11

1840 Kata
Debaran jantung mereka membuat keduanya tidak bisa bertahan lebih lama untuk tetap pada posisi seperti itu. "Siapa yang melakukan ini?" tanya Mark bingung, lalu berjongkok dan memeriksa tali sepatunya. Eun Ji berjongkok, dan tanpa sengaja membentur kepala Mark. “Argh!” Mereka lalu berdiri bersamaan, masih dengan tangan kanan yang sibuk memijat kening, disusul Jin Young dan Hye Rim yang mendekat ke arah mereka, untuk melihat apa yang terjadi. "Siapa yang melakukan ini?" tanya Hye Rim. Tak hanya Hye Rim yang merasa bingung dengan hal itu, Jin Young pun juga demikian. Semuanya bertanya-tanya kenapa ini bisa terjadi, tanpa ada di antara mereka yang dapat menjawab. "Aku ingat!" seru Eun Ji kemudian, yang membuat Mark, Hye Rim, dan Jin Young menatapnya dengan rasa penasaran. "Anak itu—“ Eun Ji menggantungkan kalimatnya, lalu mengalihkan pandangannya pada Mark yang juga menatapnya. "Anak? Anak siapa?" Jin Young bertanya dengan nada penasaran. "Aku berpikir kalau mungkin saja dia yang melakukannya. Bukannya tadi dia berniat mengikat sepatunya, ‘kan? Mungkin saja saat itu juga dia mengikat tali sepatu kita.” Eun Ji menduga-duga. "Bagaimana bisa anak itu berbuat seperti ini? Kita bahkan sudah memperlakukannya dengan baik,” kata Mark tak habis pikir. Eun Ji kembali duduk sambil menghela napas kasar. "Tunggu di sini. Aku akan meminjam gunting,” kata Hye Rim, lalu beranjak dari tempatnya untuk menghampiri seorang pelayan. Tidak lama. Hye Rim akhirnya kembali dengan membawa gunting di tangannya, dan langsung berjongkok di bawah Mark dan Eun Ji. "Talinya terikat mati. Jadi mungkin memang harus dipotong. Bagaimana?" usul Hye Rim. "Sudahlah, potong saja.” Eun Ji menjawab dengan pasrah. •• Sepulangnya dari sana, mereka berempat berjalan dalam keheningan yang melanda mereka. Mark dan Eun Ji berjalan beriringan di depan, sementara Jin Young dan Hye Rim mengikuti beberapa langkah di belakang. Hye Rim menyadari tatapan Jin Young yang tak lepas dari Eun Ji. Karena itu, ia akhirnya bersuara untuk membuka obrolan. "Mark, Eun Ji, besok kalian akan mengikuti ujian susulan dengan kami. Jadi kalian harus belajar dengan baik.” "Kalian juga ikut ujian susulan?" tanya Eun Ji lantas mengerutkan kening karena bingung. "Ya, Kim ssaem mengira kami bekerja sama saat ujian tadi. Dan Jae Min juga dikira ikut terlibat,” Jin Young mengambil jeda untuk menghela napas, kemudian melanjutkan, "aku benar-benar merasa bersalah karena ini." "Sudahlah. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Semuanya sudah terjadi,’ kan?" sahut Hye Rim. Jin Young tersenyum, lantas merangkul Hye Rim. “Terima kasih karena sudah mengerti.” Mereka lalu kembali berjalan. Hye Rim, yang sampai saat ini masih bisa merasakan tangan Jin Young yang merangkul pundaknya, jadi gugup. Ia hanya berharap agar wajahnya tidak memerah. Jin Young memang sering seperti ini. Tapi itu dulu. Sebelum mereka bertemu Eun Ji. Bahkan rasanya sudah berbeda saat ini. Dulu, Hye Rim hanya merasa kalau hal ini biasa saja dalam hal pertemanan. Tapi sekarang, perasaan Hye Rim terhadap Jin Young sudah berubah. Bukan lagi teman, tapi sebagai orang spesial di hatinya. •• Eun Ji merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lalu memandang langit-langit kamarnya dengan kedua tangan yang direntangkan, juga senyuman yang menghiasi wajah mungilnya. Ia mengayunkan kakinya yang bergelantung di sisi tempat tidur, mengenang kembali apa saja yang sudah dilakukannya bersama Mark setengah hari ini. Seandainya, jika bisa, Eun Ji ingin berlama-lama dengan Mark. Eun Ji memang salah menilainya sejak dulu. Mark tidak begitu buruk. Sekarang, Eun Ji mengharapkan kehadiran Mark untuk menemaninya lagi. Bergurau, membuat Eun Ji tertawa, juga membuatnya kesal. Eun Ji tiba-tiba saja teringat tentang ujian susulan yang akan diberikan Kim ssaem besok. Senyumnya hilang dalam sekejap. Pelajaran matematika itu benar-benar membuat Eun Ji gila. Eun Ji bangkit, lalu menghampiri rak buku dan mencari buku matematikanya. Dalam waktu kurang dari lima detik, ia sudah menemukannya. Tentu saja, buku cetak matematika adalah buku paling tebal di antara semua buku yang ada di raknya. Setelah mengambil buku, Eun Ji beralih ke meja belajarnya dan duduk di kursi. Lalu ia mulai membolak-balikkan tiap kertas. Belum sampai lima menit ia membaca tiap halaman, ia sudah membuka halaman berikutnya. Eun Ji sama sekali tidak mengerti. Terlalu rumit. Entah otak sang ahli yang menemukan rumus-rumus ini terbuat dari apa. Eun Ji tidak dapat membayangkannya. Masih dengan otak yang terus bekerja untuk dapat mengerti semua rumus ini, Eun Ji mengacak rambutnya frustasi. Pelajaran ini mampu membuat mood-nya hancur seketika. Namun tak lama setelah itu, tebersit ide untuk menghubungi Mark dan mengajaknya belajar bersama. Tidak salah, ‘kan? Apalagi sekarang mereka berteman. Eun Ji meraih ponselnya yang ditaruh di atas tempat tidur. Mencari kontak dengan nama Mark, lalu mulai mengetik sebuah pesan untuk dikirim. To: Mark Kim Kau sedang apa? Apa aku mengganggumu? Eun Ji mengirimkan pesan itu, berharap Mark membalasnya dengan cepat. Harapan Eun Ji terkabul. Mark membalasnya setengah menit kemudian. From : Mark Kim Tidak. Kenapa? Tanpa ragu Eun Ji membalasnya. To : Mark Kim Apa aku boleh ke rumahmu? Ada banyak yang ingin kutanyakan tentang matematika. •• Eun Ji kini sudah berdiri di depan rumah Mark, dengan membawa buku matematikanya. Dibandingkan belajar matematika, sejujurnya, ia hanya menjadikannya alasan untuk bertemu Mark. Lamunan Eun Ji seketika buyar ketika pintu terbuka. "Annyeong." Eun Ji mengangkat tangan kanannya untuk menyapa laki-laki itu. "Masuklah." Mark lantas membuka jalan untuk Eun Ji masuk ke rumahnya. "Appa-mu di mana?" tanya Eun Ji, sembari melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga. "Appa belum pulang," jawab Mark dengan nada santai. Kini keduanya masuk ke dalam kamar. Langkah Eun Ji begitu pelan dengan matanya yang sibuk melihat-lihat apa yang ada di sana. "Kau kenapa seperti itu? Kau berlagak seperti kau baru pertama kalinya ke sini," tegur Mark yang menyadari keanehan Eun Ji. Eun Ji diam, tidak ingin menjawab Mark. Takut kalau dirinya dan Mark akan beradu mulut lagi. Pandangan Eun Ji teralih pada Mark yang tengah menarik sebuah meja ke tengah-tengah ruangan itu. Juga dua kursi yang ditaruh di dua sisi meja itu, saling berhadapan. Setelah Mark duduk, Eun Ji akhirnya ikut duduk juga. Kini mereka berhadapan. Eun Ji menaruh buku matematikanya di atas meja. "Untuk saat ini aku akan menjadi gurumu. Jadi hormati aku.” Eun Ji mengikuti permainan. "Baik, Ssaem,” jawab Eun Ji dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Mark yang melihatnya kemudian tertawa kecil. Eun Ji hanya menatapnya bingung. "Kenapa tertawa?” "Sudah. Jangan melakukan itu lagi untuk saat ini. Kau sangat lucu jika seperti itu. Jadi untuk saat ini hentikan. Konsentrasiku bisa hilang." Mark mulai membuka satu per satu halaman buku matematikanya. Eun Ji hanya mendengus kesal, tapi ia menurut saja. Ia menurunkan tangannya dan bersandar pada sandaran kursi. Berusaha menjauh dari Mark karena wajahnya yang memanas saat ini. Aku? Lucu? •• Waktu terus berlalu sejak Mark mulai menjelaskan dan mengajar Eun Ji tentang rumus-rumus yang tertera pada buku itu. Saat Mark sedang sibuk menjelaskan tentang contoh soal pada selembar kertas, mata Eun Ji sesekali melirik Mark yang begitu serius saat menjelaskan. Jujur saja ini adalah pertama kalinya Eun Ji melihat Mark yang tampak serius. Eun Ji tidak bisa lagi menahan senyumnya. Mark melihat itu. Ia berhenti menjelaskan lalu menghela napas. Mark segera mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung pulpen ke pipi gadis itu. “Mark!” seru Eun Ji kesal. "Aku tidak menyuruhmu tersenyum saat aku sedang menjelaskan." Mark menjawab dengan santai. Namun sedetik kemudian, ada ujung pulpen lain yang mendarat di pipinya, lalu terus bergerak turun hingga membentuk sebuah garis panjang pada pipinya. Eun Ji membalas dendam. Mark merapatkan bibir, menahan kesal. Mark hendak menyerang balik, namun Eun Ji segera menghindar. "Kau melakukan itu lebih dulu," tuduh Eun Ji kesal, lalu menggosok-gosok pipinya untuk menghapus jejak tinta pulpen. "Jadi kau ingin bermain ini sekarang?” •• Setelah melihat kondisi wajah masing-masing yang dipenuhi coretan pulpen pada cermin di kamar mandi Mark, Eun Ji tertawa geli. Mereka seperti anak kecil saja. "Ah, tunggu sebentar." Mark lantas keluar dari sana dan kembali dalam waktu singkat dengan membawa kamera yang sebelumnya dibawa Mark ketika mereka pergi ke Myeongdong. Setelah keduanya berpose, Mark memencet kamera untuk mengambil gambar. Bertambah satu lagi foto kebersamaan mereka. •• Di dalam kamar, yang terdengar hanyalah suara Mark yang tengah sibuk berceloteh mengenai sebuah rumus yang Eun Ji tidak tahu apa dan memang ia tidak ingin tahu. Sambil Mark menjelaskan dengan buku yang ia angkat di depan wajahnya, Eun Ji hanya mendengarkan malas dengan menopang dagunya di atas meja. Eun Ji mulai mengedipkan matanya malas. Matanya mulai terasa berat. Penjelasan yang diberikan Mark seperti sebuah dongeng baginya. Namun tak lama kemudian kedua matanya akhirnya tertutup juga. Eun Ji tidak peduli lagi. Yang dia inginkan sekarang hanya satu, menutup mata. Dan mungkin setelah itu kesadarannya akan hilang untuk sementara waktu. Kamar itu menjadi hening sekarang. Tidak ada lagi yang bersuara di antara keduanya. Mark yang sedari tadi tidak mendapat respon apa pun dari Eun Ji, akhirnya menurunkan buku itu dari hadapannya dan mendapati Eun Ji yang tengah tertidur dengan kepala yang menoleh ke samping kanan. Bukannya marah dan membangunkan gadis itu, Mark menghela napas lalu ikut melipat tangan di atas meja dan menaruh wajahnya di atasnya. Ia menolehkan wajahnya ke kiri hingga berhadapan dengan wajah Eun Ji yang tengah terlelap itu. Mark menatap lekat wajah gadis itu. Wajah mungil itu tampak begitu lucu di mata Mark. Entah sejak kapan dengan melihat wajah itu saja membuat jantung Mark berdegup kencang. Ditambah lagi, mata Mark yang tiba-tiba saja beralih menatap bibir tipis berwarna merah ceri itu. Ingatannya kembali memutar insiden ciuman tak disengaja antara mereka. Di satu sisi Mark merasa senang sekarang, karena menjadi pemilik ciuman pertama Eun Ji, namun di sisi lain ia juga menyesali itu. Menyesal karena hal itu terjadi tiba-tiba, tidak disangka, dan terjadi di saat kedua orang yang terlibat itu tidak mengharapkannya sama sekali. Terlebih lagi, hal itu terjadi di saat keduanya saling membenci. Entah pikiran kotor macam apa yang merasuki pikiran Mark. Ia tiba-tiba saja tertarik untuk melakukannya lagi. Eh, bukan 'melakukannya lagi'. Ia baru berniat melakukannya sekarang. Yang dulu itu, bukan dia yang melakukannya, ‘kan? Ciuman yang dulu itu tidak disengaja. Bukan karena ada niatan. Tanpa cinta. Setidaknya, Mark ingin memperbaiki kesalahan itu. Sekarang, atau suatu saat nanti. "Lee Eun Ji ....” Mark menghela napas, “kenapa kau bisa membuatku seperti ini? Kenapa hanya dirimu?" Mark bergumam sambil menatap wajah Eun Ji. Tak lama kemudian, kedua matanya pun perlahan mulai terpejam. •• Kira-kira sudah setengah jam berlalu sejak kedua orang itu terlelap di tempat yang sama, dan Eun Ji perlahan mengerjapkan matanya yang terasa berat. Belum sepenuhnya kesadarannya kembali, samar-samar matanya menangkap sosok wajah yang amat dikenalinya itu. Eun Ji mengedipkan matanya beberapa kali lagi, hanya untuk memperjelas apa yang dilihatnya. Setelah merasa ia benar-benar sadar, masih dengan posisi yang sama, ia membulatkan matanya, tak percaya akan apa yang dilihatnya. "Mark ....” Eun Ji menggumamkan namanya. Bagaimana tidak terkejut? Di saat ia terbangun, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah laki-laki itu, seseorang yang belakangan ini membuat perasaannya jadi tak keruan, bahkan dalam jarak sedekat ini. Eun Ji dapat merasakan setiap embusan napasnya. Selama beberapa saat ia terpaku menatap wajah itu, menikmati debaran aneh jantungnya. Tak butuh waktu lama untuk Eun Ji mengembalikan kesadarannya pada realita. Eun Ji geleng-geleng kepala, mengenyahkan pikiran gilanya. "Lee Eun Ji! Hentikan semuanya ini!" pekiknya dengan suara pelan sambil menepuk-nepuk pipi. Setelah menenangkan pikirannya, Eun Ji berpikir ada baiknya jika ia segera pulang. Lagipula, sekarang sudah malam. Sebelum ia pergi dari sana, Eun Ji menyempatkan diri untuk menuliskan ucapan terima kasih pada selembar kertas kecil yang kemudian diletakkannya di atas buku cetak matematika milik Mark yang terbuka di meja. Setelah selesai, ia mengambil bukunya dan keluar meninggalkan kamar Mark. Beberapa saat setelahnya, Mark terbangun. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari Eun Ji. Namun yang didapatinya hanya secarik kertas kecil di atas bukunya. Terima kasih, ssaem :) ••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN