Masih pada sore perayaan.
Kedatangan Pak Nur, Bu Ratna, dan R disambut meriah oleh anak-anak panti asuhan Kasih Bunda. Anak-anak ceria itu segera berlarian menyaut tangan-tangan yang tak pernah tanggal sebulanpun membagikan kebahagiaan. Apalagi, kala R mengeluarkan dua plastik berisi gantungan kunci Tugu Jogja dan beberapa mainan kayu untuk dipakai bersama. Suasana seketika berubah menjadi riuh. Kinan dan Bunda segera sibuk melerai beberapa yang berebut. Johan tak kalah, ia duduk dipojok ruang memasangkan satu persatu gantungan kunci pada tas-tas sekolah anak-anak yang mengantri dihadapannya.
Sedang, Alan hanya membuka mata lebar-lebar merekam tiap detail sudut ruang.
Diantara seluruh ramai yang menyepikanku, mengapa hadirmu justru mampu menorehkan cerita baru? Ah, aku lupa satu, itulah kau; Ramai nan damai milikku.
Alan menunduk, malu sendiri kala pikirannya mulai menguntai puisi. Sejak kapan ia begini? Apa sejak bertemu Kinan –lagi?
Tiba-tiba, lelaki kecil yang pernah mendongenginya tentang sayap dipunggung Kinan berjalan mendekat –sedikit malu-malu. Tangannya terlihat susah payah menenteng tas bergambar transformer dengan banyak coretan tinta hampir diseluruh bagiannya. Ia meletakkan tas itu dihadapan Alan, “Tolong pasangkan, mas.” Pintanya.
Alan membisu, ada sekelumit perasaan haru yang menyelimuti dirinya. Entah kenapa. Mungkin, karena pada akhirnya ada seseorang yang menghargai kedatangannya disini. Dan seseorang itu, Habibi.
Alan mengangguk dan tersenyum tipis, “Sini.”
Dari kejauhan, Kinan menyisihkan waktu menatap Alan dalam senyumnya yang paling diam. Lagi-lagi ada sisi lain Alan yang tak sengaja dipertontonkan semesta pada dirinya. Sisi yang seolah selama ini sengaja dibungkam.
“Bisa nggak, Lan?” tegurnya kala melihat Alan yang terlalu lama mengotak-atik resleting tas Habibi.
Alan menoleh menatap Kinan dan berdecak kecil, “Ngejek. Ya bisa lah!” protesnya.
Kinan menunduk, menahan tawa.
Melihat tawa Kinan yang meragu, R segera mendekat. Rasa penasaran yang sedari tadi ia coba diamkan, mendadak meluap begitu saja, “Siapa?” tegurnya tiba-tiba.
Kening Kinan berkerut menyangsikan pertanyaan lelaki bernama lengkap R Mahendra Putra itu, “Apanya siapa?” tanyanya ulang.
Dagu lelaki jakung itu menunjuk Alan yang kini sedang asyik membahas dunia transformer dengan Habibi, “Itu siapa? Temenmu? Asing mukanya, nggak pernah kerumah Bapak.”
“Oh, Alan?” tanyanya memastikan, “Dia anak baru dikelasku, yang kemarin gabung di tim musikalisasi puisi sekolah.”
“Oh, yang kata bapak anak bola itu?”
“Iya. Emangnya kenapa?”
“Ya nggak papa.” Jawab R dengan nada menggantung, “Ngomong-ngomong, oleh-olehmu masih ditahan ya, Nan. Nanti aku kasih kalau kamu sudah memenuhi janji.”
Kinan tersenyum, “Mau nunggu sampai aku lulus?”
“Ya kalau kamu bisanya seperti itu, aku harus gimana?” jawabnya balik bertanya.
Gadis itu diam sejenak, menatap R yang menunggu jawaban. Bohong jika Kinan tak mengerti perasaan R. Juga bohong, bila R tak sadar bahwa gadis dihadapannya terus mencoba mengulur waktu. Ia tau, janji itu hanyalah janji yang dianggukkan Kinan dalam keterpaksaan. Namun, kalau hanya itu satu-satunya jalan, apa lagi yang bisa ia perbuat?
Tiba-tiba, diantara tatapan mata dua mausia yang saling menipu itu, bunda berseru. “Karena semuanya sudah datang, ayo dilanjutkan bicaranya di meja makan. Nan, adik-adiknya!”
Kinan mengerjap, “Iya, Bunda.” Jawabnya.
“Wah, makan besar ini, Johan!” seru Pak Nur sembari merangkul Johan.
“Kenyang kita, Pak!” balasnya.
“Ayo Ratna.” Ajak bunda lagi-lagi, “Habibi, mas Alan diajak makan!”
Dibantu Fitri dan Alan, Kinan mendadak sibuk menggiring adik-adiknya yang berlarian kesana kemari bersama mainan baru mereka. Setelah sekian menit berlalu, akhirnya antrian panjang dihadapan kepulan nasi hangat berhasil dibentuknya. Seperti biasa, tangan Kinan begitu cekatan menyendokkan nasi ke piring-piring yang terus mengiba memohon pengurangan. Namun gadis itu terus menggeleng tegas. Meskipun ini perayaan, jumlah sendokan nasi dan mangkok sayur sama sekali tak boleh berkurang.
“Kamu makannya juga banyak kan, Nan?” tegur Pak Nur setelah Kinan bernegosiasi keras dengan Satria terkait sendok nasi yang ia tuangkan, “Nasimu dua sendokan penuh juga kan?”
Kinan tersenyum, “Tiga malah, Pak.”
Diujung antrian, Alan berdiri ngilu melihat senyum Kinan. Ia tau, sendokkan nasi dipiring gadis itu selalu kurang dari satu. Bahkan ia selalu makan paling akhir, setelah memastikan tak satupun adik-adiknya merasa kekurangan. Gadis itu, penipu ulung.
Hingga tiba gilirannya, alih-alih menyodorkan piring, Alan malah menyaut centong nasi ditangan Kinan. Hari ini, biar ia sendiri yang memastikan Kinan makan dua sendokkan.
Alan menyodorkan piringnya yang telah terisi nasi, “Nih.”
Kinan menatap Alan sedikit ragu, “Buat aku?”
Alan mengangguk cepat, “Ini.” ujarnya lagi-lagi.
“Kebanyakan nasinya, Lan. Kurangin setengah.” Bisik Kinan.
Alan menggeleng sama mantapnya dengan gelengan yang selalu dilemparkan Kinan pada adik-adiknya. Ia meletakkan piring itu ditangan Kinan, “Nggak! Makan yang banyak.” Tegasnya.
Gadis itu hanya tersenyum malu-malu dan segera mengambilkan piring baru untuk Alan. Masih dengan tangannya yang cekatan, disendokkannya dua sendokkan penuh diatasnya. “Kalau gitu, kamu juga harus makan lebih banyak.”
“Sudah semuanya, Nan?” tanya bunda.
Kinan mengangguk cepat, “Sudah bunda.” Ujarnya lalu segera bergabung ke tengah meja makan.
Ditengah-tengah lingkaran meja makan, Bunda berdiri angun bersiap memberikan sepatah dua patah. Tradisi perayaan seperti ini sudah beliau mulai sejak Mbak Pipit –anak asuh pertama yang mendapatkan gelar cumlaude saat kelulusan kuliahnya enam tahun lalu. Kini, mbak pipit sudah menjadi seorang manager diindustri besar Jakarta. Mengingat kesuksesan itu, bunda akhirnya merutinkan perayaan-perayaan semacam ini. Ia ingin menyuntikkan semangat pada anak asuhnya lewat nasi hangat dan lauk-pauk yang lezat.
“Selamat sore anak-anakku, selamat sore Bu Ratna dan Pak Nur Rochmad yang sudah menyempatkan hadir kemari ditengah kesibukannya. Sebelum acara utama dimulai, izinkan saya sebagai ibu dari Kinan Tha Almathea berterimakasih pada Pak Nur Rochmad atas bantuan dan dukungannya hingga anak kami bisa mendapatkan penghargaan yang sangat ia harapkan. Yang kedua, izinkan saya mengucapkan selamat kepada putra-putri kebanggan saya, Kinan Tha Almathea dan mas Alan yang telah berjuang beberapa minggu terakhir hingga membuahkan hasil juara tiga lomba musikalisasi pusi. Ayo anak-anak tepuk tangan buat Mbak Kinan dan Mas Alan!”
Gema riuh tepuk tangan dan sorak sorai berdering keseluruh sudut ruangan. Alan tersenyum penuh, rasa bangga perlahan terpupuk dalam dirinya. Lelaki itu akhirnya tersadar, ia juga bisa mendapatkan gaungan tepuk tangan seluar biasa ini meski diluar lapangan.
“Terimakasih, Bunda.”
“Selamat Lan, keren!” seru Johan.
Alan mengangguk santun, “Thanks, bro.”
“Selamat mas Alan! Belikan ice cream!”
“Aku cilok!”
“Aku juga!”
“Hus, kok gitu!” tegur Kinan.
Mendengar itu adik-adiknya segera bersengut muram. Alan tertawa, “Iya-iya, nanti dibelikan yang banyak.”
Bunda tersenyum melihat keakraban Alan yang terhitung cepat terjalin dengan anak-anaknya, “Pak Nur atau Bu Ratna, ada yang mau ditambahkan.”
“Pesan saya masih sama, adik-adik harus tetap semangat, pantang menyerah, tidak lupa istirahat dan tentunya tidak lupa berdoa.” Ujar Bu Ratna, “Ada yang mau ditambahkan, Pak?”
Pak Nur mengangguk, “Saya nggak akan ngomong lama-lama Bu, anak-anak kayaknya sudah pada lapar. Saya cuma mau mengucapkan selamat pada Kinan yang sekali lagi tidak pernah mengecewakan saya dan pada Alan yang tahan berlatih kebut-kebutan demi dateline tanggal lomba. Kalian adalah bukti bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Selamat, saya bangga sama kalian!” Ujarnya sembari bertepuk tangan singkat, “Dan terakhir, saya titip pesan pada seluruh anak-anakku yang berada disini. Tetaplah semangat, jangan berheti berusaha dan jangan lupa bahagia yang membahagiakan. Terimakasih.”
“Terimakasih, Pak Nur.” kata Kinan.
“Wah, pesan yang sangat bermakna ya? Jangan lupa bahagia yang membahagiakan.” sambung Bunda, “Terimakasih Pak Nur dan Bu Ratna atas sepatah dua patah katanya. Acara selanjutnya adalah acara inti.”
“Yeay makan!” teriak Satria.
Bunda tertawa, “Benar, makan. Yuk, Habibi dipimpin.”
Habibi segera menegak, “PERSIAPAN!” teriaknya lantang, “MAKAN MALAM DIMULAI!”