12

2744 Kata
"Kemarin kalian belajar bersama?" Hye Rim yang baru saja datang dengan membawa nampan dan duduk di sebelah Jin Young langsung bertanya. Meskipun awalnya tampak ragu, Eun Ji akhirnya mengangguk juga. Sebenarnya tidak ada alasan bagi Eun Ji untuk ragu. Hanya saja, ia sedikit merasa malu, karena banyak dari temannya yang tahu kalau dirinya dan Mark saling membenci. Dan kedekatannya dengan Mark sekarang ini hanya dia, Mark dan Tuhan yang tahu. Eun Ji melahap sesendok nasi ke mulut sebelum menjawab, "Aku ingin belajar bersamanya karena hanya dia yang bisa membantuku untuk belajar kemarin." Eun Ji mencoba menjelaskan alasannya. Ia tidak ingin Jin Young dan Hye Rim salah paham. Tak berselang lama setelah Eun Ji menjawab barusan, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan munculnya Mark di sana. "Annyeong!" Mark menyapa ketiga temannya itu dengan bersemangat, lalu duduk di samping Eun Ji yang masih menyantap makanannya. Bukannya ikut senang dengan kehadiran Mark, Eun Ji malah diam saja. Hanya Hye Rim yang menyapa balik walaupun hanya dengan sebuah senyuman. Eun Ji mengunyah makanannya dengan pelan. Memori otaknya memutar lagi kejadian semalam. Di mana saat dia terbangun, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Mark. Hanya dengan memikirkannya saja membuat Eun Ji menghela napas. Mark tiba-tiba menyikut lengannya. "Hei! Bagaimana bisa kemarin kau pulang tanpa pamit? Kau benar-benar tidak sopan." Eun Ji nyaris tersedak. "Siapa yang menyuruhmu tidur kemarin? Kalau saja kau tidak tidur aku pasti akan pamit padamu. Setidaknya aku masih punya sopan santun untuk tidak membangunkan orang seenaknya dari tidurnya," ucap Eun Ji dengan nada ketus, lalu menyuapkan lagi sesendok makanan ke dalam mulutnya. "Aku tidak akan tidur kalau kau sendiri juga tidak tidur kemarin. Bisa-bisanya di saat aku menjelaskan kau malah tertidur?" balas Mark sambil geleng-geleng kepala. Eun Ji yang mendengarnya lagi-lagi terdiam. Mark benar-benar membalas dengan tepat sasaran kali ini. "Eh? Kalian memakai cincin yang sama?" Kedua orang yang menjadi sasaran pertanyaan Jin Young itu tiba-tiba mematung. Mematung dengan mata yang tertuju pada cincin yang terpasang di jari manis masing-masing. Eun Ji yang sebelumnya tidak tahu kalau mereka memakai cincin yang sama tentu saja terkejut dan kebingungan. Hye Rim menghela napas. Akhirnya ketahuan juga. "Kemarin dia sangat menginginkannya, jadi kubelikan saja." Mark mengambil alih untuk menjawab dengan senyuman canggung yang nampak di wajahnya. Jin Young tidak sebodoh itu. Senyuman canggung itu benar-benar membuat Jin Young curiga. Eun Ji bernapas lega mendengar Mark menjawabnya, lalu sebisa mungkin ia mencoba tersenyum. "Ya, aku benar-benar menginginkannya." Eun Ji meyakinkan. "Aku sudah selesai. Aku akan kembali ke kelas untuk belajar.” Eun Ji lantas berdiri lalu beranjak dari tempatnya dengan membawa nampannya. "Aku juga akan belajar dengannya," kata Mark, lalu berjalan mengikuti Eun Ji dari belakang. "Jin Young, jangan terlalu memikirkannya," kata Hye Rim seraya tersenyum manis, berusaha menenangkan Jin Young. Hye Rim tahu persis bagaimana perasaan Jin Young saat ini. Karena dirinya sendiri pun sering mengalaminya. "Kenapa? Aku tidak memikirkannya," Jin Young membantah, lalu sebisa mungkin ia memasang senyum di depan Hye Rim. •• Sementara pelajaran sedang berlangsung, beberapa murid tertidur, memainkan ponsel diam-diam, dan ada juga yang betah mendengarkan guru wanita yang menjelaskan materi seperti air mancur itu. Mengalir tanpa henti. Karena Eun Ji yang duduk di barisan terbelakang, peluangnya sangat besar untuknya menggunakan sisa waktu setengah jam sebelum pulang ini untuk belajar bahan ujian matematika susulan nanti. Baru sebentar ia membaca buku tebal itu, matanya tiba-tiba beralih ke arah Mark yang duduk pojok kiri kelas itu. Apa yang dilihat Eun Ji itu membuatnya tersenyum. Bagaimana tidak? Mark tampak sangat serius mendengarkan Park ssaem menjelaskan. "Kau menyukainya?" Bisikan yang terdengar sangat jelas di belakang telinga Eun Ji membuatnya terkesiap selama beberapa detik. Eun Ji lantas menolehkan kepalanya ke kanan, pada Jae Min, teman semejanya, yang menatapnya dalam jarak yang cukup dekat. "Jangan melakukan hal memalukan itu di saat pelajaran ini sedang berlangsung!" teriak Park ssaem kemudian, begitu melihat mereka. Sontak seluruh pasang mata tertuju pada Eun Ji dan Jae Min saat ini. Kedua orang itu membalas tatapan menghakimi mereka sambil mendengus kesal, lalu pandangan Eun Ji terhenti pada Mark yang juga menatapnya dengan tatapan aneh. Sudah cukup. Eun Ji tidak dapat mengangkat wajahnya lebih lama lagi. Ia membetulkan posisi duduknya lebih dulu lalu menunduk. Lagi-lagi mata Eun Ji terpancing ke arah Jae Min ketika laki-laki itu tiba-tiba berdiri. Apa lagi yang akan dilakukannya? "Kami minta maaf, Park ssaem. Kami tidak bermaksud berbuat macam-macam. Itu ... hanya sebuah ketidaksengajaan. Jadi, sekali lagi, kami meminta maaf." Jimin lantas membungkuk sekali lagi setelah mengatakannya. Tepat setelahnya, bel pulang berbunyi. Eun Ji bernapas lega, dan membiarkan kepalanya terjatuh di atas mejanya, hingga dahinya mendarat tepat di atas meja. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menenangkan pikirannya. Setelah merasa sedikit lebih rileks, Eun Ji mengangkat wajahnya kembali, lalu menarik napas dalam-dalam. Gerak-gerik dan ekspresi wajah mengundang perhatian Jae Min yang berusaha menahan senyum. Bagaimana bisa laki-laki tidak terpesona dengan tingkah gadis itu? •• Setelah hampir seluruh murid keluar dari kelas, kini yang tersisa hanya Eun Ji, Jae Min, Mark, Jin Young dan Hye Rim. Mereka masih sibuk mengatur buku-buku mereka dan memasukkannya ke dalam tas. "Aku keluar sebentar. Ada sesuatu yang harus aku ambil dari Jae Ki,” kata Jin Young seraya menyampirkan tas di punggung, lalu beranjak keluar dari kelas. "Jin Young!" Hye Rim bahkan belum sempat bertanya dan Jin Young sudah pergi. Ada yang aneh dengannya. Hye Rim bisa merasakan itu. Jin Young bahkan tampak tidak begitu peduli dengan ujian yang diulangnya lagi hari ini. Padahal setahu Hye Rim, Jin Young menganggap pelajaran itu sangat penting. Di detik berikutnya, Hye Rim tersadar ia tidak seharusnya diam seperti ini. Yang muncul di pikirannya saat ini adalah dia harus mengejar Jin Young. Jin Young tidak boleh terlambat. Hye Rim berdiri, menaruh tas ranselnya di atas meja dengan kasar, lalu berlari keluar kelas. Namun baru saja kaki Hye Rim melangkah keluar dari kelas, Kim ssaem sudah berdiri di hadapannya. “Kamu tidak berniat kabur, ‘kan?” tanyanya. “Tidak, ssaem. Itu—“ "Silakan pergi tapi aku tidak akan memberimu kesempatan lagi,” tegas Kim ssaem. "Tapi Jin Young ..." "Dia tidak akan mengikuti ujian. Dia sudah mengatakannya padaku kemarin.” Hye Rim mencerna kata-kata Kim ssaem. Mungkinkah Jin Young melakukannya untuk dirinya? Jika memang seperti itu, Hye Rim tidak boleh menyia-nyiakan ini. Jin Young sudah rela bernegosiasi dengan Kim ssaem demi dirinya dan Jae Min. Yang perlu dilakukannya sekarang adalah tidak mengecewakan Jin Young. •• Setelah berhasil menyelesaikan ujian dengan lancar, mereka akhirnya bernapas lega sembari melangkah beriringan dan tertawa. Namun, tidak dengan Hye Rim. Hye Rim hanya sibuk memikirkan Jin Young saat ini. Sejak ujian tadi ia bahkan tidak bisa fokus dengan soal yang diberikan, pikirannya hanys tertuju pada Jin Young. Dia harus menanyakan tentang ini padanya. Dan panjang umur! Orang yang terus menghantui pikiran Hye Rim itu berdiri di dekat gerbang. Hye Rim lantas menghentikan langkahnya dengan mata yang terus tertuju pada laki-laki itu, Lee Jin Young. Yang lain ikut berhenti ketika melihat hal yang sama. Jin Young perlahan mendekat. Ia yakin akan ada banyak pertanyaan yang akan ditujukan untuk dirinya dari keempat orang yang berdiri mematung di depannya saat ini. Jin Young hanya tersenyum canggung, membalas satu per satu tatapan mereka. "Ke-kenapa?" tanya Jin Young pura-pura tak mengerti. "Kenapa kau tidak ikut ujian?" tanya Hye Rim ketus. "I-itu.." "Jangan mencoba untuk berbohong. Aku tahu kau sengaja membiarkanku dan Jae Min yang mengikutinya karena merasa bersalah.” "Kalau kita bertiga mengikutinya Kim ssaem pasti tidak akan memberi kesempatan. Jadi kupikir lebih baik kalian saja yang mengikutinya. Aku hanya merasa bersalah karena aku melibatkan kalian dalam masalah ini. Hanya itu..."Jin Young menjelaskan, berharap Hye Rim dan yang lainnya mengerti. "Tapi kau membuatku merasa bersalah juga, Lee Jin Young,” ucap Hye Rim lirih, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka. Setelah Hye Rim pergi, tidak ada lagi yang berbicara di antara mereka. Jin Young tidak menyesali apa yang sudah terjadi, tapi dia sendiri juga tidak ingin Hye Rim marah padanya. Tapi ia yakin, semuanya akan baik-baik saja. •• Setelah bel istirahat akhirnya berbunyi, seluruh murid dalam kelas berhamburan keluar. Tidak dengan Eun Ji yang masih duduk diam di tempatnya. Matanya hanya terfokus pada satu pemandangan aneh yang dilihatnya selama tiga hari ini. Mark dan Hye Rim. Sejak kapan mereka bisa sedekat ini? Eun Ji masih bertanya-tanya tentang hal itu hingga saat ini. Mereka berjalan berdua keluar dari kelas diiringi dengan tawa mereka. Eun Ji merasa aneh dengan hal itu. Tidak biasanya Hye Rim berjalan berdua dengan Mark, apalagi tampak akrab seperti itu. Hye Rim bukan tipe orang yang mudah bergaul dengan orang yang baru dikenalnya. Eun Ji hanya bisa menghela napas. Ia jelas tidak menyukai apa yang terjadi sekarang antara Mark dan Hye Rim. Tapi bagaimana lagi? Eun Ji tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa diam dan menyaksikan mereka. Eun Ji dan Mark hanya berteman. Eun Ji tidak punya hak untuk cemburu dan melarangnya untuk dekat dengan perempuan lain. Ternyata tidak hanya Eun Ji yang merasakan keanehan itu. Jin Young pun sama. Ia terus menatap Mark dan Hye Rim hingga mereka keluar dari kelas. Tak lama setelah mereka keluar, Jin Young menghampiri Eun Ji yang masih duduk di bangkunya. "Eun Ji ... kau tidak merasa aneh dengan mereka?" tanya Jin Young dengan suara pelan ketika dia baru saja duduk di bangku yang berada di depan meja Eun Ji. Tahu siapa yang dimaksud Jin Young, Eun Ji mengangguk lalu menjawab, "Ya. Aku merasakan itu." "Apa Hye Rim masih marah? Mereka tiba-tiba dekat setelah Hye Rim marah padaku tiga hari yang lalu." Jin Young menebak-nebak. "Mungkin saja ..." Eun Ji menjawab dengan malas sambil mengangkat bahu, berusaha tak memedulikannya. Sebelum sempat mendengarkan balasan dari Jin Young, Eun Ji segera beranjak dari tempatnya. "Kau mau ke mana?" Eun Ji lantas menghentikan langkahnya. "Ke suatu tempat." Setelah menjawab dengan nada datar, Eun Ji akhirnya benar-benar keluar dari kelas. Kini hanya Jin Young seorang diri di kelas itu. Ia masih sibuk berpikir. "Mereka semua aneh.” •• Eun Ji baru saja akan melewati kantin ketika matanya tidak sengaja mendapati Mark dan Hye Rim yang tengah mengobrol sambil menyantap makanan masing-masing. Eun Ji hanya mendengus kesal. Eun Ji benar-benar ingin berterima kasih pada mereka yang telah membuat moodnya hancur saat ini. Eun Ji tidak ingin peduli lagi. Ia kembali berjalan, enggan untuk menoleh dua kali, meskipun keinginannya sangat besar untuk mengamati mereka. •• Kini Eun Ji sampai di tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya. Rooftop sekolah. Tempat ini menjadi lebih kotor sejak terakhir kali ia ke sini. Setahun, mungkin. Eun Ji melangkah pelan sambil memperhatikan sekeliling. Lalu menyandarkan punggungnya pada tembok pembatas sambil menikmati angin yang berembus dingin dan menusuk tulang. Eun Ji memeluk tubuhnya sendiri dan tiba-tiba teringat dengan sikap aneh yang ditunjukkan Mark dan Hye Rim. "Apa mungkin Mark marah padaku? Tentang kejadian waktu itu?" Eun Ji kembali mengingat tentang insiden yang terjadi antara dirinya dan Jae Min tiga hari yang lalu. Tapi di detik berikutnya Eun Ji geleng-geleng kepala, berusaha menyingkirkan pikiran aneh itu dari otaknya. Bagaimana mungkin Mark marah tentang itu? Kalau Mark marah, itu berarti Mark cemburu. Tidak mungkin, kan, Mark cemburu dengan Jimin? "Lalu ... kenapa dia bersikap aneh seperti ini?" Eun Ji menghela napas, dan ketika matanya mendapati sebuah batu kecil di lantai, kakinya menendang batu itu. Ia terlalu lelah memikirkan semuanya ini. Ia tak peduli lagi tentang batu yang ditendangnya itu. Batu itu terlempar ke udara dan terjun bebas ke lantai bawah. Di bawah sana, Jae Min yang jadi korban batu terjatuh itu meringis sambil mengelus puncak kepalanya. "Siapa yang melakukan ini?" Jae Min menengadah, tapi tidak menemukan siapa pun yang terlihat di atas sana. •• Eun Ji sedang duduk memeluk lutut di rooftop ketika bel masuk berbunyi. Ia ingin kembali ke kelas, tapi tubuhnya terasa sama beratnya dengan perasaannya saat ini. Apalagi jika ia harus kembali menyaksikan Mark dan Hye Rim yang tampak seperti punya dunianya sendiri. "Tidak kembali ke kelas, nona Lee?" Suara itu lantas membuat Eun Ji menoleh dengan cepat, dan mendapati Park Jae Min yang tengah melangkah ke arahnya. Eun Ji belum menjawab. Matanya terus memperhatikan Jae Min hingga duduk di sebelahnya. Ternyata tidak hanya Hye Rim dan Mark yang aneh. Jae Min juga, pikirnya. Akhir-akhir ini, Jae Min memang jadi agak lebih sering mengajaknya berbicara tentang apa pun. Dia juga banyak tersenyum saat melihat Eun Ji. "Kau kenapa ke sini?" Eun Ji bertanya dengan suara pelan, penasaran. Jimin menggeleng, lalu menjawab, “Hanya ingin memeriksa sesuatu." "Memeriksa sesuatu?" "Ya. Ada seseorang yang melempariku dengan batu kecil dari sini. Untung saja kepalaku tidak berdarah,” ungkap Jae Min sambil mengelus puncak kepalanya ketika mengingat kejadian beberapa saat yang lalu itu. Tak butuh waktu lama untuk Eun Ji menyadari maksud Jae Min. "Ah, tunggu!" Jae Min menoleh cepat. "Kau ada di sini dari tadi?" tanyanya, dan langsung dibalas dengan anggukan kepala Eun Ji. "Jadi ... kau yang melempar batu itu?" Jae Min memastikan. “Aku tidak melemparnya. Aku menendangnya,” jawab Eun Ji santai. Jae Min manggut-manggut. Benar Eun Ji orangnya. “Apa kau ingin aku minta maaf?” “Tidak. Lagipula siapa yang tahu kalau batu itu akan kena kepalaku, ‘kan?” “Benar.” "Kau tidak ingin kembali ke kelas? Kau tidak takut ketahuan jika berdiam di sini terus?" Jae Min mengganti topik pembicaraan. "Jam terakhir nanti aku akan kembali." "Ok. Baiklah." "Kau tidak kembali?" Eun Ji menoleh pada Jae Min yang tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan pergi. "Tidak. Aku akan ikut denganmu." •• Mark mengarahkan pandangannya pada jam dinding yang terpajang di atas papan tulis. Tersisa waktu satu jam lagi untuk bel pulang sekolah berbunyi. Bukan itu yang membuat Mark sekhawatir ini, melainkan Eun Ji. Ke mana perginya Eun Ji sampai gadis itu tidak mengikuti dua pelajaran terakhir? Bahkan Jae Min juga tak terlihat. Apa mereka bersama di suatu tempat? Pikir Mark. Tapi jika dipikir-pikir lagi, dua orang itu tidak begitu akrab. Apalagi Eun Ji yang terkadang merasa tidak betah di tempatnya karena gangguan Jae Min. Jadi, kemungkinan kalau mereka sedang bersama saat ini sangat kecil. Lamunan Mark seketika buyar ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar. Setelah sang guru mempersilakan masuk, pintu akhirnya dibuka. Seluruh pasang mata, tak terkecuali Mark, tertuju pada dua murid yang baru saja melangkahkan kakinya memasuki kelas itu. "Maaf, Lee ssaem. Saya baru saja kembali dari UKS dan dia ..." Eun Ji memberikan jeda sebentar seraya menoleh ke arah Jae Min yang berdiri di sampingnya, lalu melanjutkan, "Dia baru saja kembali dari perpustakaan." "Baiklah, silakan duduk. Tapi jika ini terjadi lagi kalian lebih baik menunggu di luar saja sampai pelajaranku selesai," ucap Lee ssaem. Mark terus memperhatikan mereka hingga mereka duduk. Apa yang dipikirkan Mark benar. Mereka pasti sengaja bolos bersama. •• “Eun Ji! Tunggu!" Mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya itu, membuat Eun Ji menghentikan langkahnya saat dia baru saja akan melangkah keluar dari gerbang sekolah. "Aku ikut denganmu," kata Mark ketika ia sudah mengimbangi posisi Eun Ji. Sambil kembali melangkah pelan, Eun Ji mengangguk. Ia melihat wajah Mark sebentar, sebelum kepalanya tertunduk lagi. Apa Mark-nya sudah kembali? Mereka sudah hampir sampai di depan rumah masing-masing dan belum ada yang ingin memulai pembicaraan. Sebenarnya Eun Ji sangat ingin menanyakan tentang sikap Mark yang aneh belakangan ini. Hanya saja, keraguan yang menguasainya membuat Eun Ji harus menahan diri. Tidak terkecuali Mark yang juga sangat ingin menanyakan tentang Eun Ji dan Jae Min yang sempat bolos pelajaran setelah istirahat. Tapi semuanya itu tertahankan hanya karena keraguan. Kini mereka tiba di depan rumah masing-masing. Tinggal beberapa langkah lagi Eun Ji dan Mark akan mengambil arah berlawanan dan memasuki halaman rumah masing-masing. Dan setelah itu, mereka tidak dapat bertemu lagi hingga besok pagi. Itu pun jika mereka ditakdirkan untuk bertemu. Eun Ji tidak akan menahannya lagi. Sekarang, atau tidak sama sekali. Belum tentu besok dirinya dan Mark akan seperti ini lagi. "Mark ..." "Eun Ji ...” Keduanya lantas tertawa pelan "Kau duluan,” kata Eun Ji. "Tidak. Kau duluan saja,” balas Mark. "Ya ... baiklah." Eun Ji menghentikan langkahnya dan menatap Mark. "Selama tiga hari ini, kau ... jadi aneh. Kau ... seperti menghindariku," ujar Eun Ji dengan suara pelan. Ia terlalu gugup. Tapi, ia sudah sedikit lebih lega sekarang. "Maksudmu? Kurasa aku tidak bersikap aneh. Mungkin kau saja yang merasa begitu." Mark tertawa canggung setelah mengucapkan kalimat terakhir. "Kau dan Hye Rim terlihat sangat dekat tiga hari ini." Eun Ji melanjutkan apa yang ingin dikatakannya. "Eh ... itu ... ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya." Mark menjawab lagi. Tapi entah kenapa Eun Ji tidak yakin dengan setiap jawaban yang diberikan Mark. Eun Ji tidak tahu. "Sudah. Hanya itu. Sekarang, apa yang ingin kau bicarakan? Katakan saja." Eun Ji mempersilakan Mark untuk bertanya. "Tadi kau berbohong, ‘kan?" "Berbohong? Maksudmu?" "Kau dan Jae Min. Tadi kalian sengaja bolos, ‘kan?” tanya Mark ragu. "Kau ke mana saja tadi?" Mark bertanya lagi. "Ehm ... rooftop," jawab Eun Ji. "Apa yang kalian lakukan?" Kali ini Mark tampak lebih penasaran lagi. Eun Ji yang menyadari itu akhirnya tertawa kecil. "Aku hanya duduk di sana. Hanya ingin menenangkan pikiran. Dan dia menemaniku. Sudah. Itu saja." Mendengar kalimat dan dia menemaniku membuat Mark terkejut, dan ia tidak menyukainya. "Oh, ya sudah. Hanya itu yang ingin kutanyakan." "Kalau begitu, aku masuk dulu, sampai ketemu besok.” Eun Ji mengangkat tangannya rendah untuk melambai. Setelah itu keduanya melangkah memasuki halaman rumah masing-masing. Langkah mereka terasa berat untuk saling meninggalkan. Namun, yang terpenting adalah, mereka sudah terbuka satu sama lain. Semua perkiraan negatif mereka tidak benar. ••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN