Siang semakin benderang, mentari semarak membakar ketiak-ketiak siswa yang sesekali ditiup kipas angin dari sudut-sudut ruang. Separuh dari mereka mulai grasak-grusuk. Tanpa welas, tangan-tangan kasar mereka membolak-balikkan halaman yang sama-sama jenuh dihujami tinta warna-warni tanpa arti. Sedang separuh lain mulai keberatan menahan kepala. Bermodal lingkar mata menghitam, kepala-kepala itu disusun rapi bersama buku-buku tebal dan jaket hangat diatas meja belajar.
Rupanya bagi mereka, materi siang ini tak lebih dari buaian dongeng sebelum tidur.
Dari sudut pandang yang berbeda, Pak Nur mengambangkan spidol hitam diantara papan tulis dan kekecewaan. Sudut matanya melirik, menjamah satu persatu kepala yang akan menunduk sempurna saat punggungnya berbicara. Ia menghela nafas, entah jengah atau lelah. Diletakkan spidol hitam sia-sia itu kembali pada tempatnya.
Pak Nur tau, jenuh tengah menyelimuti kepala murid-muridnya. Pelajaran fisika dan matematika yang telah lalu jelas menghempas pikiran mereka jauh-jauh. Mata Pak Nur bergulir ke pintu kelas yang tertutup. Pikirannya merenung. Benarkah tangannya yang terus menghunuskan tinta spidol pada papan putih atau benarkah keputusannya untuk membiarkan pintu angkuh itu terbuka lebar?
Pak Nur terdiam, kembali memandangi satu persatu kepala murid-muridnya. Pada tantangan yang akan menampar mereka dua minggu lagi, mana keputusan yang hendaknya ia pilih?
Guru setengah rocker itu menipiskan senyumnya. Ia mengetuk papan putih kencang, mengejutkan sesiapa yang mulai terbuai dibalik mimpi. “Yuk bangun!” serunya, “Annas, Okta, Alan, Vivian, ayo bangun-bangun!” ujarnya sembari mengetuk-ngetuk meja dengan buku-buku jari.
Semua siswa tersentak, buru-buru duduk menegak dan lantas berpura-pura sibuk membaca apa saja diatas meja demi menghindari pertemuan mata. Pak Nur tersenyum, “Sama, saya juga bosan.” Ucapnya mencairkan keheningan.
“Hm, daripada tiga puluh menit kedepan kita habiskan dengan menjawab satu persatu pertanyaan dibuku latihan soal, gimana kalau kita menjawab hal-hal menarik diluar buku itu?” tanya Pak Nur, “Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu dengan menjawab pertanyaan ringan yang pasti sering kali kalian dengar tapi selalu ragu apa jawabannya. Ada yang bisa nebak apa pertanyaannya?”
Seisi kelas serempak menggelengkan kepala.
Senyum Pak Nur semakin mengembang. Ia melangkah menjelajahi lorong kelas, “Sesederhana apa sih bahagia itu?”
Mendengar pertanyaan itu, kelas mendadak hening. Decit kipas angin disudut-sudut ruang pun turut bungkam, seolah membiarkan seluruh penjuru kelas khusyu’ memikirkan jawaban.
Sekian detik berlalu, Pak nur menepuk tangan keras menyudahi bisu, “Untuk menemukan jawabannya, ayo kita ke lapangan! Ayo kita dekati muasal bahagia.” Serunya memecut wajah-wajah lesu agar kembali bersemangat, “LETS GO!”
Dari tempat duduknya, Kinan menghela nafas lelah. Ia sebenarnya menyukai ide Pak Nur, lagipula ia juga sudah terlampau jenuh membiarkan matanya berulang menatap papan dan buku catatan. Namun, entah mengapa malas mencengkram kakinya kuat-kuat hingga ia terlalu payah untuk melangkah.
“Ayo, Nan!” ajak Gavinda girang. Entah bagaimana wajah kantuknya mendadak hilang sempurna.
Kinan mendengus, “Mager, Vin!” keluhnya.
“Apanya sih mager? Kamu nggak sumpek duduk ngelihatin tulisan mulu.” Ujar Gavinda tak habis pikir.
“Diluar panas tau!”
“Emang disini nggak panas?” tanyanya sembari menarik lengan Kinan, “Ayo buru!”
Dengan sedikit berat hati, Kinan akhirnya rela mengangkat tubuhnya. Belum sempurna langkah pertamanya usai, matanya bertemu dengan Alan yang entah sejak kapan berdiri didekat bangkunya. Tiba-tiba, dari balik saku celana, Lelaki itu mengulurkan karet gelang bekas nasi goreng (lain) kearahnya.
Kinan terdiam, matanya mengerjap salah tingkah.
“Katanya panas?” tanya Alan, “Siapa tau mau pakai.”
“A-ah, Makasih, Lan.” Ucapnya sembari menerima uluran karet gelang itu, “Kunciran ku tadi diambil Johan, nanti pulang-”
“Nggak masalah.” Potong Alan cepat, ekspresinya seolah berkata bahwa ia tak perduli dengan apapun yang terjadi pada hadiah pemberiannya. “Duluan.” ujarnya lantas berlalu pergi.
Masih ditempatnya sejenak tergugup, Kinan menatap kepergian Alan. Ada sedikit rasa kecewa dihatinya. Namun ia sendiri sebenarnya tidak mengerti apa yang membuatnya kecewa. Apa karena Alan yang terlihat sangat tidak perduli atau-
Gadis itu menunduk menatap karet gelang itu, Lagi-lagi, ekspetasi mengecewakanku –batinnya.
“Nan?” tegur Gavinda.
Kinan berbalik, menipiskan senyum, “Yuk!” ucapnya cepat berusaha mengabaikan pandangan selidik yang dihaturkan sahabatnya.
Melihat gelagat Kinan, Gavinda segera mengejar Kinan. Dirangkulnya lengan gadis itu rapat-rapat, “Sejak kapan kamu sama Alan?”
Kinan meronta, “Apaan sih!”
“Cielah, Kinan Tha udah gede!” goda Gavinda, “Entar kalau Alan nakal langsung bilang ya? Biar mbak Gavin yang ngehajar.”
“Apaan sih! Orang nggak ngapa-ngapain.” Ketusnya.
“Oh ya? Masa? Terus ngapain coba dia sampai ngasih kuncir rambut itu? kamu juga kelihatan ngerasa bersalah banget waktu kunciran itu diambil Johan.”
Kinan menjeda langkahnya, ia menatap Gavinda sejenak, “Nanti aja ya ceritanya?”
Mata Gavinda seketika membelalak, “Loh, jadi bener? Gila baru berapa ming-”
Dengan tangkas Kinan membungkam mulut Gavinda agar teriakannya tak semakin nyaring, “Diem bisa nggak sih?”
Gadis itu mengulum bibirnya nakal, “Ups, ada yang lagi jatuh cinta nih!” ujarnya sembari berlalu pergi.
“GAVINDA!” nyalak Kinan.
“AYO SINI SEMUA!” teriak Pak Nur, tangannya melambai mengajak murid-muridnya yang terlalu lama berjalan untuk segera duduk dibawah rindangnya pohon jambu di sudut lapangan.
Kinan segera berlari kecil menghampiri kerumunan, meninggalkan Gavinda yang terus menggolok-ngoloknya lewat pandangan mata. Sepertinya, ia harus siap menghadapi Gavinda beberapa hari kedepan.
Dibalik rumbai-rumbai daun yang menghalangi sinar mentari mengeringkan sudut lapangan, kelas yang dipunggawai Pak Nur duduk berserakan. Senyum yang sedari pagi kusut mulai berkembang rapi seiring dengan satu dua celetukan hangat mengudara. Ah, segar.
Tanpa perduli pertikaian kemeja putih dan rerumputan separuh basah, Pak Nur merebahkan tubuhnya. Matanya tersenyum menatap gumpalan awan-awan putih yang berserakan dilangit. Ia menghela nafas dalam, merasakan udara Malang yang tetap segar meski seterik ini. “Langitnya bagus ya? Apa akhir-akhir ini kalian pernah sekali aja istirahat sambil ngelihat langit?”
Alan yang duduk sedikit jauh, turut mendongakkan kepala menatap langit yang sedang dipuji sang guru. Senyumnya terkulum tipis, sejak kapan langit seindah ini? –batinnya.
“Ada nggak yang minimal sekali saja setiap harinya menyempatkan waktu semenit dua menit buat mengagumi langit?”
“Kayaknya nggak ada, Pak.”
Sudut bibir Pak Nur terangkat, “Sudah saya duga. Manusia memang selalu sibuk, sampai lupa Tuhan menyisihkan sepotong surga diatas sana.”
Pak Nur kembali menegak, menyandarkan punggungnya pada batang pohon. “Karena ini masih jam pelajaran, ayo kita bahas pertanyaan saya dikelas tadi. Tentang ‘sesederhana apa bahagia’ versi kalian.” Mata pak Nur berkeliling, “Della, sesederhana apa bahagia versimu?”
Della sigap menegak, “Dapat nilai bagus di tryout, masuk kelas unggulan lalu kuliah di universitas impian Pak.”
Pak nur tersenyum sedikit kecewa, bukan bahagia seperti itu yang ingin ia ajarkan hari ini. Tapi, lelaki paruh baya itu cepat-cepat menyadarkan diri. Definisi sedih dan bahagia setiap orang itu berbeda, tidak ada seorangpun yang berhak menghakiminya.
“Semoga yang kamu semogakan tersemogakan, ya, Della!” jawab Pak Nur penuh kelembutan, “Kalau kamu Bintang, sesederhana apa bahagia versimu?”
Lelaki berambut cepak itu bergumam, “Hmmm.” Ia menjeda, “Sesederhana senin kemarin hujan, jadi nggak jadi upacara, Pak!” serunya.
“Wah, ininih ciri-ciri mahasiswa yang kabur waktu upacara.” Tanggap Pak Nur, “Kalau Okta?”
“Sesederhana jamkos waktu bimbel, Pak.”
“Harapan tetap anak kelas dua belas ya, Ta? Kalau Leo?” Pak Nur menoleh kearah Leo yang duduk disampingnya, “Kalau kamu gimana?”
Leo menghela nafas jengah, “Dapet uang, Pak.” Jawabnya dingin.
“Bagus, saya juga bahagia kok kalau dapat uang.” Balasnya, “Kalau Gavin, sesederhana apa bahagia versimu?”
“Bolos les nggak ketauan, Pak!” jawabnya menggebu.
“Dasar kamu! Saya bilangin ke mamamu lho!”
“IH JANGAN PAK!”
Pak Nur tertawa renyah, “Iya-iya.” ia menoleh, mengubah haluan menatap lelaki berkacamata tebal yang sedang asyik bergelut dengan rumput-rumput dibawahnya. “Kalau Jodhi, gimana?”
Pergerakan tangan Jodhi segera terhenti, wajahnya berubah sangat cemas seolah sedang dihadang pertanyaan yang menyangkut hidup dan mati. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, tak tau harus menjawab apa.
“Jodhi bahagia kalau sedang apa?” ulangnya.
Lelaki itu menggigit ujung bibirnya dan menggeleng kecil.
Tiba-tiba, satu tangan hangat mendarat dipunggungnya. Tangan yang akhir-akhir ini tidak pernah membiarkannya jatuh lebih dalam, “Kemarin udah Mythic kan?” tanyanya.
Jodhi menatap Alan sejenak, lalu mengangguk dalam. Matanya beralih takut-takut menghadapi pertanyaan Pak Nur, “Menang battle.” Jawabnya lirih.
“Game doang garang, aslinya cupu.” Seloroh Leo.
Senyum Pak Nur mengembang sempurna, “Hebat! Nanti kalau ada lomba game kamu harus ikut ya!” sambutnya hangat, “Hm, Kalau Kinan?”
“WAH, KALAU KINAN YA-”
Seruan Gavinda yang sudah dapat ditebak kelanjutannya itu segera dibungkam Kinan. Ia sudah siaga sejak awal, ia sudah menduga Gavinda akan menggodanya seperti ini. “Gak sengaja nemu uang di saku, Pak.” Jawabnya tanpa berpikir panjang.
“Kok Gavinda ditutup mulutnya, Nan? emang mau ngomong apa? Nggak boleh lho kayak gitu.”
“Eh- Anu, Pak-”
“Tau nih, Pak, Kinan. Padahal, saya mau bilang Kinan itu bahagia kalau nemu uang di saku.” Ujar Gavinda sembari bermain mata dengan Kinan yang sudah kehilangan ketenangannya.
“Kalian ini memang!” ujar Pak Nur, “Terakhir, kalau... Hm, Kamu Lan?”
Alan yang sepertinya sama sekali tidak turut mendengarkan pembicaraan itu menoleh tenang. Ia menatap langit sejenak, mencoba menguntai kata, “Sesederhana lihat langit sebiru ini ditengah jam pelajaran.” Jawabnya.
Jawaban Alan adalah penutup yang paling sempurna dari pelajaran siang ini.
“Bagus, jawaban kalian semuanya bagus dan benar.” Pak Nur menatap satu persatu putra putrinya, “Dan dari jawaban kalian semua, coba deh dirangkum, sesederhana apasih bahagia itu sesungguhnya.”
Suasana kembali hening, mata-mata kembali menghindar.
“Ada yang mau coba? Saya hanya butuh satu kata saja yang mewakili jawaban kalian semua, setelah itu boleh pulang.”
“Saya, Pak.” Saut Kinan
Semua mata serempak tertuju padanya, tak luput mata Alan.
“Iya, Nan.”
“Menurut saya,” Kinan menjeda, menggulirkan matanya pada sinar mentari yang memaksa masuk dari sela-sela daun, “Bahagia itu sederhana. Sesederhana berkata ‘aku bahagia’ dan sesederhana kita meyakini bahwa kita sedang bahagia.” Ujarnya penuh makna.
Mata Pak Nur berbinar takjub, sempurna. “Benar, Nan. Bahagia itu sebenarnya hanya sesederhana itu. Hanya saja terkadang standar kebahagiaan kita yang terlalu tinggi. Kita selalu mematok kebahagiaan berdasar pencapaian orang lain. Padahal, bahagia tidak bisa diukur dari itu. Bahagia adalah soal rasa, bukan materi atau sebagainya. Ibaratnya, kita selalu mendongak mencari puncak gunung, sampai lupa ada lereng, lembah, danau dan jalanan berliku yang lebih hijau dan tidak kalah membahagiakan.”
“Jadi anak-anak, berhenti hidup semelelahkan itu. Mulailah menyederhanakan hidup. Mulailah bahagia dengan cara yang sederhana. Bahagialah sesederhana upacara dibatalkan, diizinkan bolos les, keluar kelas waktu masih jam pelajar, nemuin uang disaku, dan hal-hal kecil lain. Jangan jadikan ekspetasimu menjadi patokan kebahagiaan.
“Jangan mencari bahagia, tapi bentuklah bahagiamu dengan cara-cara yang sederhana. Jangan lupa bahagia dan bersedihlah secukupnya. Jangan terlalu menunduk dan jangan terus mendongak. Mari menyerderhanakan hidup dengan bahagia pada hal-hal yang paling sederhana.”