"Lee Eun Ji!"
Sebelum Eun Ji sempat berbalik dari lokernya, Jin Young dan Hye Rim menampakkan diri dan langsung merangkulnya erat-erat.
"Kalian ...." Segala kekacauan di kepala Eun Ji membuatnya bingung harus bereaksi seperti apa melihat kedatangan dua sahabatnya yang kini berpacaran itu.
"Kita sudah lama sekali tidak jalan seperti ini... bagaimana kalau kita..." Hye Rim tampak berpikir. Sebelum yang lain sempat menjawab, Jin Young menjetikkan jari. Ia tahu ke mana mereka harus pergi sekarang. "Ke tempat Jae Min bekerja?"
Tubuh Eun Ji seketika kaku. Bagaimana ia akan menemui Jae Min setelah dua hari tidak bertemu? Setelah semuanya itu?
"Oke. Tidak masalah. Kau yang mentraktir kita kalau begitu!" seru Hye Rim dengan tatapan yang lebih seperti mengancam.
Pikiran Eun Ji terlalu kalut untuk merespon dan menolak. Eun Ji meyakinkan dirinya sendiri, bahwa yang perlu dilakukannya adalah mengikuti mereka dan diam. Tidak bertatap muka dan berbicara dengan Jae Min, seharusnya tidak masalah ‘kan?
Tapi sepertinya, itu tidak semudah yang ia bayangkan.
••
Jae Min menyandarkan punggung pada loker di ruangan khusus karyawan. Ia bekerja lebih ekstra hari ini karena beberapa pelayan yang entah karena alasan apa tidak hadir hari ini. Jadi, mau tidak mau, Jae Min harus menggantikan posisi mereka untuk melayani pelanggan dan membantu mencuci piring. Belum lagi, entah kenapa sore ini pengunjung kafe lebih banyak dari biasanya.
"Jae Min, bisa kau layani pelanggan di meja nomor tujuh itu? Mereka memintamu untuk melayaninya."
Bagaimana pun, pekerjaan tetaplah pekerjaan.
Jae Min berjalan menuju meja yang dimaksud sambil menyiapkan buku catatan dan pulpen, dan ketika ia mendongak, mata mereka bertemu. Sedetik setelahnya baru ia menyadari kehadiran Jin Young dan Hye Rim bersama gadis itu.
"Jadi, kalian mau pesan apa?" Jae Min akhirnya bertanya seraya meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Jae Min menatap Jin Young dan Hye Rim bergantian, dan menghindari Eun Ji sebisa mungkin.
"Tiga hot chocolate, " seru Hye Rim bersemangat. “Tiga cheese cake.”
Eun Ji sedikit lega karena ia tidak perlu berbicara, sampai suara Hye Rim kemudian menyentaknya.
“Kau suka cheese cake, ya? Aku lupa.”
“Apa pun. Aku bisa makan apa pun.”
••
Eun Ji tidak menyangka kalau yang terjadi sekarang lebih dari apa yang ditakutkannya sejak tadi. Eun Ji melirik Jae Min yang kini duduk berhadapan dengannya. Ada rasa bersalah tercetak di sana. Jin Young dan Hye Rim baru saja meninggalkan mereka karena permintaan Jae Min yang katanya ingin berbicara sebentar dengan Eun Ji.
"Aku minta maaf soal malam itu. Aku lepas kendali," ujar Jae Min. Dan Eun Ji tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.
Eun Ji lebih ingin menganggap semuanya ini tidak pernah terjadi. Jae Min tidak perlu merasa bersalah dan meminta maaf padanya seperti ini.
"Kau...tidak memaafkanku, ya?" Jae Min menggaruk tengkuknya. Namun, ia akan mengerti jika Eun Ji benar-benar kesulitan memaafkannya.
"Bukan begitu! M-maksudku, kau tidak perlu minta maaf. Itu bukan salahmu dan memang tidak ada yang salah. Jangan minta maaf.”
“Tapi aku pasti sudah membuatku takut. Aku tidak ingin kau takut denganku.” Ada nada khawatir dari kata-kata Jae Min.
“Iya, mungkin ....” Eun Ji berusaha jujur. “Tapi lebih baik begitu daripada aku terus menyakitimu karena tidak sadar kalau kau ....” Ucapan Eun Ji terhenti begitu saja. Ia tidak mampu meneruskannya.
"Jadi... bagaimana dengan hutangmu?"
Eun Ji mendelik. Ia yakin Jae Min berusaha mengalihkan pembicaraan dan mencairkan suasana.
Jae Min terkekeh pelan. “Tenang saja. Aku menganggap ini semua sebagai bayaran dari hutangmu. Kau memaafkanku, itu yang kubutuh.”
••
"Aku pulang!" sahut Eun Ji dengan setengah berteriak ketika kakinya baru saja memasuki rumah.
Namun, tak ada jawaban. Tak ada tanda-tanda papanya sudah pulang. Eun Ji seharusnya sudah terbiasa dengan kebiasaan baru ayahnya ini, tapi makin hari ia hanya makin dibuat penasaran. Eun Ji curiga, sangat curiga bukan pekerjaan yang membuat ayahnya seperti ini.
Eun Ji memutuskan ke kamar untuk beristirahat. Ia sudah menyelesaikan masalahnya dengan Jae Min, dan untuk malam ini ia tidak ingin memikirkan hal lain yang mungkin akan membebaninya.
Sampai Eun Ji mendengar suara barang terjatuh di luar kamar. Eun Ji melesat menuju pintu, membukanya, dan menemukan ayahnya tersungkur di lantai dengan pecahan gelas kaca di dekatnya.
“Appa!”
••
Pukul 10 malam. Lorong rumah sakit itu tampak sepi. Eun Ji duduk di kursi tunggu dengan gelisah, mengabaikan beberapa perawat yang berlalulalang melewatinya.
Apa yang terjadi dengan ayahnya?
Tak lama kemudian, seorang wanita menghampirinya dengan khawatir.
"Apa ayahmu baik-baik saja?"
Suara lembut wanita itu membuat Eun Ji mendongak dengan mata sembap. Eun Ji memperhatikannya lebih lama, teringat bahwa wanita itu yang pernah makan malam berdua dengan ayahnya. “Aku tidak tahu,” jawabnya lirih.
Wanita itu lalu duduk di sebelah Eun Ji.
"Ayahmu benar-benar seorang pekerja keras. Aku bangga padanya," katanya. “Dia terlalu bekerja keras sampai tubuhnya kadang lupa harus istirahat.”
“Ahjumma ...,” Eun Ji menyebutnya dengan ragu. Wanita itu tampak masih terlalu muda untuk disebut ahjumma, “ada hubungan apa dengan ayahku?”
Wanita itu menatapnya ragu. Tatapannya selembut suaranya. “Kami dekat. Karena kami sempat bersahabat saat di sekolah dulu. Jujur saja, aku menyukai ayahmu saat itu. Tapi pada akhirnya dia menikahi wanita lain yang menjadi ibumu."
Eun Ji mendengarkan tanpa menyela.
“Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, ‘kan?”
••
Dengan langkah tergesa, Seung Min menyusuri lorong rumah sakit dan melihat setiap nomor kamar yang dilewatinya.
"Choi Seung Min?”
Kehadiran Eun Ji di sana menghentikan langkah Seung Min. Mereka sama-sama terkejut melihat satu sama lain.
Eun Ji berjalan menghampirinya. “Kau ... ingin menjenguk siapa?”
Seung Min baru akan menjawab ketika matanya mendapati seorang wanita yang duduk di bangku panjang tak jauh di belakang Eun Ji.
"Eomma!”
Eun Ji menaikkan sebelah alis begitu melihat Seung Min berlari melewatinya dan menghampiri wanita yang bersamanya sejak tadi.
Ternyata dia ibunya Seung Min.
"Eomma... tidak apa-apa, ‘kan?" Seung Min berjongkok di hadapan ibunya, memastikan ibunya baik-baik saja.
"Tidak apa-apa. Bukan aku yang sakit," jawab ibunya.
"Lalu... siapa?"
"Ayahku,” Eun Ji menjawab sambil duduk kembali di tempat semula.
Seung Min akhirnya bernapas lega karena ibunya tidak apa-apa. Ia beralih menatap Eun Ji. “Bagaimana keadaan ayahmu?”
"Baik. Dokter bilang dia kelelahan. Mungkin setelah ini aku akan memaksanya untuk beristirahat." Eun Ji melipat tangan di d**a. “Padahal aku sudah sangat khawatir sesuatu yang lebih buruk terjadi. Appa kadang lebih keras kepala dariku kalau soal pekerjaan.”
Seung Min mendengus geli dan mengacak pelan rambut gadis itu, yang sedetik kemudian ia sesali. Seung Min tidak seharusnya melakukannya, dan ia tahu, ia tidak boleh terus bertahan dengan perasaannya itu. Ia harus segera mencari cara untuk melepaskannya. Entah bagaimana pun caranya.
••
"Appa, mulai besok appa beristirahat saja dulu. Hanya untuk beberapa hari kedepan. Aku tidak mau kalau sampai ini terjadi lagi," kata Eun Ji, sambil menggenggam erat tangan ayahnya.
"Appa minta maaf sudah membuatmu khawatir. Beberapa hari ini appa memang sibuk. Tenang saja. Aku tidak keras kepala. Besok dan beberapa hari kedepan aku akan beristirahat."
"Eun Ji, ada sesuatu yang ingin appa bicarakan denganmu," ucap ayahnya dengan nada serius. Eun Ji menunggu dengan penasaran, sekaligus takut.
"Apa kau setuju kalau appa menikah lagi?"
Eun Ji terdiam. Tiba-tiba hanya suara penghangat ruangan yang terdengar memenuhi kamar. Eun Ji tidak pernah mengharapkan pertanyaan itu ditujukan untuknya. Tidak dari ayahnya. Pertanyaan itu mengguncangnya lebih dari yang ayahnya mungkin kira. Perasaannya campur aduk. Eun Ji marah. Kecewa. Dan ingin pergi dari sana namun tidak bisa. Ayahnya sudah berusaha jujur padanya. Dan Eun Ji juga harus bisa menghadapinya dengan lebih dewasa.
“Appa bercanda?” Hanya itu satu-satunya harapan kecil terakhir yang dimilikinya atas pertanyaan ayahnya sebelumnya.
Dan harapan itu pupus dalam sekejap ketika ayahnya menggeleng.
"Appa, apa kau lupa dengan eomma?" Hanya itu yang terpikirkan untuk disampaikan oleh Eun Ji untuk ayahnya.
••
"Kau tahu tentang ibumu ... dan ayahku?” tanya Eun Ji dengan kepala tertunduk.
Seung Min yang paham, menjawab, "Aku tahu.”
“Dan kau tidak melakukan apa pun?” Eun Ji menatapnya tak percaya.
"Ayahku meninggal saat aku masih berumur delapan tahun. Dan sekarang, setelah mengetahui eomma akan menikah lagi, awalnya aku tidak setuju, karena aku terlalu takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang berisiko menyakitinya. Tapi setelah aku memikirkannya lagi, senua orang punya kesempatannya masing-masing untuk nencintai siapa pun. Sama seperti orang tua yang memberi kita kebebasan untuk memilih pasangan hidup asal kita bahagia, mereka juga punya kehidupan di luar kendali kita sebagai anak-anaknya. Selama itu tidak dilakukan dengan cara yang salah, maksudku, berselingkuh,” Seung Min mendengus geli karena ucapannya sendiri, “kupikir tidak ada salahnya. Mereka juga berhak bahagia.”
Seung Min mengasihani dirinya sendiri. Ia berbicara tentang kesempatan untuk mencintai siapa pun, namun, ia tidak bisa memberi kesempatan itu untuk dirinya sendiri. Seung Min tahu hati gadis itu terikat pada siapa dan oleh siapa. Selama ini, tugasnya hanya menjaga dan memata-matai Eun Ji, tidak lebih.
••