17

2008 Kata
"Jadi... kau bekerja part time di sini?" Jae Min mengangguk. Setelah Mark meninggalkannya ke LA. Jae Min kadang menemani Eun Ji menjalani hari-harinya yang terasa kosong. Dulu, mereka hanya teman semeja di SMA. Siapa sangka, sekarang mereka bisa sedekat ini? Eun Ji bahkan sudah menganggapnya sahabat. Selama beberapa saat keduanya terdiam. Eun Ji kembali memfokuskan pikiran dan tubuhnya untuk mengerjakan tugas, sedangkan Jae Min hanya memperhatikan wajah gadis itu dengan kedua telapak tangan yang menopang dagunya. Eun Ji tidak sepenuhnya fokus. Ia tahu laki-laki di hadapannya itu memperhatikannya. Seandainya saja Mark yang kini menatapnya seperti Jae Min menatapnya. "Jae Min! Hentikan! Sebaiknya kau urusi saja pekerjaanmu!" seru Eun Ji tak tahan. "Ya, ya, baiklah." Setelahnya, Jae Min akhirnya meninggalkannya ke ruang karyawan kafe. Mungkin, Jae Min lebih seperti laki-laki yang hanya suka mengganggunya dibanding sahabat. “Hei, aku baru menyadarinya!” Eun Ji tersentak kaget. Ia ingin merutuki siapa pun yang membuatnya terkejur saat sedang fokus seperti ini. Eun Ji hanya bisa merapatkan bibir sebelum kata-kata yang tak pantas meluncur darinya. Setelah menarik napas panjang dan berusaha tersenyum, matanya beralih kepada Jae Min yang tiba-tiba muncul di hadapannya lagi. "Jepit rambut itu," ucapnya tak percaya. Perasaan jengkel yang menyelimuti hati gadis itu beberapa saat yang lalu akhirnya berubah menjadi kebingungan. Apa jepit rambut yang Jae Min singgung barusan adalah jepit hello kitty yang bertengger di kepalanya ini? “Ini maksudmu?” tanya Eun Ji. Jae Min tiba-tiba tersenyum. "Aku pikir kau tidak menyukainya,” katanya. Kebahagiaan nampak jelas di wajahnya saat ini. "A-apa maksudmu?" "Kau tidak tahu, ya? Aku yang memberikan jepitan itu padamu. Aku menaruhnya di laci mejamu di hari ulang tahunmu.” Eun Ji melongo. "Apa kau bilang?!" •• Pagi itu sudah pukul delapan, dan Eun Ji terburu-buru bersiap untuk berangkat ke kampus. Berkat Jae Min yang mengajaknya jalan-jalan semalam, sekarang Eun Ji bahkan tidak sempat menyentuh sarapan yang ayahnya sediakan. Setelah bersusah payah mengikat tali sneakers-nya sambil berdiri, Eun Ji langsung menyambar tas selempang hitamnya dan bergegas turun ke lantai bawah. Langkahnya melambat ketika ia tanpa sengaja mendapati ayahnya yang tengah tersenyum sendiri dengan mata tertuju pada ponsel. Ini bukan yang pertama kalinya. Beberapa minggu yang lalu, Eun Ji juga tanpa sengaja melihat ayahnya makan malam bersama seorang wanita yang kira-kira berumur akhir empat puluhan. Berusaha tak peduli, Eun Ji kembali berjalan dengan seringaian kecil di wajahnya. Ia terlalu sibuk untuk mengurusi urusan pribadi ayahnya. Namun seiring langkahnya meninggalkan rumah, rasa penasaran dan khawatir menghantuinya. •• "Lee Eun Ji" Eun Ji yang sudah melangkah tergesa harus berhenti sejenak berkat panggilan seseorang yang sangat tidak diharapkannya di saat darurat seperti ini. "Hei!" Eun Ji yang panik dan terkejut saat seorang laki-laki berkemeja hitam menepuknya membuatnya tanpa sengaja menjatuhkan dua buku tebal yang sejak tadi dipeluknya. Eun Ji menggeram. "Seung Min!” Yang diteriaki malah terkekeh tanpa dosa. "Kau mau ke mana lagi?" Pertanyaan itu lantas mengalihkan pandangan Eun Ji padanya. Eun Ji menyeringai, dan berbalik menghadap laki-laki bernama lengkap Choi Seung Min itu. Pertanyaan bodoh yang jawabannya seharusnya dia sudah tahu meskipun ia tidak menanyakannya, Eun Ji menggeram dalam hati. "Tentu saja ke kelas! "Percuma saja." Eun Ji menatapnya meminta penjelasan. "Aku ada di sini, beberapa menit sebelum kau datang. Jika aku di kelas, aku tidak mungkin ada di hadapanmu saat ini. Kau masih belum mengerti juga?" ujar Seungcheol, berharap gadis di depannya ini mengerti maksudnya. Setelah berhasil mencerna kata demi kata yang diucapkan Seung Min barusan, Eun Ji mengembuskan napas pasrah. Percuma saja ia panik dan terburu-buru kalau pada akhirnya ia terlambat juga. Menguras energinya saja. •• Angin yang sesekali berembus tepat mengenai wajah dan rambut cokelat tua gadis itu tetap membuatnya bergeming. Eun Ji terlalu lelah untuk mengangkat wajahnya dari meja kantin saat ini. Seung Min yang sedang mencatat sesuatu pada note book, akhirnya menghentikan aktivitasnya, dan beralih memperhatikan Eun Ji. Semakin lama melihat gadis itu, ia tak tahan untuk tidak tersenyum. Awalnya, Seung Min memang sempat tertarik dengan gadis itu. Seorang gadis--perempuan pertama--yang mampu membuat Seung Min tersenyum setulus ini. Ia menyukai Eun Ji, jujur saja. Namun ia tidak bisa. Ada batas yang tidak bisa seenaknya Seung Min lewati. Aku tidak akan mengkhianati temanku sendiri, ucapnya dalam hati. Hanya kalimat itu yang selalu berhasil menahan dirinya untuk tidak bertindak ceroboh. Seung Min terkekeh pelan, sebelum ia bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja dari sana. Setelah lama terdiam layaknya patung dengan pikiran yang entah terbang ke mana, kesadaran Eun Ji akhirnya kembali sepenuhnya setelah merasa keadaan di sekitarnya tambah sepi. Ia mengangkat kepalanya, bermaksud melihat Seung Min. Namun laki-laki itu tidak di sana. Eun Ji mengedarkan pandangannya ke segala arah dan tetap saja nihil. Seung Min hilang. “Hhmmp.” Eun Ji menahan dirinya untuk tak berteriak ketika sebuah bungkusan es krim ditempel pada sebelah pipinya. Eun Ji menutup mata terkejut, dengan bibir yang ia rapatkan. Eun Ji lantas berbalik, lalu menemukan Seung Min yang menahan tawa. "Seung Min!" pekiknya tak tahan lagi seraya mendaratkan pukulan pada lengan kokoh Seung Min. Laki-laki itu memang suka berolahraga, tak heran kalau tubuhnya tidak selemah itu untuk merespon pukulan Eun Ji barusan. "Kupikir kau butuh sesuatu yang menis dan dingin.” Seung Min kembali duduk. Sepertinya Seung Min benar. Jadi, Eun Ji menerimanya. “Terima kasih.” Eun Ji menikmati es krim cokelatnya sambil diam-diam melirik Seung Min yang sedang menatap ponsel. Selama ini, Eun Ji sadar, ia begitu tertarik pada sepasang mata indah Seung Min. Warnanya, entahlah, hitam pekat? Karena setiap kali pandangan mereka tanpa sengaja bertemu, Eun Ji dapat melihat binar mata laki-laki itu. Senyumnya juga ... Eun Ji masih mengaguminya ketika mata Seung Min teralih padanya. Deg. Eun Ji segera membuang pandangan ke arah lain dan menyesap es krimnya. "Kau kenapa?” Seung Min mendengus geli. “A-apanya kenapa?” balas Eun Ji gugup. "Annyeong !" Untuk pertama kalinya, Eun Ji bersyukur karena kehadiran Jae Min yang tiba-tiba. Jae Min duduk, lalu menatap Eun Ji dan Seung Min bergantian dengan curiga. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi sebelum ia kemari. "Lee Eun Ji, kau berhutang padaku, ingat!” seru Jae Min, yang langsung membuat Eun Ji tertegun selama beberapa saat. Memorinya kembali memutar kejadian semalam. Eun Ji lupa membawa dompet, jadi Jae Min yang membayar pesanannya. Tangan Eun Ji baru saja akan menyentuh tasnya untuk mengambil dompet, ketika tangan Jae Min menahannya. “Kenapa?” "Kau tidak perlu membayar sekarang. Kau bisa membayarnya lain kali. Dan... aku tidak menerimanya dalam bentuk uang." Jae Min menggeleng. “Lalu kau mau aku bayar dengan apa? Aku hanya berhutang padamu beberapa ribu won.” "Kau lupa? Aku bahkan sudah membantumu mengerjakan tugas. Pokoknya, aku tidak menerimanya dalam bentuk uang!" Jae Min mengingatkan Eun Ji sekali lagi, dengan telunjuk tangan kanannya yang ia layangkan untuk menunjuk Eun Ji. "Iya, aku mengerti, Park Jae Min!" seru Eun Ji kesal. "Eun Ji, sepertinya aku harus pulang sekarang! Bye!" Seung Min berjalan meninggalkan meja sambil melambaikan tangan kanannya, dan tangan yang satunya lagi memegang ponsel di dekat telinganya. Eun Ji hanya membalas dengan senyum dan lambaian singkat. Setelah beberapa saat, akhirnya suara orang yang ditelepon Seung Min terdengar. “Bagaimana?Apa ada sesuatu yang penting?” "Mark, kurasa aku harus mengatakan ini padamu." •• Suasana kafe tempat Jae Min bekerja malam itu tampak lebih sepi dari hari biasanya. Para pelayan dapat menggunakan waktu senggang mereka--selagi tak ada pelanggan--untuk mengobrol, bercanda tawa dengan pelayan lain. Tak terkecuali Jae Min, yang menggunakan waktu senggangnya untuk memperhatikan tiap gerak gerik gadis yang duduk berhadapan dengannya itu. Baginya, itu adalah satu-satunya pekerjaan yang tidak membosankan di dunia ini. Eun Ji mencoba menahan diri. Ia memandang ke arah lain dengan risi. Jae Min lagi-lagi memperhatikannya seperti ini. Eun Ji tidak menegurnya, bukan berarti dia menyukainya. Hanya saja ia mulai muak. Jae Min terlalu keras kepala dan suka seenaknya. "Bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain? Aku sudah bosan di sini." Jae Min memecah keheningan yang tercipta di antara keduanya. Eun Ji menoleh, tampak memikirkan jawaban atas usulan Jae Min. “Oke.” •• Eun Ji menengadah. Beberapa bintang menampakkan diri untuk menghiasi langit malam itu. Ada bulan sabit di tengah-tengah taburan bintang itu. Meskipun bintang dan bulan itu sangat kecil jika dilihat dari bumi, tapi Eun Ji menyukainya. Apa Mark juga akan melihat pemandangan yang sama di sana? Eun Ji dan Jae Min kini berada di sungai Han. Indah menjadi satu-satunya kata yang mampu mendeskripsikan bagaimana sungai Han di malam hari. Bagi Eun Ji sendiri, tempat ini menjadi salah satu tempat yang menyimpan kenangan indah dalam hidupnya. Ibunya, dan Mark. "Kenapa kau tersenyum?" Eun Ji menoleh. “Aku mengingat Mark. Aku benar-benar rindu padanya." Jae Min tidak menyangka jawaban Eun Ji akan begitu megecewakannya. Selama ini, ia sudah cukup menahan diri melihat Mark dan Eun Ji yang begitu dekat di sekolah dulu. Ketika tahu bahwa Mark akan meninggalkan gadis itu, Jae Min pikir, inilah waktunya. Jae Min pikir, dirinya bisa menggantikan Mark. Jae Min pikir, ia akhirnya bisa melakukan apa pun untuk membuat Eun Ji bahagia. Tapi kenyataannya, Eun Ji terlalu sulit melupakan Mark, sama seperti Jae Min yang terlalu sulit melepaskan perasaannya pada gadis itu. Kecewa. Sakit. Marah. Tiga kata itu yang dapat mewakili bagaimana Jae Min sekarang. "Kau... sebegitu cintanya pada Mark?" Bodoh. Ini namanya Jae Min cari mati sendiri. Namun, hanya jawaban Eun Ji yang ia butuhkan saat ini. Meskipun merasa pertanyaan itu terlalu mendadak dari Jae Min untuknya, tapi Eun Ji akhirnya mengangguk juga. Dengan yakin. "Ya. Aku mencintainya." Betapa kata-kata itu menyesakkan bagi Jae Min. Jae Min menikmati semua rasa sakit itu dalam diam. "Jimin, kau kenapa?" tanya Eun Ji yang menyadari keanehan Jae Min. Jae Min tidak merespon. Ia tidak berharap Eun Ji sepeduli ini padanya. Alangkah lebih baik, jika sejak awal, gadis itu jahat padanya dan mengabaikannya. Alangkah lebih baik, jika gadis itu tidak menyapanya lebih dulu saat sadar mereka ada di kelas yang sama di universitas. "Jae Min!" Kali ini Eun Ji mengguncang tubuh Jae Min. Namun, Jae Min malah menepis tangan Eun Ji dengan kasar sebelum kemudian berdiri. Eun Ji tentu saja terkejut dan tak mengerti apa yang sedang terjadi. Selama ini Eun Ji hanya melihat sosok Jae Min yang ceria, dan suka mengganggunya. Bukan Jae Min yang tampak marah dan terluka seperti ini. "Jae Min ....” Eun Ji masih menatapnya penuh tanya. "Apa kau tidak tahu seberapa besar usahaku untuk bisa bersamamu, Lee Eun Ji? Apa kau pernah sekali saja peka dan peduli terhadap perasaanku? Aku sudah mencoba untuk menahan perasaanku selama tiga tahun. Aku memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat. Tapi Mark datang dan menghancurkan semuanya. Setelah Mark pergi, kupikir ini adalah kesempatan. Namun semuanya tetap sama. Tidak ada yang namanya kesempatan!" Eun Ji terlalu syok. Butuh beberapa saat untuk Eun Ji diam dan berusaha mengerti apa yang sedang terjadi. Jae Min ... bukankah laki-laki itu hanya suka mengganggunya sebagai sahabat? Eun Ji tidak pernah berpikir lebih jauh dari itu. Karena di hatinya, sudah cukup hanya ada Mark. Eun Ji sudah mati rasa untuk laki-laki lain. Mungkin, itu alasan mengapa Eun Ji tidak pernah menyadari perasaan Jae Min padanya. Atau, Eun Ji yang tidak ingin tahu. "Maaf...." ucap Jae Min lirih kemudian. Napasnya terengah-engah Setelah itu, Jae Min segera berlalu. Ia tahu tindakannya itu terlalu berlebihan dan egois, tapi ia tidak akan menyesalinya. Jae Min sudah mengungkapkan semua yang selama ini ditahannya untuk Eun Ji. •• "Lee Eun Ji!” seru Seung Min bersemangat, namun detik berikutnya ia membekap mulutnya sendiri karena sadar mereka ada di perpustakaan. Seung Min duduk di kursi sebelah Eun Ji. Namun, gadis itu tak berkutik sama sekali di tempatnya. Eun Ji tampak membaca buku, namun, perhatiannya tak benar-benar tertuju ke situ. “Kau tidak apa-apa?" tanya Seung Min kemudian. Eun Ji menoleh tanpa semangat. "Oh, kau. Sejak kapan kau di sini?" Jawaban Eun Ji semakin membuat Seung Min yakin ada sesuatu yang terjadi dengannya. "Aku bertanya, kau tidak apa-apa, 'kan?" Seung Min memastikan dengan tegas. Eun Ji membeku, teringat bagaimana Jae Min membentaknya semalam. Seung Min mulai membuatnya takut juga. Kenapa mereka seperti ini? "Aku... aku tidak apa-apa," jawabnya akhirnya, seraya kembali menatap buku ensiklopedia di depannya. "Kau yakin? Aku sendiri tidak yakin dengan jawabanmu—“ Eun Ji lantas berdiri. "Hentikan, Seung Min. Kau tidak bisa terus menginterogasiku seperti ini. Kau hanya temanku. Kita baru menjalin pertemanan setahun lebih. Jadi tidak semua urusanku kau juga harus tahu. Pikirkan saja urusanmu sendiri." Eun Ji menutup buku dengan satu entakan keras sebelum akhirnya pergi dari sana. Seung Min masih bergeming. Ia tidak bergerak sedikit pun, atau pun berusaha menahan Eun Ji agar tidak pergi. Kepalanya tertunduk, merenungkan kembali perkataan Eun Ji tadi. Memang benar. Yang dikatakan Eun Ji memang benar. Mereka hanya berteman. Tidak segala hal tentang Eun Ji harus Seung Min tahu. Setelah menenangkan dirinya, Seung Min sudah memutuskan. Ia mengambil ponsel, lantas menghubungi seseorang. “Halo? Ada kabar—“ "Mark, aku... tidak bisa melanjutkan ini lagi." ••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN