BAB 29 : DUSK TILL DAWN

1148 Kata
Dipelukan paling teduh pohon jambu taman perumahan, Kinan menuntaskan tangisnya. Bahunya bergetar hebat, seiring panggilan telepon sia-sia pada Johan. Ia tau, Johan sedang ingin sendiri, Johan sedang tak ingin menemui siapapun. Apalagi dirinya, orang yang tanpa sadar masuk terlalu dalam melongok luka. Gadis itu menunduk lebih dalam, membiarkan gravitasi membersihkan seluruh sisa air matanya.                 Ia menyerah, mematikan panggilannya dan mencoba mengetikkan pesan. Sesuatu yang mungkin butuh Johan baca disaat seperti ini.                                 Kinantha Almathea                 Johan...                   Kinantha Almathea                 Boleh jadi langit runtuh, bumi berhenti, dan mentari malas terbit.                 Boleh jadi malam benderang, siang menghitam, dan pelangi mengabu.                 Boleh jadi bintang tak bergugus, purnama meredup, dan galaksi menyusut.                 Boleh jadi semua seberantakan itu, Asal, kau masih ingat ada aku disampingmu maka itu lebih dari cukup. Aku berjanji akan menjadi kuat, yang menguatkanmu. Aku berjanji akan menjadi tegak, yang menegakkanmu. Aku berjanji akan menjadi kapas, yang menyerap seluruh tangismu. Boleh jadi semua janjiku, asal kau juga mau berjanji hal yang sama padaku.   Kinantha Almathea Aku mengerti kalau kau ingin sendiri, maaf sudah menganggu waktumu. Tapi, Johan, tidak bisakah kau balas sebentar pesanku?   Kinantha Almathea Maafkan aku, Johan.... Aku Cuma khawatir.   Kinantha Almathea Aku tau kamu tidak baik-baik saja, dan aku tidak akan pernah memintamu untuk baik-baik saja.   Kinantha Almathea Hubungi aku Johan^^   Gadis itu menghela nafas panjang. Ia kembali bangkit, menyeret langkah pulang sebelum malam benar-benar tiba. Gadis itu memilih jalan memutar, menghindari pandangan mama Johan. Ia tidak ingin menghadapi spekulasi-spekulasi lain. Kini, ia mengerti mengapa sore ini begitu mendung. Seolah sedang berkata: Langit sedang kelabu, maka kau juga boleh begitu. Diantara langkahnya yang mulai payah, satu panggilan berdering. Ia segera merogoh sakunya, berharap dari Johan- Atau, bahkan bukan... “Halo, Lan? Ada apa?” tanyanya terheran. Alan bukan orang yang sering menghubunginya jika tak teralu penting. Lelaki diujung telepon itu diam, namun Kinan bisa mendengarkan suara nafasnya yang berat. “Lan?” panggil Kinan lagi. “Lagi apa, Nan?” tanyanya. Kinan memutar kepalanya, mencoba mencari ide bagus untuk menjawab pertanyaan sederhana itu, “Eh...” “Lagi sama Johan?” “Ha?” “Kamu. Lagi sama Johan?” Gadis itu menggigit ujung bibirnya, terlalu kelu untuk menjawab: Iya, tadi sama Johan. “Kalau nggak lagi sama Johan, mau temenin gue nggak?” Seketika itu, Kinan menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegub begitu kencang, pipinya panas memerah. Apa hyperpnea nya datang? Ah, ia lupa membawa kantong kertas. Ta-tapi, kenapa ia tidak merasa sesak nafas? Kenapa air mata yang sedari tadi banjir bandang seketika menyusut? Kenapa bibirnya berkedut menuntut senyum? Nan, sakit apa lagi?                 “Nan?” panggil Alan, “Kok diem? Lagi ribet ya?” Kalau boleh jujur, hatinya meronta menuntut pergi bersama Alan. Namun entah mengapa, ia merasa Johan akan sangat butuh dirinya hari ini. Ia ingin menemani Johan hari ini. “Maaf, Lan, hari ini aku nggak bisa. Lagi ada urusan.” Telepon menghening, Alan tidak kunjung menjawab. “Sama Johan?” tanyanya. “Mungkin.” Jawab Kinan menggantung. “Kok mungkin?” “Nunggu Johan.” “Kalau nggak jadi sama Johan, kabarin ya?” “Iya.” “Kalau jadi pun, kabarin. Biar nggak repot-repot nunggu.” “Iya.”                 “Suara lo kok gitu sih?” “Hm? Kenapa?” “Abis nangis ya?” DEG! Kinan cepat menampis, “Enggak kok.” “Yaudah kalau gitu, bye.” “Bye.”                 Belum sempurna layarnya menghitam, satu pesan singkat masuk beruntun. Seseorang yang ditunggu akhirnya membalas pesannya. Gadis itu tersenyum penuh, membuat bulan sabit yang berencana terbit malam nanti urung.                 Johan Imando Pratama                 Apasih... ALAY?                 Kinantha Almathea                 JOHAN!!!                 Johan Imando Pratama                 APA?                 Johan Imando Pratama                 Eh, Nan, kalau zombie ada di Indonesia, apa hal pertama yang harus kita lakukan?                   Gadis itu mengernyit, Bukankah ini tidak masuk akal?                                 Kinantha Almathea                 Nanem taneman                 Johan Imando Pratama                 LOH! Kok bener jawabannya?                 Kinantha Almathea                 Aku ngasal??? Kok bisa bener???                 Johan Imando Pratama                 Implementasi PLANTS VS ZOMBIE hehehe                 Kinantha Almathea                 APAAN SIH!!! GAJELAS -_- Johan Imando Pratama HEHE, abisnya gabut Kinantha Almathea KAMU DIMANA JOHAN???                 Johan Imando Pratama                 Keliling perumahan cari cewek, eh, dia malah diem-diem bae didepan pos satpam.                   Setelah menyadari dirinya berdiri tepat diseberang tempat pos satpam kosong yang kipas angin didalamnya masih sempurna menyala, ia segera memutar kepala, mencari lelaki yang benar-benar membuatnya mati khawatir. Hingga tepat dibelokan ketiga, matanya bertemu dengan sosok lelaki yang tersenyum manis kearahnya. Gadis itu segera berlarian, tak mengindahkan gerimis yang mulai runtuh diantara mereka.                 Tangannya memukul keras-keras punggung Johan, “NYEBELIN! AKU KHAWATIR TAU!”                 “Sengaja, emang.”                 Gadis itu diam, menatap wajah Johan yang terlihat kuyu. Ia mengembangkan senyum, Johan tidak perlu kata-kata indah darinya, Johan tidak perlu motivasi apalagi puisi. Ia hanya perlu kawan untuk menghadapi badai hari ini.                 “Jo, mau...”                 Johan tertawa menatap bibir Kinan yang sengaja dikerucutkan, “Mau apa?”                 “Main.” Jawabnya dengan nada menggemaskan.                 Tangan Johan spontan mengacak pelan puncak kepalanya, “Main apa?”                 Dua bahu Kinan terangkat, “Nggak tau. Pengen jalan-jalan.”                 “Ngebut nggak?”                 “Dikit.” Ujarnya sembari memberikan gesture kecil lewat telunjuk dan ibu jarinya, “Yuk-yuk!”                 “Naik, Tuan Putri.” Perintahnya, “Mau kemana? Batu, Jogja, Bandung, Jakarta, Sumatera?”                 Kinan segera kembali ketempat ternyamannya, “Korea, bisa?”                 “Bisa, kemana aja aku mah.”                 “Berangkat, Tuan!” ujar Kinan sembari menunjuk langit yang semakin mendung.                 Dua muda itupun segera berkelok cepat, meninggalkan segala luka dan asa yang menggerogoti harapan, mimpi, dan cita-cita mereka. Topeng bahkan baju besi telah mereka gunakan. Agar sesiapa yang kelak bertanya ‘Kenapa matamu sembab’ dapat ditampik dengan ‘Sembab apaan? Aku baik-baik aja kok.’                 Sore itu, Malang tiba-tiba baik-baik saja. Hujan tak jadi turun, bahkan setitik cahaya jingga mentari menyorot sombong dari ujung barat. Lampu-lampu kota mulai nyala. Tempat duduk basah yang bau korosi ditengah kota mulai ramai oleh muda-mudi yang tenggelam dalam asmara. Johan terus membawa Kinan menjauh dari keramaian kota. Menyusup lewat g**g-g**g padat, anak kecil baru pulang mengaji, polisi tidur yang bagian sampingnya sengaja digunduli, dan jalanan meliuk tempat udara lebih dingin, sedang percakapan lebih hangat lagi.                 “Serius Paralayang?” tanya Kinan terheran-heran dengan kenekatan Johan.                 “Kenapa? Mau ke Korea aja?”                 “Nggak deh.”                 “Loh, kenapa? Di paralayang nggak ada oppa-oppa lho.”                 “Tenang, oppa oppa ku tetap ada dihati. Lagipula, walaupun nggak ada mereka, masih ada Malang dan seisinya. Itu lebih dari cukup.”                 “Ada aku dan seisinya juga, penting itu.”                 “Iya deh, Pak Ojek.”                 “Iya deh, Bu Penumpang.”                 “Entar pulang ke belakang balaikota yuk?”                 “Yaampun, ngapain? Beli kopi lagi?”                 “Ada yang jual jagung bakar kok sekarang!” protes Kinan.                 “Iyaudah iya, apa kata Tuan Putri.”                 “Nah gitu, dong!”                 Sore itu, ditengah segala airmata yang tertutupi dengan tawa, mereka dalam diam sama-sama sepakat bahwa: Kita tidak sedang bahagia untuk menipu orang lain, tapi kita bahagia untuk menipu diri sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN