BAB 12 : DIALOG

1666 Kata
Disuatu senja fana, mentari beriak kemerahan. Gempitanya hangat menyeruak masuk memenuhi ruang utama lewat jendela yang sengaja dibuka. Di sudut ruang, dihadapan lemari kaca yang memamerkan piagam-piagam penghargaan, Kinan berdiri melipat kedua tangannya rapat-rapat. Matanya mematung samar diantara piagam penghargaan kejuaraan lomba musikalisasi puisi yang didapatkan tempo hari dan bayang tubuhnya yang makin nanar. Wajah gadis itu digurati penuh oleh luka. Dari kejauhan, Bunda yang sedari tadi menatapnya pun melangkah mendekat. Sudah cukup waktu sedih yang dihabiskan Kinan hari ini. Tidak boleh ada lagi. Bunda mengibarkan senyumnya, “Terimakasih ya, Nan. Karena sekali lagi sudah membuat Bunda bangga.” Mendengar suara lembut sang bunda, Kinan tergugah. Matanya mengerjap cepat menyambut perempuan paruh baya yang memaparkan wajah hangat disampingnya. Senyumnya perlahan mengembang, “Terimakasih kembali, Bunda.” Jawabnya santun, “Kalau bukan karena bunda, aku nggak akan sampai sejauh ini.” Bunda menggeleng cepat, “Kalau bukan karena dirimu sendiri, seorang Kinan nggak akan sampai sejauh ini.” selanya, “Udah bilang terimakasih belum sama diri sendiri?” “Terimakasih Kinan Tha, sudah berlari sejauh ini.” ucap Kinan pada pantulan bayangannya sendiri, “Terimakasih Kinan Tha, sudah bertahan seluar biasa ini.” “Lihat, separuh lemari ini isinya piagam Kinan semua.” Jemari Bunda bergerak lembut mengenggam tangan Kinan, “Bunda bangga sama Kinan, jadi Kinan juga harus bangga sama diri sendiri.” “Bunda, boleh aku tanya sesuatu?” tanyanya. “Tentu.” “Bunda ingat nggak piala pertamaku, piala peringkat pertama sekelas. Pulang dari ambil rapot, aku langsung minta lemari khusus untuk memamerkan pialaku. Aku ingin lemari kaca yang ditaruh disudut ruang utama supaya siapapun yang datang akan langsung melihatnya. Aku nggak nyangka, bunda langsung beli lemari sebesar ini. Aku sempat khawatir, lemari ini akan kosong atau terisi yang bukan milikku. Tapi, melihatnya sekarang aku jadi sadar kekhawatiranku yang lalu hanyalah kesia-siaan.” “Lalu aku berpikir lebih jauh, kenapa aku berusaha sekeras itu? Apa karena ingin mengisi lemari kaca yang begitu besar? Apa karena takut lemari kaca untukku itu diisi dengan piala yang bukan milikku? Tapi setelah satu persatu penghargaanku terpajang, aku jadi sadar alasannya.” “Sejak piala pertama itu, hidupku sedikit berubah. Ada kepercayaan diri yang terpupuk disana. Sejak piala pertama itu, aku tak pernah berhenti mengejar sesuatu. Aku menjadi orang yang haus pujian, penghargaan, peringkat dan posisi utama. Karena bagiku, itu satu-satunya benteng kokoh yang membuat orang lain tak lagi bisa menelisik masa laluku. Dan kelak, bila mereka yang entah dimana itu datang kemari untuk bersujud maaf atas masalalu, akan kubiarkan mereka menatap piagam penghargaanku agar sadar bahwa nyawaku berharga dan aku tidak layak ditinggalkan.” “Aku melakukan semua ini untuk membuktikan diriku.” Kinan menjeda, menghela nafasnya dalam, “Tapi, beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman berkata bahwa aku tak perlu membuktikan apapun pada siapapun. Itu cukup menggetarkan hatiku, Bunda. Karena kupikir, ia ada benarnya. Untuk apa aku repot-repot membuktikan apapun ini pada sesiapapun itu?” “Tapi bukan itu pertanyaanku, Bunda. Selama hampir sepuluh tahun, aku yakin Bunda sadar alasan dibalik mengapa aku berusaha seluar biasa itu. Bunda jelas mengerti. Namun, sebagai orang yang mengajariku apa itu bahagia, mengapa bunda membiarkannya?” tanya Kinan, “Aku bertanya seperti ini bukan untuk meragukan Bunda, aku hanya ingin tau alasannya. Karena semenjak mendengar itu, aku jadi sadar, semua ini hanyalah sia-sia.” “Bunda nggak sedang merasa diragukan, Kinan. Kamu nggak perlu merasa tidak enak hati pada, Bunda. Dialog seperti ini adalah hal yang paling bunda inginkan dari anak-anak.” Ujar bunda menenangkan, “Dan terkait pertanyaanmu tadi, iya, bunda sadar sepenuhnya alasan kenapa Kinan Tha Almathea selalu berjuang habis-habisan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi tau kenapa Bunda nggak pernah melarangmu bergadang, pulang malam bahkan melewatkan sarapan ketika kamu mulai sibuk akan sesuatu? Karena Bunda ingin mendukung effort yang kamu keluarkan, itu yang pertama.” “Dan yang kedua, soal membiarkanmu membuktikan sesuatu pada seseorang, itu perkara lain. Menurut bunda, setiap orang berhak punya alasan masing-masing untuk kembali bangun dipagi hari. Entah apapun itu –pembuktian, harapan, keputusasaan bahkan dendam, asal membuatnya berani bangun dan menghadapi hari baru, bunda akan menjadi orang pertama yang mengapresiasi. “ “Kinan ingat waktu bulan-bulan pertama berada disini? Tiap pagi kamu enggan bangun, dan kala malam kamu sukar tertidur. Kamu menolak bicara, menolak makan, menolak berteman. Kamu menolak semuanya. Melihatmu seperti itu, bunda tak sampai hati. Apalagi ketika kamu didiagnosa mengalami Post Traumatic Stress Disorder. Beban perasaan yang bunda alami begitu besar, sebagai seorang psikiater tak seharusnya turut dalam emosi pasiennya bukan? Itu sebabnya bunda minta Bu Ratna yang menjadi doktermu. Karena bunda ingin mengenalmu dengan kacamata seorang ibu.” “Pasti aku pasien pertama yang bunda tolak.” Bunda mengangguk kecil, “Benar, kamu pasien pertama yang bunda tolak.” Ujarnya, “Tapi bunda benar bangga sama kamu, Nan. Kamu berhasil melewati proses terapi dan adaptasi panjang, lalu kembali menjadi gadis ceria nan cantik jelita. Bunda jadi ingat kejadian dibalik lemari ini. Waktu itu, kalau tidak salah kamu naik ke kelas empat dengan piala rangking pertama ya? Kamu tersenyum cantik sekali dan tiba-tiba buka suara meminta dibelikan lemari untuk memajang piala diruang depan. Padahal, kamu sebelumnya tidak pernah meminta apapun dari Bunda. Lalu ketika bunda tanya kenapa kamu mendadak ingin lemari, kamu dengan lugu menjawab 'Biar orang yang datang bisa lihat kalau Kinan anak hebat'.” “Dari jawabanmu, Bunda bisa membaca masih ada perasaan lara yang tertinggal dihatimu. Masih ada, walaupun hanya sebesar biji jagung. Sebagai seorang psikiater, bunda seharusnya membantumu menghilangkan biji jagung itu dan menggantinya dengan bunga-bunga yang paling indah. Tapi sebagai ibu, Bunda ingin mengubah bijih jagung itu menjadi popcorn caramel kesukaanmu. Namun tentu dengan bahan bakar yang tepat. Dan lemari itu adalah bahan bakar yang sampai detik ini Bunda suntikkan agar senyummu terus mengembang.” Airmata Kinan pecah, “Kalau Kinan seluar biasa yang bunda katakan, maka Bunda lebih lagi. Terimakasih Bunda, kalau bukan karena Bunda-” “Kalau bukan karena Kinan.” potong bunda cepat, “Semua ini karena Kinan, bunda Cuma support system yang akan dorong Kinan buat terus maju. Mulai sekarang dan seterusnya, berkuasalah atas diri sendiri. Jangan pernah membiarkan apapun bahkan siapapun mempengaruhi langkahmu. Bunda akan selalu disini, membantu Kinan memilah kala batas baik dan buruk hanyalah kabut.” Gadis itu menghapus sisa air matanya dan tersenyum haru, “Terimakasih, Bunda.” “Nan, disaat kamu mulai cemas, gelisah, ketakutan, atau pikiranmu mulai lari kearah yang tidak kamu inginkan, jangan lupa hadiah yang pernah bunda ajarkan.” Ujar Bunda menggiring ingatan Kinan pada hari kelahirannya dua tahun lalu, “Teknik 5-4-3-2-1, mindfulness tool. Latihan untuk meminimalisir cemas dengan mengalihkan fokus kearah lingkungan. Masih ingat kan?” “Teknik penyadar agar otak tidak masuk ke fase cemas berlebihan.” Jawab Kinan dengan nada mulai ceria, “Masih ingat bunda. Lima hal yang terlihat, empat hal yang terdengar, tiga hal yang dirasakan, dua hal yang dicium baunya, dan satu hal yang dicicipi.” “Coba praktekkan sekarang, buat pikirannya Kinan kembali kekenyataan dan berhenti memusingkan sesuatu yang masih jauh dimasa depan.” “Iya, Bunda. 5 hal yang bisa dilihat.” Gadis itu menjeda, mengajak matanya berkeliling menjelajah ruangan. Tak sengaja ia bersitatap dengan Johan yang baru saja turun dari lantai atas, “Johan, lampu, jam dinding, foto, meja makan.” “Apaan manggil-manggil?” saut Johan saat mendengar Kinan menyebutkan namanya, “Kangen?” Gadis itu menyebik malas dan kembali berkonsentrasi pada latihannya, “4 hal yang bisa didengar. Suara Johan, suara adik-adik, Hm... bunyi jam dinding dan-” Kinan kembali menjeda, tak ada suara lain yang melintas ditengahnya. Hingga beberapa detik kemudian, suara deru sepeda motor yang akhir-akhir ini akrab ditelinganya terdengar mendekat. Senyum Kinan mengangga sumringah, “Sepeda motor Alan.” Ucapnya. Melihat perubahan ekspresi yang begitu signifikan, Bunda menatap Kinan lekat-lekat. Sejurus kemudian, pandangan itu dilemparkan pada mata Johan yang menatap dingin pintu rumah. Bunda menghela nafas, “Itu motornya Alan?” tanyanya. “Iya, bunda.” Jawab Kinan cepat, “Kinan kedepan dulu ya?” Meski bunda belum sempurna mengangguk, Kinan segera berlarian keluar. Wajahnya begitu ceria, seolah baru saja tak ada rasa gundah yang menyelimuti hatinya. Ia kembali menjadi Kinan yang luar biasa. “Alan!” sapa Kinan pada seorang lelaki yang masih belum sempurna menghentikan laju motornya. Motor Alan berhenti. Lelaki itu segera berbenah cepat dan menghampiri Kinan yang tersenyum menyambutnya. “Hai, Nan.” sapanya, “Sorry ya baru datang, jadi nggak sempat bantu-bantu.” “Santai, Bunda pesen semua kok makanannya. Cuma bikin es buah aja.” Alan menggangguk tipis, “Oh, gitu ya.” “Yuk, masuk!” “Eh, Nan.” cegah Alan tiba-tiba. Gadis itu berbalik, “Kenapa?” Alan mengeluarkan sesuatu dari balik jaket. Sebuah 'Kado kecil' yang mampu membuatnya lebih dari dua jam berkeliling mengitari pertokoan pasar besar. Ialah ikat rambut spiral berwarna hitam dengan ornamen bunga iris diantaranya. Tapi meskipun hanya sesederhana ikat rambut, kado Alan sebenarnya memiliki makna yang luar biasa. Bunga iris –yang membuat Alan keluar masuk pertokoan itu, adalah bunga yang melambangkan keberanian. Alan berharap, ornamen bunga itu mampu menyalurkan keberanian agar Kinan memutuskan keputusan atas dirinya. Minimal sesederhana, tak lagi perduli pandangan orang pada luka dibalik hitam rambutnya. “Nggak sengaja nemu dijalan.” Ujar Alan dengan nada yang dibuat sedingin mungkin, “Dari pada dibuang, mending gue pungut buat lo. Ye kan?” Dalam sekali uluran tangan Alan, mata Kinan berbinar terang seolah bintang-bintang terurai didalamnya. Gadis itu membungkam mulutnya, “Buat aku, Lan?” tanyanya memastikan. “Iya, masa buat bunda.” Kinan segera meminang ikat rambut itu, “Makasih, Lan. Cantik.” “Itu nemu dijalan.” Tegas Alan lagi-lagi, “Gue nggak beliin lo.” “Iya-iya, kamu nemu dijalan dan nggak beliin aku.” Ujar Kinan, “Aku nggak perduli kamu dapat dimana. Aku hanya perduli fakta bahwa kamu sempat memikirkanku walau Cuma sekilas. Jadi terimakasih ya? Cantik banget.” Alan terdiam sejenak lalu menatap sejurus, Nggak Cuma sekilas kok, Nan. Nggak Cuma sekilas –batinnya. “Kalau lo suka, dipakai ya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN