Setelah sekian denting pertemuan jarum jam bertalu, bel pulang sekolah akhirnya berseru. Johan yang sebenarnya sudah meninggalkan kelas sejak lima belas menit lalu mendongakkan kepala. Imajinya bergerak melukis gelombang-gelombang suara yang menurut buku-buku pelajaran bergerak 343 meter/detik di udara. Ia terdiam sejenak, apa ada hal secepat itu? –tanyanya pada diri sendiri. Pikirannya terus melambung, merangkai jaring-jaring imajiner dari tiap mulut ke telinga ke mulut ke telinga dan terus berulang hingga membuatnya bergidik ngeri. Huh, apa yang kupikirkan?
Lalu diantara kebisingan isi kepala Johan, tiba-tiba ada satu ruang khusus yang mengetuk dinding-dinding ingatan. Mata lelaki itupun reflek jatuh pada kuncir rambut Kinan yang menjerat pergelangan tangannya. Sudut bibir Johan terangkat tipis. Ia pun segera mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengetikkan pesan singkat untuk seseorang yang tak pernah lelah berlarian dipikirannya –Kinan.
Johan Imando Pratama
Kuncirannya mau dibalikin nggak? Kalau iya tunggu dipos. Sebentar lagi aku kesana.
Pesanpun terkirim sempurna, meninggalkan senyuman Johan yang masih jelas memantul dilayar hitam. Ibu jarinya mengetuk layar cepat. Ponsel kembali menyala, menghadirkan potret wajah Kinan yang tersenyum manis mengacungkan dua jari dibalik bahunya sebagai latar belakang. Seperti biasa, Johan terpaku. Pikirannya melonjak tak sabar merenggekkan pertemuan mereka yang dijadwalkan ‘sebentar lagi’.
Belum satu kedipan berlalu, segerumbulan punggawa kelas timur berduyung-duyung meninggalkan sarang. Dari tampang berandal seorang lelaki yang berjalan paling depan sembar menenteng satu bagian tasnya itu –Leo, ia tau mereka adalah rombongan kawan kelas Kinan. Senyumnya kembari mekar, matanya memicing mencari keberadaan Kinan diantara badan-badan bongsor yang berjalan sembarang menuju gerbang sekolah.
Ia tau, Kinan pasti pulang belakangan.
Sekonyong-konyong, gadis yang ia tunggu akhirnya terlihat juga. Ia berjalan ringan lalu menghentikan langkah diambang pintu sembari menatap selidik ke dalam kelas. Dari gelagatnya, ia sedang menunggu seseorang. Tak lama, dua sahabatnya bergandeng tangan keluar. Mereka bercakap sejenak, kemudian tertawa sepihak kala wajah Kinan bersemu kesal. Gadis berambut panjang itu mendorong kecil lengan Gavinda, seolah mengusir agar segera pergi dari hadapannya. Bukannya marah, Gavinda dan Okta malah tertawa puas kemudian melambaikan tangan meninggalkankan Kinan –yang lagi-lagi besengut sangat kesal.
Johan mengulum senyumnya, Kinan selalu selucu itu jika sedang kesal. Ia jadi penasaran tentang apa yang baru saja dilontarkan Gavinda dan Okta hingga membuat Kinan begitu geram.
Melihat mata Kinan yang kembali melongok ke dalam kelas, Johan mendadak berinisiatif untuk membuatnya semakin kesal. Lelaki itu membiarkan jemarinya bermain diatas layar ponsel untuk mengetikkan pesan.
Johan Imando Pratama
Ting-tong-ting-tong, lima menit kemudian~
Sejurus itu, Kinan terlihat merogoh saku roknya. Nampaknya ia sudah tidak tahan dengan godaan dering ponsel yang telah ia bungkam sepanjang waktu pelajaran. Tanda centang biru pun mewarnai room chat Johan. Lelaki itu tersenyum tipis, mengikuti pergantian detik saat Kinan mulai mengetik balasan.
Kinantul
-_- bentar
Johan Imando Pratama
Masih ngapain?
Kinantul
Nunggu Alan
Sedetik itu, bola mata Johan terpaku menatap layar ponselnya. Bukan, kali ini bukan pada latar belakang ponsel yang menampilkan senyum Kinan. Tapi pada pesan terakhir yang sukses membuat kedua ibu jari Johan mengambang ragu. Alan? Untuk apa Kinan menunggu Alan? Dan sejak kapan hubungan mereka sedekat ‘menunggu kepulangan’?
Johan Imando Pratama
Mau ngapain?
Kinantul
Ada urusan
Kening Johan bertaut kaku, urusan? Urusan apa? Apa lagi yang hendak mereka urusi jika perlombaan telah usai? Belum sempat Alan menjawab pesan terakhir Kinan, ponselnya kembali bergetar. Layar yang sempat menghitam itu, kembali menyala.
Kinantul
OTW
Jemari Johan mematung, tak tau harus menjawab apa. Lantas matanya cepat beralih pada Kinan yang kini tengah berjalan seiring dengan Alan. Mereka tampak akrab, ada pembicaraan-pembicaraan sedang mereka tertawakan namun tak bisa ia dengar.
Entah mengapa, setelah melihat itu, tiba-tiba saja Johan merasa asing. Apalagi, saat ia meneliti cara Kinan menatap Alan –yang seolah lelaki itu baru saja memberinya bintang dan bulan. Sebuah tatapan yang selama ini tak pernah dihaturkan untuknya –atau sesiapapun. Johan menghela nafas dalam. Setelah hampir sebelas tahun persahabatan mereka, baru kali ini ia merasa begitu-
Cemburu.
Johan Imando Pratama
En, Tul, entar aja ya? Tiba-tiba diajak Abel cabut soalnya.
Kinantul
Cabut kemana? Kamu ada les lho ya!
Johan Imando Pratama
Berisik.
Kinantul
Iya deh
Johan kembali bersungut-sungut menatap jawaban Kinan, Iya deh? Sejak kapan Kinan membiarkannya lolos begitu saja? Mana Kinan yang repot-repot menuliskan kalimat panjang hanya demi menceramahinya? Mana Kinan yang- Ah, kenapa ia menjadi uring-uringan hanya perkara jawaban sebuah pesan? Bukankah ini juga bukan kali pertama Kinan mengetikkan pesan sesingkat itu? Bukankah pada waktu yang telah lalu-
“Oh, Jadi Kinan?” saut seorang gadis yang dengan sengaja mejatuhkan mata pada layar ponsel Johan.
Lelaki itu cepat mengunci ponselnya dan tersenyum hangat menyambut gadis yang akhir-akhir ini kehadirannya bukan lagi hal baru. Siapa lagi kalau bukan Della, gadis sampul majalah sekolah yang begitu dingin dan menyebalkan, “Apaan?” sautnya singkat.
“Cewek yang kamu suka, Kinan kan?”
Johan tertawa kecil menutupi perasaannya, “Kalau chatting kamu anggap perasaan suka, berarti aku juga suka kamu dong, Del?” guraunya.
Gadis itu mengangguk riang, “Kalau emang bener, kabarin aja.” Godanya balik, lantas berlalu pergi meninggalkan Johan.
Lelaki itu berlarian kecil menjajari Della, “Jangan kaget lho ya kalau dikabarin.”
Della menggeleng mantap, “Halah, mana mungkin dikabarin. Orang sainganku aja Kinan.”
“Selalu gitu deh ngomongnya.” Ujar Johan.
“Ya habis gimana, udah jadi takdirnya si nomor dua buat selalu dicompare sama si nomer satu.” balasnya tanpa beban, “Tapi gak kaget sih kalau kamu suka sama Kinan, ya, walaupun bau-bau kena friendzone. Kinan kan, uhm, manis, pinter, friendly, perfect lah. Apasih yang kurang dari dia? Kurangnya dia jatuh di aku semua kali.”
“Hey, kalau Kinan seluarbiasa itu dimatamu, kamu juga seluarbiasa itu dimataku.” Bantah Johan, “Dont let insecure thoughts ruin something amazing, like yourself.”
Della menoleh, mengulum senyumnya, “Iya deh bang jago.” Jawab Della, “Jadi malu deh ketahuan insecure gini.”
Johan tertawa kecil, “Kayak sama siapa aja.” Balasnya, “Ada satu jam sebelum les nih, jalan yuk?”
Bahu Della terangkat malas, “Jalan kemana? Skip deh, mau nyicil PR.”
“Pantesan.” Johan mengipasi kepala Della, “Pantesan dari tadi kepalamu banyak asapnya, ternyata otakmu kepanasan kebanyakan dipakai dan nggak boleh istirahat.”
Gadis itu menghentikan pergerakan tangan Johan, “Aku begini karena ada yang ingin aku capai, Johan. Perjuanganku jangan dibuat bercanda.”
Johan terdiam, menatap nanar yang coba disembunyikan Della jauh disudut pelupuknya. Meskipun tak sekalipun Della membisikkan ceritanya, tapi Johan bisa membaca bahwa mereka sedang berjuang di dunia yang sama. Dunia yang diciptakan oleh orang-orang disekelilingnya.
“Aku duluan.”
Johan sigap menahan lengan Della, “Dell.” Panggilnya, “Bentar.”
Della berbalik dingin dan memaksakan senyum, “Aku gak marah, Jo, Cuma udah dijemput.”
Lelaki itu menggeleng, “Berangkat bareng aku.”
“Ha?” jawab Della spontan.
“Berangkat bareng aku, janji habis beli es goyang sama cimol di pertigaan depan langsung berangkat les.”
Della hanya diam menatap kesungguhan di mata Johan, “Im not your second choice, Jo. Jangan ngajak aku hanya karena kamu tadi nggak jadi keluar sama-”
“Bukan karena Kinan, Del!” potong Johan, “Aku Cuma nggak suka sama wajahmu yang semuram itu. Tiap kali kamu datang atau pulang les, kamu itu kaya orang yang diseret buat kerja paksa. Siapapun bisa nebak dengan mudah, kalau kamu muak sama semuanya. Del, kamu itu manusia, bukan mesin pencetak angka sempurna. You are responsible for your own happines!”
Della mengibaskan lengannya, “Apaan sih, Jo? Kamu ngapain ngomentarin hidupku? Mau aku muak, sedih, insecure or something, itu bukan urusan kamu!” gadis itu mengeluarkan buku catatan bersampul hitam dari tasnya dan meletakkannya kasar pada tangan Johan, “Nih, aku kembaliin. Jangan karena aku pinjam buku catatan ini, kamu bisa sok tau tentang tentang hidupku, Jo!”
Dengan wajahnya yang bersemu merah, Della menghentakkan langkah meninggalkan Johan yang mengguratkan perasaan bersalah di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, saat langkah mereka mulai terpaut jauh, Johan kembali berlarian mencoba menggapai lengan gadis yang penuh amarah itu, “Della! Del! Della!” panggilnya, “Della!”
Gadis itu tak menggubris panggilan Johan, dan terus berjalan ganas menuju gerbang sekolah.
“Dell, maafin aku. Maaf kalau aku lancang ngomentarin hidupmu. Tapi, aku Cuma ngerasa, kita hidup di dunia yang sama. Dunia yang menuntut kita untuk menjadi apa yang mereka mau. Dunia yang nggak pernah membiarkan kita memutuskan hidup sendiri. Aku Cuma ngerasa, kamu adalah rekan seperjuangan untuk melewati hidup yang semenyebalkan ini.” ujar Johan lagi-lagi, “Dell, please dengerin aku dulu.”
“Mind your own business, Jo!”
“Iya, Dell. Tapi, semua ini aku katakan hanya semata karena aku peduli sama kamu, Del. Bukan apa-apa. bukan karena aku pengen ikut campur.” Ucap Johan diantara enggahannya, “Aku Cuma mau nunjukin, di dunia yang sememuakkan ini, ada aku, Johan, yang peduli sama kamu!”
Gadis itu menghentikan langkahnya tiba-tiba, ia terdiam sejenak, membiarkan gema dari kalimat terakhir yang dilantunkan Johan terserap seluruhnya ditelinga. Berlambat laun, ia menoleh, menatap Johan yang begitu hangat membalas tatapannya.
“Di dunia yang penuh dengan tuntutan ini, ada aku yang nggak tidak pernah menuntutmu.”