14

1111 Kata
Akhirnya hari ini tiba. Hye Rim sudah menyiapkan koper, memasukkan pakaian-pakaian dan barang-barangnya yang berharga. Dan selama itu, tak terhitung berapa kali ia melihat ke jam dinding kamar dan menghela napas. Seperti yang dilakukannya sekarang. Eun Ji menghentikan kegiatannya sejenak. Hye Rim merasa berat untuk melakukan semuanya ini. Mungkin lebih tepatnya, ia tidak ingin. Jika perlu, ia ingin waktu berhenti saja sekarang. Ia tidak ingin pergi. Ia tidak ingin meninggalkan kota tempat di mana semua kenangan berharga dalam hidupnya terukir. Hye Rim tidak ingin meninggalkan sahabat-sahabatnya. Hye Rim takut. Belum lagi, ia masih merahasiakan tentang hal ini dari Eun Ji. Hye Rim memejamkan mata frustasi. Di saat yang sama, air matanya keluar dan mengalir di pipinya. "Hye Rim,” panggil ayahnya di ambang pintu. "Kau belum selesai mengurus barang-barangmu, ya? Ya sudah kalau begitu. Maaf kalau appa mengganggu," kata ayahnya. Begitu ayahnya berbalik, bermaksud meninggalkannya, Hye Rim segera berdiri, dan memanggil ayahnya. "Appa..." Ayahnya berbalik. Hye Rim segera melangkah menghampiri ayahnya yang kini menatapnya penuh tanya. Hye Rim hanya bisa menunduk, terlalu takut menatap wajah ayahnya. "Hmm..." Hye Rim melirik wajah ayahnya dengan ragu. Sebenarnya ia tidak berniat untuk terus menatap wajah ayahnya, tapi setelah melihat bagaimana keadaan ayahnya saat ini membuat Hye Rim mengurungkan niat awalnya. "Ehm... appa sudah membereskan barang yang akan appa bawa?" Bagus, setidaknya pertanyaan itu masih terbilang wajar. Hye Rim mendesah pelan. Jika Hye Rim tidak menanyakannya sekarang, itu berarti tidak akan ada kesempatan lagi untuk Hye Rim tetap berada di kota ini. "Ya, sudah. Appa sudah siap. Cepat bereskan barangmu, kita berangkat sebentar lagi." Pintu kamar akhirnya tertutup dan Hye Rim terduduk dengan lutut yang lebih dulu mendarat di lantai kamarnya. Kakinya terasa lemas, tidak kuat lagi. Saat itu juga ia menangis. Hye Rim membiarkan dirinya menumpahkan air mata selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia berusaha berdiri dan menuju tempat tidur. Hye Rim meraih ponselnya dan mencari kontak Jin Young. Setelah didapatkannya, Eun Ji menelepon. Tidak lama kemudian, suara Jin Young akhirnya terdengar. “Halo?” “Halo, Jin Young," Hye Rim membalas dengan suara pelan. "Hye Rim, ada apa? Apa kau baik-baik saja?" "Ya, aku baik-baik saja." "Lalu, ada apa? kenapa kau meneleponku malam-malam begini?" "Aku... akan berangkat sebentar lagi. Aku hanya ingin mengatakan itu.” Hening sejenak, hingga Jin Young kembali berkata dengan tegas, “Tunggu aku.” •• Kedua kaki Hye Rim kembali menginjak tanah, setelah kurang lebih setengah jam perjalanan ke Gimpo Airport. Seandainya saja Hye Rim bisa berharap kalau ia tidak akan berada di sini untuk pergi meninggalkan kota ini beserta semua yang disayanginya di sini. Hye Rim menurunkan kopernya dan berdiri dalam diam selama beberapa saat. Ia mengedarkan pandangan, memperhatikan tiap sisi gedung bandara itu. Kepalanya kemudian menunduk, lalu mulai melangkahkan kakinya mengikuti yang berjalan di depannya, sambil menyeret kopernya. Kakinya baru menginjak lantai bandara ketika tangan seseorang menahannya. "Jin Young ...." gumam Hye Rim pelan, begitu melihat Jin Young menatapnya khawatir. Pandangan Jin Young yang sebelumnya tertuju pada Hye Rim, kini beralih kepada ayah Hye Rim yang menperhatikan mereka. "Ahjussi," sapanya terlebih dahulu sembari membungkuk, lalu melanjutkan, "Ada yang ingin kubicarakan dengan Hye Rim," katanya, lalu segera menarik Hye Rim pergi dari tempat itu. •• Kini yang terasa adalah keheningan di tengah malam. Mereka sama sekali tak berucap sepatah kata pun selama mereka berjalan, entah di mana langkah kaki mereka akan berhenti. Yang jelas, tidak jauh dari bandara. Jin Young hanya berpikir untuk membawa Hye Rim ke tempat yang lebih sepi untuk berbicara empat mata dengannya. Langkah Hye Rim akhirnya berhenti ketika Jin Young mendekat padanya. Jin Young memeluk Hye Rim. Hye Rim hanya bisa membulatkan matanya tak percaya akan apa yang baru saja terjadi. Jika ini benar mimpi, ia hanya bisa berharap untuk tetap seperti ini. Setidaknya untuk waktu yang lebih lama. "Aku tidak bisa melarangmu untuk pergi.” "Jin Young ....” "Tapi, tolong jangan melupakanku. Sampai kapan pun itu. Kau harus janji ... " Setelah berkata seperti itu, Jin Young semakin mengeratkan pelukannya. Ia kemudian menenggelamkan sebagian wajahnya di lekukan leher gadis itu. Hye Rim menikmati setiap helaan napas Jin Young yang terasa hangat di lehernya "Jin Young, aku berjanji untuk pulang, dan... jika boleh jujur, orang pertama yang ingin kutemui adalah kau," ucap Hye Rim, dengan suaranya yang terdengar sedikit bergetar. Hye Rim hanya tidak terbiasa dengan hal ini. Ini adalah yang pertama kali dalam hidupnya. Dan kali ini, ia bisa merasakan betul jantungnya berdetak lebih cepat. Bahkan kegugupannya lebih besar dari biasanya. Ini adalah yang pertama kalinya. Meskipun, jujur saja, Hye Rim menyukai perlakuan Jin Young terhadapnya saat ini, tapi hatinya juga tidak bisa berbohong. Ia tidak ingin melihat Jin Young seperti ini. Ini hanya akan membuat Hye Rim bertahan lebih lama di sini. "Kau harus menepatinya.” balas Jin Young, dan setelah itu, ia melepas pelukannya. Sebisa mungkin ia tersenyum untuk Hye Rim. Hye Rim pun juga demikian. Meskipun terasa sangat sulit untuk tersenyum di saat seperti ini bagi keduanya. •• Eun Ji mengerjapkan matanya selama beberapa saat. Matanya berusaha memperhatikan sekeliling kamar dengan pencahayaan yang masih tampak sama sebelum ia tidur tadi. Bahkan dari jendela, Eun Ji masih bisa melihat bahwa langit di luar sana masih gelap. Dan sekarang, yang dirasakannya adalah sesuatu yang bergetar di bawah selimutnya. Tangannya sibuk meraba-raba bawah selimut dan akhirnya menemukan ponselnya. Di layar tertera panggilan masuk dari Hye Rim. Eun Ji mendudukkan dirinya dan menerima telepon itu. “Halo?” "Eun Ji?” "Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" "Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu. Singkat saja.” "Apa? Katakan saja.” “Hmm... mungkin setelah liburan musim dingin nanti, kita tidak bisa bertemu." "Hm? Apa kau bilang? Tidak bisa bertemu? Apa maksudmu?" "Aku akan pergi ke Jepang untuk menemani ayahku mengurus semua masalah perusahaannya.” “Apa? Tunggu. Kau tidak pernah berbicara soal kepergianmu ini! Lalu bagaimana dengan sekolahmu?" seru Eun Ji panik. "Aku sudah mengurus berkasnya sejak beberapa hari lalu. Aku minta maaf.” Pikiran Eun Ji kalut. "Sekarang kau ada di mana? Kau akan kembali, kan?" "Aku? Sebentar lagi aku akan berangkat, dan kau tenang saja, aku pasti kembali. Jaga dirimu baik-baik. Kusarankan jangan terlalu sering bertengkar dengan Mark. Dan... tolong jaga Jin Young.” Eun Ji mengembuskan napas frustasi. “Kenapa secepat ini? Aku ... belum siap untuk sendiri tanpamu ....” "Ada Mark dan Jin Young..." "Tapi mereka berbeda denganmu.” Eun Ji masih tak ingin mempercayai ini. Hye Rim pergi? Lalu, kapan dia akan kembali? “Eun Ji, jangan sedih.” Eun Ji menyisir rambut ke belakang sambil memejamkan mata dengan pasrah. “Ya sudah, kalau memang seperti itu, aku berharap pekerjaan ayahmu bisa kembali seperti dulu lagi. Aku akan mendoakan yang terbaik untuk kalian.” "Ya, terima kasih. Jaga dirimu baik-baik, Eun Ji.” Eun Ji tidak membalas lagi. Eun Ji hanya tidak ingin mengatakan salam perpisahan untuk Hye Rim. Ia tidak siap. Kali ini, Eun Ji kembali merasa yang namanya kehilangan dan kesepian, untuk kedua kalinya. Meskipun mungkin mereka masih bisa saling menghubungi, tapi tetap saja rasanya akan berbeda dengan jika Hye Rim benar-benar sedang bersamanya, di sisinya. Eun Ji akan sangat merindukan Hye Rim. Kini yang bisa dilakukannya hanyalah mendoakan yang terbaik untuk kelancaran pekerjaan ayah sahabatnya itu. ••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN