Eun Ji memasuki kamarnya, membanting pintu dan menyandar. Matanya tak kuasa membendung air matanya lagi. Eun Ji terisak, membiarkan dirinya menangis dengan suara tertahan.
Eun Ji melangkah gontai menuju tempat tidur dan berbaring telentang. Matanya yang berair hanya menatap langit-langit kamarnya ketika memorinya memutar ulang kembali obrolannya dengan Mark beberapa saat yang lalu.
Setelah diam selama beberapa detik, Mark mendekat dan memeluknya erat. Suatu dekapan hangat yang pertama kali dirasakan oleh Eun Ji dalam hidupnya, membuat Eun Ji tidak dapat bergerak untuk menolaknya, bahkan membuatnya lupa bernapas untuk sesaat.
"Kenapa? Kenapa... kau seperti ini?" Pertanyaan itu berhasil keluar dari mulut Eun Ji, setelah sejak tadi tertahan.
"Aku bersyukur karena kau tidak menolak pelukanku. Karena jika kau menolaknya, kau benar-benar akan menyesal,” ujar Mark, yang membuat Eun Ji terkekeh pelan walau hanya dalam waktu yang singkat. Benar-benar singkat.
"Kenapa harus menyesal?" tanya Eun Ji.
"Aku sudah terlalu lelah untuk menahan semuanya. Dan buruknya, aku memberanikan diriku untuk melakukan hal seperti ini di waktu yang tidak tepat. Aku benar-benar bodoh."
Eun Ji tidak membalas lagi. Otaknya masih berusaha mencerna kata-kata yang diucapkan Mark barusan.
Eun Ji tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Dan entah dirinya bodoh atau memang cengeng, matanya tiba-tiba berair, hidungnya memerah.
"Maafkan aku. Aku... akan pergi,” ucap Mark kemudian, lalu semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau... bercanda, kan?" Pertanyaan itu diikuti dengan kekehan kecil dari Eun Ji yang tidak percaya akan apa yang dikatakan Mark.
"Tidak. Untuk kali ini, aku serius. Aku benar-benar akan pergi dari sini. Aku akan melanjutkan kuliahku di LA."
Eun Ji melepaskan pelukan itu. Ia mundur selangkah, dan tersenyum getir.
"Baiklah. Pergilah. Belajarlah dengan baik di sana," ujar Eun Ji berusaha kuat di hadapan laki-laki itu, sembari menepuk pelan bahu Mark dan kemudian melangkah pergi meninggalkan Mark yang masih mematung di tempatnya.
Eun Ji melirik jam dinding di kamarnya. Pukul tujuh malam. Ia tidak tahu akan berapa lama lagi dirinya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Mark malam ini.
••
Eun Ji bangun, dan segera berjalan menuju jendela kamarnya. Ia memperhatikan rumah Mark. Lampunya masih menyala. Mark masih ada di sana.
Eun Ji lalu duduk di tepi jendela. Pandangannya tak kunjung lepas dari runah itu. Semuanya karena Mark. Semua ini terjadi karena kehadiran Mark di hidupnya.
"Kenapa membuatku mencintaimu kalau pada akhirnya kau akan pergi?" gumamnya lirih.
Mark juga melihat Eun Ji dari sana. Mark tersenyum. Dan ia tahu, bahwa semakin lama ia tersenyum seperti ini akan membuatnya semakin sulit untuk pergi meninggalkan gadis itu. Keinginannya dan kerinduannya untuk melihat gadis itu di sisa waktunya ini, pada akhirnya akan membuatnya tetap bertahan di sini.
"Maafkan aku, Eun Ji,” gumam Mark pelan, sembari melangkahkan kakinya untuk menjauhi jendela.
••
Suara gerbang yang digeser dan klakson mobil membangunkan Eun Ji seketika. Samar-samar Eun Ji melihat cahaya yang tidak begitu terang di luar rumahnya.
Setelah mampu melihat lebih jelas, Eun Ji lantas berdiri, mendekat ke jendela untuk meihat apa yang terjadi di luar sana.
Tidak. Tidak salah lagi. Dugaan Eun Ji benar. Mark keluar dari rumahnya dengan membawa koper besar yang ia tarik untuk kemudian dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
Entah apa yang dirasakan Eun Ji hingga membuatnya mundur beberapa langkah hingga mencapai tempat tidurnya. Ia duduk.
Eun Ji bingung dengan perasaannya sendiri. Eun Ji mungkin khawatir, juga takut. Eun Ji tidak pernah seperti ini sebelumnya, merasa takut untuk kehilangan seseorang.
Selama beberapa saat dirinya berkutat dengan pikiran dan perasaannya. Dan sekarang, Eun Ji rasa, ia perlu melakukan sesuatu.
Tanpa mempedulikan penampilannya lagi, dan seberapa besar rasa lelahnya saat ini, Eun Ji tetap mengayuh sepedanya untuk mengejar mobil hitam yang melaju beberapa meter di depannya. Yang terpenting baginya sekarang hanya Mark. Ia harus menemui Mark untuk yang terakhir kalinya ini.
Sekarang atau tidak sama sekali.
Eun Ji tiba-tiba saja memelankan laju sepedanya. Rasa lelah dan sakit dari kakinya membuat napasnya tersengal-sengal, dan...
BRUKK!
Rintihan meluncur dari mulut Eun Ji. Bahkan hanya kata-k********r yang kemudian ia ucapkan sebagai bentuk ungkapan amarahnya. Lalu, Eun Ji mendapati mobil Mark yang kini sudah melaju cepat dan sangat jauh di depannya.
Tidak. Aku tidak akan membiarkan ini.
Sesegera mungkin Eun Ji bangkit dan menaiki sepedanya, lalu mengayuhnya lagi untuk mengejar mobil itu. Ia sudah tidak peduli lagi dengan luka di kakinya yang kini sudah mulai mengeluarkan darah segar.
Dia harus menemui Mark. Sekarang.
"Tuan, ada seseorang yang mengejar kita dari tadi. Sepertinya itu adalah Eun Ji, teman Tuan," ucap si supir pada Mark.
Mark yang mendengar itu lantas berbalik. Benar. Eun Ji benar-benar mengejarnya. Secepat mungkin Mark menyuruh sang supir untuk berhenti dan segera keluar dari mobilnya.
Mark lalu berdiri di dekat mobilnya, menunggu Eun Ji yang tengah mengayuh sepedanya itu ke arahnya.
Mark menghela napas. Di saat ia sedang khawatir dengan gadis itu, gadis itu malah tersenyum senang, bahkan melompat turun dari sepedanya begitu saja.
Eun Ji melangkah cepat dengan senyum sumringah dan segera menghambur ke pelukan Mark. Selama beberapa saat ia membenamkan wajahnya di d**a laki-laki itu hingga isakan tangisnya terdengar.
"Kau! Kenapa kau melakukan ini padaku, huh? Kau... sangat jahat. Benar-benar jahat!" bentak Eun Ji, dengan suaranya yang terdengar bergetar.
Perlahan tapi pasti, Mark memberanikan diri untuk melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Eun Ji dan mengelus pelan puncak kepalanya.
"Jangan menangis," ucap Mark lirih. Sebisa mungkin ia tersenyum untuk gadis itu meskipun ia tidak melihatnya. Namun sekarang hatinya benar-benar tersakiti dengan ucapan Eun Ji barusan. Ia juga ingin sekali mengeluarkan semua kesedihannya dengan tangisan jika ia bisa.
"Kau sudah membuatku menangis sekarang. Apa kau sudah puas?" protes Eun Ji lalu melepaskan dirinya dari pelukan Mark.
Mark hanya bisa tersenyum kaku dengan tangannya yang kini tengah menghapus air mata Eun Ji. Ia benar-benar tidak ingin melihat Eun Ji seperti ini. Tangisan Eun Ji itu membuat hatinya seperti tersayat ribuan kali. Mungkin lebih menyakitkan dari pada yang dirasakan Eun Ji saat ini.
"Kapan kau akan kembali?" tanya Eun Ji di sela tangisnya.
Mark diam selama beberapa saat. Sebenarnya dirinya sendiri tidak tahu apakah Ia bisa kembali ke sini atau tidak. Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya itu. Tapi rasanya tidak mungkin jika ia harus mengatakan hal itu pada Eun Ji. Tidak untuk sekarang.
"Aku tidak tahu pastinya. Yang penting aku akan kembali," jawab Mark.
Eun Ji menunduk setelah mendengar jawaban Mark. Jawaban yang terdengar seperti tidak memiliki kepastian.
"Tutup matamu,” pinta Mark, yang entah bagaimana bisa membuat Eun Ji menurutinya dalam sekejap.
Mark lalu memegang kedua pundaknya, membuat tubuh Eun Ji menegang selama beberapa saat. Dalam hatinya, Eun Ji menerka-nerka akan apa yang dilakukan Mark saat ini.
Menciumnya.
Eun Ji segera melenyapkan seluruh pikiran dan keinginannya tentang ciuman itu. Karena yang terjadi tidaklah demikian.
Hanya sebuah kecupan singkat yang mendarat di keningnya. Namun Eun Ji tidak menyesalinya.
Kedua matanya yang terpejam akhirnya terbuka, diikuti dengan seulas senyum yang mengembang di wajahnya.
"Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan menghubungimu setelah sampai di sana,” kata Mark, dan setelah itu ia segera berbalik, hendak melangkah. Namun sesuatu membuat niatnya terhenti. Pandangannya tertuju pada kaki Eun Ji.
Ia segera berjongkok, untuk memastikan penglihatannya.
"Aku baru saja menyuruhmu untuk menjaga dirimu baik-baik, dan sekarang aku sudah mendapati luka ini." Mark menghela napas. Ia khawatir melihat Eun Ji seperti ini. Bagaimana Eun Ji nantinya kalau sekarang saja ia sudah seperti ini?
"Ya... aku terluka seperti ini karena mengejarmu. Kau harus tahu itu," balas Eun Ji. Gadis itu lalu tersenyum, melihat Mark yang sangat peduli dengannya. Bahkan di saat laki-laki itu sudah harus menuju ke bandara, ia masih saja menyempatkan dirinya untuk menempelkan plester penutup luka pada kaki Eun Ji.
"Sudah beres, aku pergi sekarang,” pamit Mark sebelum ia memasuki mobilnya.
"Janji, kau akan kembali."
Mark menoleh untuk melihat Eun Ji sekali lagi, dan tersenyum tipis.
“Ya. Aku berjanji." Mark mengangguk dengan posisi membelakangi Eun Ji.
Dan setelah ungkapan janji itu, Mark segera pergi, meninggalkan Eun Ji yang masih menatap mobil Mark yang menjauh dalam diam.
••
Musim semi, 2017.
Setelah mengetik beberapa kata dalam microsoft word di laptopnya, gadis dengan poni yang dijepit menggunakan jepitan rambut hello kitty itu menyesap cappucino miliknya yang tinggal setengah. Begitu seterusnya hingga gelas itu akhirnya kosong.
Gadis itu, Lee Eun Ji, nenghela napas, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi dan mengarahkan pandangannya pada jalanan di luar kafe.
Perhatiannya tertuju pada seorang pria dan wanita yang tengah berjalan bersama, sesekali diiringi dengan canda tawa keduanya. Bahkan si wanita beberapa kali menunjukkan kekesalannya pada si pria.
Eun Ji tersenyum. Memorinya kembali memutar ulang semua kenangan antara dirinya dan Mark. Dan saat itu juga, perasaan rindu itu kembali, sekaligus kecewa.
Kecewa?
Ya. Eun Ji kecewa. Mark tidak menepati ucapannya saat itu. Setelah Mark pergi, Mark sama sekali tidak menghubungi Eun Ji. Bahkan Eun Ji sendiri sudah mencoba menghubunginya, namun tetap sama. Tidak ada jawaban.
Perlahan senyuman di wajahnya memudar tatkala ia mengingat kembali semuanya itu. Ia menegakkan kembali punggungnya, berusaha untuk memfokuskan pikirannya pada tugas kuliah yang harus dikumpulkannya dalam waktu dekat.
"Lee Eun Ji!" Sapaan dengan volume nyaring itu membuat Eun Ji tersentak.
"Kau? Kenapa harus kau lagi?!"
••