Eun Ji menghempaskan tubuh mungilnya di atas ranjang empuknya. Pikirannya masih belum lepas dari perkataan ayahnya tadi yang seketika menghantuinya.
Eun Ji menghela nafas ketika pesan terakhir ayahnya terngiang di kepalanya. "Sebaiknya, kau mulai membiasakan diri untuk berbuat baik pada Mark."
Berbuat baik?
Bagaimana bisa Eun Ji berbuat baik pada seseorang yang dibencinya? Oh, ayolah. Tidak hanya dirinya yang memegang prinsip seperti itu. Mana ada, sih, orang yang berbuat baik pada musuhnya sendiri?
Tapi yang membuat Eun Ji semakin bingung dan penasaran, apa alasan ayahnya mengatakan hal semacam itu? Seolah-olah dia membela Mark dibandingkan anaknya sendiri. Seolah-olah dia mengenal Mark lebih baik dari Eun Ji sendiri.
••
"Tugas proyek?!" teriak seisi kelas.
"Ya. Tapi tenang saja. Kalian akan mengerjakannya dengan teman kelompok kalian. Dalam satu kelompok terdiri dari 3 orang," kata Park ssaem. "Dan siapa teman kelompok kalian, akan saya tentukan," lanjutnya.
Seisi kelas kompak berseru kecewa, termasuk Eun Ji. Ia memang lebih suka memilih teman kelompok sendiri dibandingkan harus ditentukan oleh guru. Terkadang, guru itu seenaknya saja membentuk kelompok. Sudah dua kali Eun Ji harus merasakan bagaimana rasanya bekerja sama dengan teman kelompok yang tidak mendukung: seseorang yang susah diatur dan banyak tingkah, contohnya Kim Ji Won, dan ada juga seseorang yang lucu dan imut namun cukup pendiam, Kim Jung Kook. Walaupun otak cukup mendukung, tapi dengan kepribadian seperti itu tetap saja akan membuat pekerjaan tidak berjalan lancar.
Eun Ji tidak ingin lagi mendapatkan teman kelompok seperti mereka.
"Lee Eun Ji!"
Panggilan itu lantas menyadarkan Eun Ji dari lamunannya. Eun Ji beranjak dari tempat duduknya, berjalan menghampiri Park ssaem yang duduk di kursi guru.
"Ya, ssaem," ucap Eun Ji setelah sampai di dekatnya.
"Ini. Kau akan bekerja dengan mereka. Semoga berhasil," kata Park ssaem, lalu memberikan selembar kertas kecil yang bertuliskan tiga nama teman kelompoknya.
Mark Kim.
Kim Hye Rim.
"Mark Kim?" Eun Ji membulatkan matanya.
Mendengar namanya disebut, Mark memperhatikan Eun Ji dari tempat duduknya.
"Park ssaem ... apakah dia ... tidak bisa diganti saja? Sudah dua kali ssaem menempatkan orang yang tidak tepat dalam kelompokku. Jangan biarkan ini menjadi yang ketiga kalinya. Tolong ..." pinta Eun Ji seraya memasang wajah memelas.
Park ssaem mencondongkan badannya mendekati Eun Ji sambil tersenyum menggoda.
"Aku tahu tentang berita itu. Jadi aku akan mendukung hubunganmu dengannya. Tenang saja ...."
Mendengar bisikan guru itu membuat Eun Ji serasa ingin pingsan saat itu juga.
Hubungan? Mereka bahkan hanya memiliki hubungan sebagai musuh. Apakah itu spesial?
"Ssaem ... ini--"
"Tidak apa-apa, Ssaem. Kami akan bekerja dengan baik." Mark tiba-tiba muncul entah dari mana dan memotong perkataan Eun Ji.
"Oh, God," umpat Eun Ji kesal lalu bergegas kembali ke bangkunya.
Sebelum tiba di tempatnya, Eun Ji menyempatkan diri untuk menghampiri Hye Rim yang bangkunya kini cukup jauh dengan tempat Eun Ji.
"Hye Rim! Kita berada di kelompok yang sama," ucap Eun Ji girang. Tapi perlahan senyuman itu memudar, mengetahui reaksi yang diberikan Hye Rim untuknya sungguh jauh berbeda dengan yang diharapkannya.
"Jinjja? Oh, baguslah."
Hanya itu. Hanya sebuah balasan singkat yang diberikan dengan wajah datar. Sepertinya Hye Rim tidak begitu senang dengan fakta bahwa mereka sekelompok.
"Apa yang terjadi denganmu, huh?" Kecewa dengan reaksi yang diberikan Hye Rim, Eun Ji akhirnya meninggalkannya dan berjalan ke tempat duduknya.
Hye Rim yang sekarang, bukan lagi seperti Hye Rim yang dulu dikenal Eun Ji. Eun Ji rasa, ia perlu mencari tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
••
Sambil menikmati makanan yang dikunyah di mulutnya, Eun Ji memfokuskan pandangan pada Hye Rim yang duduk membelakanginya di meja seberang Eun Ji. Eun Ji penasaran. Bahkan sangat penasaran tentang alasan Hye Rim yang mendadak menghindar darinya.
Jin Young yang duduk di samping Eun Ji menoleh ke arahnya dan menatapnya bingung.
"Wae? Kenapa kau melihatnya seperti itu?" tanya Jin Young.
Tanpa melepas pandangannya pada Hye Rim, Eun Ji menjawab, "Hanya penasaran."
"Penasaran?"
"Hm. Apa kau tidak penasaran dengan sikapnya? Dia menghindari kita!" Eun Ji menoleh ke arah Jin Young saat mengucapkan kalimat terakhir.
"Kenapa kau begitu peduli?" balas Jin Young santai yang membuat Eun Ji menatapnya tajam.
"Tentu saja, pabo! Dia sahabatku!" seru Eun Ji seraya mendaratkan jitakan tepat pada kening Jin Young.
Jin Young yang merasa kesakitan hanya bisa mengelus keningnya. "Ya! Beraninya kau."
Tanpa membalas Jin Young lagi, Eun Ji mengangkat nampan makanannya lalu meninggalkan Jin Young di sana. Jin Young yang menyadari itu, buru-buru mengejar Eun Ji.
"Eun Ji! Tunggu aku!"
Sesaat setelah mereka pergi dari tempatnya, Hye Rim memperhatikan mereka. "Mereka ... ada-ada saja," gumamnya setelah menyaksikan Jin Young dan Eun Ji yang terlihat masih saling bercanda hingga keluar dari kantin.
Meskipun sejujurnya dia cemburu, tapi tingkah mereka tetap saja tidak bisa membuat Hye Rim menahan senyumnya. Sekarang, ia sadar, betapa beruntungnya dirinya memiliki sahabat seperti mereka. Ya, kalau saja Hye Rim tidak melakukan tindakan buruk itu, mungkin dirinya akan ikut tertawa bersama Eun Ji dan Jin Young saat ini.
••
"Kalau saja aku tidak menganggapmu teman sejak kecil, mungkin Eun Ji sudah tahu semuanya sejak kau memberitahuku tentang hal itu."
Jin Young tiba-tiba muncul saat Hye Rim baru saja keluar dari kantin.
"Kalau kau tidak ingin dia mengetahuinya, kau seharusnya tidak bersikap seperti ini.
Dengan sikapmu yang seperti ini, itu akan mengundang rasa penasaran Eun Ji. Kau tahu 'kan, bagaimana dia kalau sudah penasaran?" kata Jin Young.
"Hmm," jawab Hye Rim lesu. "Aku juga sedang berusaha. Ngomong-ngomong, kau juga berada di pihakku?" tanyanya.
"Tidak juga. Aku hanya ingin sedikit membantumu untuk hal ini. Ingat! Hanya se-di-kit," jawab Jin Young, membuat Hye Rim tersenyum saat itu juga.
"Lagipula ... rasanya tidak mungkin kalau aku membela yang salah. Aku hanya ingin membantumu untuk memperbaiki ini semuanya." Jin Young menambahkan lagi.
"Ya, terima kasih," balas Hye Rim senang seraya mengacak rambut Jin Young, lalu berjalan lebih cepat mendahului Jin Young.
Jin Young terdiam sambil menyentuh rambutnya yang diacak oleh Hye Rim. Perasaannya tiba-tiba jadi aneh.
"Apa yang baru saja dilakukannya? Ya! Hye Rim!" Jin Young berlari mengejar Hye Rim.
••
Kelas Eun Ji kosong. Eun Ji yang baru saja duduk di bangku kelasnya langsung merogoh isi tasnya dan mengeluarkan mp3 beserta earphone putihnya. Setelah selesai memutar lagu lewat mp3, ia kemudian menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan yang dilipat di atas meja.
Seolah-olah dunia tidak ingin membiarkan gadis cantik itu untuk menikmati waktu luangnya untuk bersantai, Mark tiba-tiba muncul dan duduk di bangku sebelahnya.
Mp3 yang dibiarkan terletak di atas meja, memberikan peluang bagi Mark untuk melancarkan aksinya. Diam-diam, ia memencet tombol pause pada mp3 itu. Otomatis, lagu yang terputar kini berhenti.
Eun Ji lantas mengangkat wajahnya dan menoleh pada Mark di sebelahnya. Senyum jail laki-laki itu tampak sangat jelas. Eun Ji lantas memelototimya.
"MARK!!" teriak Eun Ji jengkel setelah benar-benar menyadari bahwa laki-laki itu adalah Mark.
Eun Ji melepaskan earphone-nya, lalu menatap Mark. "Ya! Tidak bisakah kau membiarkanku hidup dengan tenang sekali saja? Apakah itu terlalu sulit? Apakah tidak ada orang lain selain aku yang kau ganggu? Kenapa harus aku, huh?" bentak Eun Ji tak tahan lagi.
"Apa yang baru saja kau katakan? Aku tidak mendengar dengan jelas. Aku masih belum cukup pandai menerjemahkannya dalam otakku," keluh Mark.
"Kau! Pindah sebelum aku benar-benar mengamuk!" teriak Eun Ji menahan amarahnya.
"Aku hanya ingin membicarakan tentang tugas itu."
"Hei ... waktu yang diberikan adalah 3 minggu. Dan kau menanyakannya sekarang? Sekalipun kau menanyakannya besok atau minggu depan, tugas itu tetap akan selesai tepat waktu," jawab Eun Ji ketus.
"Aku hanya berpikir lebih cepat itu lebih baik."
"Tapi kau menanyakannya di saat yang tidak tepat!"
Mengabaikan Mark, Eun Ji kembali memasang earphone di telinganya dan memutar kembali lagu yang sempat terhenti tadi lewat mp3. Lalu, ia kembali ke posisi sebelumnya.
"Kau benar-benar keras kepala," umpat Mark.
Namun, Eun Ji masih bisa mendengar apa yang dikatakan Mark, walaupun samar-samar.
"Aku bisa mendengarnya."
Mark melayangkan kepalan tangannya ke kepala Eun Ji saking jengkelnya. Tapi, sadar kalau Eun Ji kembali mengangkat kepalanya dan menoleh ke arahnya, Mark segera menurunkan tangan dan tersenyum lebar padanya.
••
Seperti yang telah disepakati bersama, kerja kelompok diadakan di rumah Eun Ji. Yah, jujur saja Eun Ji sama sekali tidak menginginkannya. Tapi berhubung kedua teman kelompoknya itu punya pemikiran dan pendapat yang sama, mereka setuju kalau mereka mengerjakannya di rumah Eun Ji.
Mereka mulai mengerjakan tugas itu malam ini. Tiga hari setelah Park ssaem memberikan tugas itu.
Bosan menunggu kedua teman kelompoknya yang belum juga datang, Eun Ji mendekati jendela kamarnya. Sekadar melihat rumah yang berhadapan dengan rumahnya.
"Aish ... ke mana dia? Kenapa lama sekali?" Eun Ji menghela napas. "Dia bahkan tinggal di rumah yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari rumahku."
Tak lama kemudian, mata Eun Ji menangkap sosok Hye Rim di bawah sana. Eun Ji buru-buru turun dan membukakan pintu.
"Kim Hye Rim!" seru Eun Ji girang. Hye Rim yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya tersenyum sambil terus berjalan menghampiri Eun Ji yang berdiri di ambang pintu rumahnya.
"Sudah lama sejak aku terakhir kali masuk ke rumahmu," ujar Hye Rim seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah Eun Ji setelah masuk.
Eun Ji hanya terkekeh.
"Ngomong-ngomong, appa-mu di mana?" tanya Hye Rim mencoba untuk mengubah topik pembicaraan.
"Dia sedang ada rapat di kantornya. Tapi mungkin sebentar lagi dia akan pulang. Appa-ku tidak begitu betah dengan suasana kantor yang ramai. Sekalipun tugasnya sebagai pemilik perusahaan menumpuk, ia akan menyelesaikannya di rumah," jelas Eun Ji.
Omong-omong, dua hari yang lalu, Hye Rim tiba-tiba menghampiri Eun Ji lebih dulu saat jam istirahat berlangsung. Eun Ji yang menyadari sikap Hye Rim mulai kembali seperti dulu, segera menginterogasinya. Namun, Hye Rim tidak punya pilihan lain selain menutupi kebenaran. Eun Ji juga tidak ingin mengusiknya lebih lama. Jadi, sejak saat itu, hubungan keduanya membaik.
"Kau ... kenapa tidak menghubungiku kalau sudah hampir sampai? Dengan begitu aku bisa lebih cepat membukakan pintu untukmu," kata Eun Ji begitu mereka sampai di kamar.
Hye Rim hanya membalas dengan senyuman.
"Boleh aku pinjam ponselmu?"
Hye Rim segera menjauhkan ponsel yang dipegangnya dari Eun Ji. Lalu buru-buru memasukkannya ke dalam tas. Untung saja dia ingat, foto itu belum sempat dihapusnya. Tidak hanya foto itu, tapi juga pesan yang sudah beberapa hari ini ia biarkan tersimpan di kotak pesannya.
Eun Ji mengernyit. "Kenapa? Apa aku tidak boleh meminjam ponselmu?"
"Ah, bukan begitu. Aku--" Belum sempat Hye Rim menyelesaikan apa yang akan dikatakannya, suara bel rumah menginterupsi.
Eun Ji segera berlari turun.
"Kau! kenapa lama sekali, huh?" Eun Ji langsung menyemprot Mark setelah membukakan pintu.
"Mianhae." Mark tersenyum lalu masuk ke dalam rumah Eun Ji.
Baru saja beberapa langkah memasuki rumah itu, pintu kembali terbuka. Seseorang muncul dari balik pintu.
"Appa?" Eun Ji menyahut begitu melihat ayahnya sudah pulang.
"Oh, ada Mark juga. Apa kalian sedang punya urusan?" tanya ayahnya begitu melihat Mark yang berdiri di sebelah Eun Ji.
Tidak lama setelah pertanyaan itu diajukan, Hye Rim tiba-tiba saja ikut hadir dan berdiri di tengah-tengah mereka.
"Ahjussi," sapa Hye Rim.
"Ah, apakah kalian sedang mengerjakan tugas kelompok?"
"Ya,” jawab ketiganya kompak.
"Ya sudah. Selamat bekerja." Ayah Eun Ji kembali berjalan menuju lantai dua, ke kamarnya. Namun sebelum menginjakkan kakinya pada anak tangga, ayahnya sempat menepuk pundak Mark. Mark hanya tersenyum malu. Dan Eun Ji hanya bisa mengerutkan kening melihat kejadian itu.
"Ayo, mari kita kerjakan sekarang," sahut Hye Rim bersemangat.
••
Mark menengok jam dinding yang terpajang di atas pintu kamar Eun Ji. Jam tujuh lewat lima menit. Matanya kemudian beralih pada gadis di hadapannya ini, Eun Ji. Baru saja pukul tujuh, gadis itu sudah mulai menunjukkan tanda-tanda akan terlelap sebentar lagi. Sesekali Mark sampai menahan tawanya ketika kepala Eun Ji beberapa kali terjatuh dan terkantuk meja.
Ternyata, tidak hanya Mark yang melihat itu, Kim Hye Rim yang duduk di sana juga melihatnya.
"Aish ... bukannya mencari bahan, tapi malah tidur," umpat Hye Rim sambil geleng-geleng kepala, lalu lanjut mengetik pada laptop.
Seakan tak peduli lagi dengan sekitarnya, Eun Ji akhirnya benar-benar tertidur dengan pipi kanannya yang menempel pada meja tanpa alas. Mark melihatnya sebagai sesuatu yang lucu dan menarik perhatiannya. Diam-diam, Mark meraih ponsel dan mengambil foto wajah Eun Ji yang tertidur lelap itu.
"Hei, bangun!" teriak Mark, lantas menendang kaki meja.
Eun Ji tersentak dan segera bangun, masih dengan mata yang setengah terbuka.
"Tugas kita belum selesai dan kau hanya tidur? Bagus sekali," sindir Mark.
"Aku cuci muka dulu." Masih setengah sadar, Eun Ji akhirnya bangkit berdiri, sampai dirinya nyaris terjatuh. Mark dengan sigap menangkap tubuh Eun Ji. Namun yang terjadi setelahnya, dirinya dan Eun Ji sama-sama terjatuh dengan posisi tertidur di lantai, dengan gadis itu yang menindih tubuh Mark.
Mark menatap lekat wajah Eun Ji. Pelan-pelan, mata Eun Ji mulai terbuka lebar. Dan semakin lebar ketika mendapati sosok wajah Mark yang begitu dekat dengan wajahnya.
"YA!!" teriak Eun Ji, lalu secepat mungkin bangkit.
Keduanya kini sama-sama melihat ke satu arah, yaitu Hye Rim yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu.
"Kau ... kenapa melihat kami seperti itu? I-tu hanya tidak sengaja," ucap Eun Ji gugup, lalu bergegas menuju ke kamar mandi.
Eun Ji membasuh wajahnya, kemudian menatap pantulan dirinya pada cermin.
"Aish ... apa yang kau lakukan, Eun Ji?" gumamnya kesal pada diri sendiri sambil menepuk pipinya berkali-kali.
Sampai kemudian dia merasakan sesuatu yang aneh. Perlahan, tangannya menyentuh d**a sebelah kirinya. Sangat terasa. Detak jantungnya memburu.
"Hentikan!" Eun Ji mengerang frustasi.
Mark dan Hye Rim yang hanya duduk diam di tempatnya dalam keheningan, tentu saja bisa mendengar suara Eun Ji. Seolah berpikir tentang hal yang sama, Mark dan Hye Rim berlari mendekati pintu kamar mandi, lalu menempelkan telinga pada pintu.
Mengetahui gagang pintu kamar mandi yang terputar, mereka segera berpaling dan berjalan santai seolah tidak terjadi apa pun. Eun Ji yang melihat tingkah aneh mereka hanya bisa menatap mereka dengan heran.
Lima belas menit berlalu begitu cepat. Mereka bertiga yang ada di ruangan itu masih bungkam. Saking heningnya, sampai-sampai hanya suara jarum jam yang berputar yang terdengar dalam kamar Eun Ji itu. Suara angin yang keluar dari AC pun ikut terdengar.
Suasananya jadi sangat canggung selama beberapa saat, sampai Mark dan Eun Ji kompak bersuara, "Sudah malam--"
Mark dan Eun Ji saling menatap.
"Ya. Kita akan melanjutkan besok. Yah, untung saja kita diberi hari libur yang cukup, jadi kita bisa menyelesaikan ini dengan cepat," Hye Rim tiba-tiba menyahut sambil membereskan barang-barangnya.
"Aku pulang dulu. Sampaikan salamku untuk appa-mu. Annyeong!" Hye Rim berjalan keluar dari rumah sambil melambaikan tangannya ke arah Eun Ji dan Mark.
Setelah Hye Rim benar-benar pergi, kini hanya tinggal Mark dan Eun Ji berdua.
"Hei! Kenapa masih di sini?" tanya Eun Ji dengan nada ketus.
"Jadi, kau mengusirku?"
"Tentu saja, pabo!" Eun Ji kemudian mendorong tubuh Mark keluar dari rumahnya lalu segera menutup pintu.
Tapi tak lama kemudian, Eun Ji kembali membuka pintu dengan cepat. "Maaf,," ucapnya cepat lalu kembali menutup pintu dengan tergesa.
Mark terdiam, tapi tidak lama kemudian ia tersenyum. Tersenyum melihat tingkah Eun Ji yang menurutnya lucu itu. Tapi kemudian ia menampar kecil pipinya sendiri. Mark harus sadar dan ingat, kalau hubungan mereka tidak lebih dari sebatas musuh. Yah, walaupun untuk beberapa hari ke depan, mereka harus mengesampingkan masalah pribadi mereka.
••
Eun Ji merapikan isi kamarnya. Mulai dari meja dan kursi, beberapa buku yang sempat dipakai Hye Rim yang berserakan, dan satu lagi. Mata Eun Ji tiba-tiba saja mendapati sebuah benda yang sebelumnya tidak pernah berada di kamarnya. Sebuah dompet. Dibukanya dompet itu dan tampak sebuah foto terpajang di sana. Eun Ji mengeluarkan foto itu lalu memperhatikannya dengan seksama.
Salah satu dari ketiga orang yang ada di dalam foto itu adalah Mark, dan dua lainnya adalah kedua orang tuanya. Tampak sangat bahagia jika dilihat dari foto itu. Tapi kemudian, mata Eun Ji menangkap sebuah tulisan di ujung bawah foto itu.
Miss You, Mom :')
Apakah ibunya juga sudah meninggal? tanya Eun Ji dalam hatinya.
Namun, seakan tidak ingin tenggelam dalam pikirannya sendiri, Eun Ji kemudian mengembalikan foto itu ke dalam dompet dan menyimpannya dia dalam laci meja belajarnya.
••
Eun Ji dibalut kemeja hitam kotak-kotaknya dan celana pendek jeans keluar dari kamarnya, turun ke lantai bawah lalu bergegas menuju ke rumah yang berdiri di depan rumahnya itu. Dengan ragu, Eun Ji mengetuk pintu rumah itu. Gugup. Ia bahkan tidak tahu apa yang membuatnya gugup seperti ini.
Sesaat kemudian, sebelum pintu dibuka, Eun Ji menoleh ke belakang, mengedarkan pandangan ke sepanjang jalan, hendak mencari sosok yang benar-benar diharapkannya untuk datang saat ini juga. Kim Hye Rim. Eun Ji berharap sebelum pintu dibuka, Hye Rim sudah berdiri bersamanya di depan pintu ini. Ia ingin menghubungi Hye Rim, tapi ia ingat kalau nomor yang dipakai Hye Rim sebelumnya sudah diganti.
Suara pintu yang terbuka lantas mengalihkan pandangan Eun Ji ke arahnya. Dengan ragu, ia membungkukkan sedikit badannya.
"Hai," sapanya.
Mark yang baru saja membuka pintu menatap Eun Ji sambil mengerutkan kening, heran. Heran melihat sikap Eun Ji yang kadang berubah-ubah terhadapnya. Di waktu tertentu gadis itu bisa marah padanya, tapi tiba-tiba di waktu lain ia juga bisa bersikap baik dan cukup manis di hadapan Mark seperti sekarang.
"Kenapa?" tanya Eun Ji, menyadari tatapan aneh yang diberikan Mark untuknya.
"Hmm ... Tidak apa-apa." Mark menggeleng.
"Masuklah." Mark memberi jalan untuk Eun Ji masuk ke rumahnya.
Eun Ji perlahan melangkah masuk ke dalam rumah itu. Mark menutup pintu lalu ikut berjalan bersama Eun Ji.
Tiba di lantai dua, Eun Ji terlonjak melihat ayah Mark yang tiba-tiba saja keluar dari kamarnya.
"Annyeong haseyo, Ahjussi," sapa Eun Ji sambil membungkuk.
Ayah Mark kemudian tersenyum lalu berjalan mendekati Eun Ji. "Kalian akan mengerjakan tugas, kan? Selamat bekerja."
Ayah Mark kemudian berlalu. Meninggalkan Mark dan Eun Ji yang masih diam mematung di tempat.
"Kenapa diam?" tanya Eun Ji bingung.
"Bukannya kau juga diam?" Mark balas bertanya.
"Aish ... ini kan rumahmu. Seharusnya kau yang bergerak lebih dulu, aku hanya mengikutimu."
"Ya. Benar juga. Mian."
Mereka kembali berjalan, kemudian masuk ke dalam kamar Mark. Sambil Mark menutup pintu, Eun Ji melangkahkan kakinya ke tengah-tengah ruangan. Lalu matanya mendapati sebuah foto yang di atas meja belajar Mark.
"Ini ... kalian? Kapan kalian berfoto? Bukannya kalian baru kenal beberapa hari? Tapi kalian tampak dekat sekali di foto ini," kata Eun Ji seraya mengambil foto itu dan memperhatikannya. Itu geng laki-laki yang terkenal di kelasnya. Bagaimana tidak, isinya semua laki-laki tampan dan penguasa eksktrakurikuler dance, juga band.
"Oh, itu. Ya, saat itu kami sedang makan bersama. Dan untuk merayakan kehadiranku sebagai anggota baru dalam kelompok mereka, kami berfoto saat itu juga," jelas Mark.
Eun Ji hanya mengangguk-angguk meski ia sendiri heran apa kelebihan Mark yang membuatnya cukup layak menjadi anggota geng itu, selain fakta bahwa Mark memang sebenarnya ... tampan. Lalu Eun Ji tiba-tiba saja teringat sesuatu.
Bukannya dia dan Mark bermusuhan? Lalu kenapa sekarang mereka tampak seperti berteman?
Mengingat itu, Eun Ji segera meletakkan kembali foto itu pada tempat sebelumnya dengan kasar.
"Kenapa kau kasar sekali? Kalau ini pecah bagaimana?" Dengan cepat Mark meraih foto itu dan mengelusnya beberapa kali.
"Apa peduliku?"
Mendengar balasan itu, Mark lantas menaruh kembali foto itu pada tempatnya lalu menatap tajam gadis itu.
"K-kau ... k-kenapa?" Eun Ji mengerjap beberapa saat. Gugup melihat tatapan yang diberikan Mark untuknya.
Ternyata tidak hanya tatapan aneh yang diberikan Mark. Perlahan, Mark melangkah mendekati Eun Ji. Semakin dekat, hingga membuat Eun Ji melangkah mundur, mencoba menjauhi pria itu, masih dengan perasaan gugup yang menyelimutinya saat ini.
"Apa yang kau lakukan?!" Eun Ji meninggikan suaranya, masih tampak ketakutan.
Masih berjalan mundur, Eun Ji akhirnya menabrak tembok di belakangnya. Tangan kanan Mark terulur untuk memegang tembok di belakang Eun Ji, untuk menghalangi gadis itu kabur darinya.
Keduanya saling tatap. Tapi tak lama kemudian, Eun Ji melepas pandangannya dari Mark. Tidak tahu kenapa, ia terlalu gugup untuk menatap sepasang mata di hadapannya itu.
"Apa ... yang ingin kau lakukan, huh?" tanya Eun Ji dengan suaranya yang terdengar bergetar.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau meminta maaf padaku atas apa yang telah kau perbuat," kata Mark tanpa melepas pandangannya dari Eun Ji.
"Apa yang aku perbuat?" Eun Ji memprotes.
"Kau masih bertanya? Kau sudah menaruh foto itu dengan kasar dan aku menegurmu, tapi kau malah tidak mau minta maaf."
"Aish ... lupakanlah. Itu hanya sebuah foto. Kau tidak perlu marah!" Eun Ji melawan, kemudian menurunkan tangan Mark dari sana dengan paksa. Eun Ji berjalan menjauhi laki-laki itu.
"Kau ... benar-benar tidak sopan," umpat Mark.
Mengabaikan Mark, Eun Ji duduk di pinggir tempat tidur Mark. Sementara Mark yang melihat itu, kembali menegurnya.
"Hei! Aku tidak menyuruhmu untuk duduk di sana!"
Lagi-lagi Eun Ji tidak ingin merespon perkataan Mark. Eun Ji hanya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempangnya. Merasa jengkel, Mark akhirnya menarik tangan Eun Ji untuk berdiri dan menjauh dari tempat tidurnya.
"Kau kenapa, sih?” teriak Eun Ji sekeras mungkin, membuat Mark hanya bisa menutup telinga serapat mungkin.
"Kenapa? Kau mau marah? Aku yang berhak marah dalam hal ini, bodoh!" Mark lantas berjalan mendekati kursi meja belajarnya, tidak ingin peduli lagi dengan gadis itu.
Namun sebelum sampai di tempatnya, Eun Ji memukul lengan Mark cukup keras. "Aku tamu di sini. Jadi kau harus memperlakukanku dengan baik. Jika tidak, aku akan melapor pada appa-mu!" seru Eun Ji.
Tak lama kemudian, pintu tiba-tiba saja terbuka. Sosok yang baru saja disebut Eun Ji berdiri di ambang pintu.
"Ahjussi." Eun Ji menatap ayah Mark tanpa berkedip.
"Appa? Ada apa?" tanya Mark bingung.
"Tadi appa tidak sengaja mendengar teriakan. Apa itu berasal dari sini?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Eun Ji dan Mark saling menatap satu sama lain. Lantas, Eun Ji menyeringai. Dan Mark tahu maksudnya.
"Ahjussi--"
Sebelum Eun Ji menyelesaikan apa yang akan dikatakannya pada ayah Mark, Mark lebih dulu membungkam mulut Eun Ji dengan tangannya. Eun Ji membelalak dan berusaha melepaskan diri.
Mark tertawa. "Ah, sepertinya teriakan itu dari rumah sebelah. Dan lagipula tidak mungkin juga kalau teriakan itu berasal dari kamar ini, 'kan?" Mark berusaha meyakinkan ayahnya. Setelah itu, Eun Ji berhasil melepaskan tangan Mark dari mulutnya dengan kasar.
"Oh, baiklah." Ayah Mark menatap mereka tak yakin seraya manggut-manggut, lalu keluar dari kamar dan menutup pintu.
"Lihat! Karena kau aku hampir mendapat masalah lagi."
"Kalau begitu perlakukan aku layaknya tamu di sini."
••
Sesekali Eun Ji menengok jam yang terpajang di kamar Mark. Sudah dari beberapa menit yang lalu, kakinya terasa seperti tidak bisa berhenti untuk mondar-mandir pada tempat yang sama. Beberapa kali juga, ia mendesah.
Mark yang sejak tadi sibuk dengan game yang ia mainkan di laptopnya, tentu saja menyadari apa yang diperbuat gadis itu. Sesekali ia menoleh, lalu menghela napas. Mencoba bersabar dengan tingkah gadis berambut coklat itu. Namun, tidak lama setelah ia berusaha untuk bersabar, akhirnya Mark tak tahan juga untuk tidak menegur Eun Ji.
"Apa yang kau lakukan? Berhenti membuat ribut dengan suara kakimu yang terseret-seret itu," tegur Mark jengkel.
Eun Ji kemudian berhenti. Lalu menoleh ke arah Mark. "Ini kakiku. Bukan kakimu," balas Eun Ji singkat, lalu kembali mondar-mandir.
"Sepertinya anak itu tidak akan datang. Jadi kau tidak perlu menunggunya sampai seperti itu," kata Mark.
"Lalu bagaimana kita mengerjakannya? File itu ada di laptopnya," keluh Eun Ji. "Kalau tahu begini aku tidak perlu repot-repot datang kemari. Membuang waktu saja."
Tepat setelahnya, ponselnya tiba-tiba berdering. Eun Ji buru-buru mencari ponselnya di dalam tas.
"Ne, appa. Ada apa?"
"Mwo?"
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini, Appa."
"Ne. Arrasseo. "
Eun Ji mengakhiri percakapan dengan ayahnya lewat telepon dengan raut wajahnya yang gelisah dan kesal. Bahkan tanpa disadari, Eun Ji kembali duduk di pinggir tempat tidur milik Mark.
Mark yang merasa bingung, akhirnya bertanya. "Apa yang terjadi?"
"Appa akan datang ke sini. Dan dia mengunci semua pintu rumah. Jadi aku harus tetap di sini sampai dia pulang," jawab Eun Ji lemas. Moodnya sedang tidak baik sekarang.
"Ehm ... mau kuambilkan minum?" tawar Mark. Dan hanya dijawab dengan gelengan kepala dari Eun Ji. "Aish ... aku tahu kau pasti haus. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkanmu minum." Mark lantas bangkit dari duduknya. Namun baru selangkah, ia berhenti lagi. "Tapi, kau mau minum apa?"
"Terserah," jawab Eun Ji singkat.
"Anak ini benar-benar ...," umpat Mark, lalu beranjak dari tempatnya menuju dapur di lantai bawah.
Melihat Mark yang sudah pergi dari tempatnya, Eun Ji memutuskan untuk ikut turun ke lantai bawah, hanya ingin mencari ayahnya di sana.
Tiba di bawah, Eun Ji tanpa sengaja mendengar suara obrolan dan tawa dari dalam sebuah ruangan, tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Eun Jikemudian mendekat, lalu menempelkan telinga kirinya pada pintu. Gadis itu hanya penasaran dengan obrolan ayahnya dan ayah Mark.
Namun, Mark diam-diam ikut menguping di sampingnya.
Hingga tak lama kemudian, tubuh Mark dan Eun Ji sama-sama menegang, setelah mendengar obrolan itu lebih jauh.
"Apa maksudnya?" Mereka melontarkan pertanyaan itu bersamaan.
Kemudian yang terjadi setelahnya adalah Eun Ji dan Mark berdiri berhadapan, lalu saling menatap satu sama lain. Sepertinya, mereka memikirkan hal yang sama saat ini.
••