Siang menyisih, kelas meramai. Para muda yang mulai berjabat tangan dengan angka tujuh belas tahun itu sedang sibuk dengan tawa masing-masing. Melingkar diujung belakang, menceritakan tentang gosip-gosip hangat sekolah yang dibumbui oleh 'katanya'. Berserakan memenuhi lantai, mencari spot paling dingin untuk memejamkan mata. Memutar tubuh berderajat-derajat, mencari makanan siapa yang paling lezat. Mengangkat tinggi-tinggi botol minuman, mengomando s*****n lain untuk bersorak atau mengiringi ilama. Duduk ditempat, tertawa kecil memandangi itu semua. Atau, menunduk, menyelesaikan soal matematika yang tadi ditinggalkan.
"And if you think, that im still holding on to something. Oh baby, You should go and love yourself." Nyanyi mereka bersama, mencoba mengungguli speaker bluetooth yang memutarkan lagu Justin Bieber – Love Yourself.
"Skip-skip!" pinta seseorang, "Kurang galau!"
"Request apa? Request apa?"
"Bruno mars dong, when i was your man."
"Tidur nih sekelas, nih!"
"One Direction dong, Live wguke we're young." Saut Kinan sembari meletakkan pena hitamnya.
"Wooo, Kinan!" puji Gavinda.
"Siap boskuu!" jawab sang operator lagu mantap.
Mendengar teriakan itu, seonggok lelaki yang sedari tadi sibuk mengatur letak kepala agar tak terganggu dengan suara sekitar itu mendadak bangun. Ditatapnya Kinan yang kini kembali sibuk mengerjakan tugas matematika bersama Gavinda –serta beberapa orang yang berdiri melingkar disekitarnya. Gadis itu selalu punya daya tarik khusus, hingga dikeadaan sebising apapun, semua tetap mendengarkannya.
Diruang seriuh apapun, mataku selalu mampu menemukanmu. Rumah dari segala kepulanganku –batin Alan.
"Pusing banget, sumpah." Keluh Okta, "Tugas, ulangan, tryout, ujian praktek, UN, SBM. Bisa nggak sih setengah-setengah aja ngasihnya. Kan bingung mau belajar apa dulu."
"Yang dekat dulu aja." jawab Kinan lembut, "Kasih target harian buat belajar SBM, kemarin aku udah kasih jadwalnya kan?"
"Udah sih, Nan. Tapi siapa betah tidur jam dua belas, bangun jam dua cuma buat belajar?" saut Gavinda.
"Kamu tiap hari gitu, Nan, kalau belajar?"
"Iya, La. Kinan tiap hari begitu. Kalau aku mah, mana bisa nyambung materinya."
Kinan mengulum senyumnya, "Kalau aku bilang enggak, entar dikira merendah untuk meroket kan? Tapi, sebenernya aku nggak tiap hari begitu. Setiap Jumat sama Sabtu, aku tidur cepet. Apalagi sabtu, tidur siang sekalian. Jadi nggak melulu diforsir. Istilahnya cheating day. Tapi dengan syarat, selain itu bener-bener belajar." ujarnya membenarkan.
"Bukan itu, masalahnya, Nan." potong Lala, "Kamu kok betah sih tidur malem? Paginya kan sekolah? kamu juga kayaknya nggak pernah tidur dikelas. Ya kan guys?"
"Soalnya, ada yang ingin aku kejar. Aku mau dapat yang terbaik buat banggain Bunda. Selain itu," Kinan menjeda, menatap satu persatu kawannya yang penasaran, "Aku selalu mikir kalau harus bertahan seperti ini dulu selama satu tahun. Supaya-supaya, kedepannya akan dimudahkan. Ya, berusaha semaksimal mungkin, berharap yang terbaik, dan bersiap yang terburuk."
"Ah, tapi serius, seniat-niatnya manusia. Mana bisa tidur Cuma bentar gitu. Nggak sehat tau, Nan."
"Emang, makanya dia sering mimisan."
"Jangan sering-sering begadang lah, Nan. Nggak baik."
Gadis manis itu tersenyum dan mengangguk tipis.
"Eh, kalau Kinan aja kayak gitu. Apalagi, Della. Malah nggak tidur semaleman kayaknya." Ujar Gavinda sedikit berbisik.
"Sssttt, mulai." Sergah Kinan.
"Iya, aku nggak tidur." Saut Della tanpa menoleh.
Seluruh pasang mata yang melingkar dimeja Kinan tertegun kaget. Diantara keadaan kelas yang sebising ini, bagaimana bisa Della masih mampu mendengarkan suara Gavinda? Ah, sepertinya ia telah mencoba mendengarkan percakapan mereka sejak awal.
Perempuan itu mengangkat botol minumannya, "Dan aku minum multivitamin biar nggak ngantuk." Ia menoleh dengan cara yang paling menakutkan, "Puas?"
"Della-"
Belum sempat Kinan menyelesaikan perkataannya, gadis itu mendadak menghentakkan tubuh dan pergi begitu saja meninggalkan buku-bukunya yang masih terbuka lebar.
"Apaan sih, baperan banget!" ujar Okta marah.
"Okta," cegah Kinan, "Jangan pernah berlindung pada kata 'Baperan' setelah menyakiti orang lain."
"Ya, tapi Cuma gitu doang, Nan."
Kinan menggeleng tegas. Ia segera berdiri, mencoba menyusul langkah Della yang entah kemana. Gadis itu mempercepat langkah, menjelajahi lorong-lorong yang mungkin telah dilewatinya. Hingga pilihannya berakhir, pada pintu kamar mandi perempuan lantai dua. Kinan meneliti satu persatu bilik, hingga menyadari pintu paling ujung sedang tertutup.
Mulanya, ia ingin mengetuk, memastikan Della benar-benar disana. Namun urung, saat satu isakan lirih terdengar begitu menyakitkan dari dalam sana. Della sedang menangis.
Tanpa pikir panjang, Kinan berjalan keluar. Sengaja membiarkan Della ruang dan waktu untuk sendiri. Gadis itu pasti lebih marah ketika tau Kinan memergokinya menangis. Diatas kursi marmer, Kinan menyorot mading dengan pandangan kosong penuh penyesalan. Ia jadi ingat apa yang diceritakan Johan kala itu, tentang bagaimana yang muak terus dibanding-bandingkan dengannya.
"Ngapain?"
Kinan mendongak, menatap sesiapa yang datang, "Eh, Lan?"
"Ngapain?" ulangnya.
Bola mata gadis itu berputar cepat, mencari alasan, "Cari angin."
Alan mengangguk tipis, ikut duduk disamping Kinan, "Gue kira nyariin Della."
Gadis itu hanya tersenyum, tak menanggapi lebih jauh pernyataan Alan, "Kamu mau kemana?" tanya Kinan mencoba mengalihkan pembicaraan.
Lelaki itu menggeleng, "Nggak ada, mau nemenin kamu cari angin aja." jawabnya.
K-kamu?
Melihat perubahan ekspresi Kinan, Alan mendadak gugup, "Aneh ya kalau pakai aku-kamu?" tanyanya.
Kinan menggeleng mantap, "Enggak, kok. Suka dengernya malah."
"Oh, syukur deh."
Hening tiba-tiba menyelimuti. Tak ada percakapan yang harus dimulai, atau tawa yang sibuk diakhiri. Mereka diam, bersembunyi pada belantara pikirannya masing-masing. Alan dengan pertanyaan dan Kinan dengan penyesalan.
"Eh, Lan."
"Eh, Nan."
Ucap dua pasang mata yang kini terkejut itu, hampir berbarengan. Kinan menggigit ujung bibirnya, "Kamu dulu aja." ujarnya.
Alan terdiam sejenak, menggaruk pangkal lehernya yang mendadak gatal, "Nggak penting, kok." Ucapnya.
"Sama sih." Ujar Kinan sembari terkekeh kecil.
Percakapan kembali terhenti, mereka terlampau canggung untuk melanjutkan.
"Jadi apa yang nggak penting?" tanya Alan, "Meskipun nggak penting, gu- eh Aku mau denger kok."
Gadis itu mengangguk, meneliti tiap inchi kuncir hadiah dari Alan yang masih setia mengenggam pergelangan tangannya. "Maaf, ya, waktu itu nggak bisa nemenin."
Alan menatapnya sekilas, "Santai, nggak penting kok."
"Kalau nggak penting, pasti kamu nggak minta temenin." Sergah Kinan, "Aku kepikiran beberapa hari ini, nggak enak sama kamu. Maaf ya."
"Santai, Nan, nggak penting, kok. Bukan ke Abang, jadi nggak penting."
Gadis itu mengangguk-angguk, "Tapi beneran maaf ya, aku waktu itu nggak bisa." Ujarnya sekali lagi penuh rasa penyesalah. "Ah iya, Kamu mau ngomong apa tadi?"
Alan melipat senyumnya, "Nggak Cuma mau tanya, Kamu keluar kemana sama Johan waktu itu? Kayaknya penting banget, sampai orang yang nggak bisa ngomong 'nggak' ke orang lain kayak kamu aja bisa nolak ajakan aku."
Mata Kinan terdiam tepat diujung tersendu bola mata Alan. Gadis itu mengerjap, meninggalkan tanda enggan menjawab.
"Okay." Potong Alan cepat, "Setiap orang punya dunianya masing-masing. Kamu berhak punya dunia diluar dunia kita. Aku juga begitu. Jadi, its okay. Kamu nggak perlu jawab."
Alan terdengar begitu kecewa, seolah Kinan dengan sengaja meninggalkannya untuk alasan-alasan klasik, "Waktu itu Johan lagi butuh aku Lan." Jawab Kinan.
"Iya, Nan."
Kinan menatapnya, "Jadi kapan kamu butuh aku?"
"Hm?"
"Kapan kamu butuh aku? Biar aku bisa disana untuk waktu yang tepat."
Alan terdiam sejenak menatapnya, kemudian tersenyum, "Terimakasih, kamu bicara seperti itu saja sudah bikin semua lebih baik."
Tiba-tiba, dari arah kamar mandi, seorang yang langkahnya dihentakkan keras-keras mendekati percakapan mereka. Kinan sontak menoleh, menerka apakah dugaannya sudah tepat. Gadis itu segera berdiri, "Della!" panggilnya.
Yang dipanggil berhenti, tepat satu jengkal setelah Kinan berdiri. Ia menoleh, menatap Kinan kasar, "Apa?"
Mendadak, lidah Kinan kelu. Ia tidak mampu berkata apapun.
"Apa?"
"Ma-"
"Kenapa? Kamu penasaran juga berapa lama aku tidur? Iya aku nggak tidur, belajar mati-matian buat ngalahin kamu. Apa? kamu juga mau tau apa rahasianya? Aku minum vitamin racikan. Satu botol minuman energi, vitamin c serbuk, sama minuman isotonik, itu resepnya. Puas?" ujarnya kemudian pergi begitu saja.
Kinan menyusulnya cepat, "Della, kamu minum apa?" tanyanya, "Itu nggak sehat."
Della menghentikan langkahnya, "Peduli apa? Nggak usah sok deh, kayak yang kamu lakuin sehat aja." ujarnya, "Kamu nggak usah ikut campur urusanku. Udah, pergi sana, tebar pesona sama semua orang."
"Lo kalau ngerasa kalah ya kalah aja, nggak perlu sok garang buat nutupin kelemahan lo." Saut Alan.
"Alan!"
"Wah, prince charming udah datang." Sindir Della, "Gimana rasanya dibela semua orang, Nan? Gimana rasanya sekali senyum udah bikin banyak laki-laki jatuh cinta? Bangga... atau merasa... Murah?"