aku adalah desk mate-nya. Sekali-sekali, aku juga harus perhatian dengannya."
"Ya ... kami juga belum tahu bagaimana kabarnya,” kata Hye Rim.
"Hari ini Mark juga tidak masuk. Mereka ... tidak sedang berencana untuk kencan, ‘kan?" tanya Jimin sambil tertawa pelan.
Mendengarnya membuat Jin Young tersedak. Lalu buru-buru meraih gelas berisi air putih di samping piring makanannya dan segera meneguknya hingga habis.
Hye Rim hanya bisa memperhatikan Jin Young. Apa Jin Young masih belum bisa melepaskan Eun Ji sepenuhnya?
"Apakah aku salah bicara?" Jimin bertanya dengan raut wajah bingung.
"Aku mau ke kelas." Hye Rim segera berdiri dan mengangkat nampannya, lalu pergi dari tempat itu.
"Aku ... juga." Jin Young lalu mengikuti Hye Rim.
Jae Min hanya menatap mereka dengan bingung, kemudian kembali melanjutkan makannya. “Mereka ... aneh.”
Jin Young dan Hye Rim sama-sama menuju taman belakang sekolah. Hanya sekadar ingin menghirup udara segar. Setelah duduk di bangku panjang yang ada di sana, mereka kembali mengobrol.
"Bagaimana dengan hasil ujian matematika kita? Kau sepertinya tidak mempedulikannya,” ata Hye Rim, lalu menoleh pada Jin Young yang duduk di sampingnya.
"Bukan begitu juga. Aku hanya ... khawatir tentang Eun Ji. Apakah dia baik-baik saja sekarang?"
Hye Rim menghela napas. "Kalau begitu ... kenapa kau tidak coba menghubunginya lagi sekarang? Siapa tau saja, dia sudah bisa dihubungi," saran Hye Rim, berusaha tegar di depan Jin Young.
Jin Young lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Kemudian membuka daftar kontak dan segera mencari nama Eun Ji di sana. Setelah berhasil mendapatkannya, Jin Young segera meneleponnya.
••
Kedua mata Eun Ji yang sebelumnya terpejam segera terbuka. Merasakan ponselnya bergetar, Eun Ji mengeluarkannya dari saku.
"Dari siapa?" tanya Mark dengan suara pelan.
"Jin Young," jawab Eun Ji bersemangat, lalu bersiap menerima panggilan itu. Namun, sebelum ia sempat menerimanya, suara kunci yang diputar menginterupsi.
Mereka sama-sama melihat pintu gudang itu. Setelah menyadari pintu mulai terbuka perlahan, Eun Ji dan Mark buru-buru berdiri.
Bibi Jung muncul dari balik pintu, terkejut melihat keduanya. “Astaga. Apa yang kalian lakukan di sini?”
••