BAB 11 : MONOLOG

1365 Kata
Dibalik tirai merah yang memisahkan kenyataan dan harapan, Kinan meremas tangannya cemas. Disampingnya, Alan duduk menunduk khusyu’ melafalkan nada-nada pada dentingan gitar. Hari ini, adalah harinya. Hari dimana laboratorium bahasa yang AC nya sering rusak, berubah menjadi ruang hitam dengan panggung kayu yang dihiasi lampu-lampu kuning pada tiap sudutnya. Hari ini, adalah harinya. Hari dimana orang-orang akan menepuk punggung mereka dan berbisik, ‘Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Cukup lakukanlah yang terbaik.’             Kinan menghela nafas dalam, cemasnya semakin ganas. Mungkin benar, tidak ada usaha yang mengkhianti hasil. Tapi orang-orang sering lupa, bahwa selalu ada hasil yang mengkhianati usaha.             “Nan,” panggil Johan yang turut gelisah dengan gelagat sahabatnya. Kinan tidak boleh cemas, atau Hyperpnea akan mengamuk lagi siang ini. Lelaki itu menyodorkan sebotol minuman soda –kesukaan Kinan, “Nafas dulu.”             Gadis itu tersenyum kecil dan menggeleng, “Habis ini tampil, mana bisa minum gitu.”             Alan mendengus, kala tak sengaja menatap dua manusia yang sedang berbagi senyum kecil dihadapannya. Ia muak. Johan terlalu ketara, sedang Kinan terus sibuk pura-pura tak peka. Sebenarnya, pada siapa mereka menipu? Toh, seluruh ruangan ini jelas tau bahwa sedari tadi mata Johan tak sejengkalpun lepas dari kegelisahan Kinan. Bahkan seluruh ruangan ini jelas sadar bahwa senyum Kinan hanya tercipta saat Johan berbicara padanya. Pada siapa mereka menipu? Pada dunia atau pada mereka sendiri?             “Eh Nan, kemari aku baca thread gitu di twitter. Lupa deh siapa yang nge-tweet tapi isinya mindblowing banget, Nan.”             Kinan menanggalkan kertas puisinya, “Emang apa? Pasti nggak penting.”             “TK tadika mesra, itu sebenarnya Cuma kedok buat nutupin pesugihannya cikgu besar. Dulu, ada salah satu murid yang pernah jadi tumbal. Terus, sekarang kabarnya, cikgu jasmine yang jadi tumbal. Nyadar nggak sih, tiba-tiba cikgu Jasmine digantikan sama cikgu Melati?”             Gadis itu tertawa renyah sekali, “Apaan sih, random banget!”             “Ih serius tau, Nan. Terus ya, ada konspirasi juga dibalik dokter gigi yang sering dateng ke TK. Itu juga termasuk kedoknya cikgu besar!” jawab Johan berapi-api.             Kinan memukul lengan Johan gemas, “Apasih nggak jelas!”             “Nggak semuanya harus jelas. Kadang hal-hal buram justru membuat sesuatu tampak lebih sempurna.”             “Oh ya, contohnya apa?” tantang Kinan.             “Tata panggung.” Saut Alan.             Semua mata sempurna menatapnya menuntut penjelasan. Lelaki itu menunduk, kembali mendentingkan gitar.             “Kok?” tanya Kinan tak terima, “Tata panggung bukan sesuatu yang buram. Tata panggung itu seni.”             “Seni untuk memperindah pertunjukan. Seni untuk memperkuat karakter tokoh. Seni latar belakang. Dengan adanya tata panggung pertunjukan semakin indah, penokohan semakian kuat, dan latar belakang cerita makin kental.” Ia menatap Kinan sejenak, “Benar kan?”             Gadis itu mengangguk ragu.             “Bukannya itu yang dimaksud cowok lo? Buram, namun menyempurnakan.”             Johan dan Kinan saling berpandangan, pembahasan ini terlalu berat untuk sepuluh menit sebelum lomba digelar.             “Seperti halnya kita pada hidup orang lain. Buram, namun ada untuk melengkapi.” ***             Tirai merah naik perlahan. Panggung hitam hening, membiarkan sorot lampu kuning dengan beriak kehijauan membaur ketengah-tengah. Kinan berdiri, wajahnya gelap sebagian. Matanya nanar berbisik, seolah apapun yang sebentar lagi terjadi adalah senyata-nyatanya nyata. Tiba-tiba, kakinya berjingkat derapan langkah kuda di lapangan pacu. Alan tak mau kalah, gitarnya dipetik lantang ikut menyorakkan suasana.             Panggung kayu memanas, karpet merah terbakar. Kinan terdiam.             “Balada Terbunuhnya Atmo Karpo.” Teriaknya, “Buah karya, WS Rendra.”             Gitar Alan kembali berdentum, kaki Kinan kembali berjingkat. Panggung kayu semakin panas, karpet merah lapuk jadi arang. Seluruh penonton yang duduk berhimpitan dihadapan mereka mengangga, menanti apa yang terjadi setelahnya.               Dengan kuku-kuku besi, kuda menebah perut bumi             Bulan berkhianat, gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para             Mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu             Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang             Segenap warga desa mengepung hutan itu             Dalam satu pusaran pulang balik             Atmo Karpo mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang             Berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri             Satu demi satu yang maju tersadap darahnya             Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka               Langkah tegap Kinan sempoyongan, seolah Atmo Karpo sempurna merasuk didalam jiwanya.               Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!             Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa             Majulah Joko Pandan! Dimana ia?             Majulah ia karena padanya seorang kukandung dosa               Lampu sorot memerah, hitam panggung semakin mencekam. Gema tepuk tangan penonton tertunda. Seluruh mata mendadak hening takkala wajah Kinan semakin bengis.               Anak panah empat arah dan musuh tiga silang             Atmo karpo tegak, luka tujuh liang             JOKO PANDAN! Dimana ia? Hanya padanya seorang kukandung dosa.             Bedah perutnya tapi masih setan ia             Menggertak kuda, di tiap ayun menunggang kepala             JOKO PANDAN! Dimanakah ia? Hanya padanya seorang kukandung dosa.               Gitar Alan lirih mencekam, kaki lelaki itu berderap-derap kecil seolah menyambut sesiapa yang akan datang. Didepannya, Kinan beringsut mundur menahan ketakutan. Babak baru dalam pertunjukan ini baru saja dilayarkan.               Beberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan             Segala menyibak bagi derapnya kuda hitam             Ridha d**a bagi derunya dendam yang tiba             Pada langkah pertama keduanya sama baja             Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo             Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka             Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka             Pesta bulan, sorak sorai, anggur darah             Joko pandan menegak, m******t darah di pedang             IA TELAH MEMBUNUH BAPAKNYA!             [Puisi Balada Terbunuhnya Atmo Karpo – WS RENDRA]               Panggung hitam menghening, membiarkan sorot lampu kuning dengan beriak kehijauan membaur pada seringai s***s diwajah Kinan. Mata gadis itu tak lagi nanar, seolah dendamnya telah terbalaskan. Tepuk tangan penonton sempurna bergema seiring tirai merah yang turun perlahan.             Pertunjukan usai, dua muda itu berhasil memenangkan dirinya. ***             Dibawah pohon jambu yang hampir seluruh daunnya gugur, Alan duduk diam bersama gitar yang telah tanggal. Walau masih tak percaya telah berdiri sejauh ini, ia tetap puas hati. Sebab itu tak lagi perduli pada terik yang datang menghampiri. Alan menunduk sejenak, menekuni tiap-tiap daun jatuh yang katanya tak pernah membenci angin itu. Senyumnya tersungging, “Kalau badanmu kupatahkan kecil-kecil, apakah kau masih sanggup tak membenci angin yang membawamu sejatuh ini?”             “Kalau aku jadi daun, aku pasti akan membenci angin.”             Alan sedikit terkejut, kala seorang gadis tiba-tiba datang dan mengubah monolognya menjadi dialog. Kinan lagi –batinnya. Entah kenapa, akhir-akhir ini semesta gemar mempertemukan mereka sebagai materi canda yang sama-sama sedang melawan luka.             “Kalau aku jadi daun, aku pasti akan membenci angin.” Ulangnya, “Tapi aku tidak akan pernah menyalahkannya.”             “Kenapa?”             “Karena daun pasti jauh, sedang angin diciptakan untuk menghantarnya.” Ia menghela nafas dalam, “Jika aku menjadi daun, aku akan membenci angin atas apa yang telah ia lakukan padaku. Tapi aku tidak akan menyalahkannya, toh ia memang ada untuk itu. Aku Cuma butuh sesuatu untuk kubenci, agar kelak ketika aku terlalu lelah untuk bangkit, aku bisa menjadikannya alasan. ‘Aku membencinya, aku harus membuktikan hidupku padanya. Aku membencinya, aku harus membuatnya terus mendongakkan kepala. Aku membencinya, aku harus memastikan bahwa ia jauh dibawah.’ Seperti itu.”             “Kalau kayak gitu, kenapa nggak menyalahkan saja? Bukannya lebih mudah menyalahkan daripada membenci?”             “Karena ini hidupku. Entah berkat kesalahan siapapun, apapun yang terjadi dalam hidupku adalah tanggung jawabku. Menyalahkan seseorang membuat kita secara tak langsung meminta pertanggung jawaban mereka, sedang aku tak suka itu. Mau di atas, di bawah, diantara, atau bahkan diambang ketidak pastian, hidupku adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan orang lain ikut campur.”             “Membenci itu manusiawi.” Komentar Alan, “Tapi alasan lo yang nggak.”             Kinan tersenyum tipis, “Alasan itu salah satu bentuk perlindungan diri. Jadi, wajar kalau nggak masuk akal.”             “Bukan.” sela Alan, “Terserah apa filosofi alasan menurut lo, tapi gue Cuma mau mengkritisi satu: Jangan membuktikan apapun pada siapapun. Entah itu ke orang yang lo benci atau ke orang yang lo sayangi, berhenti berusaha membuktikan sesuatu. Berhenti hidup semelelahkan itu.”             Gadis itu terdiam sejenak dan mengulum senyumnya. Hatinya bergetar mendengarkan tanggapan Alan atas pandangannya. Rupanya, tuhan sengaja mempertemukan kita agar aku bisa belajar hal-hal baru –batin Kinan. “Siap suhu!” gurau Kinan, “Yaudah balik yuk, lima belas menit lagi pengumuman. Aku tadi kesini niatnya manggil kamu, eh malah ngegibah soal daun!” Alan tersenyum, senyum pertama yang mekar sempurna dibibirnya sejak pertama kali singgah di Malang. “Kalau menang, ajak gue makan malam di panti lagi ya, Nan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN