Diantara sinar senja yang terik, Kinan menepikan langkah. Gadis itu berbelok kelorong kosong, tempat Laboratorium bahasa bersembunyi. Dari seluruh ruangan sekolah, laboratorium sederhana ini adalah tempat favoritnya. Tempat dimana ia mampu mengekspresikan dirinya menjadi sesuatu yang lain, yang lebih luar biasa dari ‘Kinan’ tentunya. Tepat dihadapan pintu kayu, ia menjeda langkah kala matanya tak sengaja menatap sepasang sepatu hitam yang tergeletak begitu saja.
Gadis itu menghela nafas, mudah ditebak siapa pelakunya. Dengan sedikit kesal, ia melemparkan sepasang sepatu naas itu ke rak paling atas. Harus sebesar apalagi ia memajang papan himbauan ‘HARAP MELETAKKAN SEPATU PADA TEMPATNYA’ agar orang-orang yang miskin keperdulian itu bisa sadar?
Dengan seribu satu cerca yang siap dilontarkan, Kinan menghentakkan pintu lab. Namun sayang, belum sempat bibirnya terbuka, udara panas dari dalam ruangan menamparnya mentah-mentah.
“AC nya mati, Lan?” tanyanya heran pada seorang lelaki yang sibuk menggelitiki senar gitar diujung ruang. Lelaki itu mengangguk cepat, seolah bukan masalah besar. Kinan menghela nafas tak habis pikir, bagaimana bisa ia betah berlatih diruang sepanas ini? Apa jangan-jangan ia sedang simulasi hidup di neraka?
Gadis itu segera menganjal pintu dengan sembarang pot yang tergeletak disepanjang lorong, “Pak Nur belum datang?” tanya Kinan lagi-lagi.
“Masih ada tamu, disuruh latihan sendiri dulu.”
Ruangan kembali lenggang. Tak ada sepatah katapun yang tercipta dari dua belia yang kini tengah sibuk dengan latihannya masing-masing. Perlombaan sebentar lagi, mereka tak lagi punya waktu untuk sekadar basa-basi.
Peluh di kening Kinan menetes lirih. Udara panas ruang yang dicampur emosi penjiwaan puisi membakar tubuhnya matang-matang. Gadis itu akhirnya mengalah pada bara udara. Jemarinya ganas meremas kertas naskah dan mengipas ceruk lehernya berulang.
Alan menjeda dentingan gitar, matanya menamatkan peluh yang terus tertawa dikening Kinan. Ia melepas karet gelang yang tersemat dipergelangan tangannya, “Nih.”
Kinan menoleh agak terkejut menatap apa yang tengah dijulurkan Alan untuknya. Matanya mematung, enggan menerima namun terlalu kelu untuk menjabarkan penolakan.
Alan melempar karet gelang itu kepangkuan Kinan, “Masih bersih kok, cuma dipakai bungkus nasi goreng di kantin.”
Gadis itu terdiam sejenak, membiarkan karet gelang dipangkuan dan bayangan gelungan tinggi rambut menghajar ketakutannya. Sudut mata Kinan melirik selidik kearah pintu, sesore ini sekolah jelas sudah sepi, tak akan ada lagi orang yang menatap ngeri kearahnya. Iya, tak akan ada, kecuali...
Alan.
Tapi masa bodoh, cepat atau lambat, Alan pasti akan bertanya padanya. Untuk apa ia berusaha menunda waktu, sedang luka selalu datang tanpa ragu. Pelan namun pasti, Kinan menggelung rambutnya tinggi. Angin sejuk bertiup lembut diceruk lehernya. Gadis itu lega, tapi juga belum.
Alan menatap gelungan rambut Kinan sekilas. Gadis itu, akhirnya mampu menaklukkan diri sendiri –pikirnya.
Kinan yang tak sengaja memergoki tatapan Alan pun, sedikit merasa dicampakkan. Kenapa Alan tidak bertanya? Bukankah seharusnya ia seperti kebayakan orang, yang bergidik ngeri kala tak sengaja menatap luka sayatan melingkar dilehernya, dan tanpa basa-basi bertanya, ‘Ih, itu kenapa, Nan?’
“Kamu kok gak nanya?” tanya Kinan setelah sekian lama berperang dengan pikirannya sendiri.
“Tanya apa?” ulang Alan terheran.
“Lukaku.”
“Kenapa gue harus tanya? Bukankah pertanyaan itu yang bikin lo selama ini nggak pernah nguncir rambut?”
Gadis itu mengerjap, tergugu dengan pertanyaan lelaki dihadapannya. Mereka belum genap kenal satu bulan, tapi kenapa Alan seolah tau bagaimana kabar dunianya belakangan? Apa jangan-jangan, ia yang terlalu ketara menyembunyikan luka?
Jangan-jangan, hah, spekulasi.
“Jadi selama ini kamu tau kalau aku punya luka?” tanya Kinan dengan nada sedikit tersinggung, “Perasaan manusia itu aneh, ya? Aku selalu tersinggung ketika orang-orang menahan ngeri saat bertanya tentang bekas lukaku. Tapi, ngelihat kamu yang pura-pura tidak tau, aku juga tersinggung.”
“Nggak aneh, kok, wajar.” Jawabnya lirih tanpa menjeda dentingan gitar, “Lo berhak merasakan perasaan lo sendiri.”
“Jadi maksudku, tanya aja. Ngelihat kamu pura-pura nggak tau malah bikin aku nggak nyaman.”
“Gue nggak nanya, bukan karena gue merasa perlu menjaga perasaanmu. Gue nggak nanya karena ague menolak perduli.” Jawab Alan tegas, “Karena tidak semua luka, harus punya alasan. Dan tidak semua alasan, bisa diceritakan.”
Kinan mengulum senyum, “Bener juga.” Ujarnya, “Sehalnya itu. Nggak semua orang yang bertanya sebenarnya perduli, kebanyakan dari mereka hanya ingin tau.”
“Lalu, kalau sudah tau begitu, kenapa lo kalah?” Alan menunjuk rambut Kinan dengan dagunya, “Lo kira mereka akan berhenti penasaran hanya karena lo menutupinya? Nggak. Mereka semakin penasaran, dan lo semakin nggak nyaman. Jangan hidup seperti itu, Nan. Jangan hidup apa kata orang lain, hiduplah apa katamu.”
Dentingan gitar Alan kembali mengalun –walau sedikit lebih lirih dari yang tadi.
Terbanglah bebas untuk sesaat
Lepaskan bebanmu
Bebaskanlah jiwa ini nikmati saat waktu berlalu
Lupakanlah semua tak bisa mengerti
Tak usah pahami cinta kan mereka
Lepaskan segala beban yang ada didadamu
Lupakanlah semua untuk sesaat ini saja
(Stereocase – bebas)
“Aku nggak hidup apa kata orang lain, kok, Lan.” Sela Kinan tiba-tiba.
Alan menjeda dentingan gitarnya demi memperhatikan keluh diwajah Kinan, “Lalu?” tanyanya.
“Aku hidup apa kataku. Aku yang ingin menutupi luka ini. Aku sendiri yang memutuskan untuk nggak akan nguncir rambut dihadapan orang lain. Ya walaupun sekarang, kecuali kamu.”
“Boleh tanya, kenapa?”
“Biar waktu yang menyembuhkan luka.” ia menjeda, “Begitu kata orang. Dan begitu pula, aku mempercayainya. Jadi, sembari menunggu waktu menyembuhkan lukaku, aku akan bertahan seperti ini.”
“Gue denger dari Pak Nur, lo menjabat jadi ketua teater tahun lalu.” kata Alan, “Tapi gue nggak nyangka, kok bisa, orang yang nggak mampu membedakan sesederhana mana konotasi mana denotasi jadi ketua Teater.”
“Maksudmu?”
Alan menggedik, “Nggak ada maksud.” Jawabnya santai.
“Lalu yang kamu maksud konotasi?”
“Yang kata orang, ‘biar waktu yang menyembuhkan luka’, itu adalah contoh kalimat konotasi yang paling gampang. Kalimat yang tidak berarti sebenarnya.”
“Ya, itu memang cuma konotasi. Mana bisa waktu secara langsung menyembuhkan luka.”
“Nah itu, tau. Waktu nggak akan mampu menyembuhkan luka, tapi anehnya orang-orang tetap percaya. Padahal sebenarnya, Selama apapun waktu berlalu, luka tetap akan selalu disana. Hanya saja, lo yang mulai terbiasa. Jadi, untuk apa percaya?” Ucapnya penuh makna, “Waktu tidak menyembuhkan luka, tapi waktu membiasakan luka.”
Kinan terdiam sejenak, “Tapi mana ada orang yang terbiasa dengan luka?”
“Sehalnya menghadapi kenyataan, luka juga harus dihadapi –supaya terbiasa.” Jawab Alan.
“Caranya?”
“Lo bilang, ‘Terluka bukanlah dosa’. Kalau begitu, peluk lukamu dan ajak hidup bersama. Menyembunyikan luka bukanlah jalan keluar, Nan. Karena semakin lo dalam bersembunyi, lo semakin sadar bahwa sedang dalam pelarian.”
“Terimakasih, kata-katamu ada benarnya. Semakin dalam bersembunyi, semakin sadar bahwa sedang dalam pelarian.” Kinan meraba pelan bekas luka melingkar dilehernya. Sedetik kemudian, ia kembali melepaskan ikatan karet gelang dirambutnya, “Tapi sayang, aku ingin sadar bahwa sedang dalam pelarian.”
Alan terdiam, menatap Kinan yang kembali menata rambutnya seperti semula, “Kalau lo mau terus lari, nggak masalah. Tapi dihadapan gue, lo boleh istirahat.” ujarnya sembari meletakkan karet gelang lain dipangkuan Kinan, “Orang bijak itu bukan orang yang paham cara menyikapi kehidupan. Tapi orang yang tau, kapan harus lari dan kapan harus istirahat.”
“Kamu ngomong itu semua, seolah ngerti banget tentang aku.”
“Mana bisa gue ngerti orang lain, sedang ngerti diri sendiri aja nggak bisa.”
Kinan tersenyum, matanya kembali jatuh pada karet gelang lain dipangkuannya, “Tapi tetap aja, Lan.” Ia menjeda, “Mana ada orang yang biasa terluka?”