"Kau juga mendengarnya?" tanya Eun Ji pada Mark, tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
Ragu-ragu, Mark mengangguk.
"Ini tidak mungkin ...," kata Eun Ji.
Sesaat setelah mengatakan itu, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka. Sosok ayah masing-masing muncul di sana. Mark dan Eun Ji melihat ke arah ayah masing-masing, masih dengan keterkejutan mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Ayah Mark bertanya.
"Ehm ... Tidak ada. Tadi kami hanya kebetulan lewat di sini," jawab Mark asal.
"Oh, begitu. Tugas kalian sudah selesai?" tanya ayah Mark lagi.
"Satu teman kami tidak datang. Jadi kami belum sempat melanjutkannya." Kali ini Eun Ji yang berbicara.
"Lalu kau ingin pulang?"
"Y-ya ...."
••
Eun Ji menutup rapat pintu kamarnya, lalu menyandarkan punggungnya pada pintu. Pikirannya kini tengah sibuk memikirkan dan memutar ulang percakapan antara ayahnya dan ayah mark yang ia dengarkan beberapa saat yang lalu. Jujur saja, ia tidak menyangka itu akan terjadi.
Perjodohan? Dirinya dan Mark?
Eun Ji berharap dan bahkan sangat berharap kalau telinganya salah mendengar. Haruskah ia mengatakan pada ayahnya kalau dirinya dan Mark saling membenci? Ah, tidak. Ayahnya tidak tahu kalau dia mengetahui perjodohan itu.
Tapi bagaimana mungkin, ayahnya dengan lancang dan seenaknya menjodohkan anaknya tanpa persetujuan dari anaknya sendiri?
Eun Ji kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tidak ingin mengingat itu lagi. Buru-buru ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran tentang perjodohan itu dari kepalanya.
••
Hari ketiga untuk Eun Ji, Mark, dan Hye Rim mengerjakan tugasnya. Mereka telah bersepakat untuk mengerjakannya di rumah Hye Rim sore ini.
Saat ini Eun Ji masih berdiri dalam diam di depan cermin yang berdiri tegak di hadapannya. Wajahnya tampak murung. Matanya sayu, dan tampak jelas kantung mata tebal di bawah matanya itu. Bando hitam yang terpasang di rambutnya tampak tidak begitu rapi.
Hari ini Eun Ji sedang malas bergerak. Rasanya seperti hanya otaknya yang terus bekerja keras dari kemarin malam hingga saat ini dan entah kapan berhenti. Jika dirinya bisa menuduh seseorang yang menyebabkan ini semua, orang itu adalah ayahnya. Saking kesalnya pada ayahnya, saat makan malam kemarin pun ia tidak ingin membuka mulut untuk mengajak ayahnya mengobrol sekali saja.
Namun sesaat kemudian, Eun Ji tersenyum kecil sambil menatap pantulan wajahnya pada cermin itu.
"Mark juga pasti tidak akan menyetujuinya," gumamnya, untuk menyemangati dirinya sendiri. Karena ia tahu, Mark juga membencinya. Jadi sudah pasti jawaban dari perjodohan itu adalah tidak.
Tidak lama setelah itu, bel rumahnya berbunyi. Tidak perlu menunggu lama untuk Eun Ji meresponnya. Eun Ji langsung melesat menuju ke lantai bawah dan membukakan pintu.
"Kim Hye Rim??"
••
Eun Ji memutar-mutar gelas cangkir cappucino-nya yang isinya tinggal setengah itu. Matanya tertuju dan hanya fokus pada jalanan luar yang dilihatnya melalui jendela kaca kafe itu. Ya, untung saja dia mengambil tempat yang dekat dengan jendela.
Sementara asik dengan pikirannya sendiri, dua orang di depannya ini malah sibuk membolak-balikkan kertas buku dan mengetik sesuatu pada laptopnya.
Mereka bertiga, Mark, Eun Ji dan Hye Rim, awalnya bersepakat untuk mengerjakannya di rumah Hye Rim. Namun karena satu dan lain hal membuat mereka harus mengerjakannya di kafe. Salahkan saja Hye Rim yang beralasan aneh tentang rumahnya yang sedang direnovasi. Eun Ji tahu ia berbohong.
"Ya! Eun Ji! Apa yang kau perhatikan?" tegur Hye Rim yang menyadari sikap Eun Ji sejak tadi.
Eun Ji kemudian menghentikan aktivitasnya dan menoleh. "Lalu apa yang harus aku lakukan? Kalian sama sekali tidak memberikanku pekerjaan," balas Eun Ji.
"Berhubung karena aku sudah capek," Hye Rim memutar laptopnya ke arah Eun Ji sambil tersenyum lebar. "Kau mau kan melanjutkannya?"
Eun Ji menatap kesal sahabatnya itu. Lalu meraih laptop itu dan menariknya mendekat.
"Lanjutkan," perintah Eun Ji pada Mark yang memang ditugaskan untuk membaca kalimat demi kalimat dalam buku yang dipegangnya saat ini. Sementara dia membaca, Eun Ji mengetiknya.
Iseng, Mark mencoba membaca beberapa kata dengan cepat. Eun Ji yang mendengar itu akhirnya berhenti mengetik, lalu melirik ke arah Mark yang tampak sangat jelas sedang menahan tawanya. Hye Rim yang ikut menyaksikan kejadian itu ikut menahan tawa.
"Tidak perlu memamerkan bahasa Koreamu yang lancar itu di hadapanku," kata Eun Ji, tanpa melepas pandangannya pada laki-laki itu.
Eun Ji naik darah. Siapa yang tidak kesal jika situasi serius seperti sekarang ini orang-orang malah bermain-main?
"Ayolah!" seru Eun Ji jengkel, setelah beberapa saat menunggu dua orang di hadapannya ini tak kunjung berhenti dengan menahan tawa.
Eun ji menurunkan tangannya dari laptop. Niatnya untuk mengetik sudah hilang. Terima kasih untuk Mark dan Hye Rim.
"Aiishh ... kami hanya bercanda. Jangan marah," kata Hye Rim, sambil ber-aegyo dan mencondongkan badannya mendekati Eun Ji saat mengucapkan kalimat terakhir.
"Ya! Jangan tunjukkan wajah seperti itu lagi di depanku! Arraseo?"
Tidak lama kemudian, sebuah ponsel berdering. Ketiganya saling menatap, lalu salah satu di antaranya mulai mengeluarkan ponsel itu dari tasnya, Lee Eun Ji.
Niatnya untuk menerima telepon itu urung, ketika sebuah nama dari orang yang menelepon terpampang di sudut kiri atas layar ponselnya.
"Nugu?" Hye Rim yang penasaran akhirnya bertanya.
Sementara yang ditanya hanya diam, masih menatap layar ponselnya yang terus menyala itu. Bimbang. Apakah Eun ji harus menjawabnya? Mengabaikannya? Atau menolak panggilan itu?
"Appa," jawab Eun Ji singkat.
Mark yang mendengar itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Eun Ji yang masih terdiam dari beberapa detik yang lalu itu. Ia kemudian ingat, apa yang mereka sama-sama dengarkan kemarin.
"Kenapa tidak diangkat?" Lagi-lagi Hye Rim bertanya.
Eun Ji kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempangnya setelah panggilan itu diakhiri oleh si penelepon.
"Gwaenchana. Aku hanya sedang malas berbicara dengannya," jawab Eun Ji tak bersemangat.
"Kau sedang bertengkar dengan ayahmu?"
"Yah, seperti itulah."
Mark masih menatap wajah Eun Ji yang ekspresinya tampak berubah setelah ayahnya menelepon. Yang kini terputar dalam benaknya adalah tentang perjodohan itu. Mark tahu, tidak semudah dan secepat itu Eun Ji dapat menerima berita itu yang bahkan ia dengar tiba-tiba.
••
Hanya suara musik lagu yang mengalun dan suara kecil dari obrolan beberapa orang yang terdengar memenuhi kafe itu. Di tempat mereka tidak terdengar apa pun kecuali suara Hye Rim yang mendesah beberapa kali, setelah beberapa kali kalah dalam game yang ia mainkan di laptopnya.
Sementara Eun Ji dan Mark tenggelam dalam pikiran masing-masing. Eun Ji melipat kedua tangan di atas meja dengan kepala menunduk, begitu pula dengan Mark yang berpose sama dengan Eun Ji.
Hye Rim yang menyadari itu kemudian mencondongkan badannya ke tengah-tengah dua orang yang duduk berhadapan itu. Lalu menoleh ke kiri-kanan untuk melihat wajah keduanya yang sibuk dengan pikiran masing-masing.
"YA!" Hye Rim mencoba mengagetkan mereka dengan memukul meja dan berteriak. Keduanya sama-sama membulatkan mata terkejut, lalu saling memandang.
Hye Rim kemudian menoleh ke arah para pengunjung kafe yang ikut memandanginya, lalu tersenyum lebar dan kembali menatap dua orang di depannya ini.
"Apa yang kalian lakukan?" tegur Hye Rim.
"Berhentilah melamun. Baru kutinggal sehari saja kalian sudah seperti ini. Bagaimana bisa?" Hye Rim memasukkan laptop ke dalam tasnya dan berdiri.
"Besok kita akan melanjutkannya lagi," katanya. "Mark, kabari aku secepatnya di mana kita akan mengerjakannya."
Hye Rim kemudian beranjak dari tempatnya, menuju kasir untuk membayar. Lalu keluar dari kafe.
Kini tinggal Mark dan Eun Ji di tempat itu. Eun Ji kemudian mengalihkan pandangannya pada jalanan luar yang masih cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Ia memang berniat pulang, tidak ingin berlama-lama bersama pria menyebalkan itu. Tapi mengetahui sekarang sudah malam sepertinya membuat Eun Ji harus mempertimbangkan dua kali untuk pulang sendiri.
Kalau pun mereka pulang bersama karena tujuan dan arah mereka sama, tapi Eun Ji masih ingat tentang perjodohan itu. Apa kata ayah mereka jika melihat mereka pulang bersama?
"Kau tidak mau pulang? Sudah malam," sahut Mark.
"Kau duluan. Aku masih mau di sini. Beberapa menit lagi aku akan pulang," jawab Eun Ji enggan, tidak ingin menatap wajah lawan bicaranya.
"Sendirian?"
Eun Ji mengangguk ragu. Mark tahu itu.
"Are you sure?" tanya Mark memastikan.
"Iya!" jawab Eun Ji ketus.
"Okay ... baiklah, jika itu maumu. Aku tidak memaksa." Mark kemudian berdiri pelan-pelan, berharap Eun Ji akan menahannya dan memintanya untuk pulang bersama.
"Tunggu!"
Mendengar itu, Mark lantas tersenyum dan menoleh ke arah Eun Ji yang ikut berdiri.
"Wae?"
"A-aku ikut," jawab Eun Ji ragu.
"Bukankah tadi kau bilang ingin pulang sendiri?" balas Mark, masih menahan tawanya.
"Aku harus cepat pulang. Ada yang harus diselesaikan."
••
Mark melangkahkan kakinya, cepat. Sementara Eun Ji berjalan pelan di belakangnya sambil memainkan kakinya di tanah. Mark sesekali menengok ke belakang, dan menatap kesal gadis itu. Ia ingin cepat sampai di rumahnya, tapi tidak mungkin juga ia meninggalkan gadis itu sendirian di tengah malam seperti ini.
Mark tiba-tiba saja memperlambat langkahnya dan berjalan mundur, menyamai posisi Eun Ji. Eun Ji yang menyadarinya mengerutkan kening.
"Kenapa?" tanya Eun Ji bingung melihat tingkah Mark.
"Sekarang aku tahu kenapa ayah kita tampaknya sangat dekat."
Eun Ji yang mengetahui maksud perkataan Mark, kemudian mengangguk pelan.
"Perjodohan itu ... kau tidak menyetujuinya, 'kan?" Eun Ji memicingkan mata ke arah Mark.
"Hmm ... tergantung."
Eun Ji membelalak. "A-apa maksudmu?"
"Tergantung bagaimana perasaanku nantinya. Karena perasaanku terhadapmu tidak jelas. Kadang aku membenci sikapmu, tapi terkadang juga aku menyukai sikapmu. Dan aku berpikir, mungkin aku mulai sedikit menyukaimu," jelas Mark, sekali lagi membuat Eun Ji tertegun.
"Kau harus menolak perjodohan itu, apa pun yang terjadi! Karena aku tidak menyukaimu, kau harus tahu itu."
Setelah mengatakannya, Eun Ji mempercepat langkahnya, meninggalkan Mark yang tersenyum melihat tingkah Eun Ji.
"Ya! Aku bercanda." Mark kemudian mengejar Eun Ji.
Di tengah perjalanan, mereka kembali diam. Tidak ada yang memulai obrolan lagi. Mark melihat Eun Ji yang menggosokkan kedua tangannya dan meniupnya. Mark segera melepaskan jaketnya dan memasangkannya pada tubuh Eun Ji.
"Pakai," suruh Mark. Eun Ji yang melihatnya hanya membulatkan mata tidak percaya.
Tapi tidak lama kemudian, ia melepas jaket itu cepat-cepat, lalu menaruhnya di atas kepala Mark, membuat wajahnya, kepalanya, dan sebagian badannya tertutupi oleh jaket abu-abu itu.
"Kau benar-benar!" Mark melepaskan jaket itu, lalu memasangkannya kembali pada tubuh Eun Ji. Kali ini ia mengancingkan jaket itu, membuat tubuh Eun Ji terbungkus sepenuhnya di dalam jaket.
"Jika kau melepaskannya lagi aku benar-benar akan menerima perjodohan itu."
Kali ini Eun Ji diam, tidak menolak. Sesaat kemudian ia menghela nafasnya, mencoba menahan emosi dan rasa kesalnya pada laki-laki ini.
Mereka perlu berjalan beberapa langkah lagi untuk tiba di rumah masing-masing. Begitu melihat rumahnya, Eun Ji langsung berlari, meninggalkan Mark yang masih berjalan santai. Tanpa mengucapkan apa pun, ia masuk ke dalam rumahnya. Sementara Mark hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Eun Ji itu.
Di kamarnya, Eun Ji berbaring sebentar sebelum mengganti pakaiannya. Walaupun tugas itu tidak banyak menguras tenaga, tapi entah kenapa ia benar-benar merasa lelah hari ini. Terutama otaknya. Dia masih saja memikirkan tentang perjodohan itu.
Eun Ji menggerak-gerakkan tubuhnya, namun sulit. Ia kemudian sadar jaket Mark yang masih membungkus tubuhnya. Rasanya seperti terikat saja. Buru-buru ia berdiri dan melepas jaket itu.
"Aish ... kenapa ini masih saja kupakai?" gumamnya kesal sembari melempar jaket itu di atas tempat tidurnya dengan sembarangan.
Ponselnya yang tiba-tiba berdering membuat pandangan Eun Ji teralih kearahnya. Ia mendekati mejanya, mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang baru saja masuk itu.
From : Mark Kim
Kenapa membawa pulang jaketku? Kembalikan besok. Jika perlu, kau bisa mencucinya agar siap kupakai besok.
Eun Ji membaca pesan itu sambil mendecak kesal. Ingin sekali dia membanting ponselnya sekarang juga.
Tapi, dia membalas pesan itu.
To : Mark Kim
Siapa juga yang ingin memakainya terus menerus? Aku hanya lupa. Dan, aku tidak ingin mencucinya. Kau punya tangan untuk mencucinya, kan? Lagipula bibi di rumahmu juga pasti bisa melakukannya. Kenapa harus menyuruhku?
Eun Ji mengirim pesan itu. Tidak lama kemudian, Mark membalas.
From : Mark Kim
Kau benar-benar tidak tau berterima kasih.
"Biarkan saja!"
••
Sambil sesekali menengok jam, Eun Ji mengotak-atik ponselnya. Ia sudah mencoba menghubungi Hye Rim dengan nomor lamanya, tapi tetap saja tidak aktif. Kenapa di saat hubungan mereka membaik pun Hye Rim tidak ingin memberitahu nomornya? Seperti memang ada sesuatu yang disembunyikan oleh Hye Rim, dan Eun Ji perlu mencari tahu tentang itu.
Eun Ji memeriksa kontaknya. Hanya iseng. Lalu didapatinya kontak Mark di sana.
'Kalau bukan karena tugas kelompok ini, aku tidak ingin bertukar nomor dengannya' katanya dalam hati.
Ponselnya bergetar singkat. Eun Ji membuka pesan itu, lalu membacanya.
From : Mark Kim
Mian, sepertinya aku tidak bisa mengikuti kerja kelompok itu hari ini. Ayahku sedang ada urusan dan aku harus ikut dengannya. Kalau kau ingin menghubungi Hye Rim, ini nomornya :.....
Eun Ji tersenyum ketika mendapati deretan angka yang ternyata nomor baru Hye Rim dalam pesan itu.
Secepat mungkin, ia menghubungi Hye Rim.
"Halo," sapa Eun Ji lebih dulu.
"Halo?"
"Hye Rim!"
Dari sana tidak ada jawaban. Hye Rim yang mengenal suara itu kemudian mengakhiri panggilannya. Eun Ji hanya mengerutkan kening, tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Hye Rim.
Ia mencoba mengirim pesan.
To : .........
Hye Rim, ini benar nomormu kan?
Eun Ji mengirim pesan itu dengan kebingungan.
Eun Ji kemudian mengamati nomor itu. Rasanya seperti ia pernah melihat nomor ini sebelumnya.
Dilacaknya melalui kotak pesan, dan akhirnya ia membuka salah satu pesan yang ia terima beberapa minggu lalu dengan nomor yang sama.
Napasnya seketika terasa tercekat.
Hye Rim? Kau yang melakukannya?
••
Suara bel menggema di dalam rumah besar itu. Gadis yang tengah duduk di kursi meja belajarnya dan sibuk dengan pikirannya sendiri itu memutuskan untuk turun ke lantai bawah dan membukakan pintu.
"Eun ... Ji?" Gadis itu menatap kaget Eun Ji yang kini berdiri di hadapannya.
Hye Rim sebenarnya bisa merasakan kalau Eun Ji sudah tahu semuanya dari cara gadis itu menatapnya. "Ke-kenapa kemari? Tumben sekali ...." Hye Rim memaksakan senyumnya.
Pertanyaan itu dibalas oleh seringaian dari Eun Ji. "Sahabat macam apa kau ini?"
Kali ini Hye Rim benar-benar bisa menebak maksud perkataan Eun Ji barusan. "A-apa maksudmu? Aku tidak-"
"Jangan berpura-pura tidak mengerti. Kau yang menyebarkan foto ciumanku dengan Mark itu, 'kan?"
Hye Rim tidak menjawab. Tidak lama kemudian, air mulai menggenang begitu saja di matanya.
"Ma-maaf," ucap Hye Rim dengan nada bergetar.
"Aku benar-benar tidak menyangka. Apa yang telah kuperbuat padamu sampai kau tega melakukan itu padaku?"
"Aku melakukan itu juga karena ada alasannya. Aku benar-benar tidak bisa menahannya saat itu. Kau tahu, aku selalu cemburu melihat kedekatanmu dengan Jin Young. Tapi kau tidak pernah peka terhadap perasaanku. Aku dulu memang dekat dengannya, tapi setelah kau datang, kau seperti menariknya untuk mendekatimu," jelas Hye Rim sambil menahan isak tangisnya. "Tapi tenang saja. Aku tidak akan mengulangnya lagi. Aku menyesal telah melakukan itu. Dan, aku membiarkan Jin Young untuk dekat denganmu. Aku tidak ingin memaksakan perasaanku lagi. Jadi tolong, maafkan aku," pintanya.
Tanpa membalasnya lagi, Eun Ji segera melangkahkan kakinya meninggalkan rumah itu. Namun baru beberapa langkah dari pintu rumah Hye Rim, Eun Ji menghentikan langkahnya.
"Tugas itu, kau lanjutkan saja sendiri. Aku dan Mark akan membuat yang baru."
Setelah mengatakan itu, Eun Ji segera pergi.
••
Eun Ji keluar dari mobilnya, lalu melangkahkan kakinya memasuki taman semakin dalam. Dilihatnya beberapa anak kecil yang sedang bergembira dan bermain dengan orang tua masing-masing. Sambil berjalan mendekati sebuah bangku panjang matanya tak lepas dari pemandangan itu. Pemandangan yang dalam sedetik saja bisa mengingatkannya kembali pada ibunya. Eun Ji tersenyum. Dia bisa merasakan bagaimana bahagianya anak-anak itu. Rasanya seperti ingin kembali ke masa kecilnya.
"Eun Ji?"
Suara itu lantas membuat lamunan Eun Ji buyar.
"Lee Jin Young!" seru Eun Ji seraya tersenyum, mencoba menyembunyikan kesedihannya.
Jin Young lalu duduk di samping Eun Ji.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jin Young penasaran.
"Hanya ingin mencari udara segar. Kau sendiri?"
"Aku baru saja berjalan-jalan disekitar sini dengan anak-anak GO7," jawab Jin Young. Omong-omong, GO6 itu adalah nama geng anak-anak tampan dan terkenal di kelas Eun Ji itu.
"GO7? Bukannya GO6" Eun Ji menatapnya bingung.
"Ya ... setelah Mark datang," jawab Jin Young lalu mendesah pasrah.
Eun Ji kemudian tertawa kecil.
"Kenapa tertawa?" tanya Jin Young bingung.
"Hanya merasa aneh saja. Kita sama-sama membencinya. Tapi aku sendiri tidak tahu kenapa aku sangat membencinya. Padahal jika dilihat dari sikapnya, dia baik-baik saja. Hanya saja, dia memang sering menggangguku," ujar Eun Ji sambil tersenyum sendiri saat membayangkannya.
Jin Young menoleh ke arah Eun Ji. Entah kenapa, Jin Young merasa iri dengan senyuman itu.
"Kau. Berhentilah menatapku seperti itu. Dan ... ingat! Hubungan kita hanya sebatas sahabat. Jadi lupakan perasaan sukamu terhadapku."
"Itu tidak semudah kau mengucapkannya."
Eun Ji kemudian terdiam. Tapi tidak lama kemudian, ia teringat sesuatu, dan kembali berbicara.
"Jin Young ... aku sudah tahu siapa yang menyebarkan foto itu."
"Apa?"
••
Dalam perjalanan pulang, Eun Ji hanya bisa memfokuskan pandangannya pada jalanan luar melalui kaca mobilnya. Kaca mobilnya kini dipenuhi oleh tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit. Yah, hujan ini memang sedang menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Ingin sekali dia menangis. Eun Ji tidak menyangka akan dikecewakan seperti ini oleh dua sahabatnya sekaligus. Jin Young ternyata sudah lama mengetahui tentang masalah itu dan ia hanya berusaha membantu Hye Rim untuk menyembunyikannya dari Eun Ji.
Ia kemudian teringat, sewaktu Hye Rim mencoba menghindarinya. Apakah itu alasannya? Karena Hye Rim mengecewakannya?
Kini kebenaran itu terungkap.
••
Matanya kini mendapati sesosok pria yang sangat tidak asing lagi baginya. Laki-laki itu, Mark tengah berlari-lari di tengah derasnya hujan. Ingin pulang sepertinya. Bahkan saat mobil Eun Ji melewatinya, Eun Ji tidak bisa mengalihkan pandangannya pada laki-laki itu. Haruskah ia memberikan tumpangan?
Mobil Eun Ji akhirnya berhenti. Beberapa meter di depan Mark yang masih berlari. Eun Ji kemudian turun dari mobilnya, lalu menghampiri dan memayungi Mark.
"Mark!" Eun Ji berteriak memanggil Mark.
"Masuklah!"
Tidak perlu menunggu lama, Mark akhirnya masuk ke dalam mobil itu.
Mark mengelap tubuhnya yang basah dengan kedua tangan. Ia benar-benar basah kuyup.
"Mianhae, aku tidak sempat membawa jaketmu. Eh, tapi apa kau hanya punya satu? Kenapa kau tidak memakai jaket lain saja?" tanya Eun Ji penasaran.
"Aku lebih menyukai jaket abu-abu itu," jawab Mark singkat. "Tapi, kenapa kau terlihat peduli sekali? Setahuku kau membenciku," imbuh Mark.
"Ya ... seperti itulah. Aku tetap membencimu. Tapi setidaknya kau harus belajar banyak dariku yang tahu membalas budi," balas Eun Ji.
"Apa kau pernah melakukan sesuatu yang baik padaku? Sepertinya belum pernah." Mark mengingat-ingat.
"Kau tunggu saja. Suatu hari nanti aku akan membuatmu berterima kasih padaku," balas Eun Ji tidak ingin kalah.
Keheningan mulai melanda seisi mobil itu sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan, rumah Eun Ji.
"Eh, kenapa malah masuk di sini? Rumahku di sana." Mark menunjuk rumahnya.
"Lalu kau ingin meninggalkan jaketmu lebih lama di rumahku?"
Tanpa menunggu jawaban Mark, Eun Ji melangkah masuk ke rumahnya, diikuti oleh Mark yang berjalan di belakangnya.
"Astaga! Mark, apa yang terjadi?" tanya ayah Eun Ji panik begitu melihat Mark bersama Eun Ji.
"Tidak apa-apa, Ahjussi. Tadi hanya kehujanan," jawab Mark sesopan mungkin.
Sementara kedua orang itu berbincang, Eun Ji mengambil handuk dan memberikannya pada Mark dengan kasar.
"Kau bisa menginap di sini untuk semalam," kata ayah Eun Ji.
Eun Ji yang hendak melangkahkan kakinya meninggalkan dua orang itu, akhirnya terhenti. Lalu berbalik pada Mark yang kini juga menatapnya.
'Katakan tidak, kumohon ...' Eun Ji berharap dalam hatinya.
••