Beberapa bulan kemudian.
"Choi Seung Min!"
Seung Min segera melepas helm dengan sabar. Gadis itu entah sudah berapa kali meneriakkan namanya saat di jalan tadi. Padahal, ia hanya melaju dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya. Hanya karena mereka dikejar waktu.
Seung Min mengabaikan Eun Ji yang sudah turun dari motor dan segera berjalan masuk ke gedung kampus. Eun Ji melepas helm, menampakkan rambut kecoklatannya yang acak-acakan sambil mendengus.
“Eun Ji sunbaenim!”
Eun Ji segera memutar badan dan menemukan seorang gadis manis berkacamata berjalan menghampirinya.
“Apa kita saling kenal?” tanya Eun Ji seramah mungkin.
"Namaku Jessica Lee," ucapnya.
Gadis itu gugup. Terlalu kentara. Dia membenarman posisi kacamatanya beberapa kali sambil tersenyum gugup.
"Ada perlu apa kau mencariku?" tanya Eun Ji.
"Hmm... aku ingin minta tolong sesuatu.”
“A-apa itu?”
Gadis itu menggaruk kepala. “Kalian bersaudara, ‘kan? Ehm ... maksudku, aku juga hadir di pesta pernikahan orang tua kalian. Lalu aku melihat kalian ....”
Rasanya aneh mendengar tentang itu dari mulut orang asing. Eun Ji tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.
Ayahnya dan ibunya Seung Min memutuskan untuk menikah tiga bulan yang lalu. Satu-satunya yang dilakukan Eun Ji adalah tak ikut campur. Dan satu-satunya yang membuat Eun Ji menerima keputusan ayahnya hanya karena ayahnya memang tampak bahagia dan menjadi pria yang berbeda saat bersama ibunya Seung Min. Dan Eun Ji rasa, itulah kehebatan cinta. Sudah tiga bulan juga, Eun Ji dan Seung Min terikat sebagai saudara tiri.
“Ya, kami bersaudara tapi aku tidak ingin menganggap Seung Min oppa atau dongsaeng-ku,” canda Eun Ji. Namun, memang benar demikian. “Jadi, kau ingin minta tolong apa?”
••
"Hahh... aku benar-benar mengantuk. Bagaimana bisa penjelasan para dosen bisa membuatku selalu mengantuk padahal waktu istirahatku di rumah selalu cukup. Mereka seperti punya ilmu sihir dalam setiap perkataan yang keluar dari mulut mereka.”
Seung Min tertawa kecil mendengar penuturan konyol yang keluar dari mulut Eun Ji. Gadis itu kini menopang dagu dengan malas di atas meja kantin dan sedang menghela napas. Seung Min termenung menatap wajahnya. Takdir membalas perasaannya dengan cara yang sungguh tak terduga. Ia kini memiliki gadis itu, menyayangi gadis itu, sebagai saudaranya. Hal itu permanen, dan Seung Min rasa, ampuh untuk menangani perasaannya yang sempat terpendam untuk Eun Ji.
"Kau tidak ingin memesan apa pun?" tanya Seung Min.
"Aku sedang tidak nafsu." Eun Ji tak bergerak sedikit pun dari posisinya sejak tadi. Yang ia lakukan hanya menutup mata, berusaha merilekskan pikiran dan tubuhnya.
Namun pada kenyataannya Eun Ji sama sekali tidak bisa rileks. Eun Ji tidak tahu kenapa hatinya serasa diremas setiap kali wajah Mark membayanginya. Eun Ji merindukan laki-laki itu, seseorang yang harus bertanggung jawab karena telah membuat Eun Ji merasa dirinya kacau seperti ini. Eun Ji menagih janji yang belum terbayarkan itu.
"Kau menangis?"
Seung Min mengamati air mata yang menggenang di ekor matanya dan hidungnya yang memerah.
“Tidak, aku tidak—“
"Matamu berair. Jadi, kau alergi debu atau apa?” Seung Min berusaha membuat Eun Ji tetap nyaman, karena ia tahu gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
"Mungkin.”
Di belakangnya, Hye Rim bersama Jin Young mengendap-endap sambil memegang ponsel, lantas menunjukkan layar ponselnya di hadapan wajah Eun Ji yang seketika mematung bagaikan tersambar petir. Butuh beberapa detik untuk penglihatannya memastikan wajah siapa yang tersenyum padanya lewat layar ponsel itu.
"Eun Ji, ayo bicara. Kami tahu kau sangat merindukan dia, Mark Kim.” Hye Rim menggoyangkan ponselnya pelan. Mark di sana terkikik.
"Do you miss me?”
Eun Ji memanyunkan bibir dengan manja. “Yes, I do.”
••
2 tahun kemudian.
Eun Ji mengepal kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan semakin erat ketika angin musim dingin itu menyerang tubuhnya. Tubuhnya bahkan tidak bisa tetap tenang walau hanya dalam waktu lima detik. Dia kedinginan. Menikmati pemandangan sungai Han di malam hari dan di saat musim dingin tampaknya bukan ide yang bagus. Namun, Eun Ji akan bertahan.
"Lee Eun Ji!" Panggilan itu membuat tubuhnya spontan berbalik ke arah si pemilik suara yang berdiri tidak jauh di sebelah kanannya. Seseorang yang membuatnya menunggu hampir dua jam di sini itu akhirnya datang juga. Eun Ji tidak bisa menahan senyumnya. Senyum bahagia terpatri di wajah mungilnya bersamaan dengan air mata yang jatuh begitu saja. Perlahan kakinya bergerak untuk mendekati laki-laki itu, Mark Kim.
Mark membuka bagian depan jaket musim dinginnya dan segera menarik Eun Ji ke dalam pelukannya. Eun Ji melingkarkan tangannya pada tubuh Mark erat-erat. Keduanya saling menyalurkan perasaan yang tidak dapat ditahan lagi oleh keduanya. Perasaan yang hanya mereka berdua rasakan, tidak peduli bagaimana tanggapan orang lain yang berlalu lalang dan tentu menyaksikan secara langsung momen itu.
"Aku... tidak tahu kapan aku mulai merasa segila ini. Aku benar-benar merasa diriku aneh. Gila...," ujar Eun Ji lirih dengan suara bergetar. "Dan kau membuatku seperti ini, Mark. Ya, hanya kau," tambahnya.
Mark semakin mengeratkan pelukannya dengan tangan kanan yang mengelus pelan rambut Eun Ji. Perasaannya masih sama untuk gadis itu. Dan sekarang, Mark benar-benar merasa bersalah. Bersalah karena dia meninggalkan Eun Ji di hari yang seharusnya membuatnya bahagia karena Hye Rim kembali. Mark ingin memperbaiki semuanya.
"Mark! Kau benar-benar menyebalkan! Kau..." Eun Ji tidak dapat melanjutkan semua kata-kata yang sebenarnya tertahankan dalam hatinya. Hanya beberapa kali pukulan pada d**a Mark sebagai ungkapan betapa dia marah akan apa yang sudah dilewatinya hingga saat ini hanya karena merindukan laki-laki itu.
"Maaf," ucap Mark akhirnya. Hanya satu kata itu yang sejak tadi ingin sekali ia ucapkan namun terasa sangat sulit. Dan ia lega sekarang. Sangat lega.
"Jangan menangis lagi. Kita seharusnya bersenang-senang hari ini. Ah, tidak. Untuk seterusnya." Mark menambahkan, sembari mengakhiri sesi pelukan mereka. Tanpa diduga oleh Eun Ji, tangan kanannya tiba-tiba saja ditarik oleh Mark yang kemudian dimasukkan ke dalam saku jaketnya. "Aku tahu kau kedinginan," kata Mark.
Keduanya mengobati rindu masing-masing dengan menghabiskan sisa waktu di hari itu untuk bersama-sama dan bersenang-senang. Pacaran mungkin hanya status dan akan terdengar menggelikan bagi mereka, dan lebih dari itu, mereka saling memiliki satu sama lain.
••
Eun Ji segera melepaskan sarung tangan yang dipakainya sejak tadi ketika tiba di rumah. Ia mengangkat tangan kirinya dan memperhatikan cincin yang terpasang di jari manisnya. Cincin itu adalah cincin yang telah terpasang di jarinya selama empat tahun lebih, yang diberikan Mark untuknya ketika mereka pertama kali menghabiskan waktu bersama di Myeongdong. Cincin itu masih terjaga dengan baik hingga sekarang. Mengingatnya kembali sekarang membuat Eun Ji tersenyum geli.
"Kau baik-baik saja?"
Melihat Seung Min berdiri di bawah tangga, Eun Ji menghentikan langkah. Mungkin, maksudnya bertanya begitu karena setelah sekian lama, Eun Ji akhirnya bisa tersenyum bodoh seperti ini. Malam-malam begini.
"Kau harus cepat-cepat mencari pacar. Jangan menutup dirimu dari para gadis yang ingin mendekatimu." Eun Ji menepuk pelan pundak Seung Min dan melewatinya menaiki tangga.
Seung Min masih bertanya-tanya dengan bingung karena perubahan sikap Eun Ji hanya dalam semalam ketika ponselnya berdering singkat tanda pesan baru masuk.
From : Mark
Aku sudah tiba di Korea tadi sore. Pertemuanku dengan Eun Ji juga berhasil. Terima kasih banyak untuk bantuanmu selama ini.
Seumg Min menghela napas.
"Jadi ini? Ini yang membuatnya jadi aneh seperi itu?" cibirnya.
••
"Hye Rim ... biarkan aku beristirahat sebentar."
Tanpa menunggu orang yang diajak bicara merespon, Eun Ji langsung duduk di salah satu kursi dekat kasir toko itu. Tangannya memijat leher dan kakinya yang sudah kelelahan berdiri selama kurang lebih dua jam dan melayani pelanggan toko bunga milik Hye Rim ini.
Setelah wisuda, Hye Rim memutuskan untuk membuka usaha sendiri, yaitu toko bunga, bermodalkan uang yang ditabungnya selama kuliah.
Dan Eun Ji beserta Jin Young, lebih memilih untuk membantu Hye Rim mengurus tokonya daripada menemani ayah mereka untuk mengurus perusahaan. Setidaknya untuk sekarang.
"Bukannya kau sendiri yang bilang ingin membantuku?" cibir Hye Rim.
"Kau hanya berjalan-jalan untuk mengabsen setiap tanamanmu. Sedangkan aku harus berdiri melayani setiap pelanggan yang banyak maunya seperti tadi." Kembali lagi Eun Ji mengingat seorang wanita paruh baya yang datang kemari tadi. Yang membuat Eun Ji kesal adalah ibu itu tak habis-habisnya berceloteh dan mengkritik tentang tanaman-tanaman yang ada di sini. Dan pada akhirnya, ibu itu pergi dengan tangan kosong. Benar-benar menyebalkan, bukan?
"Baru seperti itu saja kau sudah mengomel. Bagaimana jika orang yang lebih parah dari itu? Aku yakin tangan atau kakimu bisa melayang ke mereka,” balas Hye Rim sambil menyiram salah satu tanaman.
"Eun Ji?"
Tak hanya Eun Ji, Hye Rim pun ikut memalingkan wajah ke arah yang sama setelah mendengar nama Eun Ji dipanggil. Eun Ji langsung berdiri dengan semangat dan berseru, “Seung Min!”
Eun Ji pun tak kuasa menahan dirinya untuk tidak memeluk Seung Min yang sudah beberapa minggu tak ditemuinya karena laki-laki itu menemani ibunya ke Jeju.
"Hmm... kau merindukanku, ya?" tanya Seung Min percaya diri. Ia lalu menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu.
Eun Ji berdecak. “Ya! Aku memang merindukanmu, sekarang kau puas, kan?"
Tak jauh di luar toko itu, Mark menyaksikan semuanya. Bagaimana Eun Ji tersenyum sebahagia itu untuk Seung Min. Bagaimana mereka berpelukan dengan erat dan saling melepas rindu satu sama lain. Mark yakin ada sesuatu yang dilewatkannya selama dirinya tidak ada di samping gadis itu.
Seung Min ... apa yang kau lakukan di belakangku?
Pertanyaan itu menggiring langkahnya memasuki toko. Mereka menyadari kehadirannya bahkan tanpa Mark menegur.
"Mark!" Pekik Eun Ji girang dengan senyum merekah makin lebar dan segera menghampiri kekasihnya itu.
"Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?"
Bukannya menjawab pertanyaan Eun Ji, Mark malah mendekati Seung Min yang merasa aneh ditatap dengan cara yang tak biasa. Seung Min menepuk bahunya sambil berusaha tertawa. “Kenapa tegang begitu?”
Mark menepis tangan Seung Min dengan kasar. "Apa maksudmu, Seung Min? Aku melihat semuanya! Mau menusukku dari belakang?" tanyanya yang sarat akan amarah. Seluruh mata tertuju padanya.
Eun Ji berusaha menyadarkannya. “Mark, apa yang—“
"A-apa maksudmu, Mark?" potong Seung Min cepat. Ia terlalu bingung dengan kemarahan tak berdasar Mark.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Apa maksudmu seperti itu dengan Eun Ji?” Mark tak tahan lagi melihat ekspresi tanpa dosa Seung Min.
"Mark, kau kenapa?!" Eun Ji memegang lengan Mark, namun, Mark menepismya.
“Kenapa kau memeluknya? Apa hubungan kalian yang tidak aku tahu?” Mark menuntut penjelasan.
Eun Ji dan Seung Min kompak menghela napas, yang membuat Mark semakin tidak mengerti.
"Mark, kau salah paham," ucap Eun Ji berusaha tenang.
Hye Rim yang menyaksikan hanya menahan tawa.
"Salah paham apanya? Kalian sangat dekat... Aku melihat kalian," balas Mark bersikeras.
Sebelum ada lagi yang berbicara di antara mereka, Seung Min segera menarik Mark untuk keluar dari toko dan pergi ke sebuah taman yang tidak jauh dari sana. Ia hanya tidak ingin kalau pengunjung toko itu merasa tidak enak mendengar perdebatan mereka.
"Mark, dengarkan aku," pinta Seung Min. Mark hanya diam dan menyeringai.
“Jujur, aku memang sempat menyukai Eun Ji saat itu.”
Tangan Mark mengepal kian keras. Benar-benar ada yang disembunyikan darinya.
Sekali lagi, Seung Min menghela napas. "Tapi aku tahu aku tidak bisa mempertahankan perasaan itu. Aku selalu mencari cara agar aku bisa melupakannya. Hingga pada akhirnya aku tahu bahwa ibuku akan menikah dengan ayahnya. Dan, saat itu kurasa itu adalah satu-satunya jalan agar aku tetap bisa menyayangi Eun Ji, bukan seperti orang yang kucintai, tapi lebih seperti kepada adikku. Kami bersaudara sekarang. Aku sudah terbiasa dan menyukai status kami yang seperti ini. Kami berkeluarga," jelasnya. Seung Min berharap Mark mengerti tentang semuanya yang terjadi sekarang.
Kemarahan Mark lenyap. Ia telah salah paham. Ia menduga yang tidak-tidak sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Maafkan aku," ucapnya kemudian. “Aku hanya khawatir karena aku tidak ada di sampingnya selama beberapa tahun. Aku takut dia—“
“Hanya kau, Mark. Dia mencintaimu. Dia memikirkanmu setiap hari.”
Mark tersenyum miring. “Sudah kuduga.”
Seung Min akhirnya bisa bernapas lega. Ia menepuk pundak Mark, dan berkata, "Kau harus berjanji padaku untuk menjaga Eun Ji dengan baik. Dan, satu lagi. Jangan biarkan Eun Ji tahu perasaanku. Aku tidak ingin dia mengetahuinya."
••
"Oh My God!"
Seung Min yang tengah berjalan mengitari rak di toko buku itu akhirnya menoleh dan menemukan seorang gadis berkacamata tampak kesulitan mengambil buku yang letaknya terlalu tinggi untuk ia gapai.
Seung Min akhirnya bergerak untuk membantunya. "Ini," ucapnya, sembari menyodorkan buku tebal bersampul hitam itu padanya.
Senyum gadis itu merekah. “Ah, terima kasih," balasnya tersipu.
"Hei, kau... Jessica Lee, kan?" tanya Seung Min ragu setelah merasa tak asing dengan kacamata bulat dan bentuk mata monolid-nya. "Kau junior di sekolahku dulu, kan?" tanyanya lagi.
"Ya," jawab gadis itu tersenyum malu. "Kau masih ingat denganku?"
"Kau benar-benar Jessica Lee?” Kali ini Seung Min terlalu terkejut sampai ia menggenggam kedua bahu gadis itu.
Jessica menatapnya kecewa. “Kau lupa dengan wajahku, ya? Kau benar-benar ....”
Seung Min melepas gadis itu. “Justru karena aku mengingatmu, jadi aku memastikan.”
Jessica memicingkan mata, tak yakin.
Seung Min terkekeh pelan. Dia masih ingat, Jessica Lee adalah seorang junior di sekolahnya, dan karena dia memiliki darah campuran Korea-Amerika, gadis itu tidak diterima dengan baik di kelasnya. Seung Min yang kasihan melihat nasib gadis itu akhirnya selalu membelanya.
Hingga suatu hari mereka sama-sama terlambat ke sekolah dan bolos. Saat menghabiskan waktu bersama Jessica itulah, Seung Min bisa melihat bagaimana perbedaan kepribadian gadis itu saat di sekolah dan di luar sekolah. Jessica yang di sekolah adalah seorang gadis pendiam dan pemalu. Jessica yang di luar sekolah adalah Jessica yang ceria, bersemangat, dan dipenuhi rasa ingin tahu.
Saat itu, Seung Min yakin ia jatuh cinta padanya. Sesederhana keinginannya untuk melihat Jessica tertawa dan menjadi dirinya sendiri saat bersama Seung Min. Diam-diam, Jessica juga menyukai sosok Choi Seung Min yang selalu ada untuknya.
"Kau terlihat seperti orang Korea asli," goda Seung Min, yang berhasil membuat Jessica mendelik kepadanya. Tanpa mengatakan apa pun, ia pergi dari sana dengan kesal.
"Hei, jangan begitu! Aku bercanda!" Seung Min mengejarnya, lantas memegang tangan gadis itu, bermaksud menahannya untuk tidak pergi.
Jessica tersenyum. Seung Min masih sama seperti dulu. Dan perasaan sukanya terhadap laki-laki itu masih sama. Jessica rindu menghabiskan waktu bersamanya.
"Kau belum makan siang?" tanya Seung Min, yang sekaligus menjadi awal perjalanan-menghabiskan-waktu-bersama mereka hari itu.
Dari luar toko, Eun Ji memperhatikan mereka sambil tersenyum puas. Rencana mereka berhasil. Eun Ji dan Jessica. Eun Ji berhasil mempertemukan mereka kembali.
Flashback
"Jadi kau ingin minta tolong apa?”
"Begini," gadis itu mulai menjelaskan tentang maksudnya menemui Eun Ji. "aku dan Seung Min sangat dekat saat sekolah dulu. Tapi akhirnya dia lulus lebih dulu dan aku sendiri lagi. Dia adalah seseorang yang bisa membuatku menunjukkan diriku yang sebenarnya. Aku ingin berterima kasih padanya. Dan, satu lagi, “ Jessica mendekat, “aku sebenarnya menyukainya.”
Eun Ji, sejujurnya, terkejut gadis itu terlalu mudah berterus terang dengan perasaannya.
"Lalu, kenapa kau memberitahukan itu padaku?" tanya Eun Ji.
"Karena aku tahu kalian bersaudara, kurasa itu akan lebih baik jika aku memberitahu Eun Ji sunbaenim, lagipula kita sama-sama perempuan." Jessica tersenyum malu.
Eun Ji tersenyum geli, lantas mengangguk kemudian. “Baiklah. Aku akan membantumu.”
••