15

2623 Kata
Pagi itu cuaca tampak cerah di kota Seoul. Musim semi memang selalu membawa suasana tersendiri yang tentunya berbeda dengan musim-musim lain di sana. Tak sedikit orang yang menghabiskan waktu di luar rumah akhir pekan ini. Tak terkecuali ketiga remaja yang kini tengah menikmati akhir pekan bersama di sebuah sauna. Siulan itu kembali terdengar di ruangan tempat peristirahatan dalam sauna itu. Sambil berbaring tanpa menggunakan alas dan kedua telapak tangan yang dijadikan pengalas kepalanya, Mark memejamkan mata dan bersiul. "Mark!" Eun Ji yang berbaring tak jauh di sisinya berteriak. Mark yang sudah terbiasa hanya menghela napas, lantas kembali bersiul menyenandungkan sebuah lagu. "Tujuanku ke sini adalah untuk beristirahat dan menenangkan pikiranku setelah akhirnya aku lulus. Tapi sepertinya mengajakmu ke sini adalah sebuah kesalahan.” Eun Ji geleng-geleng kepala, menyerah. Ia kemudian bangun dan mengguncang tubuh Mark. "Berhenti!” Mungkin dengan cara yang sedikit kasar akan berhasil menghentikannya. Dan memang itu berhasil. "Kenapa?!" Mark akhirnya bangun dan berseru jengkel. "Aku benar-benar tidak bisa beristirahat karena mendengar siulanmu!" "Setahuku itu bukan urusanku. Bersiul itu adalah hak setiap orang." "Tidak jika siulanmu itu mengganggu orang lain.” "Hentikan!” Pertengkaran Mark dan Eun Ji itu akhirnya berhenti setelah seruan itu terdengar. Jin Young yang sejak tadi berusaha sabar akhirnya bangkit dan menatap keduanya dengan kesal. "Kalian pikir cuma kalian yang ada di tempat ini? Kalian tidak lihat orang lain terganggu karena pertengkaran kalian?" Seperti yang dikatakan Jin Young. Mark dan Eun Ji memperhatikan sekelilingnya dan mendapati banyak orang yang melemparkan tatapan kesal dan bisikan terhadap mereka. "Lihat! Ini semua karenamu!" Eun Ji berdiri, dan melangkah pergi pergi dari sleeping hall. •• Eun Ji menyeruput kopi dingin yang sebelumnya ia pesan di kafetaria, salah satu tempat bersantai dalam sauna tersebut. Ia duduk di satu tempat yang terletak di sudut kafetaria. Setelah mencicipi sedikit dari kopi dinginnya itu, Ia memperbaiki posisi towel sheep head yang dikenakannya, lalu bersandar pada kursi. Sambil bersedekap ia memandang ke sekitar, memperhatikan setiap pengunjung yang berlalulalang. Tidak lama kemudian, matanya beralih kepada dua laki-laki yang baru saja memasuki kafetaria. Siapa lagi yang dapat menyita perhatian Eun Ji kalau bukan kedua manusia yang akhir-akhir ini menjadi pengganggunya? Matanya masih tertuju pada keduanya bahkan sampai mereka duduk di tempat yang sama dengan Eun Ji. Berbeda dengan Eun Ji, Mark membawa tiga buah telur rebus di tangannya. Ia ikut menatap Eun Ji yang kini sedang memperhatikan telur yang ditaruh di atas meja. "Aku hanya ingin mencobanya. Aku baru pertama kali ke sini,” kata Mark, seakan tahu apa yang ada di pikiran Eun Ji. Eun Ji mengangguk-angguk saja. Ia baru mengalihkan pandangannya pada Jin Young yang duduk di sebelah Mark ketika sesuatu membentur kepalanya cukup keras. "Yak!" teriak Eun Ji sembari menggosok handuk di kepalanya. Mark tersenyum puas setelah berhasil memecahkan kulit telur rebus itu dengan membenturkannya pada kepala Eun Ji. "Sakit!" keluh Eun Ji masih memijat kepalanya. "Maaf, sudah kubilang aku hanya ingin mencobanya," ucap Mark santai, lalu mulai mengupas kulit telur rebusnya. Eun Ji menatap kesal Mark selama beberapa saat, lalu matanya beralih tertuju pada satu telur rebus yang sebelumnya Mark letakkan di atas meja. Buru-buru tangannya meraih telur itu dan membenturkannya pada puncak kepala Mark. Lantas, Mark meringis kesakitan sambil mengusap puncak kepalanya yang untungnya terlindungi dengan towel sheep head-nya. Eun Ji akhirnya bisa tersenyum puas setelah berhasil membalas perbuatan Mark sebelumnya. Ketika dirinya mendapati kulit telur rebus yang belum sepenuhnya retak, ia berniat kembali membenturkannya pada kepala Mark. Namun aksinya itu urung, setelah menyadari kehadiran Jin Young yang juga sejak tadi bersamanya di sana. Tangannya yang sebelumnya mengarah kepada Mark, dengan cepat beralih menuju Jin Young. Telur itu dengan cepat mendarat pada puncak kepala Jin Young. "Hei! Ada apa denganmu? Kenapa aku terlibat juga!?" Bukannya menjawab atau meminta maaf, Eun Ji segera kabur. “Lee Eun Ji!” •• Keramaian bandara membuat gadis itu berdecak untuk ke sekian kali. Hye Rim melepas kacamata hitamnya, matanya fokus tertuju pada layar ponsel. Setelah kurang lebih sepuluh detik ia menunggu, akhirnya sebuah gambar muncul juga pada layar ponselnya. “Lee Eun Ji!” teriaknya girang. Keributan di sekitarnya tidak sebanding dengan kebahagiaanya yang hanya dengan melihat wajah sahabatnya itu melalui layar ponselnya. "Hei! Kau ke mana saja selama seminggu ini? Kau tidak menghubungiku. Bahkan aku sudah menghubungimu dan tidak bisa juga. Aku jadi kesal," ujar Eun Ji sembari mengerucutkan bibirnya kesal. Hye Rim hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya itu yang dapat ia lihat dengan jelas melalui layar ponselnya. "Maaf. Aku sibuk seminggu ini. Dan setelah aku menyelesaikan semuanya, akhirnya aku bisa kembali ke sini." Eun Ji mengangguk, mencoba mengerti tentang kesibukan Hye Rim selama di Jepang. Ia tidak hanya melanjutkan sekolahnya di sana, tapi juga membantu ayahnya untuk memulihkan keadaan perusahaan. "Kalian sedang berada di sauna sekarang?" tanya Hye Rim setelah mendapati towel sheep head yang dikenakan Eun Ji di kepalanya. "Ya, begitulah. Aku hanya ingin menenangkan pikiran." "Lalu, Mark dan Jin Young?" "Mereka juga ada di sini, dan mereka benar-benar menggangguku." Hye Rim terkekeh. Ia sangat merindukan ketiga sahabatnya itu. Melanjutkan pendidikan di negara asing terlalu sulit baginya. Apalagi dengan dirinya yang tidak mudah bergaul dengan orang-orang baru. Sementara di seberang sana, Eun Ji hanya diam saja menunggu balasan Hye Rim. Dan pada saat itu juga, Mark dan Jin Young hadir di sana. Mereka menghampiri Eun Ji, dan langsung berebutan untuk dapat melihat seseorang yang tengah melakukan video call dengannya. "Hei! Hei! Apa yang kalian lakukan!?" Mengabaikan teriakan Eun Ji, kedua 'makhluk pengganggu' itu berhasil merebut ponsel dari tangan Eun Ji. Dan sekarang, keduanya saling berebutan untuk mendapatkan ponsel milik Eun Ji itu. Eun Ji menatap mereka dengan malas sebelum akhirnya menyeret dirinya menjauhi mereka yang memperebutkan mainan seperti anak kecil. Eun Ji mungkin bisa menebak semuanya ini akan berakhir buruk. Entah pada kedua orang yang saling berebutan itu atau pada ponselnya yang sebentar lagi rusak atau berakhir jatuh di lantai. "Awas saja kalau ponselku rusak!" Pada akhirnya, ponsel Eun Ji berakhir di tangan Jin Young. Setelah berhasil mendapatkannya, Jin Young segera berlari menjauh dari Eun Ji dan Mark. "Annyeong, Hye Rim!” sapa Jin Young sembari melambaikan tangannya pada layar ponsel. Dari seberang sana tampak jelas Hye Rim tengah terkekeh, lalu ikut melambaikan tangannya. "Kapan kau akan pulang? Asal kau tahu saja, aku sangat merindukanmu. Rasanya benar-benar berbeda saat kau pergi ke tempat yang jauh seperti ini." Jin Young memasang wajah memelasnya. Bukannya kasihan, Hye Rim malah tertawa, karena wajah memelas Jin Young barusan tampak lucu baginya. "Aku? Aku masih di Jepang. Mungkin aku akan pulang tahun depan," jawab Hye Rim bermaksud untuk berbohong. Padahal, sekarang dia sudah ada di Gimpo airport. "Benarkah? Kau benar-benar tidak merindukanku, ya?” sahut Jin Young kecewa. "Aku harus membantu appa," kata Hye Rim. Jin Young menghela napas, teringat maksud kepergian Hye Rim ke Jepang tahun lalu. Jin Young harus berusaha mengerti keadaan Hye Rim. Namun demi gadis itu, Jin Young berusaha tersenyum. "Kalau begitu, cepatlah pulang.” "Ya, aku pasti pulang. Kau tunggu saja." •• Eun Ji berjalan ke tengah ruangan dan membaringkan tubuhnya di lantai yang bersuhu hangat itu. Ia menutup mata, mencoba menikmati kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Tak lama kemudian, Mark ikut berbaring di sebelah Eun Ji. Kedua telapak tangannya dijadikan pengalas kepala. Bukannya beristirahat, Mark malah menolehkan kepalanya ke arah Eun Ji yang kini memejamkan mata di sampingnya. Mark tersenyum kemudian. Wajah gadis itu tampak begitu damai. Teringat olehnya beberapa waktu lalu, ketika Eun Ji sakit dan pingsan di sekolah. Mark sangat khawatir hingga ia memberanikan diri untuk mengecup kening gadis itu saat menjaganya di UKS. Mark tidak ingin melihat Eun Ji dalam kondisi seperti itu lagi. Sudah cukup, sekali saja. “Kau jangan sakit lagi," ucap Mark lirih. Eun Ji membuka mata, dan menoleh. "Apa kau bilang tadi?" Pertanyaan Eun Ji itu berhasil membuat Mark tersadar dan membekap mulutnya sendiri dengan satu tangan. "Ah, tidak—siapa yang bicara?” "Aku yakin kau mengatakan sesuatu tadi,” kata Eun Ji yakin. "Tidak. Aku tidak mengatakan apa pun.” Mark lantas bangkit dan berjalan keluar dari rest area itu, sebelum semakin banyak pertanyaan yang dilontarkan Eun Ji untuknya. Begitu Mark pergi, Eun Ji mengulum senyum. "Ya, aku tidak akan sakit lagi...." •• "Bagaimana? Kau sudah siap?" Pertanyaan itu yang pertama didengar Mark begitu pulang dan masuk ke dalam rumah. Seolah tampak mengerti dengan maksud pertanyaan yang dilontarkan ayahnya itu, Mark akhirnya mengangguk singkat. Ia sama sekali tidak punya keinginan untuk bertatap muka dengan ayahnya saat ini. Mark tidak ingin menunggu balasan dari ayahnya lagi. Ia langsung menaiki anak tangga dengan kepala tertunduk, menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sesampainya Mark di kamarnya, ia segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar. Matanya lalu tertuju pada jam dinding dengan jarum yang terus berputar tanpa henti. Setelah mengamati jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas siang itu, tangannya kemudian meraba kantong celana jins yang dikenakannya. Ia mengeluarkan ponsel. Pada lockscreen ponselnya, terpampang sebuah foto yang setiap kali Mark melihatnya selalu mengundang bibirnya untuk tersenyum. Foto itu foto dirinya dan Eun Ji yang saling menatap dengan kesal satu sama lain. Di bawahnya, tertulis bahwa Jin Young yang mengabadikan momen itu. Setelah mengamati lockscreen-nya selama beberapa saat, perlahan senyumnya memudar. Ia kembali mengingat, bahwa mungkin setelah hari ini, dia tidak akan bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Kemungkinan untuk bisa kembali sangat kecil. "Aku pasti akan sangat merindukanmu." •• "Jin Young minumanmu itu pasti sudah dingin," tegur Eun Ji pada akhirnya, setelah kurang lebih dua puluh menit Jin Young sama sekali tidak menyentuh gelas yang berisi caramel macchiato pesanannya. Jin Young hanya menopang dagu dengan pandangan tertuju ke luar kafe. Jin Young mendesah. "Kalau kau mau, minum saja," katanya. Eun Ji berdecak setelah mendengarkan jawaban Jin Young barusan. Ia yakin, satu-satunya hal yang membuat Jin Young seperti ini adalah Hye Rim. Jin Young pasti sangat merindukannya. "Annyeong!" Mark akhirnya datang juga. "Bagaimana kau bisa tahu kami ada di sini? Padahal kami sudah berusaha menghindar darimu," ujar Eun Ji berpura-pura kesal. "Kalau aku benar-benar pergi nanti baru kau tahu rasa. Kalian tidak akan bisa bertemu lagi denganku,” cibir Mark sembari duduk di salah satu bangku. Eun Ji melirik Mark dengan tatapan serius. Itu bukan candaan yang bagus. "Kau mengatakan itu seperti kau benar-benar akan pergi," ucap Eun Ji lirih. Tak ada balasan. Seketika situasi menjadi sangat hening setelah ucapan terakhir dari Eun Ji. Hanya suara dari beberapa wanita paruh baya yang tengah reunian yang terdengar, juga dentingan sendok pada piring. Mark menatap Jin Young dan Eun Ji bergantian. Keduanya tampak sedang menunggu dan bingung dengan situasi yang sedang terjadi. Karena tidak ingin membuat mereka curiga dan penasaran, Mark akhirnya menyahut, "Aku... aku bercanda. Jangan dipikirkan.” Langkah kedua kaki si pelayan wanita itu terhenti di samping meja mereka. Pelayan itu memperbaiki kacamata bulat besar yang dikenakannya, lalu meletakkan secangkir cappucino di atas meja, tepat di depan Mark tanpa berucap sepatah kata pun. Mark, Jin Young dan Eun Ji, ketiganya menatap sang pelayan sekilas lalu kembali menatap gelas yang ditaruh di atas meja. Eun Ji yang mungkin sedikit merasa aneh dengan penampilan si pelayan, membuatnya tertarik untuk terus memandangi pelayan itu. Bagaimana tidak menarik perhatian orang-orang, pelayan itu mungkin adalah pelayan teraneh yang pernah ditemui Eun Ji. Seragam pelayan itu pun berbeda dengan seragam pelayan lain. Mungkin fashion seorang pelayan juga harus mengikuti perkembangan zaman, pikir Eun Ji. Pelayan itu mengenakan sweater hitam berbahan wol dan jeans ketat berwarna hitam, dengan syal abu-abu yang dililitkan di lehernya hingga menutupi hampir setengah dari wajahnya. Siapa pun tidak akan menduga bahwa ia adalah pelayan. "Selamat menikmati,” ucap si pelayan sembari membungkuk hormat. Eun Ji tak lagi memperhatikan pelayan itu. Meskipun memang tampak aneh, tapi Eun Ji tidak ingin memikirkannya berlama-lama. Banyak hal penting lain yang bisa dipikirkannya. Bukannya segera beranjak dari situ, si pelayan malah masih berdiri diam di samping meja bernomor lima itu. Mau tidak mau, Eun Ji kembali memperhatikannya dengan bingung. "Maaf, apa ada yang salah?" tanya Eun Ji. Setelah itu, Mark dan Jin Young pun ikut mengarahkan pandangannya kepada si pelayan. "Kalian tidak mengenalku?" Pelayan tersebut menatap ketiganya bergantian. Pertanyaan yang dilontarkan si pelayan membuat ketiganya mengernyit bingung. "Aku baru meninggalkan kalian setahun lebih dan kalian sudah benar-benar melupakanku," ucap si pelayan dengan nada kecewa. Jin Young akhirnya mencondongkan badan untuk melihat pelayan itu dalam jarak yang lebih dekat. Hye Rim. “Kim Hye Rim!" seru Jin Young, begitu dirinya menyadari siapa pelayan itu. Dengan gerakan cepat, pelayan itu membuka kacamatanya dan meletakkannya di atas meja, juga melepaskan syal yang sedari tadi dililitkan di lehernya dan berseru, "Ta-da!" "Kim Hye Rim! Kenapa kau tidak bilang pada kami kalau kau akan kemari? Kami bisa saja menjemputmu di bandara,” kata Eun Ji. Ia berdiri, lalu merangkul sahabatnya itu dan menggiringnya untuk duduk di sampingnya. "Kami sangat merindukanmu," ucap Mark. "Aku... lebih," sahut Jin Young seraya menahan senyumnya. Ia terlalu bahagia. "Ya... kau harus bertanggung jawab karena telah membuat Jin Young sedih seperti itu!" goda Eun Ji. Mereka berempat tertawa bersama. Hye Rim merindukan saat-saat seperti ini. Momen yang hanya berlangsung dalam waktu singkat namun yang paling dikenangnya. Hye Rim mengalihkan pandangan ke luar kafe berdinding kaca itu, ketika ekor matanya tidak sengaja mendapati seseorang yang melambai-lambai dari luar kafe. Ia menyipitkan matanya untuk melihat pria itu lebih jelas. "Oppa!" Hye Rim berdiri, dan segera berlari keluar dari kafe. Sementara itu, Jin Young memperhatikan pria yang tengah berdiri di depan sebuah mobil mewah yang terparkir di depan kafe. Jin Young lantas membulatkan kedua matanya, terkejut, ketika menyaksikan secara langsung Hye Rim yang memeluk pria itu. Dalam sekejap Jin Young berdiri. Ia tidak percaya akan apa yang baru saja dilihatnya. Jika pria itu adalah kekasih Hye Rim, Jin Young benar-benar tidak akan punya kesempatan lagi. Untuk memastikannya, ia segera keluar dari kafe, menghampiri pasangan yang tengah berpelukan dengan erat itu. "Oppa! Aku benar-benar merindukanmu!" Hye Rim memukul pelan bahu pria itu dengan manja. "Hye Rim, dia siapa?" tanya Jin Young. "Oppa, ini Jin Young. Dan Jin Young, dia Kim Jae Hyung, kakakku.” Jin Young tertegun. Ia pernah mendengar nama itu. Sewaktu dia dan Hye Rim berada di sekolah menengah pertama, Hye Rim pernah menceritakan tentang kakak laki-lakinya yang bernama Kim Jae Hyung. “Oh, annyeong haseyo," sapa Jin Young dengan suara yang terdengar sedikit bergetar dan membungkuk sopan di hadapan Jae Hyung. Jae Hyung hanya tertawa. "Aku pernah mendengar tentangmu, tapi aku tidak pernah melihat hyung sebelumnya. Aku hampir saja salah paham," jelas Jin Young. "Kurasa kau memang sudah salah paham." Eun Ji dan Mark juga ikut menghampiri mereka. Mereka berlima lalu tertawa bersama. Lalu, Jae Hyung membawa Hye Rim untuk lebih dekat dengan pintu mobil. "Kau masih ingin bersama mereka?" tanya Jae Hyung, yang langsung dijawab dengan anggukan semangat oleh Hye Rim. "Ok. Baiklah. Jangan pulang terlalu malam." Terdengar jelas kekecewaan dari nada bicara Jae Hyung. Sebelum benar-benar meninggalkan yang lain, Jae Hyung menyempatkan diri untuk menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan, diikuti dengan senyum lebarnya. "Jadi, kita ke mana sekarang?" tanya Mark, sembari merangkul Eun Ji dengan senyum lebar yang mengembang di wajahnya. •• Selama kurang lebih lima menit Hye Rim duduk di sebuah bangku panjang dekat sungai Han, gadis itu menghela napas. "Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu," ucap Jin Young, yang sepertinya mengerti dengan apa yang dipikirkan gadis itu sejak tadi. "Di saat aku kembali, sekarang Mark yang harus pergi. Seharusnya aku tidak perlu kembali hari ini. Aku seharusnya menunggu waktu yang tepat untuk kembali,” ujar Hye Rim dengan merasa bersalah. "Tidak. Jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Aku yakin Eun Ji akan mengerti." Jin Young merangkul Hye Rim, dan gadis itu tersenyum karenanya. "Aku mau pulang," ucap Hye Rim lirih, dan di saat yang sama ketika ia hendak berbalik, Jin Young memegang tangannya, lantas menyelipkan jemari mereka satu sama lain. Hye Rim menyukai Jin Young yang seperti ini. Ia bahkan tidak menyangka Jin Young akan seberani ini. Tapi, Hye Rim menyukainya. Ia berharap, akan ada hari-hari berikutnya ketika mereka berjalan sambil berpegangan tangan, seperti sekarang. •• Dengan langkah yang tampak tidak seyakin dan serileks biasanya, Eun Ji masih menunduk mengamati sepatu converse hitam yang dikenakan kakinya. "Perhatikan jalanmu. Jangan menunduk seperti itu," ucap Mark pada akhirnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. "Aku sedang memperhatikan jalanku saat ini." "Lee Eun Ji.” Eun Ji lantas memperlambat langkahnya setelah ia mendengar suara Mark yang terdengar berbeda dari biasanya. Nada bicaranya terdengar serius. Eun Ji menghentikan langkahnya, lantas berbalik kepada Mark yang sudah berhenti berjalan sejak beberapa detik yang lalu. Mark menghela napas, sebelum akhirnya ia maju beberapa langkah agar lebih dekat dengan Eun Ji. ••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN