BAB 14 : KALEIDOSKOP - THE DAY

1513 Kata
Malam telah jatuh, perayaan telah usai.             Meja makan sunyi, ruang utama sendiri.             Sedang, disudut kamar gelap yang tiap sudutnya mengutuki hujan gerimis diluar sana, seorang gadis berwajah sendu duduk menatap pantulannya di cermin rias. Tangannya begitu anggun menyingkap rambut-rambut halus yang masih terurai menutupi luka dilehernya. Sedetik kemudian, ia tersenyum. Senyum yang begitu sayu.             Dengan sedikit keraguan, matanya beralih menatap kuncir rambut berornamen bunga iris yang tergeletak dihadapannya. Cantik, sangat cantik. Ini seperti salah satu kuncir rambut yang dulu selalu ia pilih dipagi hari. Benar, sejak kecil ia memang suka menguncir rambut, orang-orang memuji parasnya karena itu. Namun kini, tidak lagi.             Tidak ada lagi yang mengatakan bahwa dirinya cantik kala rambutnya dijunjung tinggi. Malah sebaliknya, semua orang akan menyipitkan mata, bergidik ngeri dan bertanya ‘Dari mana muasal luka sedalam itu?’. Lalu lantas, ia tak akan mampu menjawab. Ia akan terdiam, menunduk dalam, menyembunyikan tangis dalam lipatan mata.             Mata gadis itu beralih pada gerimis yang terus basah, hatinya berteriak kencang ‘Kenapa tak sekalian badai saja?’              Tiba-tiba, langit menggelegar. Seolah tak terima diumpati seorang gadis bermata sendu. Gerimis pun segera runtuh menjadi babak baru.             Gadis yang berusaha keras menyembunyikan keterkejutan diwajahnya itu pun menggiring senyum sini. Malam ini tak lagi boleh ia kalah pada hujan, badai atau sebagainya. Malam ini dengan lantang akan ia buktikan pada dunia, bahwa; Aku kuat dan baik-baik saja.             Dalam sekali hentakan, disambarnya kuncir rambut berornamen iris itu dan diikat tinggi-tinggi pada rambutnya yang tak terjunjung rapi. Kini, bekas luka yang seolah tak pernah pudar dimakan tahun itu terukir gagah melingkari lehernya. Gadis itu lagi-lagi menatap wajahnya dipantulan cermin.             “Cantik.” Ujarnya sambil memaksakan senyum. --- [Jember, 23 Desember 2007]             “Lalu Kinan siapa? Kinan anak siapa!”             Gadis kecil yang kini tepat berumur enam tahun itu duduk meringkuk membungkam telinganya dibalik pintu. Kakinya gemetar mendengar sautan teriakan, erangan, hentakan bahkan pecahan piring yang menggema keseluruh ruang. Ia ketakutan, sangat ketakutan. Hanya pada suntik plastik yang tak melindungi apa-apa itu, ia berserah.             PRANG!!!             “Jawab Sandra!” teriak papa lagi-lagi.             “Kalau memang bukan anakmu kenapa? Toh, kamu juga nggak pernah ada buat dia! Kau selalu sibuk-”             BRAKKK!!!             “AARGHHH!!!” mama berteriak kesakitan, “Menyiksaku seperti ini apakah membuatmu merasa baik? Kalau iya, lakukan saja! Kamu memang lebih rendah dari binatang! Entah apa yang kupikirkan saat aku menerima pinanganmu!”             “DASAR p*****r!” suara debaman tubuh bertumbukan dengan meja yang terguling menusuk ngilu, “Jadi benar yang selalu dibisikkan orang-orang padaku? Kau dengan lelaki tua pemilik toko emas g**g depan itu? murahan sekali!”             “Hey, Pram! Kamu kira uang yang kau kirimkan setiap bulannya cukup untuk biaya makan dan hutang yang kau tinggalkan? Berpikirlah! Kau harus berterimakasih padaku?”             “Berterimakasih? Kau benar-benar tidak punya malu Sandra! Dan mulut siapa yang harus kuberi makan? Kau? Kinan? anak itu bukan anakku!”             Mendengar pekikan tajam itu, Kinan merambat. Kakinya yang gemetar dipaksa berjinjit, mencoba mengintip keadaan lewat lubang pintu. Gadis itu seketika membisu, menatap carut marut diluar sana. Dadanya terkoyak menatap darah segar yang mengalir dikening mama, dan beberapa titik lebam yang menggantikan kecantikannya. Sedang, dihadapan mama, papa berdiri dengan mata senyalang elang sembari mengenggam erat pisau dapur yang ujungnya telah berdarah.             Kenapa papa dan mama bertengkar? Apa ini kesalahanku? Apa ini karena aku sering menolak makan tepat waktu? Atau karena aku beberapa hari lalu meminta boneka baru untuk perayaan ulang tahun? –ringkik batin Kinan.             Tepat diakhir pertanyaannya, lelaki yang selalu ia sambut dengan pelukan hangat itu kini mengacungkan pisau dapur berdarah kewajah ibundanya. Gadis itu semakin tercekat, namun ia sadar, harus ada yang diperbuat. Dengan keberanian sisa, dan nafas pendek-pendeknya, ia mantap memutar gagang pintu dan berlari keluar.             “BERHENTI!” teriaknya, “Papa ngapain?” tanyanya sambil terus menitikkan air mata.             “KINAN!” sang mama lalu mengelak, berlari, menyembunyikan Kinan dibalik pelukannya.             “Mama berdarah.” isaknya, “Pa, mama berdarah!”             Lelaki yang dipanggil papa itu menggeram marah, tangannya segera mengamuk menggulingkan hiasan diatas lemari kayu, “Jangan panggil aku papa! Kamu bukan anakku! Dasar anak haram!”             “PRAM!” mama berteriak kencang, tangannya menutup telinga Kinan rapat-rapat. “Jaga bicaramu! Kamu boleh menghancurkan aku, tapi jangan buat Kinan ikut campur urusan kita.”             “Ini urusan dia juga! Dia lahir dari rahim p*****r yang sama sekali nggak tau malu tinggal dirumahku!”             “Sudah cukup kamu berkata aku p*****r, Pram!” perempuan yang darahnya belum mengering itu memeluk Kinan erat dan berbisik, “Lari kerumah tante, bilang mama sakit.”             Gadis kecil yang terus menangis itu menatap kesungguhan dimata mamanya, tak ada pilihan, ia harus mengangguk tenang. Lantas, ia berbalik dan mencoba berlari mendekati pintu putih yang berdiri angkuh disudut sana. Namun naas, belum genap lima langkah, kakinya disandung tangan kekar yang dulu selalu membelai puncak kepalanya.             Kinan menoleh ketakutan, “Papa?” teriaknya tertahan.             “PRAM! LEPASKAN KINAN!”             Sedetik kemudian, posisi berubah. Kini, tangan kekar itu melingkar ditubuhnya rapat-rapat. Sesak, sangat sesak. Tiba-tiba, moncong pisau dapur yang sudah basah darah itu mendarat dingin dilehernya. Gadis itu seketika membeku, tangisnya tak lagi pecah. Nafasnya tercekat hebat, keringat dingin mengalir mentah-metah.             “Papa-” rengeknya.             “Jangan panggil PAPA!” sentaknya.             Darah segar mengalir dileher Kinan. Gadis itu sangat ketakutan, namun tubuhnya enggan bergerak. “Sakit.” lirihnya.             “PRAM! Apa-apaan kamu! lepaskan Kinan atau kau akan kubunuh.”             “Bunuh saja, akan kubunuh terlebih dahulu anak hasil hubungan gelapmu ini!”             Goresan pisau dapur semakin memanjang, menyayat leher Kinan. Air mata sempurna tanggal dari matanya.             “Ma-ma.” Ujar Kinan terbata.             Sandra, seorang ibu yang wajah dan tubuhnya memar berdarah itu tak lagi mampu berpikir jernih ketika melihat anak yang begitu dikasihi terluka dihadapannya. Dengan matanya yang telah buta, sekali tebasan ia layangkan gucci hadiah pernikahan miliknya ke kepala Pram.             Lelaki itu berteriak kencang memaki Sandra, “ARGH! DASAR JALANG!” teriaknya.             Satu kedip mata kemudian, Kinan berkelit mencoba meloloskan diri. Namun tanpa sengaja, pisau dapur itu justru menyayat lehernya lebih dalam pula lebih panjang. Gadis itu meringis kesakitan.             “KINAN!” teriak sandra. Dipeluknya anak semata wayang itu, “Kinan keluar, pergi kerumah tante. Apapun yang terjadi, Kinan nggak boleh membalikkan badan.”             Dengan isakannya yang mencekik, gadis itu mengangguk, kemudian secepat angin berlari menuju pintu putih. Dalam pelarian anaknya itu, Sandra mati-matian menghalangi Pram yang terus kesetanan mencoba mengejar Kinan. Dalam hatinya, ia boleh mati asal Kinan hidup bahagia.             Usai gagang pintu yang membuatnya harus berjinjit lebih tinggi lagi itu berhasil diputar, Kinan terdiam menatap guntur yang membara serta hujan yang terus jatuh membungkam pertiwi. Gadis itu terdiam, khusyu’ mendengar erangan kesakitan dari sang ibunda. Air mata akhirnya kembali meleleh jatuh membelah wajahnya, gadis itu menunduk tak tau harus apa.             “Kinan, pergi!” teriak mama lagi-lagi.             Gadis kecil itu meremas baju tidurnya, lantas berlari menerjang hujan yang kian melebat. Langkah kecilnya basah meninggalkan jejak darah. Gadis itu menyeka air mata, dan terus berlari kearah datangnya cahaya. Ia sesenggukan, matanya berkunang-kunang. Darah terlalu banyak jatuh dari lehernya.             Hingga akhirnya satu guntur membelah jalanan desa, Kinan terjatuh. Wajah sayunya menggadah menatap langit yang hampir runtuh. Bibir kecilnya bergetar, “Terimakasih hadiah ulang tahunnya.” Bisiknya lirih.             Seketika, bumi bergetar, daun-daun meranggas dan bulan pun malu bersinar.             Hujan mereda, teriakan menghilang, orang-orang desa dengan senter-senter kuning berkumpul melingkarinya. Gadis itu tersenyum tenang, menatap mata-mata khawatir disekelilingnya.             “Kinan nggak papa, yang sakit mama.” ---             Gadis dihadapan cermin itu menunduk dalam, menahan nyeri didada yang semakin naas. Namun semakin lama, buaian sesak itu tak mereda. Tak berselang lama, Hyperpnea kembali mengetuk pintu kamarnya keras-keras. Gadis itu semakin tercekat, nafasnya pendek-pendek, pucat pun semakin tergurat.             Ia mencoba tenang, menghitung nafas, memeluk dirinya sendiri, melakukan teknik pengembalian diri. Diantara itu, tak sengaja matanya jatuh pada pantulan luka melingkar yang terlukis di cermin meja rias. Seketika, ketukan dibalik pintu kamarnya mengeras membiarkan taringnya menjalar lewat sela-sela sempit lubang.             Gadis itu meringkik kesakitan.             Tanpa berpikir panjang, ia menarik kasar kuncir berornamen bunga iris dikepala. Rambut hitam panjang jatuh terurai mengaburkan luka. Air mata diambang pelupuknya jatuh.             “Ini kan yang kau mau?” tanyanya pada pantulan di cermin rias, “Aku sudah mengurainya dan memelihara ketakutanku. Ini kan yang kau mau?”             Belum juga pertanyaannya terjawab, nafas gadis itu kembali pengap. Jantungnya berdebar kencang, dadanya mengkerut sesak. Gadis itu lagi-lagi kehilangan dirinya. Dengan kesadaran sisa, ia membuka laci tempat kantong kertas selalu disediakan.             Belum sempat ia menarik kantong kertas itu keluar, matanya tiba-tiba jatuh pada secuil kertas yang ditempel sembarangan dibagian depan kantong. Sebuah kertas lusuh dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal.               Dear, Kinantul.             Hari baik dibentuk dari malam yang panjang dan pagi yang tak berujung. Maka dari itu, menguatlah. Kepadamu, aku berani menjanjikan, entah esok atau lusa, hari baik itu akan segera tiba.             P.s. kalau mau pakai kantong ini, jangan lupa izin ke angka 5 dipanggilan daruratmu! Pasti diizinkan kok, sekalian dibawakan makanan kesukaanmu juga! he-he-he^^             Salam benci,             Dari temanmu yang setengah superman             Johan ganteng.               Tiba-tiba saja, nafas gadis itu melega. Tak ada sesak yang lagi menikam jantungnya. Ia tersenyum menatap secarik kertas lusuh itu, “Hari baik itu sudah terjadi saat pertama kali kita bertemu, Johan.” Lirihnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN