BAB 7 : DENOTASI

1786 Kata
Petang ini, halaman Panti Asuhan sedikit lebih redup dari ingatan Alan tentang sore itu. Bayangan riuh tawa anak-anak dipikirannya, kini ditampar kenyataan redup lampu-lampu taman. Lelaki itu merasa kosong, ada yang hilang –entah harapan atau malah ekspetasinya.             “Kalau malam emang sepi.” Ujar Kinan seolah membaca pandangan Alan, “Waktunya belajar.”             Alan mengangguk-angguk, “Ohh, pantes.”             “By the way, makasih ya udah-”             “Kinan?” dari arah pintu, suara perempuan paruh baya menyela percakapan.             Gadis yang telah menanggalkan kunciran rambutnya itu menoleh sedikit terkejut, “Bunda? Kok udah pulang?”             Mendengar kata ‘Bunda’ yang dilontarkan Kinan, Alan buru-buru melepas helmnya dan berdiri kaku.             “Iya, udah nggak kerjaan.” Ujarnya sembari melangkah mendekat. “Eh, ini siapa, Nan? Kok bunda nggak pernah kenal.”             “Partner baru buat lomba, Bun, yang kemarin aku ceritain.”              Merasa disinggung, Alan segera menjabat tangan bunda, “Alan, tante.” Perempuan yang telah menjadi wali Kinan sebelas tahun belakangan itu tersenyum lembut menatapnya, “Panggil bunda aja.” Pintanya, “Alan mampir dulu ya, makan malam dulu.” “Nggak usah bunda, makasih.” Tolaknya halus. “Saya nggak nawarin, loh, saya nyuruh.” Desak Bunda, “Pamali loh nolak perintah orang tua.” Alan mengusap tengkuknya –salah tingkah, “I-iya, bunda.” Ucapnya lirih.             “Nah gitu, dong!” seru Kinan, “Yaudah Bunda, aku masuk kedalam dulu ya bantu adik-adik nyiapin makan. Lan, tunggu diruang tamu ya.”             Lelaki itu mengangguk tipis, walau sebenarnya tidak mengerti apa yang harus ia tunggu. Ia hanya diam, berdiri kaku disamping Bunda yang terus menggelar senyum hangat.             “Masuk yuk, Lan.” Ajak bunda.             Dibalik tembok bercat warna-warni yang kontras dengan cokelat pintu kayu, sebuah ruang lapang menyambut manik matanya. Dilihat dari sofa hijau lumut disisi tembok, hamparan karpet lembut yang sudut-sudutnya tertutup mainan, dan sebuah meja besar yang dilingkari kursi-kursi plastik, ruang ini jelas ruang utama. Ruang yang mempersatukan kesibukan penghuninya lewat gurau dan percakapan hangat.             Satu bola plastik menggelinding kearahnya. Dari arah yang sama, seorang anak laki-laki –berumur empat atau lima tahun berlarian mengejar. Alan menangkap bola itu dan mengembalikan padanya, “Ini.” ucapnya lembut.             “Satria.” Panggil bunda dengan nada lembut. Dihadangnya bocah kecil itu sebelum sempat ia berlari lebih jauh, “Main bola diruang tamu boleh atau nggak?”             “Yang lempal Tian kok, bunda!” bantahnya.             Bunda melirik kearah sudut, “Terus, Satria yang nangkep?”             Bocah kecil itu mengangguk tidak berdosa.             “Kalau gitu bunda tanya, jam segini harusnya main bola atau bantu Mbak Kinan siapin makan malam?”             “Tadi, Tia udah bantu kok, bunda.” Kilahnya lagi.             “Dijawab dulu pertanyaannya bunda,” ujarnya sabar, “Jam segini harusnya main lempar tangkap bola atau bantu Mbak Kinan siapin makan malam?”             Satria cemberut, “Bantu mbak Kinan.” jawabnya kesal.             “Pinter! Dapat seratus.” Puji bunda, “Jadi, tadi Satria main bola nggak bantu mbak Kinan ya?”             “Iya, Bunda.” Jawabnya pendek.             “Terus, bolanya Satria nggak sengaja sampai ruang tamu ya?”             “Iya, Bunda.” Jawabnya lagi-lagi.             “Satria tau kan kenapa bunda nggak ngebolehin main bola diruang tamu?”             “Nanti kena gelas tehnya tamu.”             Bunda tertawa kecil mendengar jawaban polosnya, “Bener, nanti kena gelas tehnya tamu. Nggak sopan kan? selain itu, main bola harusnya di taman. Kan lebih luas. Tapi, mainnya kalau siang. Karena malam waktunya apa?”             “Istilahat.”             “Pinter.”             “Maaf bunda, nanti nggak Tia ulangi lagi.”             “Iya sayang. Satria kan pinter.” Pujinya, “Sekarang minta maaf dulu sama tamunya mbak Kinan.”             Alan yang sedari tadi berdiri kagum dengan cara bunda menasehati anak asuhnya pun gelagapan. Ia tidak merasa terganggu hingga harus dimintai permohonan maaf.             Bocah kecil itu menatapnya takut-takut, “Maaf mas.”             “Nggak papa.” Jawabnya –selembut mungkin.             “Mas bisa main bola? Besok kesini ya, main bola sama mas Johan juga.”             “Mas Johan?”             “Oh, itu temannya Kinan. Satu sekolah sama kalian, tapi beda kelas.” Saut Bunda, “Johan sering kesini, main bola sama anak-anak. Maklum, disini banyak anak cowoknya, tapi Kinan nggak bisa main bola.”             “Mbak Kinan itu atut sama bola, mas. Masa kalau disuluh nangkep bola melem-melem. Yo gol, ta! Kalah malean (Ya gol, lah! Kalah jadinya).” Keluh Satria.             “Mbak denger lho ya!” saut Kinan sambil meletakkan panci sayur dimeja panjang, “Awas aja kalau nanti malam minta dibacain buku cerita.”             Satria berlarian manja kearah Kinan, “Ih, kan Tia becanda!!!” teriaknya.             Dari arah lain, seorang gadis kecil berlarian cepat, “Bunda! Fajar ngompol!” adunya.             Bunda menghela nafas sejenak kemudian bangkit, “Duduk dulu, Lan. Bunda tinggal kedalam ya?” pamitnya.             “Oh iya bunda.”             Sesaat bunda pergi, Alan masih terus berdiri ditempatnya. Ia bingung harus duduk atau pergi kedapur membantu Kinan –yang entah apa. Tiba-tiba dengan senampan tempe goreng, Kinan memergoki kecanggungannya, “Berdiri mulu, lagi dihukum mas?” sarkasnya.             “Ada yang bisa dibantu, Nan?”             “Mbak Kinan, gendong!” rajuk Satria sembari menariki baju Kinan.             “Mbak masih nyiapin makan ini lho, sana main dulu sama mas Alan.”             “Nggak mau, maunya sama mas Johan! Pinjam HP, tepon mas Johan.”             Kinan menghela nafas, “Ambil ditas sana.” Perintahnya. Ia kembali menoleh pada Alan yang menantikan jawaban, “Tadi tanya apa, Lan?”             “Ada yang bisa dibantu?”             “Cucian banyak dibelakang. Bantu aja.” Guraunya, “Nggak-nggak, duduk aja.”             Alan akhirnya mengalah, duduk canggung ditepian sofa. Setelah sekian lama terdiam, matanya tak sengaja jatuh pada foto-foto 3x4 yang diletakkan dibalik kaca meja. Foto anak-anak penghuni panti, tebaknya. Matanya terus menjelajah satu persatu wajah yang terpampang. Sesaat, pandangan Alan terhenti pada potret senyum gadis lesu lesu yang lehernya dibebati kasa perban. Keningnya berkerut, bukankah wajah itu familiar?             Mata Alan berpindah, menatap Kinan yang terus sibuk meladeni Satria, “Kinan?” tanyanya lirih. Ia kembali memicingkan mata, meneliti potret lesu gadis cilik dihadapannya. Benar, ialah Kinan.             “Fitri, panggil adik-adik suruh cuci tangan!” teriak Kinan. “Satria, mas Johan habis ini les, tutup teleponnya!”             Alan kembali memerhatikan kesibukan Kinan. Matanya sigap mengikuti setiap pergerakan jemari Kinan yang membenarkan posisi rambutnya. Ia sadar, Luka dileher Kinan bukan sekadar luka yang tak ingin ditunjukkannya pada dunia. Tapi, juga luka yang tak ingin ditunjukkan pada dirinya sendiri.             Katanya, setiap orang yang masuk dalam kehidupan selalu meninggalkan suatu pelajaran baru. Aku jadi penasaran apa yang akan kau tinggalkan? Aku juga penasaran, Tuhan mempertemukan kita untuk saling menguatkan atau malah menghancurkan? –batin Alan.             “Tapi apapun itu, selama itu kamu, sepertinya aku nggak masalah.” Lirihnya.             Seorang bocah kecil berkacamata tebal menghampiri Alan. “Mas nggak makan? Nanti diomelin mbak Kinan, lho!”             Alan tersenyum, “Mbak Kinan suka ngomel ya?”             Lelaki itu mengangguk dan menoleh menatap Kinan yang menyendokkan nasi ke antrian piring dihadapannya, “Kalau aku nggak mau makan sama nggak mau belajar, mbak Kinan selalu ngomel.”             Alan tertawa, “Jahat ya mbak Kinan?”             “Nggak kok!” sergahnya, “Mbak Kinan itu orang paling baik disini setelah bunda. Makanya punya sayap.”             “Sayap?”             “Iya sayap. Tapi yang bisa lihat sayapnya mbak Kinan Cuma bunda, soalnya bunda juga baik.”             “Kata siapa? Kata mbak Kinan?”             “Kata mas Johan. Oh iya, Mas Johan juga orang baik jadi bisa lihat sayapnya mbak Kinan.”             “Habibi, masnya diajak makan, kok malah diajak cerita!” teriak Kinan lagi-lagi.             “Ini lho diajak!” protesnya. Ia bergerak berbisik kearah Alan, “Tapi mas, kata mas Johan, kalau mbak Kinan lagi lapar atau ngantuk sayapnya suka rontok. Nah, kalau sayapnya rontok, mbak Kinan jadi suka ngomel. Kayak sekarang.”             Johan. Lagi-lagi Johan. Entah siapa Johan, tapi rupanya ia menjadi orang nomer tiga setelah Kinan dan Bunda di Panti asuhan ini.             “Kira-kira, mas punya sayap nggak ya?” tanyanya pada Habibi.             “Coba habis makan tanya mbak Kinan. Aku belum bisa lihat, mas, soalnya baru dapat sayap empat hari lalu. Habis bantu mbak Kinan cabut rumput. Tapi, kalau nggak ada nggak papa mas. Mas sering-sering aja manut (nurut) sama Bunda Ayah biar dapat juga, atau bisa juga manut sama mbaknya. Kaya aku manut mbak Kinan.” sarannya.             Alan tersenyum miris, “Nanti dicoba ya.”             “Iya. Yaudah, ayo makan mas!”             Alan bangkit menuju meja panjang yang kini bangku plastiknya penuh anak-anak kecil. Bermodalkan piring dan sendok, ia turut antri disendokkan nasi. Sepanjang antrian, matanya tak henti menatap Kinan yang terus meladeni negosiasi banyaknya sendokan nasi dipiring adik-adik.             “Mas, ada temannya mbak Kinan!” Satria tiba-tiba memiringkan ponselnya kearah Alan, “Mas, ini mas Johan!”             Alan menoleh. Ditamatkannya wajah dilayar persegi itu. Oh, pantas saja namanya tak asing. Bukankah laki-laki itu yang mengajaknya berkenalan sepulang latihan pertamanya dengan Kinan?             “Oh, hai bro!” sapa Johan.             Alan hanya tersenyum kecil, tidak merasa perlu menanggapi.             “Satria matikan teleponnya!” perintah Kinan, “Kalau nggak, mbak suruh makan sayur bayem satu mangkok lho!”             Dengan bersungut-sungut, Satria mematikan ponselnya.             Alan menjulurkan piringnya, “Gue nggak perlu cuci tangan dulu kan, Nan?”             Kinan tertawa konyol, “Tapi, rahasia ya?”             Seiring piring-piring yang telah terisi, kini meja makan ramai riuh. Suara tawa diantara cerita-cerita kecil tentang kejadian disekolah beradu bersama bumbungan asap sayur bening yang baru saja matang. Tanpa sadar, Alan terhanyut. Ia merekahkan bibir lebar-lebar, membalas satu persatu tuturan kisah bocah-bocah kecil yang berebut perhatiannya.             Diam-diam, ujung mata Kinan memerekam kesabaran Alan. Ada sisi lain dari lelaki itu yang tak sengaja terungkap malam ini.             Bunda yang telah berganti baju lebih santai duduk ditengah-tengah lingkaran meja. Kedatangannya yang penuh keanggunan membawa kesan khusus pada jamuan malam ini, “Hari ini siapa yang mimpin?” tanyanya.             “Mas Yusuf!”             “Aku bunda.”             “Wah, sekarang gilirannya mas Yusuf ya?” tanya bunda, “Ayo dimulai, mas.”             “PERSIAPAN!” teriaknya lantang, “MAKAN MALAM DIMULAI!”             Alan cepat menyendokkan nasi berkuah ke mulutnya. Mendadak, seluruh mata dari setiap penjuru meja menatapnya terkejut. Ia mendadak salah tingkah. Kinan menunduk dalam, menahan senyum, “Berdoa dulu, mas Alan.” Ujarnya. Alan cepat meletakkan sendoknya dan menatap bunda takut-takut, “Maaf, bunda.” Bunda menggeleng, “Nggak papa, Lan.” Ujarnya, “Ayo Yusuf, diulangin.” “PERSIAPAN! MAKAN MALAM DIMULAI!” Ruangan mendadak senyap. Seluruh tangan mengadah, merapalkan pujian dan syukur atas rezeki yang dilimpahkan pada mereka hari ini. Disela-sela keseriusan doa, Kinan membuka matanya, menatap Alan yang menunduk dalam. Bola matanya bergulir ke dua karet gelang yang kini bersarang dipergelangan tangan. Kamu adalah bukti, bahwa hal-hal sederhana dapat berdampak besar dalam hidup. –batinnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN