Disuatu kamar gelap, seorang gadis duduk disudut mengutuki kedatangan cahaya. Matanya nanar menatap pantulan luka pada cermin yang kian remuk. Gadis itu menggigil pilu, ketika pikirannya mulai menjelajah ke waktu yang telah lalu. Tiba-tiba, Hyperpnea datang mengetuk pintu kamar pelan. Ia tercekat. Nafasnya pengap, jantungnya berdebar, dadanya menyesak. Gadis itu lagi-lagi kehilangan dirinya.
---
[Jember, 23 Desember 2007]
Semalam ini, mata gadis cilik berpiyama merah jambu itu masih terang benderang. Tepat saat kedua jarum jam bertemu di angka dua belas, umurnya akan genap enam tahun. Perasaannya gelisah, terlalu banyak menerka. Tadi sore, sepintas ia melihat kotak biru berkilau dengan ornamen tokoh kartun kesukaannya tersembunyi dibalik kamar Papa dan Mama. Apa jadinya itu? Apa sebuah rumah barbie? Ah tidak mungkin, itu hadiahnya dua tahun lalu. Atau jangan-jangan sebuah boneka beruang berwarna cokelat yang bisa berbicara ‘Papa dan Mama sayang Kinan!’ seperti hadiahnya tahun lalu?
Kinan tersenyum senang, yang jelas –apapun itu ia pasti menyukainya.
Gadis itu menenggelamkan kepalanya kedalam selimut, mencoba tidur. Ia ingin benar-benar terkejut saat Papa dan Mama datang membawa kue tart kekamarnya.
Namun sayang, manik mata sang gadis terlalu antusias dan menolak dibawa masuk ke gerbang mimpi. Matanya melirik takut-takut jam dinding, dua menit lagi. Jantungnya berdebar kencang, gugup menyongsong kejutan yang diam-diam telah direncanakan.
BRAKKK!!!
Suara dentuman bergema diluar kamar. Walau sedikit terkejut, Kinan terkikik geli. Pasti sang Papa melakukan kesalahan seperti tahun lalu. Saat hendak membawakan kue tart ke kamarnya, sang Papa tak sengaja menabrak meja diruang tengah dan jatuh terjerembab. Kinan yang terbangun karena teriakan panik sang Mama segera berlari menghampiri mereka. Meskipun kejutan ulang tahun ke limanya gagal, ia tetap berbahagia.
Jam akhirnya bertemu diangka dua belas. Gadis itu segera memunggungi pintu, berusaha senatural mungkin terlihat tertidur.
“ARGHHHHHH!!!!”
Satu suara erangan menyakitkan menusuk gendang telinga Kinan. Gadis itu tercekat, itu suara mama! Ia meringkuk dibalik pintu, menempelkan telinga didaun pintu, mencoba merekam apa-apa yang terjadi dibalik sana. Lamat-lamat, telinganya terpekik suara erangan, teriakan u*****n dan pukulan-pukulan s***s. Kinan membungkam tangisannya, menekuk kedua lututnya rapat-rapat dan mencoba menggapai boneka beruang.
“KINAN THA KELUAR!” pekik Mama.
Air mata semakin giat membasahi pipinya, gadis itu merengek ketakutan. Apapun yang terjadi diluar sana, tentu bukan perayaan ulang tahunnya. Apapun yang diteriakan mama diluar sana, tentu bukan nyanyian ‘happy birthday’ untuknya. dan apapun yang sedang jatuh bertubrukan diluar sana, tentu bukan suara kue tart cokelat dengan hiasan Cherry dan lilin angka enam diatasnya.
Setelah bermenit-menit membungkam telinganya, Kinan bangkit dengan kaki gemetar. Matanya menyipit, menelisik lewat lubang pintu. Mendadak, gadis itu tercekat, nafasnya habis ditikam ketakutan. Kaki gemetarnya melemas, ia jatuh. Kedua tangannya meremas bibir, membungkam isakan. Ia tidak tau harus berbuat apa, ia tidak tau harus merangkak ke sudut yang mana.
Gadis kecil itu meringkuk, menggenggam suntik plastik dan terus menangis.
---
Gadis itu terjatuh, terjerambab, berdebam keras. Tangannya yang makin mati rasa, merangkak pelan meremas bibir membungkam isakan. Ia tidak tau harus berbuat apa, ia tidak tau harus merangkak kesudut mana. Ia hanya meringkuk, terengah-engah sesak.
Diluar hujan, apakah hari ini akhirnya?
---
Tanpa perduli kemeja yang semakin basah, Johan memacu motornya tergesa ditiap liukan jalanan kota. Rambu dan gerimis yang makin pilu tak henti mengguratan cemas diwajahnya. Dipersimpangan, lampu merah menghadangnya penuh tawa. Johan menggerang marah, memukul kemudinya keras. “b******n!” erangnya tertahan
Bagaimana bisa aku melupakan hari ini dan membiarkannya pulang seorang diri?
Johan memarkir motor sembarangan di halaman panti. Kakinya cepat-cepat beradu dengan rerumputan basah dan hujan yang makin deras malam ini. Disela putaran gagang pintu, sudut mata Johan melirik ke jendela kamar Kinan yang jelas. Sebentar, Nan, aku datang –batinnya.
“Mas Johan?”
Seluruh mata bocah-bocah kecil yang asyik dengan kegiatan malamnya masing-masing terkejut dengan wajah pias Johan. Dari sudut meja telepon, Fitri –adik paling tua di panti asuhan ini menoleh kearahnya, “Oh, mas Johan!” serunya. Sedetik kemudian, ia kembali berbincang dengan sesiapa diujung telepon, “Bunda, ini mas Johan sudah datang. Bunda mau ngomong?”
“Mbak Kinan mana?”
Kening Habibi berkerut, “Di kamar. Kenapa mas?”
Johan kembali memacu langkah, berlarian mendekati kamar Kinan. Adik-adik segera mengekor dibelakangnya. Penasaran apa yang terjadi, hingga Johan berlarian tanpa senyum dan Kinan tak kunjung menyiapkan makan malam.
Jauh dibalik pintu, tepatnya disisi ranjang yang berantakan, seorang gadis meringkuk dengan wajah basah air mata. Nafasnya sesak pendek-pendek, tangannya bergetar hebat dan tubuhnya rapuh payah. Gadis itu mendongak, menatap wajah Johan yang basah diguyur hujan.
Hyperpnea, namanya. Sebuah kondisi dimana tubuh mengeluarkan karbon dioksida secara berlebihan. Kondisi ini dipicu oleh rasa panik yang muncul akibat takut, stres atau pobia. Kondisi yang selalu menghantui Kinan sepuluh tahun belakangan.
Johan segera menyambar laci meja, mengambil selembar kantong kertas yang selalu disediakan. Tangannya telaten menangkupkan kantong itu ke mulut hidung Kinan –Teknik pertolongan Hyperpnea. Kantong kertas kembang kempis, seirama jeritan nafas Kinan yang kian menipis.
Sebenarnya dengan apa manusia dicipta? Benar tanah, atau malah asa?
Lewat sela-sela pelupuk matanya yang basah, Johan terus mengirimkan kekuatan pada Kinan. Ini semua bukan salahmu, Nan, berhentilah terluka –rapalnya berulang.
***
“Teh, Nan.”
Gadis yang sedari tadi diam menatap sisa-sisa hujan di atap panti itu menoleh, senyumnya berkibar sedikit menerima uluran Johan, “Makasih, Jo.” Ujarnya.
Johan beranjak duduk ditepi lain kursi kayu, sengaja berjarak, agar kesedihan tuntas merajuk ampunan pada Kinan. Diantara gelap malam dan ketukan tetes air, mata Johan merekam tiap deru nafas gadis disampingnya. Batinnya tak henti mengutuki takdir yang menenggelamkan senyum Kinan malam ini. Semesta, berhentilah bercanda. Ia terlampau cukup menerima luka.
“Maaf ya, Jo, aku ngerepotin terus. Sepuluh tahun loh, pasti kamu capek. Harusnya hari ini kamu nggak usah datang, ada tryout kan? Lagian aku juga nggak parah-parah banget, nggak kayak tiga tahun lalu.”
Johan mengangguk, “Iya kamu ngerepotin.” Ujarnya. Ia menuntun jemari Kinan agar kembali memeluk secangkir teh hangat yang tak sengaja dicampakkan, “Tapi aku suka direpotin. Mau sepuluh tahun, dua puluh tahun, bahkan seumur hidup, asal itu kamu, aku gak masalah direpotin.”
“Cih, gombal.” Sindir Kinan, “Terus gimana Tryoutmu, bisa susulan kan? maaf ya, Jo.”
“Maaf apa sih, Nan.” tanyanya gusar, “Tryout itu bukan masalah besar.”
“Ya kan itu buat masa depanmu.”
“Masa depanku?” ulangnya, “Dimasa depan yang kurencanakan, ada kamu disana. Dan sekarang aku sedang berjuang untuk mendapatkannya.”
Kinan mengerjap, mendadak diam. Ini bukan kali pertama Johan berkata seperti itu, dan ini juga bukan kali pertama Kinan ingin mempertanyakannya namun selalu urung. Gadis itu mengulum senyumnya, “Bajumu basah.”
Johan mengangguk, ia tau bajunya basah. Karena jika kering, ia akan memeluk Kinan didetik awal kedatangannya. “Matamu basah.” alihnya.
“Ganti baju dulu sana, pinjam punya mas Yoyok. Kayaknya masih ada beberapa di lemari belakang.”
“Bahagia dulu sana, pinjam kebahagiaanku. Kayaknya masih banyak disini.” Ujarnya sambil menunjuk jantungnya.
“Apaan sih, Jo!” kesal Kinan.
“Apaan sih, Nan!”
“Ih, jelek tau ah!”
“Ih, cantik tau ah!”
Kinan berdecak sebal, namun sedetik kemudian tertawa. Memang hanya Johan, orang yang bisa melukiskan senyum paling indah diwajahnya. “Makasih ya, Jo, kamu nyebelin.”
Johan mengacak kasar rambut Kinan, “Makasih ya, Nan, kamu lebih super duper nyebelin.” Ujarnya, “Udah ah jangan lomba siapa yang paling nyebeli, nanti semesta minder, kan dia yang paling nyebelin. Minum gih tehnya, habis itu makan, minum obat terus tidur.”
Tiba-tiba, Kinan tersentak panik dan berdiri cepat, “Ah iya! Belum goreng ikan buat adik-adik. Udah jam berapa ini.” ia menarik tangan Johan, “Ayo bantuin.”
Johan urung, “Duduk dulu, sedih juga butuh waktu. Mau sampai kapan perduli dengan orang lain tapi lupa sama diri sendiri?”
“Adik-adik bukan orang lain buat aku!”
Ia menahan lengan Kinan, “Kamu juga bukan orang lain buat aku, Nan!” sentaknya. Gadis itu mendadak diam. “Setelah semua yang terjadi, ayo dong kasih dirimu sendiri waktu buat istirahat. Sampai kapan kamu membebani dirimu sendiri? Sampai kapan kamu mau nanggung semuanya sendiri? Kamu punya aku, Nan.”
“Orang Cuma mau goreng ikan kok jadi ngomongin beban?”
Johan mengacak rambutnya frustasi, “Maksudku, disaat seperti ini berhenti mengkhawatirkan orang lain. khawatirkan dirimu sendiri. Adik-adikmu udah aku pesenin makanan, uangnya juga sudah diganti bunda. Tadi Fitri yang bagiin nasi, dua centong nasi kan? Sayur harus semangkok penuh kan? Sudah semuanya, Nan. Apasih, Nan, susahnya duduk ngehabisin teh terus bercanda sama aku? Jangan bandel dong, aku itu khawatir sama kamu. Bunda juga. Apalagi adik-adik. Kalau mereka ngelihat kamu nggorengin ikan buat makan, apa nggak tambah sedih? Terluka itu bukan dosa, istirahat itu bukan dosa. Tapi bikin aku khawatir itu dosa, tapi lebih dosa lagi kalau diam dan berdalih ‘biar kamu nggak khawatir’. Sampai sini paham?”
Kinan tersenyum cerah, “Bawel.” Tanggapnya.
Mulut Johan mengangga sempurna, mendengar respon Kinan yang diluar perkiraannya. Wah, dasar!
“Yaudah, yuk!”
“Yuk?” tanya Johan heran.
“Kamu bawel gitu karena mau ngajakin aku hahagia ‘kan?”
Kening Johan berkerut, gadis didepannya memang aneh. Sedetik lalu, ia benar-benar ingin menumpahkan tangisan karenanya. Lalu sedetik kemudian, ia benar-benar ingin mengumpatinya.
“Jadi nggak? Aku mau nih diajakin hahagia! Bahagia sambi ha-ha-ha-ha.”
Johan tertawa, “Mau kemana sih, udah malem loh!”
“Ih, cinderella aja mainnya malem-malem. Masa Tuan Putri nggak boleh?”
“Yaudah deh iya, Tuan putri mau kemana?”
“Hmmm... Nasi goreng tulang perempatan galunggung!” serunya. “Tapi kamu ya yang izin bunda?”
“Iya, gampang. Formulanya seperti biasa kan? beli lalapan di g**g depan?”
Kinan mengangguk mantap, “Iya, bilang makan disana tapi. Takutnya nanti bunda tiba-tiba pulang.”
“Setiba-tibanya pulang, Jakarta-Malang nggak tiga puluh menit kali, Nan.”
“Bener juga.” Ujarnya polos, “Yaudah cepet ganti sana! Sekalian lihatin adik-adik juga udah selesai makan apa belum.”
“Kamu nggak mau masuk dulu?” tanyanya.
Kinan menggeleng, “Mataku kayak gini, mana bisa masuk.” Jawabnya. Sebelum suasana kembali melankolis, ia mendorong tubuh Johan, “Cepet ganti!” perintahnya.
Sepeninggalnya Johan, Kinan kembali duduk ditepi kursi kayu taman. Wajahnya mengadah, membiarkan sisa gerimis melunturkan lukanya. Malam ini langit benar mendung. Awan kelabunya bergulung menutupi sabit yang tengah tersenyum.
“Pa, didunia ini selalu ada kebetulan-kebetulan yang lucu. Contohnya langit, ia selalu hujan saat aku mulai menangis. Sepuluh tahun lalu, sembilan tahun lalu, delapan tahun lalu, bahkan detik ini masih begitu.” Kinan menghela nafas, “Apa langit yang sedang papa lihat jugalah hujan? Kalau iya, mungkin itu adalah untaian doa-doaku.”
Gadis itu menunduk dalam, membiarkan setetes airmatanya jatuh membasahi rerumputan, “Selamat ulang tahun, Pa, semoga panjang umur.”