BAB 15 : ILUSI

1458 Kata
Kelas siang ini begitu pengap, mungkin karena penghuninya terlalu banyak menghela nafas lelah kala mata mereka tak henti dijejali soal-soal. Apalagi, ditengah kelas, tempat beberapa anak berkelompok membahas prediksi soal tryout yang segera digelar dua minggu lagi. Ya, mau bagaimana lagi? Kelas dua belas memang sudah seharusnya sesibuk ini.             Okta menghentakkan buku tebalnya keras-keras, “Ah, aku nyerah!” pekiknya.             Kinan tertawa, mendorong botol minumnya, “Minum dulu.”             Gadis itu menggeleng, “Sumpah, kalian nggak ada yang mau ke kantin nih?”             “Kan udah tadi.” Jawab Gavinda, “Bungkusnya aja belum dibuang, kok mau ke kantin lagi.”             “Bosen tau!” keluh Okta lagi-lagi, “Aku nggak tau apa yang aku nggak tau. Jadi aku nggak tau harus belajar apa.”             Kinan tiba-tiba teringat sesuatu, “Bentar, aku ada list materi yang harus kita kuasai. Aku biasanya lihat list itu buat acuan belajar.” ujarnya sambil sibuk mengorek isi tas. Setelah sekian lama mencari, gadis itu tiba-tiba tersadar, “Ah iya, dipinjem Jodhi. Nanti ya, Ta, aku ambil dulu?”             “Santai, kayak aku mau belajar aja.” Tanggap Okta yang disambut gelak tawa Gavinda. “Tapi ngomong-ngomong, tumben Jodhi pinjem bukumu?”             “Mamanya yang pinjam, dua hari lalu telepon bunda.”             “Sudah kuduga.” Timpal Gavinda. “Kapan katanya mau dikembalikan?”             “Nggak bilang sih, makanya nanti aku tanya dulu.”             “Eh, tapi Jodhi kemana ya? Kok nggak kelihatan? Nggak lagi diapa-apain kan sama Leo?” tanya Gavinda selidik, “Dari awal jam istirahat tadi, mereka berdua nggak ada dikelas lho!”             “Tadi Jodhi dipanggil Pak Nur.” saut Okta.             “Ah syukur deh.”             “Syukur apanya? Kita malah harus khawatir ini.”             “Kok?” ujar Kinan ikut menimbrung.             “Akhir-akhir ini Leo nggak berulah sama sekali. Iya sih, bolosan dan sebagainya. Cuma lihat deh, dia nggak godain Jodhi sama sekali.” Jawabnya setengah berbisik, “Kalian inget nggak, waktu kita kelas 11? Yang masalah Leo sama Johan.”             Kinan menatap Okta, memberi perhatian penuh, “Kenapa?”             “Masih inget kan pola kejadiannya? Leo ganggu Jodhi, Johan datang belain. Terus Leo dihukum dan selama masa hukuman dia sama sekali nggak berulah. Lalu hampir dua minggu kemudian, Johan babak belur dilapangan belakang.” Jelas Okta, “Ini Cuma soal waktu Alan bakal dapetin hal yang sama.”             Sejenak, mata Kinan menatap kuncir rambut berornamen bunga iris yang melingkar dipergelangan tangannya. Ada sedikit rasa khawatir menyelinap diam-diam dalam tatapannya. Gadis itu menoleh, menatap Alan yang terus menyimpan kepalanya diatas meja. Tidak, ia tidak akan membiarkan kejadian yang sama terjadi pada Alan. Lelaki itu, punggungnya sudah cukup banyak beban.             “Nggak lah, nggak bakal.” Saut Kinan. “Iyalah, nggak bakal. Kan kemarin Alan udah dihajar di mess belakang sekolah itu.” tambah Gavinda, “Masa lagi?”             “Iya sih.” Kata Okta, “Tapi habisnya Leo aneh, ga ngulah sama sekali sejak kejadian itu. Kan yang diam-diam biasanya lebih mematikan.”             “Iya, kayak Kinan. Diam-diam mematikan.”  Saut seorang gadis berwajah kaku yang berjalan mendekat sembari membawa buku catatan milik Kinan. “Bener kan? Kayak Kinan, diam-diam rangking satu.”             “Kalau itu pujian, terimakasih Della.” Balas Kinan tenang.             Gadis itu tersenyum anggun, “Tapi sayang, aku nggak kesini untuk muji kamu, Nan.” jawabnya. Ia meletakkan buku catatan Kinan diatas meja, “Aku cuma mau ngembalikan buku catatanmu. Rapi juga, enak dilihat.”             “Sama-sama, Della.” Saut Okta kehilangan kesabarannya. “Tinggal bilang terimakasih aja muter-muter!”             Della tersenyum sekilas, “Lagi belajar apa?”             Sebelum Gavinda menyaut dengan nada yang lebih ketus, Kinan segera memotongnya, “Matematika. Mau gabung?”             Gadis itu menggeleng pelan, “Enggak, deh. Belajar bareng anak rangking satu nggak bisa bikin aku jadi rangking satu soalnya. Mending sama yang lain.”             “Sumpah, nih anak nggak ada bosen-bosennya jadi nyebelin.” Gumam Gavinda.             “Bagus deh, aku Cuma basa-basi kok.” Balas Kinan tak mau kalah. Dua sahabatnya segera membungkam mulut mereka menahan tawa.             “Oh gitu.” Jawabnya dengan tenang, “Ngomong-ngomong, gelangmu bagus juga. Pasti dibelikan Johan.” ujarnya sembari menatap lekat-lekat kuncir rambut berornamen iris di pergelangan tangan Kinan.             “Ini kuncir rambut.” Jawab Kinan ketus, “Dan ini bukan dari johan, ini dari-”             “Kuncir rambut itu dipakai dirambut, Nan. Bukan ditangan.” Selanya, “Dari Johan atau bukan, aku nggak penasaran kok. Cuma basa-basi.” Balasnya.             Mendengar jawaban memuakkan itu, Kinan dan kedua temannya membeku sejenak. Dalam satu gertakan, Della bisa membalikkan keadaan menjadi seimbang. Gadis yang populer karena kecantikannya itupun tersenyum penuh kemenangan. “Yaudah, aku ke perpustakaan dulu ya?” pamitnya lantas berlalu pergi.             “Aku nggak penasaran kok, Cuma basa-basi.” Nyinyir Gavinda menirukan gaya bicara Della yang begitu anggun namun memuakkan, “HAH! Ada ya ternyata orang kayak Della? Pengen aku jambak rasanya!”               Tiba-tiba Okta berdiri dengan wajah begitu kaku, “Yaudah, aku ke perpustakaan dulu ya?” nyinyirnya lagi-lagi.             Gelak tawa Okta dan Gavinda pun segera berderu kencang. Namun disela itu, Kinan justru terdiam menatap kuncir rambut yang masih bersarang manis dipergelangan tangannya. Entah kenapa dari seluruh sikap Della dan kalimat pahit yang baru saja ia lontarkan, Kinan ditampar perasaan aneh; Della juga sedang berjuang menutupi luka. Jika sikap adalah bentuk pertahananan diri, maka seperih apa luka hingga ia berlindung dibalik tembok yang sebegitu kokoh?  “Udah jangan dipikirin.” Tegur Gavinda. Kinan menegak, membuyarkan lamunannya, “Apaan, nggak kok.” Kilahnya.             “Tapi, nggak sadar lho kalau Kinan pake kuncir rambut ditangan gitu. Della perhatian juga ya?” ujar Okta.             Kinan tersenyum, “Iya, perhatian juga. Tapi, bener ‘kan katanya Della? Kuncirku cantik.”             Melihat ekspresi yang tak wajar diwajah sahabatnya itu, Okta memicing menatap Kinan penuh kecurigaan, “Oh ya, Katamu bukan dari Johan, terus dari siapa?”             Gadis yang ditanyai itu hanya mengerling. Tangannya tiba-tiba bergerak perlahan menguncir rambut, “Rahasia.”             “Pasti dari anaknya Pak Nur yang namanya Cuma satu huruf itu! Siapa Vin?”             “R?”             “Ah iya, R!”             “Ngasal! Bukan lah.”             “Terus siapa dong?”             Kinan menggedikkan, “Enaknya siapa?”             “Oh gitu sekarang, main rahasia-rahasiaan?”             Tiba-tiba dari arah pintu kelas, munculah lelaki yang selalu menganggu jam istirahat Kinan. Siapa lagi kalau bukan Johan. Kinan menghela nafas panjang, dilihat dari ekspresi itu, Johan pasti akan mengeluarkan rengekan-rengeken memuakkan. “Nan, film yang waktu itu aku tunjukin trailernya udah keluar di bioskop tau!” ujar Johan menggebu-nggebu.           “Oh iya? Wow, aku sangat terkejut.” Jawab Kinan datar. “Yuk?” “Nggak.” “Kok enggak, kan waktu itu udah janji mau nemenin nonton.”             “Aku kerja.”             “Ya kan nggak hari ini, Nan!” “Ya tetep aja enggak!” sela Kinan, “Dua minggu lagi kita tryout pertama lho, Jo. Kamu kok masih sempet aja ngajak aku nonton.” “Orang Cuma tryout, Nan. Kecil deh buat kamu! Inget kata Pak Nur, setelah berjuang, kita harus ngasih reward buat diri sendiri.” “Reward-reward! Emangnya kamu udah berjuang sejauh apa?” tantang Kinan, “Orang kemarin dikasih PR dikit aja, aku yang disuruh ngerjain.” “Tryout ini nggak ‘cuma’ kali, Jo.” Ujar Gavinda turut dalam pembicaraan, “Kelas bimbel kita bakal dikelompokkan sesuai peringkat tryout besok.”             “Kata siapa? Kelasku kok nggak dikasih tau.”             “Ye! Kamu aja yang nggak dengerin pas pembekalan senin kemarin.” Saut Okta.             “Oh diumumkan pas pembekalan senin kemarin?” tanya Johan tak berdosa, “Aneh banget sekolah ini, apa-apa dikelompokkan berdasarkan peringkat. Dikira kita bakal terpacu gitu? Enggaklah. Gimana mau terpacu, kalau si pintar sama si pintar dan si belum pintar sama si sangat belum pintar.” Protes Johan.             Okta menghela nafas, “Yah, gimana lagi? Mau nggak mau, kita harus siap. Tujuh belas tahun adalah masa dimana orang-orang akan melabeli kita dengan peringkat. Tujuh belas tahun juga adalah masa dimana peringkat menjadi tolak ukur kesuksesan masa depan.”             “Setuju!” Timpal Johan. Sedetik kemudian, ia menarik kuncir rambut Kinan hingga rambut gadis itu kembali jatuh terurai, “Tapi, nggak mau tau, kita tetap harus nonton!” tegasnya.             “JOHAN!” pekik Kinan marah.             Lelaki itu segera berlarian menghindari Kinan. “Kalau mau kuncirmu kembali, harus setuju nonton sama aku!”             Gadis itu memejamkan mata, benar-benar kehilangan kata dan lagi-lagi sengaja memilih mengalah. Kala ia berbalik menuju tempat duduknya semula, Mata Kinan tak sengaja bersitatap dengan Alan.             Bibir gadis itu bergetar, ingin menjelaskan keadaan. Namun sayang, belum sempat sepatah kata pun terucap, Alan melengos tak perduli dan kembali melanjutkan perjalanannya dialam mimpi.             Gadis itu tersenyum kecut. Rupanya, tatapan Alan tak bermakna sedalam yang ia duga. Rupanya, ia hanya salah sangka.             Hubungan diantara kita, ternyata hanya sebatas ilusiku semata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN