Langkah Jin Young terhenti di depan sebuah ruangan. Dari jendela dengan gorden berwarna putih polos yang menutupi sebagian dari jendela tersebut, dilihatnya Hye Rim yang tengah duduk bersama seorang pria setengah baya yang Jin Young yakini adalah ayah Hye Rim. Mereka tidak berdua saja di ruangan itu, ada sang wali kelas yang tengah berbincang dengan mereka.
Jin Young mengerutkan keningnya. Pembicaraan mereka tampak sangat serius. Padahal, Hye Rim tidak pernah menceritakan apapun tentang sesuatu yang serius pada Jin Young.
Dan lagi, apa itu? Sebuah kertas putih yang dimasukkan ke dalam sebuah map hijau yang Jin Young sama sekali tidak tahu apa yang tertulis di sana. Ini semakin membuat Jin Young penasaran.
Melihat Hye Rim dan sang ayah berdiri di dalam ruangan itu dan hendak melangkah mendekati pintu, Jin Young lantas mundur beberapa langkah dengan cepat, dan masuk di sebuah kelas yang pintunya tidak tertutup. Matanya terus tertuju pada Hye Rim dan ayahnya, serta map hijau yang dipeluk Hye Rim saat ini.
Setelah Hye Rim dan ayahnya melangkah pergi dari sana, Jin Young memberanikan diri untuk bertemu dengan sang wali kelas di ruangan yang sama.
"Lee ssaem," panggilnya sembari membungkuk singkat.
"Ya?"
"Maaf, ini mungkin tidak sopan. Tapi, jika boleh tahu, apa yang ssaem bicarakan dengan Hye Rim? Apakah itu sesuatu yang sangat penting?"
"Oh,itu. Ya... dia akan pindah. Beberapa hari lagi," jawab Lee ssaem.
Mendengar itu membuat mata Jin Young membulat dengan sempurna, bahkan dengan mulut yang menganga. Dia terkejut. Terlalu terkejut dan tidak menyangka akan mendengar berita seperti ini. Dan lebih mengecewakan lagi, Hye Rim tidak memberitahunya tentang hal ini sebelumnya. Apakah dia berniat untuk pergi dengan diam-diam? Tanpa pamit? Dan... meninggalkannya?
Jin Young tidak bisa seperti ini. Dia harus menanyakan ini pada Hye Rim. Beberapa hari lagi? Itu bukanlah waktu yang lama. Jin Young tidak ingin ditinggalkan, oleh Hye Rim.
"Te-terima kasih, Lee ssaem,” ucap Jin Young terbata-bata, lalu segera keluar dari ruangan itu.
Jin Young berlari. Berlari menyusuri koridor yang kini sudah tampak sepi itu. Yang harus dilakukannya saat ini adalah mengejar Hye Rim, dan meminta penjelasan tentang kepindahannya dari sekolah ini.
"Kim Hye Rim!” Jin Young berteriak sekeras mungkin, ketika matanya akhirnya mendapati sosok Hye Rim itu yang baru saja akan memasuki mobil.
Hye Rim berbalik, dan segera mendekati Jin Young yang tengah mengatur pernapasannya. Hye Rim baru saja berdiri di hadapan Jin Young ketika laki-laki itu tiba-tiba memegang kedua bahu Hye Rim, membuat Hye Rim terkejut dan mundur selangkah dengan mata yang menatap Jin Young dengan takut. Wajar saja Hye Rim takut, Jin Young tidak pernah seperti ini sebelumnya.
"Ke-kenapa?" Hye Rim bertanya.
"Bisa... kita bicara sebentar?"
••
Hye Rim melipat kedua tangan di depan dadanya dengan sedikit erat. Ia memandang ke sekeliling, sesekali dengan rambutnya yang berterbangan tertiup angin. Ia berusaha untuk rileks dan tidak tegang dengan suasana seperti ini. Setidaknya dengan memandangi pemandangan yang terlihat dari rooftop sekolahnya ini sudah cukup berhasil meredakan ketegangan yang melandanya.
Hye Rim melirikkan matanya ke arah Jin Young yang berdiri di sampingnya. Hye Rim hanya bingung saja, apa yang ingin dibicarakan Jin Young.
Jin Young tidak pernah seserius ini sebelumnya, pikirnya.
Jin Young berusaha menormalkan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat saat ini. Ia bingung harus memulai dari mana. Mungkin pilihan untuk mengajak Hye Rim ke sini adalah sebuah kesalahan. Tapi mau bagaimana lagi? Mengajaknya untuk pergi ke tempat lain rasanya tidak mungkin lagi. Mereka sudah di sini, dan sudah seharusnya Jin Young membicarakannya di sini juga. Tapi bagaimana bisa ia menanyakan tentang kepindahan Hye Rim, kalau mulutnya saja terasa sangat sulit untuk terbuka.
"Hye Rim," panggil Jin Young, yang hanya dibalas dengan raut wajah yang seolah mengatakan kenapa? Apa yang ingin kau katakan?
"Benarkah... kau ingin pindah dari sekolah ini?" Akhirnya, akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Jin Young. Yang ditanya hanya diam saja. Kali ini Hye Rim tidak berani lagi menatap manik mata yang ada di hadapannya itu. Ia menunduk. Dan tentu saja dengan seperti itu pun, dan tanpa Hye Rim menjawab, Jin Young sudah tahu pasti jawabannya sekarang.
"Aku... harus pergi," ucap Hye Rim lirih, bahkan hampir tak terdengar. Matanya mulai berair. Hye Rim hanya bisa menunduk saja. Takut. Khawatir. Perasaan itulah yang memenuhi hatinya saat ini.
"Kenapa? Kau bisa memberiku alasan?"
"Appa. Appa akan memperbaiki semuanya dan mungkin akan mengulang semuanya dari awal. Seperti katamu. Aku akan menemaninya. Kuharap ini hasilnya baik. Karena pergi dari sini adalah sesuatu yang paling sulit kulakukan. Jadi kuharap semuanya ini tidak sia-sia." Hye Rim mencoba menjelaskan, dengan isak tangis yang ditahannya.
"Tidak apa-apa," ucap Jin Young kemudian sembari memegang kedua pundak Hye Rim dengan lembut. Ia tersenyum. Berusaha terlihat kuat di hadapan gadis itu. Tak lama kemudian, mata mereka bertemu. Tidak lama. Jin Young tidak bisa berlama-lama dengan tatapan itu. Ia menurunkan tangannya dan kembali memandangi pemandangan yang dapat dilihatnya dari atap gedung sekolahnya ini.
"Maaf," ucap Hye Rim, membuat Jin Young langsung menoleh.
"Tidak perlu." Jin Young membalas sembari tersenyum. Ia tidak ingin Hye Rim merasa bersalah seperti ini.
Keduanya diam untuk beberapa saat. Kini Jin Young sudah mengetahui semuanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi selain membiarkan Hye Rim pergi. Ia bahkan juga tidak tahu perasaan apa yang kini ada di hatinya. Jin Young sulit membiarkan Hye Rim pergi, entah karena Jin Young menganggapnya sahabat, atau lebih dari itu. Mungkin jika dipikirkan lagi, Jin Young lebih memilih yang kedua. Mungkin, Hye Rim terlalu spesial untuk dianggapnya seorang sahabat.
"Jin Young." Jin Young yang dipanggil lantas menoleh. "Jangan memberitahu Eun Ji atau pun Mark tentang ini. Aku sendiri yang akan memberitahu mereka."
Jin Young mengangguk yakin sambil terus tersenyum, meskipun rasanya sangat sulit untuk tersenyum saat ini.
"Kau mau pulang? Aku akan mengantarmu,” tawar Jin Young yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Hye Rim.
••
Eun Ji sesekali mendengus kesal sambil terus melangkah dengan mongotak-atik ponsel yang dipegangnya sejak tadi. Jemarinya sibuk bergerak ke atas dan ke bawah pada layar sentuh ponsel. Sesekali juga ia menggumamkan nama Mark dengan mata yang tetap tertuju pada layar ponselnya.
Ketika didapatkannya kontak Mark, Eun Ji malah menghentikan langkahnya. Ia menurunkan tangannya pasrah sembari mendesah. Hari ini, yang terjadi hari ini sungguh di luar dugaannya. Ia bahkan berharap hari spesial ini, ya, setidaknya seperti itu baginya, menjadi hari yang tidak terlupakan dalam hidupnya.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Eun Ji seperti harus membuang semua harapan itu sekarang. Tidak ada yang terwujud. Tidak ada.
Sebenarnya keinginannya tidak banyak. Ia hanya ingin mendapatkan ucapan selamat dari Mark, dan merayakannya bersama Mark, juga kedua sahabatnya itu, Hye Rim dan Jin Young.
Eun Ji tiba-tiba teringat hari-hari kemarin. Di mana Mark lagi-lagi bersikap aneh dan seperti menghindarinya. Bahkan bukan hanya Mark saja, Hye Rim dan Jin Young pun demikian. Mereka memang memberi ucapan selamat untuk Eun Ji tadi pagi, tapi setelah itu, mereka kembali diam. Tidak ada yang spesial hari ini.
Eun Ji kembali melangkah. Tak lama kemudian, ia akhirnya sampai di tempat biasa, rooftop sekolah. Ia bersandar pada tembok dan diam selama beberapa saat, hanya untuk menikmati angin musim gugur di hari-hari terakhir ini.
Tangannya kemudian ia masukkan ke dalam saku jas almamaternya, dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah bungkusan kecil yang di dalamnya terdapat dua buah jepit rambut dengan hiasan berbentuk hello kitty yang menempel pada ujung jepitan itu. Eun Ji menatap bingung jepit rambut itu. Ia menggerak-gerakkan bungkusan itu, melihat setiap sisi bungkusan kecil itu. Aneh menurutnya.
Dia memang menyukai hello kitty. Tapi siapa yang tahu soal itu selain Hye Rim dan Jin Young? Jepit rambut ini bukan dari mereka, Eun Ji sudah menanyakan tentang itu pada mereka. Lalu siapa yang menaruh bungkusan ini di laci mejanya? Dan lagi, ada surat kecil yang disimpan di dalam bungkusan ini. Di sana tertulis ucapan selamat ulang tahun untuk Eun Ji. Hanya saja, si penulis tidak mengikutsertakan namanya di sana. Hanya ada tujuh buah garis bawah yang menjadi petunjuk.
Tak lama kemudian Eun Ji menegakkan tubuhnya. Ada sesuatu yang tiba-tiba saja muncul di pikirannya. Matanya semakin fokus memperhatikan surat kecil itu.
"Mark... Kim?" Eun Ji menebak-nebak.
Nama 'Mark Kim sangat cocok untuk tujuh garis putus-putus itu. Mata Eun Ji membulat seketika. Apa itu benar? Eun Ji bahkan tidak bisa berkata-kata lagi. Bagaimana jika jepit rambut itu memang darinya? Itu berarti Mark mengetahui hari ini adalah hari ulang tahun Eun Ji.
Perlahan senyuman kecil terbentuk di wajahnya. Perlahan juga perasaannya mulai membaik.
••
Setelah beberapa menit perjalanan pulang ke rumah dengan taksi yang membawanya, akhirnya Eun Ji sampai juga di depan rumahnya. Eun Ji segera mengeluarkan uang untuk membayar ongkos taksi tersebut, dan setelah mengucapkan terima kasih, ia langsung turun dari taksi, dan melangkah memasuki rumahnya.
Ia membuka pintu pelan. Setelah masuk, ia kembali menutup pintu, namun ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh. Rumahnya kali ini terasa lebih gelap. Tidak ada satu pun lampu yang menyala.
Eun Ji melangkah dengan lebih hati-hati saat akan menyalakan lampu ruang tamu.
Eun Ji terlonjak kaget saat tiba-tiba sekelompok orang membawa kue tart berukuran mini datang dari dalam. Mereka adalah Hye Rim, Jin Young, ayahnya, dan bibi yang bekerja setiap setengah bulan di rumahnya. Mereka dengan kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Eun Ji. Eun Ji yang awalnya tampak bingung akhirnya tersenyum juga.
Ia memperhatikan tiap orang yang kini berdiri dekat di depannya. Hanya seseorang yang sangat ia harapkan dan tidak ada di sini, dan orang itu adalah Mark. Sekali lagi, Eun Ji merasa kecewa. Tapi tidak sekecewa di sekolah tadi. Setidaknya, sekarang Eun Ji sadar, juga bersyukur, karena Eun Ji masih punya mereka, yang peduli dan menyayanginya.
Eun Ji kemudian membuat sebuah doa yang diucapkannya dalam hati, lalu meniup lilin yang dipasang di atas kue itu. Ia menunduk, merasa malu. Namun matanya melirik ke tempat kumpulan orang di depannya itu, ketika mereka tiba-tiba membuka jalan untuk seseorang.
Eun Ji lantas mondongak, dan terkejut melihat Mark melangkah menghampirinya dengan kue lain di tangannya.
"Mark..." Eun Ji bergumam pelan setelah melihat wajah laki-laki itu. Ia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi. Dia benar-benar tidak menyangka semuanya ini.
"Selamat ulang tahun," ucap Mark lembut seraya tersenyum.
Perlahan Eun Ji juga ikut tersenyum. Nampak sangat jelas air yang menggenang di matanya. Eun Ji hanya berharap ia dapat menahannya.
"Make a wish," kata Mark.
Tak perlu menunggu lama, Eun Ji langsung menutup mata dan mengucapkan doanya dalam hati. Mungkin, belum sampai 20 detik ia menutup mata, ia sudah membukanya lagi.
"Cepat sekali," gerutu Mark dengan nada kecewa. Meskipun begitu, ia tetap tersenyum dan menyodorkan kue itu ke depan wajah Eun Ji. Eun Ji tak perlu berlama-lama lagi. Ia meniup beberapa lilin yang terpasang di atas kue. Setelah selesai dengan semuanya itu, semuanya bertepuk tangan gembira.
"Berikan potongan kue pertamamu," suruh Hye Rim bersemangat.
Setelah memotong kue pertamanya, ia mengedarkan pandangannya, menatap setiap orang yang ada di sana. Dan tentu saja potongan kue pertamanya ia berikan untuk ayahnya.
Setelah memotong kue keduanya, Eun Ji melakukan hal yang sama. Ia menatap setiap orang yang ada di sana lagi. Kali ini Eun Ji bingung. Entah pada siapa ia akan memberikan potongan kue keduanya ini. Dan anehnya lagi, hanya satu nama yang muncul di kepalanya saat ini.
Mark.
Nama itu kini memenuhi pikiran Eun Ji. Ia hanya bisa menunduk, masih bingung. Namun tak berapa lama kemudian, ia akhirnya melangkah menyodorkan kue itu pada seseorang yang kini berdiri di hadapannya. Setelah merasa piring kue itu diterima oleh orang itu, Eun Ji mengangkat kembali wajahnya.
"Gomawo,” ucap Mark senang, setelah menerima piring kue itu dari Eun Ji. Eun Ji hanya tersenyum malu, dan akhirnya mendapati tatapan aneh yang dilemparkan Hye Rim dan Jin Young untuknya.
Acara itu terus berlangsung selama kurang lebih setengah jam. Eun Ji mengangkat beberapa kotak kado dengan berbagai ukuran dan membawanya ke kamarnya. Di antara beberapa kado yang didapatkannya itu, Eun Ji memperhatikan salah satunya. Kado yang diberikan Mark. Kotaknya adalah yang terkecil dari semuanya.
Eun Ji penasaran, tapi rasanya tidak mungkin ia membukanya sekarang. Mungkin nanti malam saja, pikirnya.
"Eun Ji.”
Eun Ji lantas menoleh, dan mendapati ayahnya yang hendak menghampirinya. Ayahnya merangkul pundaknya, membuat Eun Ji bingung selama beberapa saat.
"Pergilah dan bersenang-senanglah dengan temanmu," kata ayah Eun Ji.
Eun Ji semakin dibuat bingung lagi setelah ayahnya berkata seperti itu. Eun Ji hanya bisa mengerutkan keningnya dan menatap ayahnya yang kini melepas rangkulannya dari Eun Ji.
"Appa hanya ingin kau merasa bahagia di hari ulang tahunmu ini. Jadi pergilah jalan-jalan ..." Ayah Eun Ji menepuk pelan bahu Eun Ji sebelum akhirnya ia melangkah keluar dari kamar Eun Ji. Namun baru sampai di ambang pintu, ayahnya berbalik lagi.
"Tapi ingat, jangan pulang terlalu malam." Ayahnya mengingatkan, dan setelah berkata seperti itu, ayahnya kembali berjalan, hingga akhirnya menghilang dari balik pintu. Eun Ji hanya tersenyum saja mendengar itu. Untuk yang pertama kalinya Eun Ji merasa sangat dipedulikan dan diperhatikan oleh ayahnya, setidaknya setelah ibunya meninggal dulu.
Eun Ji kembali memperhatikan kotak-kotak yang bertumpuk di depan kakinya saat ini. Jemarinya merogoh saku jas sekolahnya, dan mengeluarkan bungkusan kecil yang terdapat dua buah jepit rambut di dalamnya. Lagi-lagi ia tersenyum. Lalu menaruh bungkusan kecil itu di atas tumpukan kado-kado tadi, dan segera berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, ia mengambil tas selempangnya, dan keluar dari kamarnya.
••
"Lihatlah... mereka tampak cocok bersama. Mereka bisa berganti pakaian dan kita tidak." Jin Young mengerucut bibirnya kesal, setelah melihat Eun Ji dan Mark yang memakai pakaian yang berbeda darinya dan Hye Rim.
"Kalian juga terlihat kompak dan cocok," balas Eun Ji, tidak ingin kalah.
Jin Young lantas menunduk untuk melihat seragam sekolah yang masih dipakainya, juga Hye Rim yang juga melihat seragamnya. Hening seketika.
Mereka tetap berjalan, sampai akhirnya mereka sampai di sebuah halte tempat pemberhentian bus.
Mereka berdiri berjejer, sambil menunggu bus yang akan membawa mereka ke Amusement Park. Jangan bilang ini karena kemauan Eun Ji. Eun Ji hanya mengiyakan ajakan Jin Young. Dan jangan salah, Eun Ji juga tidak akan mengiyakan ajakan itu dengan mudah kalau bukan karena paksaan Mark dan Hye Rim. Tapi berhubung hari ini adalah hari yang spesial untuknya, tidak apalah kalau Eun Ji mengiyakan permintaa mereka.
Tak perlu menunggu lama, sebuah bus berhenti di depan mereka. Mereka naik, lalu disusul oleh beberapa orang yang juga akan naik ke bus yang sama. Eun Ji segera duduk, dan bukannya Hye Rim yang mengambil tempat di sampingnya, Mark malah menyerobot dan duduk di sampingnya.
"Ah... aku benar-benar tidak sabar dengan yang satu ini!" seru Mark bersemangat dengan senyum lebarnya. Eun Ji yang mendengar itu kemudian menoleh, dan melemparkan tatapan tidak suka pada Mark.
"Kenapa? Apa aku salah bicara?" tanya Mark bingung, setelah melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan Eun Ji untuknya.
Eun Ji tidak menjawab. Ia kembali menatap pemandangan di luar jendela bus.
••
"Aaaaaa!!!"
Suara teriakan orang-orang memenuhi wahana yang satu itu. Bagi beberapa orang yang menyukai tantangan seperti ini memang menyenangkan, namun tidak bagi gadis yang tengah menjerit sekeras-kerasnya dengan kedua tangan yang sibuk memegangi topi yang terpasang di kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Eun Ji yang sangat takut untuk ikut serta bermain di wahana ini?
Tiba saatnya untuk roller coaster itu akan meluncur, Eun Ji refleks berpegangan pada lengan Mark. Sementara Eun Ji berteriak ketakutan, Mark malah terdiam selama beberapa saat. Mark bisa merasakan betul seberapa besar ketakutan yang dirasakan Eun Ji saat ini. Bahkan entah bagaimana, Mark yang sedari tadi tampak santai dan tertawa menikmati wahana ini, kini menjadi gugup saat roller coaster itu meluncur. Mark berteriak, bersamaan dengan Eun Ji yang juga ikut berteriak. Keduanya saling berpegangan satu sama lain.
Tak berselang lama, roller coaster itu akhirnya berhenti, yang artinya waktu untuk menikmati wahana itu telah usai. Eun Ji menyandarkan punggungnya sembari memejamkan mata selama beberapa saat, berusaha mengumpulkan nyawanya kembali. Tak lama kemudian, ia membuka mata, dan mendapati tangannya yang hingga kini berada dalam genggaman tangan Mark. Mark yang baru saja membuka mata setelah merasa dirinya sudah kembali normal juga mendapati hal yang sama. Mark lantas melepas genggamannya dan segera turun dari kereta roller coaster itu. Eun Ji pun demikian.
Adalah sebuah kesalahan besar Eun Ji mengikuti kemauan Jin Young , Hye Rim dan Mark untuk bermain di tempat ini. Mungkin mereka ingin mempermainkan Eun Ji, begitulah yang dipikirkan gadis itu.
"Rencana kalian benar-benar sukses," ucap Eun Ji kesal, sembari terus melangkah bersama mereka bertiga.
Jin Young dan Hye Rim hanya tertawa senang, merasa puas dengan rencana mereka untuk melihat Eun Ji berteriak ketakutan hari ini.
Meskipun sedikit kesal, tapi ada satu hal positif yang dapat diambilnya dari apa yang terjadi hari ini. Kebersamaan. Eun Ji merasa bahagia bersama sahabat-sahabatnya ini di hari ulang tahunnya ini. Eun Ji bersyukur.
••
Setelah puas memainkan beberapa wahana yang ada di tempat itu, mereka memutuskan untuk pulang.
Sepanjang perjalanan dengan bus yang akan membawa mereka ke halte sebelumnya, Eun Ji hanya sesekali meminum caramel macchiato yang sempat ia beli di sebuah kafe sebelum ia pulang dengan pandangan yang tertuju pada jalanan luar. Otaknya kembali memutar kejadian beberapa saat yang lalu, di saat ia menyadari tangan Mark dan tangan miliknya berpegangan. Mungkinkah saat ia ketakutan tangannya refleks memegang tangan Mark?
Eun Ji segera menggeleng dan menutup mata rapat, berusaha menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya. Ia hanya merasa gengsi. Ya, gengsi.
"Kenapa?"
Suara itu lantas mengejutkan Eun Ji, membuat Eun Ji refleks menolehkan kepalanya ke kiri, tempat di mana Mark duduk saat ini. Sekali lagi, kejadian seperti ini terjadi lagi. Mark menatap Eun Ji bingung. Namun bukan itu yang membuat perasaan Eun Ji jadi aneh. Ia hanya tidak ingin berada dalam jarak sedekat ini dengan Mark.
Dalam jarak sedekat ini, membuat perhatian Eun Ji sepenuhnya teralihkan untuk Mark, meskipun tidak lama.
Setelah sadar, Eun Ji segera menjauh, dan kembali meminum kopinya sekadar untuk merilekskan tubuh, pikiran, dan perasaannya.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku." Mark menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya, lalu mengangkat kamera yang talinya dikalungkan pada lehernya. Sambil memeriksa kembali hasil foto hari ini, Mark tertawa geli.
Eun Ji menatapnya penuh tanya.
"Lihatlah." Mark mendekatkan layar kamera itu pada Eun Ji. Eun Ji yang melihat wajahnya terpampang di sana akhirnya membuang muka, kesal, sekaligus malu. Bagaimana tidak malu? Gambar yang terpampang di sana adalah gambar yang diambil saat wajahnya tampak sangat kesal setelah bermain roller coaster tadi. Kalau menurut Mark itu adalah suatu hal yang lucu, tidak bagi diri Eun Ji sendiri yang menganggap dirinya mengerikan dan memalukan dalam foto itu.
"Hentikan. Hapus saja foto itu,” pinta Eun Ji, tanpa menoleh ke arah Mark. Setidaknya ia masih punya malu untuk menatap wajah Mark lagi.
"Itu lucu. Kirimkan padaku nanti," sahut Jin Young tertawa setelah menengok dari belakang.
Mark kembali menekan salah satu tombol pada kamera itu beberapa kali, lalu jemarinya berhenti. Ia menatap sebuah foto di mana Eun Ji dan Hye Rim sedang mengobrol santai di sebuah kafe, sementara dirinya sendiri dan Jin Young mengamati mereka dari luar kafe itu. Dan selagi ada kesempatan, Mark mengabadikan momen itu. Tapi, ada satu lagi. Antara dirinya dan Jin Young.
Flashback
"Mark, bisa kita bicara sebentar? Di luar," sahut Jin Young tiba-tiba. Mark yang baru kali ini merasa sikap Jin Young yang aneh tampak terkejut selama beberapa saat. Namun ia tetap berdiri dan berjalan mengikuti Jin Young di belakangnya. Hye Rim dan Eun Ji tetap duduk manis di bangkunya, meskipun keduanya penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Mark dan Jin Young. Tampak sangat serius menurut mereka.
Mark dan Jin Young bersamaan menghentikan langkah mereka ketika mereka tiba di luar kafe. Keduanya berdiri tegak membelakangi kafe, membuat Eun Ji dan Hye Rim yang memperhatikan dari dalam kafe tidak bisa melihat mereka dengan jelas.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Mark memulai pembicaraan terlebih dahulu sembari bersedekap.
"Begini," Jin Young berdeham kemudian melanjutkan, "aku ingin minta maaf... untuk semuanya."
Mark lantas menoleh dengan tatapan bingungnya.
"Minta maaf? Untuk apa?"
"Untuk semua yang telah aku perbuat padamu sejak dulu. Sekarang, setelah aku mengingatnya kembali, aku merasa aku terlalu berlebihan." Jin Young menjelaskan.
"Maksudmu, tentang Eun Ji?" tebak Mark, dan dibalas dengan anggukan kepala Jin Young.
"Sudahlah. Aku juga sudah melupakannya. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Jadi, sudahlah..." Mark tak ingin memperpanjang masalah.
"Kau bisa memilikinya.”
Mark menatap Jin Young dengan kening berkerut. "Maksudmu?"
"Setelah kuamati akhir-akhir ini, aku merasa dia lebih cocok denganmu. Dia juga... bahagia denganmu walaupun kadang ia berusaha untuk menyembunyikannya. Aku tahu karena aku sudah cukup lama bersahabat dengannya. Kau menyukainya, kan? Aku juga yakin ia punya perasaan yang sama terhadapmu. Dia hanya malu dan gengsi,” jelas Jin Young. Mark menoleh, menatap Jin Young bingung. Ia memang tidak mengerti kenapa Jin Young membicarakan ini, tapi yang Jin Young katakan mengenai perasaannya terhadap Eun Ji itu adalah benar. Dan Mark juga berpikir Eun Ji merasakan hal yang sama dengannya, meskipun sebenarnya ia tidak cukup yakin dengan hal itu.
"Yang jelas, aku akan membiarkan dia bersamamu. Karena aku tahu dia bahagia saat bersamamu," ucap Jin Young sembari tersenyum tipis.
"Memangnya dia tidak bahagia bersamamu?" Mark kembali bertanya.
"Dia bahagia bersamaku karena kita ini bersahabat, tidak lebih. Dan setiap kali aku melihatnya tersenyum untukmu, aku tahu dia menganggapmu lebih spesial dari itu. Sekali lagi, dia hanya malu untuk menunjukkanya."
••
"Hei! Kita sudah sampai!" Eun Ji menepuk bahu Mark, membuat Mark tersadar dari lamunannya. Mark lantas ikut berdiri, dan segera melangkah untuk turun dari bus.
"Bagaimana jika kita berpisah di sini saja? Arah rumah kita berbeda," ucap Jin Young pada Eun Ji, dan langsung dibalas anggukan kepala Eun Ji.
Mark dan Eun Ji pulang bersama, sementara Jin Young dan Hye Rim juga pulang bersama.
Eun Ji hanya memperhatikan trotoar tempatnya melangkah saat ini, sembari memegang tali tas selempangnya. Eun Ji tidak tahu harus memulai obrolan bagaimana dengan Mark, jadi ia diam dan menunggu laki-laki itu berbicara.
"Kau tidak kedinginan?" Pertanyaan itu sontak membuat Eun Ji menoleh sebentar, lalu kembali menunduk.
"Aku pakai sweater. Bagaimana bisa aku kedinginan? Justru pertanyaan itu lebih cocok ditujukan pada dirimu sendiri," jawab Eun Ji santai. "Buat apa kau membawa jaket kalau hanya untuk dililitkan di pinggangmu?" tambahnya.
Mendengar jawaban Eun Ji, membuat Mark mengalihkan pandangannya pada baju yang dikenakannya. Ia hanya memakai baju kaos biasa, celana jeans, beserta jaket yang dililitkan di pinggangnya.
"A-aku... tidak kedinginan. Dan aku lebih suka berpenampilan seperti ini." Mark membalas dengan suara terbata-bata.
"Ngomong-ngomong, kado yang kau berikan padaku isinya apa?" tanya Eun Ji penasaran.
"Kau ini! Nanti saat kau di rumah kau bisa membuka dan melihat isinya. Benar-benar tidak sabar!" jawab Mark gemas sambil memukul topi Eun Ji hingga turun menutupi mata.
"Mark!” Eun Ji berteriak kesal sembari memperbaiki posisi topinya.
Baru saja mereka akan melangkah melewati sebuah taman kecil yang kini hanya diterangi dua buah lampu taman, Mark dikejutkan dengan suatu pemandangan yang membuatnya meneguk ludahnya sendiri. Mark lantas menoleh ke arah Eun Ji yang masih sibuk memperbaiki posisi topinya. Untuk kedua kalinya, Mark sengaja menurunkan bagian depan topi Eun Ji, namun kali ini Mark menahannya agar Eun Ji tak memperbaikinya.
“Apa yang kau lakukan?!" bentak Eun Ji, sekuat tenaga ia berusaha menyingkirkan tangan Mark yang masih menahan topinya.
"Kau harus berjalan lebih cepat!" suruh Mark, kemudian tangannya beralih meraih tangan Eun Ji dan menariknya agar berjalan lebih cepat. Secepat mungkin Eun Ji memperbaiki posisi topinya. Sebelum mereka benar-benar melewati taman itu, Eun Ji masih bisa melihat apa yang terjadi di taman itu. Sepasang kekasih berciuman.
Setelah mereka berhasil melewati taman itu, Mark mulai kembali memperlambat langkahnya. Kali ini Eun Ji berhasil menyamai langkah Mark. Ia menoleh menatap Mark kesal.
"Kau ini!" Eun Ji menyikut perut Mark, kemudian melanjutkan, “Kau tidak perlu sampai seperti itu!"
"K-kau melihatnya?" tanya Mark tidak percaya.
"Y-ya, tentu saja aku melihatnya!"
"Sudahlah, jangan dipikirkan terus. Kita belum cukup umur untuk melihat hal-hal seperti itu," ucap Mark lirih.
Eun Ji tidak membalas lagi. Benar kata Mark, mereka belum cukup umur untuk melihat hal semacam itu. Sialnya, Eun Ji kembali mengingat apa yang pernah terjadi antara dirinya dan Mark. Mengingatnya kembali membuat Eun Ji jadi malu sendiri. Eun Ji segera menggeleng, berusaha menepis pikiran kotornya itu.
••
Jin Young dan Hye Rim masih terus melangkah di tengah dinginnya malam kota Seoul, tanpa ada dari keduanya yang berniat membuka mulut untuk memulai obrolan. Hye Rim hanya menunduk memperhatikan sepatunya, sementara Jin Young memasukkan jari-jarinya ke dalam saku celananya dengan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Hingga ia mendapati tali sepatu Hye Rim yang terlepas dan menjuntai ke mana-mana.
"Hye Rim, ubah kebiasaanmu untuk membiarkan tali sepatumu terlepas seperti itu. Kau ini sebenarnya malas atau memang tidak tau cara mengikatnya?" tegur Jin Young yang langsung berjongkok. Di saat yang sama, Hye Rim berhenti.
Ini memang tidak biasa menurut Hye Rim, karena ini memang yang pertama kalinya. Hye Rim memang sudah beberapa kali membiarkan tali sepatunya tidak terikat seperti ini. Ia hanya malas, setiap kali ia mengikatnya, tidak lama setelah itu kedua talinya akan terlepas kembali. Jin Young yang sejak dulu tampak cuek, dan kalau pun ia menyadarinya, ia hanya menegur Hye Rim dan membiarkan Hye Rim mengikatnya sendiri. Dan sekarang, Jin Young tidak hanya menegur, namun juga beriniiatif untuk mengikatkan tali sepatu Hye Rim. Hye Rim biasanya hanya melihat adegan semacam ini di drama-drama saja, tidak dalam kehidupan nyata. Dan, itu terjadi sekarang.
"Selesai!" Jin Young kembali berdiri. “Jangan kau ulangi lagj.”
"B-baiklah..."
••
Eun Ji merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya dengan tangan yang ia rentangkan. Kepalanya menoleh ke kanan, dan mendapati tumpukan kotak kado di sudut kamarnya. Ia segera bangkit, dan berjalan menghampiri tumpukan kado tersebut.
Eun Ji mengambil sebuah kado berukuran lebih kecil dari yang lain. Kado itu adalah pemberian Mark. Ia memulai dengan merobek kertas pembungkus kado, dan akhirnya membuka kotak tersebut.
Eun Ji terdiam selama beberapa saat ketika melihat isi yang ada di dalam kotak itu. Sebuah gaun berwarna hitam. Eun Ji mengenali gaun itu. Gaun pemberian ibunya. Dan, pertanyaannya sekarang adalah kenapa barang ini bisa ada pada Mark?
Eun Ji mengangkat gaun itu. Gaun itu tampak lebih bagus dari sebelumnya. Robekan di ujungnya pun sudah hilang. Gaun ini tidak terlihat seperti gaun murahan lagi, seperti yang pernah dikatakan Mark dulu. Ia menaruh kembali gaun itu di dalam kotak, dan bergegas keluar dari kamarnya.
••
Mark baru saja akan menuangkan air putih ke dalam gelas kacanya ketika ia mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Ia melirik ke arah jam dinding yang kini menunjukkan pukul sembilan malam. Siapa yang datang ke rumahnya malam-malam begini? Mark akhirnya berjalan menuju pintu, dan menempelkan telinganya pada pintu itu.
"Siapa?" teriak Mark dari dalam.
"Ini aku!”
Eun Ji.
Mark segera membuka pintu dan menemukan gadis itu berdiri dengan senyum merekah di wajahnya.
"Ada apa?” tanya Mark bingung.
"Gaun itu..."
"Oh, gaun itu..." Mark mengangguk mengerti. Ia memang sengaja mengembalikan gaun itu di hari ulang tahun Eun Ji, hari ini. Karena hanya itu yang bisa ia berikan.
"Terima kasih.”
Mark balas tersenyum. Baru kali ini ia melihat Eun Ji tersenyum setulus itu untuk dirinya. Awalnya Mark berpikir kalau Eun Ji tidak akan begitu peduli dengan apa yang diberikannya, tapi ternyata tidak. Kado Mark itu adalah yang paling spesial. Dan Mark bersyukur untuk itu.
"Ya, sama-sama. Jadi kau ke sini hanya untuk berterima kasih?"
"Ehm... Ya. Aku sangat berterima kasih ....”
••