Malam telah jatuh, kota mulai surut.
Dibawah redup lampu taman panti asuhan, Alan termenung. Matanya diam menatap lampu kota yang beriak dari kejauhan. Tidak ada yang ia pikirkan, tapi banyak yang ia sesalkan. Apalagi soal tujuh tahun yang lalu. Jika saja malam itu ia tak merengek didepan semua orang, semua pasti tidak akan sekacau ini.
“Jus melon, Lan.”
Seorang gadis yang tadi pamit mengganti baju, tiba-tiba datang kembali bersama secangkir jus melon dan sepiring gorengan hangat. Ia tersenyum, seolah tidak ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Alan menunduk, seharusnya, ia tidak pernah melibatkan Kinan.
“Diminum dulu.”
Alan singgah sejenak pada dua manik mata yang berbinar disampingnya, “Maaf ya, Nan, seharusnya lo nggak dengar itu semua.” Ujarnya lirih.
Sambil mencomot pisang goreng, Kinan menjawab santai, “Kalau aku nggak seharusnya dengar itu semua, apa kamu yang harus dengar?” tanyanya, “Kamu juga nggak seharusnya dengar, Lan.”
“Tapi gimana-gimana, gue emang sengaja bawa lo ke tempat abang tadi.” Jawabnya jujur, “Gue emang sengaja ngajak lo, sebagai tameng. Karena gue pikir, kalau ada lo, mama nggak akan ngomong sesuatu yang bikin gue takut masuk kedalam lagi. Tapi ternyata salah, mau ada lo atau nggak, mama tetap jadi mama. Mama yang lupa bahwa gue juga anaknya.”
“Tameng atau bukan, aku nggak masalah, Lan. Fakta bahwa kamu milih ngajak aku adalah hal yang utama. Itu tandanya, aku bisa nganggap ‘kita’ berteman.”
Alan menunduk menyembunyikan senyum. Ini kali pertamanya ia memiliki teman diluar lapangan hijau. “Tapi gue nggak pernah milih ngajak lo, Nan. Lo sendiri yang secara nggak langsung menawarkan diri.”
Kening Kinan berkerut, “Aku?” tanyanya heran.
“Selama ini, hampir tiap hari kita latihan bareng. Lo punya seribu satu kesempatan buat tanya kenapa gue pindah dari sekolah bola dan jadi murid biasa disini. Lo juga udah lihat i********: gue yang seluruh post nya tentang bola. Tapi setelah semua itu, lo gak sekalipun tanya kenapa. Padahal, di kantin, di kelas, bahkan di kamar mandi, orang lain selalu cari kesempatan buat tanya.” Alan menjeda, “Dan alih-alih tanya, lo malah muji video cover gue. Hal yang selama ini ingin gue dengar dari orang lain.”
“Nggak sebaik itu kali, Lan.” Jawab Kinan, “Diluar sana, banyak banget yang berspekulasi tentang kenapa kamu pindah ke sekolah ini. Diantara spekulasi-spekulasi itu, aku dengar, kakimu sakit dan kamu harus rehat dari lapangan. Mendengar itu, aku juga sama penasarannya seperti orang-orang. Tapi, aku urung bertanya karena aku tau, Lan, gimana rasanya ketika orang bertanya asal muasal lukaku. Aku tau gimana rasanya luka yang selama ini berusaha ku tutupi, dipertanyakan orang lain. Jadi, gitu.”
“Kita sama-sama mempunyai dunia yang berantakan, namun terus memilih diam dan tidak saling mempertanyakan.” Timpal Alan, “Itu alasan gue percaya sama lo, Nan. Gue percaya, meskipun keadaan jauh lebih buruk daripada sore tadi, lo nggak bakal tanya apapun yang bikin gue semakin kebeban. Gue percaya, lo bakal milih diam.”
“Musyrik dong percaya sama aku?” guraunya.
“Iya dong, biar edgy.”
Diantara malam yang semakin jatuh, kota yang semakin surut, gorengan yang terus mendingin, dan jus melon yang telah habis, percakapan dua muda dengan dua luka itu malah menghangat. Dibawah sorot redup lampu taman, mereka tertawa, seolah semesta hanyalah bahan bercanda.
Hingga tiba-tiba, senyum Kinan menyentuh sudut lain dihati Alan. Lelaki itu mendongak, menatap gemintang yang semakin gemerlap, “Lo punya keinginan nggak, Nan?” tanyanya, “Keinginan lho ya, bukan cita-cita, bukan jurusan impian, bukan kampus idaman.”
Kinan tersenyum, “Punya, dong. Kamu juga tau apa.”
Alan mengernyit, “Nggak tuh, emang apa?”
“Nguncir rambut tinggi-tinggi.” Jawabnya, “Sederhana kan? Tapi berarti banyak buat hidupku kedepannya.”
“Sederhana dimata orang lain. Luar biasa dimatamu.”
“Kalau kamu, Lan?”
“Sudah terwujud.” Ia tersenyum tipis, “Jenguk abang dan nyanyiin lagu buat dia. Thanks, Nan. Semua berkat lo. Kalau tadi lo nolak ajakan gue, mungkin gue nggak akan pernah kesana.”
Kinan tersenyum sendu. Sebenarnya, tanpa kita sadari, hal-hal kecil bisa berarti besar bagi orang lain.
“Ngomong-ngomong, Nan, bener kok yang digosipin orang-orang tentang gue. Gue emang lagi dalam masa rehat, dan harus terapi satu minggu sekali. Gue cidera. Tapi bukan cidera lapangan.” Alan meremas tempurung lututnya, “Gue kecelakaan.”
Mata Kinan sempurna tenggelam pada wajah sendu Alan. Lelaki itu sedang butuh didengarkan, lelaki itu sedang butuh teman berbicara.
“Hari itu, gue pulang dari pertandingan final. Kuda putih menang, gue juga dapat gelar kiper terbaik. Dulu waktu pertama kali gue dapat posisi sebagai kiper, gue pernah janji ke abang. Kalau gue jadi kiper terbaik disuatu liga, Abang bakal jadi orang pertama yang bakal gue traktir makan. Dan kebetulan juga, hari sabtu minggu itu abang wisuda, jadi sekalian.” Alan mengulum senyumnya, “Tanpa ikut perayaan team, gue langsung tancap gas ke Malang. Bandung – Malang, demi Abang. Satu-satunya orang yang gue kangenin tujuh tahun belakangan.”
“Malam itu juga, gue paksa dia buat jalan. Dia nggak mau, males katanya. Tapi bukan bang Angga kalau nggak nurutin apa yang gue minta. Akhirnya kita keluar malam itu. Sepanjang perjalanan, gue cerita apa yang terjadi sama hidup gue tujuh tahun belakangan. Bang Angga Cuma diam. Sampai disuatu titik, dia muak sama cerita gue. Dia bilang, apa yang terjadi dihidup gue, nggak seberapa dibanding hidupnya. Nggak tau kenapa dia semarah itu. Padahal, hidup bukan kompetisi tentang siapa yang paling sengsara dan siapa yang paling layak mendapatkan belas kasihan. Semua orang punya porsi sedihnya masing-masing.” Alan menggigit ujung bibirnya, “Akhirnya, kita adu mulut berantem sepanjang perjalanan ke tempat makan. Udah kayak orang pacaran gitu. Sampai di perempatan raja bali, jam setengah sepuluh malam kejadian itu terjadi. Didetik pertama lampu merah, gue dengan kecepatan penuh nyelonong gitu aja. Lalu dari arah alun-alun kota, mobil kijang dengan kecepatan penuh nabrak kita berdua. Gue nggak inget gimana detailnya, tapi tiba-tiba kita ada di rumah sakit umum.”
“Setelah gue sadar, abang masih dapet perawatan intensif. Keesokan paginya, abang di vonis koma. Badai besar menyambar keluarga gue.” Lelaki itu menghela nafas, menjeda lama sekali perkataannya, “Keluarga gue emang ada masalah dari awal, tapi karena kecelakaan itu, keadaannya semakin parah. Papa nolak ngomong sama gue, dan mama seperti yang lo lihat tadi. Gue emang salah, tapi kecelakaan itu bukan apa yang gue mau. Gue mungkin benci sama keadaan keluarga, tapi bukan berarti gue benci bang Angga. Orang yang selalu nemenin gue dari kecil.”
“Dilihat dari ceritamu, kecelakaan itu pasti cukup parah.” Timpal Kinan, “Lalu kamu sendiri gimana, Lan? Keadaanmu gimana?”
Alan menoleh menatap sejurus gadis bermata sendu disampingnya, ia tersenyum miris, “Lo orang pertama, Nan, yang nanya keadaan gue.” Ia menunduk, “Tapi, kenapa harus lo lagi?”
“Kamu juga orang pertama yang ngasih aku karet buat nguncir rambut.” Jawabnya, “Jadi jawab aja, kamu juga berhak di khawatirkan. Tapi, jawabnya jangan peyorasi ya?”
Lelaki itu tersenyum, “Gue nggak papa, Nan. Serius. Cuma lecet biasa dan ligamen lutut cedera. Nggak separah abang.”
“Bukan itu, Lan, yang aku tanya. Keadaanmu gimana? Meski nggak separah itu, aku tau kamu juga kehilangan banyak hal.”
“Karena kena ACL, gue terpaksa rehat dan keluar dari TIMNAS u-17. Team yang udah gue siapkan 8 bulan belakangan.” ia menghela nafas berat, “Cuma itu.”
“Itu bukan Cuma, Lan.” Ujarnya, “Itu lebih dari Cuma.”
“Seenggaknya, buat semua orang, itu hanyalah ‘CUMA’. Nggak lebih. Nggak separah abang yang kehilangan dunianya.”
“Kamu juga kehilangan duniamu, Lan. Kamu juga kehilangan duniamu.”
“Gini ternyata rasanya, ketika punya teman yang bersuara sama lantangnya dengan diri lo.”
Gadis itu tersenyum tulus, “Bertahan, Lan. Tuhan selalu bersama orang-orang yang tak gentar pada hidup yang getir.”