BAB 9 : MUSIKALISASI PUISI

2397 Kata
            Kinan berdiri lantang ditengah ruang, wajah sayunya berkobar memaparkan bait-bait puisi balada. Dibelakangnya, Alan nampak rileks mengikuti irama permainan. Jemarinya terus gemulai menari diantara nada-nada yang sudah matang dikepala empat hari belakangan.             “Ia telah membunuh bapaknya.”             Mendengar penutupan yang menguras emosi itu, Pak Nur segera berdiri menyambut dengan tepuk tangan meriah. Sesumbar bangga terlukis jelas diraut wajahnya, ia tak salah memilih Kinan, ia tak salah memperjuangkan Alan. Sepasang perwakilan sekolah itu sudah lebih dari siap untuk mengguncangkan panggung Provinsi pekan depan.             “Luar biasa!” Pak Nur menepuk bahu Alan, “Emosimu juara, Lan. Kamu bisa ngimbangin intonasi, mimik, dan penghayatan Kinan. Luar biasa. Saya bangga, kamu sudah berani memilih untuk tidak kehilangan diri sendiri.”             Alan mengusap tengkuknya, “Masih belum sebagus itu, Pak.”             Kinan mengulurkan sebotol minuman berasa kearahnya, “Udah bagus, kok.” Pujinya. “Ada komentar detail lain, pak?”             Pak Nur menghela nafas, mencoba menimbang-nimbang penilaian dikepalanya, “Menurut saya dibagian awal, dipembukaan. Setelah gitar dan hentakan kakimu selesai, jangan langsung ‘Dengan kuku-kuku besi, kuda menebah perut bumi’. Kasih jeda dulu, bikin agak dramatis. Kayak yang bagian, ‘Bulan berkhianat’. Itu cocok banget, kamu ambil satu hentakan terus menuding bulan. Itu keren.” Komentarnya, “Lalu, Kinan artikulasinya diperjelas lagi ya, tadi agak belibet dibagian ‘Segenap warga desa mengepung hutan itu’. Temponya dipercepat, tuwagapat tek tuwagapat tek. Buat Alan, perpindahan kuncinya dibuat kasar nggak masalah. Asal nggak berlebihan. Hm, sama mungkin besok kita lebih memperdalam bagian Joko Pandan datang. Biar agak smooth. Itu aja sih menurut saya.”             Kinan manggut-manggut, “Siap, Pak.”             “Ngomong-ngomong, Kalian tau nggak kenapa saya selalu semangat kalau disuruh mempersiapkan lomba musikalisasi puisi?” tanya Pak Nur.             “Karena Pak Nur guru bahasa Indonesia sekaligus hobi main musik.” Tebak Kinan asal.             “Itu Cuma cover.” Tanggapnya, “Kalau menurutmu, Lan?”             Alan hanya menggeleng, tak tertarik menjawab.             “Karena menurut saya,” ia menjeda, menatap satu persatu mata anak didiknya, “Musik adalah tempat sebaik-baiknya melarikan diri, dan puisi adalah jeda sehangat-hangatnya istirahat. Dengan kata lain, musikalisasi puisi adalah kebebasan. Sebuah kehormatan bagi manusia untuk mengajarkan kebebasan menjadi manusia kepada manusia lain.”             “Khususnya kepada manusia-manusia yang terburu dan lupa waktu.” Tambah Kinan.             Pak Nur mengangguk membenarkan. Ruangan kembali lenggang, tidak ada suara yang tersisa dari percakapan. Mereka seolah sedang merenung tentang sesuatu hal yang selama ini selalu diabaikan. Tiba-tiba, dari sela-sela keheningan, Alan membuka kata, “Nanti malam saya rekamkan hasil perpindahannya, Pak.”             Mendengar itu, seluruh mata mendadak terpaku sejurus menatap Alan. Seseorang yang awalnya terlihat terpaksa duduk mengiringi puisi, baru-baru ini berubah menjadi partner ambisius yang siap melahap piala setiap kategori.             “Iya, Lan! Iya, kirim saja. Saya tunggu.” Jawab Pak Nur penuh semangat.             Alan mengangguk. Ia segera beranjak berdiri dan menggendong gitarnya, “Kalau gitu saya pulang dulu, Pak.” Pamitnya.             “Oke, sampai ketemu besok.”             Melihat Alan yang bersiap melenggang keluar. Kinan buru-buru mengemasi barang-barangnya, “Saya juga pulang dulu ya , Pak.” Pamitnya.             “Iya hati-hati. Jangan lupa, tiga hari ini minum yang hangat-hangat dulu.”             “Siap 86, Komandan!” ujarnya.             Sejurus kemudian, gadis itu berlarian kecil mengikuti langkah Alan yang masih segontai pertemuan pertama mereka. “Alan tunggu!” teriaknya.             Tanpa berbalik, lelaki itu menghentikan langkah.             “Nanti jangan lupa kirimin ke aku juga ya, Lan?” ujarnya saat tepat disamping Alan, “Aku juga mau dengerin.”             “Kenapa?”             “Kok kenapa sih? Kan aku juga harus denger.” Protesnya, “Pokoknya jangan lupa kirimin ke aku, ya? Aku suka permainan gitarmu. Bagus.”             “Lo kan nggak bisa main gitar, sok tau banget kalau bagus.”             “Aku emang nggak bisa main gitar, tapi bukan berarti aku nggak bisa merasakan. Apalagi kalau mainnya pakai hati, kayak yang kamu upload di instagram.”             Alan menoleh heran, “Stalking?”             “Iya dikit.” Jawab Kinan sekenanya, “Banyak-banyakin upload video cover mu, Lan. Keren, suka dengarnya.”             Lelaki itu terdiam sejenak. Matanya menelisik senyum Kinan yang menggembang dihadapannya. Alan tak menyangka, pujian yang selama ini selalu ingin ia dengarkan ternyata bersembunyi manis dibibir gadis itu.             “Nan,” panggil Alan tiba-tiba, “Cowok lo nggak jemput?”             Kening Kinan berkerut, “Cowokku?” ulangnya, “Ah, Johan maksudmu? Dia bukan cowokku kali, dia itu temenku dari kecil.”             “Nggak tanya sih.” Jawab Alan acuh, “Dia nggak jemput?”             “Nggak.” Jawabnya, “Ah, aku nggak usah dianterin pulang. Aku mau mampir beli-”             “Gue nggak mau nganterin lo pulang, kok.” Sela Alan.             Kinan menggigit ujung bibirnya, “Terus, kenapa nanyain Johan?”             Alan mendadak bungkam. Matanya berkeliaran mencoba merangkai kata-kata –yang entah apa. Entah mengapa ia mendadak gugup. Ini kali pertama untuknya.             Membaca gerak-gerik Alan, Kinan menyimpulkan suatu hal aneh, “Kamu, mau ngajakin aku keluar?” tebaknya takut-takut. Tak disangka, setelah sekian lama terdiam, Alan mengangguk pelan penuh keraguan, “Iya. Kalau lo nggak sibuk, temenin gue bentar.” ***             Sepanjang perjalanan, Kinan memikirkan banyak kemungkinan. Tempat seperti apa yang membuat Alan terlihat begitu ragu mengajaknya? Apakah pusat perbelanjaan di tengah kota, tempat kerumunan bergantung pada bazar kemeja di lantai utama? Atau pertokoan musik di Pasar besar, tempat manusia-manusia dengan cita rasa tinggi saling bertukar pikiran lewat tangga nada? Atau-             Rumah Sakit Umum.             Tunggu, rumah sakit umum? Kenapa Rumah sakit? Ah, jangan-jangan benar apa yang dikatakan Okta tempo hari? Alan sedang menjalani masa rehat karena cedera lututnya. Kalau benar begitu, pantas ia ragu, ia pasti memintaku untuk menemaninya terapi. Ah, tapi kenapa aku? Bukankah kita tidak sedekat itu? ­–batin Kinan.             Tepat dibawah pohon jambu, Alan menanggalkan motornya. Ia diam sejenak, menatap wajahnya lamat-lamat dikaca spion motor. Ada gundah maha gulana yang sedang mendung dimatanya. Sejurus kemudian, setelah nafas beratnya terhela, ia berjalan cepat meninggalkan Kinan yang masih sibuk membenarkan letak anak-anak rambut. Merasa sengaja ditinggalkan, gadis itu segera berlari menyusulnya. Kakinya dibuat secepat mungkin mengimbangi langkah Alan yang berkelok lihai menyusuri lorong-lorong bangsal rumah sakit. Dugaan-dugaan Kinan perlahan memudar. Ia tidak tau kemana Alan akan membawanya, namun ia lebih tidak tau kenapa bibirnya enggan bertanya. Dimatanya, Alan seolah sedang tak sengaja mengibas rambut yang selama ini digunakan untuk menutupi luka. Ia merasa, inilah Alan dan sisi lainnya.             Tepat diujung bangsal VIP, Alan menghentikan langkahnya. Matanya menatap lekat salah satu pintu kamar yang sedang tertutup rapat. Lagi-lagi ia menghela nafas berat, “Nan.” panggilnya, “Gue udah pernah bilang kan, tidak semua luka harus punya alasan. Dan tidak semua alasan bisa diceritakan?” Kinan sejenak menoleh menatap pintu kamar yang terus tertutup rapat itu, lalu kembali menatap Alan yang begitu muram menunggu jawabannya. Banyak yang mampu ia baca dari guratan wajah lelaki dihadapannya. Duka, lara dan asa bertengger semena-mena disana. Mendadak Kinan sadar, mengapa waktu itu alan begitu fasih berbicara menyoal waktu, luka, pula pelarian. Rupanya benar kata orang, Hanya yang terluka, yang tau semerah apa warna darah.             Kinan mengangguk pelan, “Iya, aku tunggu diluar.”             Alan menggeleng, sejenak diam, “Masuk aja.”             Gadis itu kembali mengangguk, membiarkan Alan menuntun langkahnya mendekati pintu. Tepat digenggaman gagang pintu, jemarinya terjeda. Kalut sesumbar tertawa dimatanya. Lagi-lagi, nafasnya terhela berat dan matanya tertutup rapat. Ia sedang membulatkan tekad. Setelah detik demi detik terurai, Alan berhasil mendobrak keagkuhan pintu dihadapannya.             Hari ini, gilirannya menari bersama luka.             Ruang rawat inap dengan seribu satu keistimewaannya ini begitu kosong. Sofa-sofa diam, meja panjang kosong, pengharum ruangan kusut. Dibalik dinding pembatas, dering suara vital sign monitor menyapa. Disisinya, seorang lelaki –tiga atau empat tahun diatas mereka sedang terbuai dalam nyanyian alat bantu pernafasan. Tubuhnya kurus, bibirnya pucat, matanya terpejam dalam.             Alan menoleh, beriak kesedihan dan sekelebat keputusasaan teruntai dikedipannya. Kinan mundur selangkah, memberikan ruang yang lebih lebar untuk Alan dan dunianya. Gadis itu tersenyum tipis, “Aku tunggu disini, Lan.” Pamitnya.             Ditepian sofa, Kinan mendudukkan diri. Matanya tertunduk, mencoba bungkam pada segala rasa penasaran yang sedang berputar dikepala. Lantas, tak sengaja maniknya jatuh pada pigura kayu yang terlungkup di rak meja. Berbekal dengan kelancangan, kini sebuah potret lelaki berumur sekitar sepuluh tahun yang sedang mengangkat tinggi-tinggi pialanya tersenyum penuh. Disampingnya, seorang lelaki berseragam putih biru khas sekolah menengah pertama tersenyum lebih lebar lagi.             Kinan meraba pigura kayu yang berdebu itu. Tiba-tiba pandangannya terdiam menatap catatan kaki yang hurufnya tidak terpahat sempurna disudut kiri foto. Alan & Bang Angga Danone Nations Cup 2010             3-2! Selamat Alan!             Gadis itu mematung sejenak, lantas menoleh menatap Alan yang tengah sibuk menelanjangi gitar. Pantas saja Alan semuram itu. Pantas saja-             “Bang, maafin gue ya baru berani dateng kemari. Banyak hal bang yang bikin gue sepengecut itu. Tapi, bukan lo kok bang penyebabnya. Bukan mama juga, apalagi papa. Gue sendiri. Gue sendiri yang setakut itu. Gue sendiri yang semenyesal itu.” Alan menghela nafas putus asa, “Harusnya, hari itu gue nggak datang ke Malang. Harusnya, hari itu gue dengerin omongan lo, mau sebagaimanapun gue berusaha, kita nggak akan kembali ke kita yang dulu. Kata kita diantara kita, sudah kadarluarsa.”             Mendengar suara Alan yang semakin melirih, Kinan kembali menamatkan potret senyum dibalik kaca pigura kayu. Ia memejamkan mata, mencegah kepalanya terus berlomba memperkirakan garis takdir yang terbentang setelah foto ini diambil. Namun apapun itu, debu-debu yang bersemayam ditiap sisinya seolah meyakinkan sebuah kesimpulan: Takdir telah mengguratkan luka.             “Bang lo dulu pernah bilang, karena gue nggak pinter disekolah, dan pemain sepak bola ada masa rehatnya, gue harus bisa keterampilan lain. Akhirnya, empat bulan lebih lo ngajarin gue main gitar. Benci bang kalo inget masa-masa belajar gitar dulu. Lo jahat banget sama adik sendiri. Salah kunci dikit diteriakin ‘t***l’ sampai satu kecamatan dengar.” Alan terkekeh pada monolognya, “Tapi asal lo tau bang, selama ini setiap gue capek latihan, gue nggak pernah sekalipun ninggalin gitar. Lo tau kenapa? Karena ini satu-satu hal yang bisa ngobatin rasa kangen gue ke b******n kayak lo.”             “Dan, adek lo yang susah banget diajari gitar ini, lusa bakalan ikut lomba. Bukan lomba band kayak yang selalu lo menangin, sih. Tapi, lomba musikalisasi puisi. Gue jadi gitarisnya.” Ia menjeda, menatap kedua mata yang masih terus tertutup rapat itu, “Bagus deh lo koma, jadi gue nggak perlu takut diejekin kalau ikut lomba beginian. Lo kan tukang ngejek!”             “Ah udah ah, gue kayak orang gila ngomong sendiri.” ujarnya mulai frustasi. Ia terdiam sejenak, menatap jemarinya yang mengambang ragu di antara senar gitar. Hingga akhirnya, sunyi berhasil dibungkam dengan dentingan gitar.             Don’t stay awake for too long             Don’t go to bed             I’ll make a cup of coffee for your head             I’ll get you up and going out of bed             And i promise that one day i’ll fine             And i promise that one day i’ll feel alright               And I’ll make a cup of coffee with the right amount of sugar             How you like it?             And i’ll make a cup of coffee with the right amount of sugar             How you like it?             How you like it?                         Kepala Alan jatuh menunduk dalam. Suaranya serak parau seolah rapuh ditampari kesedihan. Dari tempatnya duduk dan memandangi Alan, Kinan beranjak mendekat. Menepuk pelan bahu Alan yang terguncang dan membiarkan suaranya semakin bergetar.                Dont know how long I’ll stay for             Its okay, I’ll knock on your door             Wont you come down and get me?             I like it when you hold me tight             You make me feel nice             The green in your eyes             Makes me feel warm inside             (Coffee – Beabadoobee)               Lagu terhenti, Alan terdiam, Kinan merenung. Ruangan kembali kosong, dering vital sign monitor kembali menyapa. Menit-menit pun berlalu dalam keheningan.             “Doain aku sama Alan menang ya mas.” Ucap Kinan tiba-tiba, “Kalau menang, aku janji bacain puisi disini sama Alan.”             Alan menatap Kinan sejenak, “Jangan, abang nggak suka puisi.”               “Suka.” Jawab Kinan mantap, “Asal adiknya yang main gitar, pasti suka.”             “Sok tau.” Ketusnya, “Yuk balik.”             Belum genap Alan mengemasi gitar, suara derap langkah yang berpacu dengan lantai hening rumah sakit menjeda pergerakannya. Tanpa perlu menoleh kearah pintu kamar yang terbuka, ia tau siapa yang datang. Meski pikirannya sedikit berkecamuk, ia mencoba tenang.  Hal-hal buruk hanya terjadi dipikirannya.             “Wah wah wah, lihat siapa yang datang!”             Mendengar sapaan sarkas itu, Kinan cepat menoleh kesumber suara. Seorang wanita dengan blazer hitam kelam sedang berdiri anggun di ambang pintu. wajahnya kaku, menyiratkan seribu satu kebencian. Gadis itu tertegun sejenak, kemudian cepat-cepat menganggukkan kepala menyapa sopan, “Sore, Tante.”             “Oh, Sore, cantik. Pacarnya Alan?” tanyanya sembari meletakkan handbag diatas meja, “Habis berantem dapat pacar. Nggak kaget sih.”             “Ah, bukan, Tante. Saya Cuma-”             “Ayo pulang, Nan.” kini giliran Alan yang menggemam jemari Kinan dan menariknya menjauhi ranjang.             “Kamu kenapa tiba-tiba datang?” tanya perempuan paruh baya itu saat langkah Alan mulai gusar menjauhinya.             Alan menjeda, “Memangnya aku nggak boleh datang?”             “Jangan bicara seolah selama ini kamu datang, Lan.” Jawabnya, “Sejak kejadian hari itu, kamu sama sekali nggak pernah datang kemari. Jangankan datang, mama yakin, minta maafpun kamu nggak pernah.”             Alan menatap Kinan sejenak, lalu kembali melangkah.             “Kenapa, kamu merasa bersalah? Tapi mama heran, kenapa kamu harus ngajak pacarmu kemari? Pamer? Pamer ke abang, kalau kamu sudah punya pacar sementara abangmu Cuma bisa tidur dibawah pengawasan dokter? Kamu nggak punya malu, Lan? Kamu loh yang bikin abang sampai kaya gini.”             “Itu Cuma kecelakaan, Ma!” jawab Alan dengan nada tinggi, “Aku juga korban!”             “Korban apa? kehilangan kesempatan masuk Timnas? Iya? Kamu nggak mikir abangmu? Abangmu kehilangan semuanya, Lan. Kehilangan keluarga, kehilangan mama papa, kehilangan kesempatan wisuda, kehilangan jenjang karirnya. Nggak ingat apa yang kamu lakukan tujuh tahun lalu?”             Alan menatapnya nyalang, “Tujuh tahun lalu, juga salahku ma? Apa tujuh tahun lalu juga salahku, Ma!” teriaknya.             “Kamu ya, berani teriak-teriak keorang tua?”             “Orang tua yang mana sih, ma? Mama yang orang tua? Mama yakin, setelah membuang aku gitu aja mama masih bisa melabeli diri sebagai orang tua? Setelah melimpahkan semua kesalahan ke aku, mama masih bisa dianggap sebagai orang tua?”             “Huh, jadi ini balasanmu ke orang yang sudah menggandungmu sembilan bulan?”             “Mengandung dan melahirkan, adalah pilihan orang tua. Anak nggak berkewajiban untuk berterimakasih atasnya.” Wajah Alan yang bersemu merah menahan Amarah kembali menoleh menatap Kinan, “Ayo pulang, Nan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN