10

3149 Kata
"Kami minta maaf, Bi," ucap Eun Ji sembari membungkuk sopan di hadapan bibi Jung. Sebelum menjawab permintaan maaf itu, bibi Jung mendesah, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan dua anak di hadapannya ini. "Apa yang kalian lakukan? Kalau ayah kalian mengetahuinya kalian bisa dimarahi," jawab bibi Jung. "Aku akan menjelaskannya nanti. Tapi tolong, jangan beritahu appa tentang ini,” pinta Mark, sambil menggoyangkan tangan bibi Jung. Setelah berpikir beberapa saat, bibi Jung akhirnya mengangguk. "Baiklah. Aku tidak akan memberitahunya. Tapi jangan lakukan ini lagi. Kalau ini sampai terjadi dua kali, aku akan memberitahu ayahmu, mengerti?” Setelah negosiasi itu berakhir, bibi Jung beranjak menuju ke dapur sambil membawa kantong belanjaannya. Sementara Mark dan Eun Ji, juga segera menuju ke kamar Mark. Sementara Eun Ji menunggu di luar kamar, Mark masuk ke dalam kamarnya dan membuka lemari pakaiannya. Sebenarnya, ia berniat mengembalikan gaun hitam milik Eun Ji yang sempat diambilnya untuk diperbaiki beberapa minggu yang lalu. Tapi entah kenapa, Mark tiba-tiba saja berpikir untuk tidak mengembalikannya sekarang. Mungkin, jika bisa, ia akan mengembalikannya di hari ulang tahun Eun Ji, meskipun Mark sendiri tidak tahu kapan. Mark yang sebelumnya berlutut untuk melihat gaun itu, akhirnya berdiri dan menutup pintu lemarinya. Ia berjalan keluar dari kamarnya, tanpa membawa apa pun. Eun Ji memperhatikan Mark bingung, ketika Mark baru saja keluar dari kamar dengan tangan kosong. "Kau mengambil apa?" tanya Eun Ji bingung. "Tidak ada. Aku tidak jadi mengambilnya." "Lalu kenapa kita ke sini kalau begitu?” •• Melihat tak ada perubahan dari ekspresi wajah Jin Young, Hye Rim sudah tahu itu berarti lagi-lagi Eun Ji tidak menjawab teleponnya. Jin Young menyerah. Ia berdiri, lalu hendak pergi dari sana. "Pulang sekolah nanti, aku akan ke rumahnya,” katanya. "Aku ikut, boleh?" tanya Hye Rim, sambil mengejar Jin Young. "Tentu saja." •• Selama beberapa menit perjalanan dari rumah Mark menuju sebuah taman, tempat yang sebelumnya mereka kunjungi dan sekaligus tempat di mana Mark menghilangkan skateboard-nya, akhirnya mereka tiba juga. Baru saja keduanya keluar dari taksi, Eun Ji sudah melesat duluan memasuki taman itu. Mark dan Eun Ji tiba di tempat mereka duduk pagi tadi. Mark tidak menemukan skateboard-nya di sana. Eun Ji memperhatikan ke sekeliling taman, dan akhirnya matanya tertuju pada seorang pemuda yang membawa sesuatu saat keluar dari taman. Tanpa memberitahu Mark dulu, Eun Ji langsung mengejar pemuda yang jika dilihat dari seragamnya, tampaknya ia masih SMP. "Tidak ada di sini. Bagaimana ini?" tanya Mark, sesaat kemudian menyadari Eun Ji tak ada di dekatnya. Mark akhirnya berbalik, dan mendapati Eun Ji yang tengah berlari keluar dari taman. Tak perlu menunggu lama, Mark mengejarnya. Eun Ji langsung merebut skateboard yang dipegang pemuda itu dari tangannya setelah berhasil mengejarnya. "Ya! Apa yang kau lakukan, huh?" bentak pemuda itu berani. "Kau mengambil ini dari taman, ‘kan? Skateboard ini milik temanku!" balas Eun Ji, tak kalah berani. "Apa yang kau bicarakan?!" bentak pemuda itu lagi, lalu mendorong tubuh Eun Ji hingga terjatuh tepat di tengah jalan raya itu. Sementara pemuda itu kemudian berusaha melarikan diri. Eun Ji baru saja akan bangkit ketika seseorang tiba-tiba menariknya hingga terduduk di tepi jalan. Di saat yang sama, sebuah mobil melaju cepat melewatinya. Nyaris saja sesuatu yang buruk akan terjadi jika Mark tidak datang dan menolongnya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Mark khawatir. Sebelum menjawab, Eun Ji berusaha berdiri. Belum sempat ia berdiri dengan sempurna, Eun Ji merintih kesakitan. Mark refleks menahan tubuhnya agar tidak terjatuh lagi. Mark kembali berjongkok untuk melihat luka di lutut gadis itu. "Lututmu terluka," kata Mark. Setelah mereka kembali, Mark lebih dulu membantu Eun Ji untuk duduk di salah satu bangku panjang di tengah taman. "Maaf, aku tidak bisa mengambil skateboard-mu darinya," kata Eun Ji merasa bersalah. Mark menatap Eun Ji seraya menghela napas. Ia benar-benar tidak menyangka Eun Ji rela melakukannya sejauh ini tanpa memedulikan keadaan dirinya sendiri. Mungkin seperti inilah sosok Eun Ji sebenarnya yang Mark belum ketahui selama ini. "Aku tidak menyuruhmu untuk melakukan itu. Kau lihat, kau mencelakai dirimu sendiri hanya untuk mengambil skateboard itu. Kalau kau bertemu dengannya lagi, kau tidak perlu membalasnya. Aku ... sudah tidak memikirkan skateboard itu lagi sekarang,” jelas Mark. Mark benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia tidak tega melihat Eun Ji seperti ini. Eun Ji seperti ini karenanya. "Hm? Dia kenapa?" Seorang anak kecil laki-laki yang digandeng ibunya melewati mereka, bertanya dengan penasaran. "Dia terluka,” jawab Mark lembut. Sang ibu merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa plester penutup luka dari tasnya. "Ini, ambillah.” Mark tersenyum senang, lalu berdiri. "Terima kasih, Ahjumma," ucap Mark seraya membungkuk sopan di hadapan wanita itu. "Hyung dan noona berpacaran?” tanya anak itu polos sambil tertawa. Mendengar itu, Mark dan Eun Ji saling menatap. Hingga suara sang ibu terdengar kembali. "Kalau begitu, kami pergi dulu. Semoga cepat sembuh.” Setelah ibu dan anak itu pergi, Mark kembali berjongkok untuk mengobati luka di lutut Eun Ji. "Anak itu ada-ada saja,” kata Mark, masih sibuk mengobati luka di lutut Eun Ji. "Ya, seperti yang kau bilang,” balas Eun Ji canggung. "Yak! Pelan-pelan!" pekik Eun Ji kesakitan. •• "Apa di Seoul tidak ada tempat yang menyenangkan? Apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Mark setelah selesai mengobati, lalu duduk di samping Eun Ji. "Kalau aku pulang dan appa mengetahuinya, aku akan dimarahi. Tapi kalau kau mau pulang, kau pulang saja. Aku masih ingin berjalan-jalan. Sudah lama aku tidak menikmati Seoul seperti ini." "Baiklah. Aku akan menemanimu. Aku juga malas untuk pulang." Eun Ji mendecih ."Sebenarnya apa maumu?" "Aku hanya ingin menemanimu. Kalau ada sesuatu yang buruk terjadi padamu, dan aku tidak ada di sampingmu, siapa yang akan menolongmu?" Mark mencoba mencari alasan. Tapi sebenarnya, itulah yang benar-benar dipikirkan Mark. Kalau Eun Ji kenapa-kenapa seperti tadi, dan dirinya tidak ada, siapa yang akan menolong gadis itu? Eun Ji menyimpulkan, “Jadi, kau khawatir padaku sekarang?" "Yah ... begitulah." Eun Ji mendadak terdiam. Setelah mengenyahkan pikiran konyol yang bertumbuh liar di kepalanya, Eun Ji tertawa hambar. "Hahaha ... lucu sekali." "Apanya yang lucu? Aku memang khawatir. Khawatir sebagai teman apa salahnya?" Mark mengejar Eun Ji yang beranjak dari kursi taman itu. Benar juga kata Mark. Kenapa Eun Ji harus memikirkannya dengan berlebihan? "Bagaimana kalau kita ke Myeongdong?" •• Sekitar setengah jam sudah berlalu sejak Mark dan Eun Ji menikmati waktunya untuk melihat dan mengagumi setiap toko-toko yang ada di sana. Meskipun keduanya sudah kelelahan sejak pagi tadi, tapi setelah memasuki tempat yang ramai dikunjungi para wisatawan ini, membuat rasa lelah itu hilang dalam sekejap. Ya, Eun Ji berpikir kalau seandainya saja dia membawa dompetnya, sudah dipastikan sejak tadi ia sudah membawa beberapa kantong belanjaan di tangannya. Setelah cukup lama berjalan, mata Mark akhirnya teralih pada sebuah toko aksesoris di sana. Mark segera melesat ke sana, diikuti Eun Ji kemudian. "Pilih yang kau suka dan bilang padaku. Aku akan membayarnya,” kata Mark, masih dengan mata yang sibuk mengamati setiap barang yang ada di toko itu. Setelah beberapa langkah, Eun Ji akhirnya berhenti. Lalu memperhatikan cincin yang menarik perhatiannya. Baru saja tangannya akan meraih cincin itu, tangan lain juga terulur untuk mendapatkan cincin yang sama. Mark kembali menurunkan tangannya, membiarkan Eun Ji mengambil cincin itu, cincin yang terbuat dari besi putih dengan beberapa ukiran berbentuk bintang yang memenuhi sisi luar cincin itu. "Kau saja,” tolak Eun Ji, kemudian segera berlalu. Setelah melihat-lihat barang-barang yang ada di sana, keduanya memutuskan untuk keluar dari toko itu. Eun Ji keluar dengan tangan kosong, sementara Mark membawa kantong kecil yang entah apa isinya. "Kau membeli apa?" tanya Eun Ji penasaran. "Sesuatu yang tidak perlu kau tahu," jawab Mark. "Memangnya barang itu sepenting apa?" balas Eun Ji pura-pura tak peduli. Mark hanya membalas dengan tertawa kecil. Sebelum akhirnya ia melihat sebuah gedung-yang tidak begitu besar terletak tidak jauh dari sana dan menarik perhatiannya. Gedung bioskop. "Kau tunggu di sini. Sebentar saja, ok?" Mark menepuk bahu Eun Ji dua kali lalu bergegas menuju gedung bioskop itu. Tak lama kemudian, Mark kembali dengan membawa dua tiket nonton yang seketika membuat Eun Ji mengernyit bingung. "Itu apa?" tanya Eun Ji penasaran. "Kau masih bertanya? Tentu saja ini tiket bioskop," jawab Mark. "Film apa?" "Kau akan mengetahuinya nanti." •• Sebenarnya, sejak awal Eun Ji sudah curiga. Dan benar saja, film yang mereka tonton adalah film horor. Eun Ji sangat tidak menyukai film-film semacam ini. Ia bahkan sudah dikagetkan beberapa kali dengan adegan-adegan menegangkan dan menakutkan dalam film itu. Sementara Mark yang menyadari reaksi yang ditunjukkan Eun Ji selama kurang lebih setengah jam sejak film itu dimulai, diam-diam menahan tawa. Rencananya berhasil. Adegan dalam film berikutnya membuat Eun Ji memegang pegangan kursi dengan erat. Saat tiba saatnya untuk dirinya seharusnya terkejut, Eun Ji malah menahan suaranya agar tidak keluar. Karena saat ini, seseorang menggenggam tangannya erat. Alih-alih terkejut dengan film, perhatian Eun Ji teralih pada tangan Mark yang menggenggam tangannya. Eun Ji membeku seketika. Lupakan soal film. Eun Ji bahkan tidak bisa terkejut lagi ketika penonton lain memekik ketakutan. Pikirannya kini hanya tertuju pada genggaman tangan Mark yang entah mengapa, menenangkan. Hingga lampu bioskop menyala dan film telah selesai, Eun Ji tak berkutik sama sekali. Di saat yang sama, Mark dan Eun Ji menatap tangan masing-masing. Keduanya lantas menarik tangan masing-masing, meski jantung Eun Ji kini berdetak tak keruan. "Tadi aku melihatmu ketakutan. Jadi aku ...." Meski Mark tak menyelesaikan ucapannya, Eun Ji sangat mengerti maksudnya. Sejujurnya, itu tidak termasuk dalam bagian rencananya. Mark hanya ingin membuat Eun Ji takut. Itu saja. Ia tidak berencana untuk memegang tangan Eun Ji. Tapi karena melihat Eun Ji yang ketakutan, membuat Mark berinisiatif untuk melakukannya. Dan jujur saja, sewaktu Mark melakukannya, ia sendiri jadi gugup. Khawatir kalau Eun Ji mungkin salah paham dan marah. Setelah keluar dari gedung bioskop, mereka memutuskan untuk bersantai di salah satu kafe yang terletak tidak jauh dari gedung bioskop itu. Setelah memesan dua gelas coklat hangat, keduanya lalu memperhatikan sekeliling. Eun Ji tiba-tiba saja mendapati seorang anak kecil perempuan yang berdiri di depan pintu kafe sambil menangis. "Mark, lihat!" Eun Ji memanggil Mark sambil mengulurkan tangannya untuk menunjuk seorang anak kecil di depan kafe. Belum sempat Mark memberikan respon, Eun Ji lebih dulu bergerak menghampiri anak itu. Sementara Mark memperhatikan Eun Ji yang tampak sedang mengajak anak itu masuk ke dalam kafe. Anak itu menurut. "Namamu siapa?" tanya Mark selembut mungkin ketika anak itu sudah duduk bersama mereka. "Jung Mi Young," jawab anak itu, masih sesekali terisak dan menunduk. "Kamu kenapa menangis?" Eun Ji bertanya, sambil merangkul anak yang bernama Jung Mi Young itu. "Aku ... baru saja keluar dari kafe dengan eomma. Tapi dia tiba-tiba saja hilang." Anak itu mencoba menjelaskan. "Kami akan membantu kamu mencari ibumu. Kamu tenang saja.” Eun Ji mengelus puncak kepala anak itu untuk menenangkannya. Mark tidak menyangka kalau Eun Ji juga bisa bersikap selembut dan semanis itu. "Kamu mau minum? Atau makan? Oppa ini akan membayarnya," Eun Ji menunjuk Mark. Meskipun sempat terkejut, Mark akhirnya menyengir saja. "Tidak perlu. Aku sudah kenyang," jawab anak itu sambil menggeleng dan tersenyum. Dia sudah tidak menangis lagi. "Oppa dan eonni berpacaran?" Mark dan Eun Ji sama-sama terdiam, sebelum terbatuk-batuk kemudian. Mi Young tertawa geli. "Kamu ... kenapa tertawa?" tanya Mark berusaha sabar. "Kalian ... lucu," jawab Mi Young, berusaha menahan tawanya. Lalu entah kenapa anak itu terus menatap Eun Ji dan Mark bergantian. Seperti sedang memikirkan sebuah rencana. Di saat yang sama ketika seorang pelayan datang membawa pesanan mereka sebelumnya, Mi Young turun ke bawah meja. "Aku akan memperbaiki tali sepatuku," katanya. Bukannya mengikat tali sepatunya, Mi Young malah mengikat tali sepatu Mark dan Eun Ji menjadi satu. Tepat setelah Mi Young menyelesaikan aksi jahilnya, seorang wanita yang kira-kira berumur empat puluhan tiba-tiba mendatangi mereka. "Eomma!" seru anak itu, lalu berdiri dan langsung memeluk wanita itu. “Mi Young! Kamu ke mana saja? Eomma tadi membelikanmu es krim!” Mark dan Eun Ji saling pandang. Mi Young sudah menemukan ibunya. "Terima kasih, kalian sudah menemani Mi Young,” kata wanita itu pada mereka. "Sama-sama,” jawab Eun Ji sambil tersenyum ramah. Sebelum pergi, Mi Young melambai ke arah mereka. "Bye bye, Oppa, Eonni! Semoga kalian berpacaran! Aku mendukung kalian!" seru anak itu bersemangat sebelum akhirnya ia dan ibunya menghilang setelah keluar dari kafe. Mark dan Eun Ji hanya diam memperhatikan anak itu sampai akhirnya keluar dari kafe. Perkataan anak itu membuat keduanya menjadi salah tingkah. "Jangan dipikirkan," ucap Eun Ji lalu kembali menyeruput coklat hangat yang dipesannya sebelumnya. •• Di sinilah Jin Young dan Hye Rim berada. Berdiri diam selama beberapa saat di depan ruang guru. Mereka telah memutuskan untuk berbicara dan menjelaskan semuanya pada Kim ssaem, dan berharap beliau akan berbaik hati ingin memaafkan mereka dan memberikan ujian susulan lagi pada mereka. Setelah beberapa saat terdiam, Jin Young mulai menarik napas dan membuangnya kembali, bersiap melangkah masuk ke ruangan itu. "Kau yakin?" Hye Rim menahan Jin Young, mencoba memastikan. "Ya," jawab Jin Young yakin lalu mulai melangkah masuk. "Selamat siang, Kim ssaem." Jin Young memberi salam sambil membungkukkan badan di depan meja Kim ssaem. "Ada apa?” tanya Kim ssaem, tanpa melepas pandangannya dari layar laptop dengan tangan yang sibuk mengetik. "Soal kejadian tadi pagi, aku, Hye Rim dan Jae Min benar-benar meminta maaf," ucap Jin Young sambil menunduk, sama sekali tidak punya keberanian untuk menatap wajah Kim ssaem. "Sebenarnya, tadi kami tidak melakukan apa-apa, aku hanya ingin melihat tempat duduk Eun Ji yang kosong. Tidak ada maksud lain. Dan Hye Rim hanya ingin menegurku. Jae Min ... dia sama sekali tidak terlibat dalam hal ini." Jin Young mencoba menjelaskan. "Tidak semudah itu untuk aku percaya pada kalian," jawab Kim ssaem dingin. "Kalau begitu, biarkan Jae Min dan Hye Rim mengikuti ujian lagi,” pinta Jin Young. "Mereka tidak bersalah dalam hal ini. Dan kupikir, aku yang bersalah dan membuat mereka ikut terlibat,” tambahnya lagi. Setelah hening beberapa saat, Kim ssaem kembali berbicara. "Ya, baiklah. Mereka akan ikut ujian lagi besok bersama Mark dan Eun Ji." Kim ssaem menyetujui. "Gamsahamnida, Kim ssaem,” ucap Jin Young senang sambil membungkuk, lalu bergegas keluar dari ruangan itu. "Aku sudah menjelaskan. Besok kita dan Jae Min akan mengikuti ujian lagi,” kata Jin Young. Jin Young terpaksa berbohong pada Hye Rim untuk kali ini. Karena ia juga sadar, kalau Hye Rim dan Jae Min ikut terlibat dalam masalah ini karena dirinya. Untuk menebus perasaan bersalahnya, mungkin hanya ini yang bisa dilakukan Jin Young. •• Setelah meneguk habis cokelat hangatnya, Eun Ji menaruh gelas cangkirnya di atas meja. Lalu memperhatikan sekelilingnya, dan kemudian pandangannya terhenti pada laki-laki yang duduk berhadapan dengannya ini, Mark. Eun Ji mencoba memutar kembali ingatannya tentang insiden di saat pertama kali dirinya dan Mark bertemu. Pesta ulang tahun Hye Rim. Saat itu, Eun Ji benar-benar benci dengan Mark. Kebencian itu semakin besar lagi ketika di hari kedua mereka bertemu, saat Mark tak sengaja menciumnya. Berbagai masalah yang muncul kemudian membuatnya semakin membenci Mark. Namun mengingat akhir-akhir ini, dirinya sendiri tidak bisa lagi mengatakan perasaannya untuk Mark hanyalah sebuah kebencian. Atau dengan kata lain, perasaan benci itu sudah hilang, terganti dengan perasaan lain yang baru pertama kali dirasakannya. Ditambah lagi hari ini, mereka sudah memutuskan untuk berteman. Keduanya menikmati waktu bersama sejak pagi hingga siang ini. Dan hal inilah yang membuat Eun Ji bingung, sekaligus merasa semuanya ini lucu. Dulu, Eun Ji selalu berpikir bahwa dirinya akan selalu membenci Mark. Namun pada kenyataannya, perasaan benci itu hanya bertahan sementara saja. Semakin lama memikirkannya, membuat Eun Ji tanpa sadar tersenyum sendiri. "Kau ... kenapa tersenyum?" Mark yang tidak sengaja melihat Eun Ji tersenyum, akhirnya bertanya. "Tidak ada apa-apa," jawab Eun Ji, masih tersenyum. "Kalau begitu, apa aku boleh memanggilmu orang gila sekarang?" canda Mark. Setelah sekian lama Mark membuatnya kesal, Eun Ji merasa dirinya sudah terbiasa. Jadi, Eun Ji hanya mendecak kemudian. “Terserah kau saja.” "Kita akan ke mana setelah ini?" tanya Mark. Belum sempat Eun Ji menjawab, ponsel Eun Ji di dalam tas berdering. Eun Ji menerima panggilan masuk itu dengan tenang. “Halo?” "Lee Eun Ji! Kau ke mana saja? Kenapa tidak mengangkat teleponku?" "Maaf. Aku tidak memberitahumu kalau aku tidak masuk sekolah hari ini. Aku terlambat bangun.” "Ya sudah. Tidak apa-apa. Lalu, kau di mana sekarang?" "Aku? Aku ... ada di kafe di Myeongdong." “Dengan siapa?" "Mark." Jin Young terdengar sangat terkejut. “Bagaimana bisa kau ...." "Nanti kuceritakan. Kalau kau ingin ke sini, datanglah. Kami menunggumu." "Ok. Aku akan datang." "Ya.” Eun Ji mengakhiri telepon itu. Lalu meletakkan ponselnya di atas meja. "Jin Young?" tanya Mark. "Ya,” jawab Eun Ji singkat. "Dia akan ke sini?" "Sepertinya begitu." "Eun Ji," panggil Mark, membuat orang yang dipanggil menoleh. "Hm?” Mark mengangkat kotak kecil yang diambilnya dari kantong belanjaaannya, lalu menyodorkannya pada Eun Ji di atas meja. "Anggap itu sebagai rasa terima kasihku tentang skateboard itu. Dan aku tidak menerima penolakan," kata Mark. Sebelum menjawab, Eun Ji membuka kotak itu, dan mendapati cincin dengan ukiran bintang yang sebelumnya menarik perhatiannya di toko aksesoris tadi. "Sebenarnya aku tidak begitu menginginkannya,” jawab Eun Ji tak enak. "Sudah kubilang aku tidak menerima penolakan." "Baiklah. Aku menerimanya,” jawab Eun Ji lalu memasangkan cincin itu pada jari manis tangan kirinya. Pas sekali. "Terima kasih, Mark," ucap Eun Ji seraya tertawa kecil. Setelah beberapa menit mereka lalui dengan keheningan, Eun Ji mulai merasa bosan. Ia menopang dagu di atas meja, lantas memiringkan kepalanya ke samping dan menatap dinding mengangkat kafe yang terbuat dari kaca, membuat Eun Ji tertarik dengan pemandangan yang ada di luar sana. Sebentar lagi musim dingin, pikirnya. Lama-kelamaan, kelopak mata Eun Ji perlahan menutup. Mark yang melihatnya akhirnya kamera yang dikalungkannya pada leher lalu mengabadikan momen Eun Ji tertidur itu. Suara jepretan kamera membuat mata Eun Ji kembali terbuka, lalu mengangkat kepalanya dan menatap Mark dengan kening berkerut kesal. "Apa yang kau lakukan, sih?” "Setidaknya momen seperti ini tidak boleh dilewatkan,” jawab Mark santai sambil melihat kembali hasil jepretannya. Berusaha tak peduli, Eun Ji kembali menopang dagu di atas meja, kali ini tidak menutup mata. Ia diam-diam tersenyum. Setelah beberapa saat menunggu, Mark ikut menopang dagunya di atas meja, lalu menghela napas. "Kapan dia akan datang? Aku sudah bosan menunggu,” kata Mark. Tepat setelah Mark berkata begitu, pintu kafe terbuka. Jin Young dan Hye Rim datang. Mark dan Eun Ji mengangkat kepalanya bersamaan dan mengatur posisinya duduknya dengan baik. "Kalian lama sekali," ucap Eun Ji lemas. Tak ada balasan. Jin Young dan Hye Rim hanya berdiri mematung sambil menatap Mark dan Eun Ji bergantian. Eun Ji dan Mark saling melihat satu sama lain, dan mulai menyimpulkan maksud dari tatapan aneh yang dilemparkan Jin Young dan Hye Rim pada mereka. "Kalian duduk dulu," perintah Eun Ji. Jin Young dan Hye Rim menurut saja. Hye Rim duduk di sebelah Eun Ji, dan Jin Young duduk di sebelah Mark. "Kalian mau pesan apa?" Mark bertanya. "Tidak. Kami tidak akan memesan. Jadi kita tidak perlu berlama-lama di sini, ‘kan?" jawab Hye Rim seraya tersenyum. "Hmm ... kalian ... berkencan?" tanya Jin Young was-was. "Tidak!" seru Eun Ji cepat. “Kalian jangan salah paham. Kami sama-sama terlambat. Jadi kami memutuskan untuk tidak pulang dan berjalan-jalan saja,” jelas Eun Ji, berharap Jin Young dan Hye Rim tidak salah paham. "Ya ... Begitulah.” Mark menambahi. Hye Rim yang sejak tadi diam, kemudian mendapati cincin yang terpasang di jari manis Mark dan Eun Ji. Cincin yang sama. Tapi untuk kali ini, Hye Rim mencoba untuk diam saja. Ia takut jika ia memberikan respon yang akan membuat Jin Young kesal atau cemburu. Selagi Jin Young belum mengetahuinya, semuanya akan baik-baik saja, menurut Hye Rim. "Bagaimana kalau kita pulang saja sekarang? Sudah hampir sore." Hye Rim mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ayo, pulang," seru Eun Ji bersemangat, berdiri, hendak melangkahkan kaki keluar dari sela kursi dan meja. Begitu pula Mark, yang juga menggerakkan kakinya di waktu bersamaan. Namun, langkah keduanya tertahan. Merasa ada yang menahan kaki mereka, Mark dan Eun Ji kompak melihat ke bawah meja. Keduanya tercengang melihat tali sepatu sebelah mereka terikat menjadi satu. Eun Ji mencoba menarik kakinya sekali lagi, berharap ikatan itu terlepas. Namun, yang terjadi kemudian ia malah nyaris terjatuh hingga Mark menangkap tubuhnya dengan sigap. Keduanya saling pandang. Sementara Jin Young dan Hye Rim tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. ••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN