BAB 5 : CAMEO

2617 Kata
Bel meraung kencang, menyusup meneriaki telinga-telinga siswa tahun terakhir yang tuli materi ujian masuk perguruan tinggi. Pintu kekar yang selama ini membatasi mereka dengan kebahagiaan dunia pun perlahan mulai terbuka. Seketika bau kuah bakso urat, kepulan serbuk rasa pelengkap cimol, kesegaran es teh dua ribu, hingga decitan hangat pagar sekolah menyeruak masuk menyoraki ruangan. Jiwa-jiwa payah itu segera serampangan mengemasi buku-buku, tergopoh memotret coretan rumus di papan putih lalu begitu saja berlarian pergi. Siang itu, kelas mendadak kosong kehilangan penghuni. Sembari mengemasi buku catatannya, mata Kinan tak sengaja jatuh ke sudut paling belakang kelas. Sudut yang akhir-akhir ini sering kali ia pastikan keberadaannya. Namun sayang, matanya kalah cepat. Alan –sang pemilik sudut itu telah pergi terlebih dahulu. “Hari ini kerja, Nan?” tanya Gavinda. Kinan mengangguk tipis, “Iya.” “Nggak latihan dong?” Sudut bibirnya terangkat, “Enggak.” “Alan nggak latihan sendiri sama Pak Nur?” Gadis itu menggedik kecil, “Nggak tau, tuh.” “Kok nggak tau?” “Ya mau tau gimana, anaknya aja jarang banget ngomong. Mau ngajak ngobrol juga takut.” “Nah terus gimana dong? Kan yang namanya tim musikalisasi puisi butuh chemistry yang kuat.” Kinan menggedikkan bahu, “Tau deh. Males berusaha.” Ujarnya setengah tertawa. Dari bangku depan, Okta tiba-tiba menoleh cepat, “Mau ngerumpi sampai kapan bu?” sindirnya, “Padahal udah duduk satu bangku, tapi masih ada aja acara rumpi tiap pulang sekolah.” Kinan terkekeh kecil, “Yaudah ah, Pulang yuk!” ajaknya. Dengan deraian tawa, tiga belia itu melangkah ringan meninggalkan ruang kelas yang telah mengurung mereka seharian. Kala perjalanan menyusuri koridor-koridor sekolah semakin jauh, langkah Okta berulang kali tersendat. Ada saja percakapan antara Kinan dan Gavinda yang asing ditelinga. Entah itu rumus cepat matematika atau berita kencan artis korea –yang jelas selalu tak ada ruang untuknya. Apalagi saat koridor mulai menyapa halaman terbuka. Riuh sapa santun pada Kinan dan lambaian hangat yang menyambut kecantikan Gavinda menjegalnya jatuh dan membuat langkahnya makin jauh tertinggal. Namun sayang, tak seorang pun dari mereka kunjung sadar.   “Pak Aziz!” sapa Gavinda hangat pada seorang guru yang tangannya kotor pupuk kandang, “Pulang dulu, ya, Pak!” “Loh, Gavin, Kinan, udah selesai bimbelnya?” Dan Okta –harusnya. “Udah lah, Pak. Masa nggak lihat kepala saya sampai berasap begini.” Gurau Gavin. “Bisa tuh dibuat sumber daya baru. Pembangkit Listrik Tenaga Otak Siswa Pusing Bimbel. PLTOSPP!” ujar Pak Aziz penuh tawa, “Eh iya, Nan, besok keruang kesiswaan ya jam-jam sepuluh gitu? Pialamu sudah selesai digandakan.” Kinan tersenyum senang, “Oh iya, Pak, terimakasih.” “Duh duh duh, piala apalagi?” Okta mundur selangkah kala mendengar pertanyaan Gavinda, piala apalagi –katanya. Gadis itu beringsut menunduk, ia merasa sangat amat kecil. Bahkan pikirannya diam-diam bertaruh pada hati, meski sadar dirinya hadir, Pak Aziz sama sekali tidak mengenal namanya. Diantara hening itu,  tiba-tiba ponselnya bergetar. Satu nama menghiasi layar. Ia tersenyum kecut. Meski belum membaca apa isinya, ia sadar, pesan ini bukan untuknya. Johan MIPA 3 Lagi sama Kinan ga? Bilangin udah ditunggu sejam di parkiran. Thanks, Ta.   Ternyata benar, dunia adalah panggung sandiwara. Dan dalam cerita ini, aku hanyalah cameo yang hadir untuk memperkuat karakter pemeran utama. Aku hanyalah cameo yang berdiri anggun ditengah panggung, namun tak punya suara. –batinnya. Ia mengamit lengan Kinan yang masih terus berbalas cakap dengan sang guru, “Nan, sudah ditunggu Johan.” Bisiknya. ***             Didepan toko toserba kecil jalanan utama, Johan menghentikan sepeda motor menurunkan sang Putri yang duduk anggun di jok belakangnya. Seperti biasa, seusai tanggalnya pelindung kepala, sang gadis akan memutar spion Kanan motor Johan dan menamatkan pantulan wajahnya hingga sempurna.             “Kalau pulang itu langsung pulang, jangan malah ngerumpi dulu.”             “Salah siapa bimbelnya selesai duluan?” Kinan besengut menatapnya garang, “Lagian, aku juga nggak minta dianterin.”             “Bukan masalah itu.” ia menghela nafas, “Kalau nggak langsung pulang, kamu jadi nggak sempat makan dulu. Tunggu dalem, aku beliin makan.”             Kinan menahan tangan Johan yang bersiap menstarter motor, “Nggak usah. Tadi siang aku udah makan bekal, nanti kalau laper tinggal beli roti. Kamu berangkat les aja sana!”             “Sebelum ngurusin aku, urusin dulu maag mu itu!”             “Yeu, kemarin emang toko rame banget jadi lupa makan.” Jawabnya santai, “Udah ah, kamu pergi aja sana!”             “Nggak!”             Gadis itu menghela nafas jengah, “Iya-iya aku makan. Nanti beli pecel dibelakang toko. Aku fotoin ke kamu deh sekalian biar puas! Udah lah, berangkat sana!”             “Mana mungkin! Biar aku aja yang beli.”             Lagi-lagi Kinan menahannya, “Apaan sih, aku yang nggak makan kok kamu yang repot. Aku udah gede kali, udah tau kalau lapar ya makan, capek ya istirahat, ngantuk ya tidur. Udah sekarang kamu berangkat les, mau dimarahin mamamu lagi?”             “Tuh, kamu juga repot ngurusin aku.” Tantangnya, “Kalau lapar ya makan, capek ya istirahat, ngantuk ya tidur. Dan, kalau teman ya perhatian. Ngerti?”             “Iya deh bang jago.” Ujarnya mengalah, “Yaudah sana beliin!”             Johan mengacak puncak kepala Kinan, “Dasar!” ujarnya gemas, “Ikut gak? Jam kerjamu masih sepuluh menit lagi kan?”             Gadis itu mengangguk cepat dan segera menyusul langkah Johan. Mereka berjalan mengitari kompleks pertokoan jalan soekarno-hatta yang gegap gempita dan berbelok ke lorong kecil tempat pecel kelek bersembunyi.             “Kamu pesen juga ya, nanti kan les sampai malam.”             Johan mengangguk tipis, “Bumbunya dipisah, Nan.”             Setelah menyelesaikan transaksi dan percakapan kecil dengan mbah pemilik warung, Kinan duduk di bangku kayu panjang, tempat Johan duduk diam bersama kepulan asapnya.             “Gimana rumah?” tanya Kinan setelah sadar bumbungan asap rokok Johan semakin tinggi.             Ia mendekatkan telingnya kearah sang gadis, “Bersihin nih telingaku.” Jawabnya penuh makna. Kinan menghela nafas dan melakukan pekerjaannya, “Kamu udah bilang lagi ke mamamu kalau mau masuk hukum?” “Percuma.” Kinan menahan rokoknya, “Kamu kalau ada masalah selalu ngerokok.” Ujarnya, “Sama, percuma. Gak akan bantu menyelesaikan apa-apa.” “Kata siapa.” Jawabnya, “Rokok itu menghilangkan stress.” “Bisa nggak ngilangin stress dengan cara lain? Main sama aku gitu, misalnya.” “Nggak, malah tambah stress!”             Gadis itu berdecak kasar, “Ish!”             “Aku itu pernah ngomong ke Mama kenapa milih hukum, gimana prospek kerja hukum terus seluar biasa apa lulusan hukum. Tapi, Nan, mama nganggep itu semua Cuma omong kosong dari anak SMA yang nggak tau apa-apa tentang dunia. Mama selalu bilang, ‘mama tau yang terbaik buat kamu.’ tapi sampai sekarang aku nggak tau mana baiknya.”             “Kamu selalu nyuruh untuk ngasih pengertian terus ke mama. Tapi nihil, Nan, mama nggak percaya sama kemampuanku.” Ujarnya penuh sesal, “Lagi pula, gimana bisa ngerti kalau dengar aja nggak mau.” ***             Bersama sebungkus nasi pecel dan tas yang digendong serampangan, Johan mengabaikan pintu masuk bimbel dan berjalan menuju pos penjaga. Kedatangannya disambut hangat oleh Bang Apeng –sapaan lelaki paruh baya yang mengabadikan hidupnya menjadi penjaga tempat menjemukan ini. Secangkir kopi hampir dingin dan kretek yang digulung dengan tangan sendiri disajikan untuknya. Johan tersenyum senang, Bang Apeng tau aja.             “Muka ditekuk terus gimana mau punya pacar?” sindir Bang Apeng.             Johan meringis diantara hisapan rokoknya, “Banyak yang ngantri tau bang, sampai bingung milih yang mana.”             “Ngantri? Ngantri ngatain kamu maskudnya?”             “Ih, Abang gatau aja. Gini-gini aku banyak yang ngejar.”             “Yaiya banyak yang ngejar, orang TV pak RT kamu gondol!”             Lelaki itu terbahak, “Sama ovennya bu RT. Tapi diem-diem aja, masih ditandain soalnya!”             “Oh, cah edan!” seloroh Bang Apeng, “Sana masuk kelas. Mau jadi dokter kok dateng-dateng malah ngerokok disini.”             Sudut bibir Johan naik miris, “Nah, iya juga bang.” Jawabnya asal.             Tiba-tiba, sebuah mobil SUV merah berhenti didepan gerbang. Dari lagaknya yang mewah, Johan bisa menebak siapa yang datang. Seorang gadis jelita yang namanya sering dielu-elukan buaya-buaya SMA keluar. Wajahnya merona merah, matanya bergetar seolah menahan air mata. Tunggu, dia nangis?             Gadis itu memutar tubuhnya, menatap nanar entah siapa yang duduk dibalik kemudi, “Kasih Della waktu buat membuktikan, Ma. Della juga bisa kok kayak Mas Abror.” Ujarnya pelan namun penuh penekanan. Sedetik kemudian, seiring dengan airmatanya yang jatuh, ia membanting pintu mobil keras-keras dan berlalu masuk begitu saja.             Johan yang menjadi saksi kejadian itu mendadak diam. Ternyata, diluar sana ada yang sehancur dirinya. “Sebagai bayaran membesarkan anak, orang tua selalu memaksakan kehendaknya. Padahal, anak-anak tidak pernah minta dilahirkan.” Lirihnya.             “Anak-anak selalu ngomong ‘aku nggak pernah minta dilahirkan!’. Tapi coba bayangkan orang tuamu ngomong ‘Aku gak pernah minta punya anak kaya kamu!’ gimana perasaanmu coba?”             Johan tersenyum tipis menanggapi Bang Apeng, “Tau deh, Bang. Males bayangin begituan.”             “Orang tua adalah pendosa dimata anak-anaknya.” Ujar Bang Apeng, “Padahal, kebanyakan dosa mereka didasari dari alasan yang nggak bisa kita mengerti.”             “Emang ada bang dosa orang yang nggak bisa kita mengerti?”             “Kamu Tuhan bukan? kalau kamu bukan Tuhan, jangan sok tau!” Ejeknya, “Dunia ini serba tabu. Baik dan buruk hanya dipisah oleh kain tipis.”             “Tapi kan ini konteksnya orang tua, bang. Mana bisa kita nggak ngerti?”             “Mau konteksnya apapun, sama aja.”             “Pasti abang juga pernah maksa sesuatu ke anaknya abang ‘kan?” tebaknya asal.             “Pernah! Aku paksa dia untuk lulus SMK. Kalau diingat-ingat, nggak sekali dua kali kami bertengkar karena itu. Dia maunya lulus SMP langsung cari kerja. Tapi terus tak paksa sekolah. Dari dia lahir, aku sudah punya tekad: Anakku harus lulus SMK. Gimana pun caranya cari uang, yang penting dia lulus SMK.” Ujar Bang Apeng mengenang masa lalu, “Lihat sekarang, dia udah lulus SMK dan kerja jadi operator di Jakarta. Diantara keluargaku dan keluarga ibu’e, anakku paling sukses. Satu-satunya yang lulus SMK dan kerja di Pabrik besar. Bapak ibunya ditransfer tiga juta setiap bulan. Kalau pulang, mesti marah-marah karena aku gak mau berhenti kerja. Tapi gimana, masa mau ninggal tempat yang dulu jadi sumber utama biayain sekolahnya. Piye jal (gimana coba), menurutmu aku juga  dosa?”             “Ya enggak lah bang. demi kebaikan anak sendiri mana bisa dosa.”             “Lha iki (lha ini)! Iki yang aku bilang tadi. Baik dan buruk itu tipis perbedaannya. Yang kamu anggap baik, dulu pernah di jancok jancok i sama anakku. Kamu nggak pernah tau, alasan dan maksud orang tuamu melakukan ini semua. Tapi yang jelas, yang menurutmu paksaan, menurut mereka adalah kebaikan. Kebaikan dimata mereka, dimata sebagian orang.”             “Ya kayak kamu, sekarang jancok jancok terus ke mamamu karena dipaksa masuk kedokteran. Satu tahun lagi, dua tahun lagi, sepuluh tahun lagi, pasti ada titik dimana kamu merasa ‘Oh iyaya, untung nurut sama mama.’ Gitu.”             “Iya kalau gitu, bang. Kalau malah mikir ‘Kenapa dulu nurutin mama?’ gimana? Bahaya.”             “Dunia ini ibarat judi. Setiap pilihan selalu ada resiko. Jadi yowes, jalani aja.” Bang Apeng menjeda, “Tapi ingat, orang tua Cuma pendamping di duniamu. Kamu yang berhak menggambil keputusan. Kalau soal masa depan, mau nurut atau nggak, ya terserah. Saranku, pilih yang kalau kamu gagal, kamu menyalahkan diri sendiri bukan menyalahkan orang tuamu.”             “Bang Apeng aneh! Tadi kayaknya nyuruh aku nurut, sekarang malah nyuruh aku buat nentuin pilihan sendiri.”             “Kamu ragu?” tanyanya.             “Lumayan.”             “Kalau gitu udah benar. Berarti kamu sekarang sedang mempertimbangkan dua-duanya, nggak melulu mempertimbangkan keinginanmu. Udah bener itu. jawabannya yang tepat yang mana kan gak bisa sekarang, jadi yaudah jalani aja.”             Johan mengangguk-angguk kecil.             “Yaudah sana masuk!” Perintahnya.             “Ngapain? Nawarin bahu ke cewek yang tadi?”             Bang Apeng menyundul kepalanya, “Modus!” gerutunya, “Ya bimbel lah, bayar mahal-mahal tapi malah ngerokok disini. Bocah gak genah ancene!”             Johan tertawa, “Bentar bang, nunggu chat.” ***             Jam berdenting kala jarum-jarumnya menunjukkan pukul sembilan malam. Bimbel berakhir, siswa boleh melanjutkan tidur dirumah –begitu kurang lebih maksudnya. Dari bangku yang paling belakang, Johan mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Mencoba memotret apa-apa saja yang ia tinggalkan di papan. Tak berselang lama, satu pesan masuk menggetarkan layarnya.             Kinantul             Langsung pulang!!!             Johan tersenyum tipis, selain dentingan jam ruang bimbel, ada alarm lain yang tak pernah absen mengingatkan waktunya; Pesan dari Kinan. Ia kembali melirik jam dinding yang belum berhenti berputar, tiga puluh menit lagi Kinan pulang.             Johan Imando Pratama             Ngidam STMJ tawangmangu nih, kak. Aku jemput yaaa?             Sembari menunggu pesan persetujuan, Johan membereskan buku-bukunya. Sepertinya asyik jika tiga puluh menit nanti ia habiskan dengan selinting kretek Bang Apeng. Lelaki itu berjalan gontai meninggalkan beberapa kepala yang masih asyik berdiskusi tentang materi hari ini. Ditengah perjalanan, tiba-tiba matanya tak sengaja menemukan gadis yang rambutnya dicepol tinggi sedang menatap kosong buku tebal dihadapannya.             Johan berbelok mendekatinya. Gadis yang terkejut dengan kedatangannya itu cepat-cepat membenarkan ekspresi dan kembali b******u dengan soal-soal.             “Belum pulang?” tanyanya basi-basi.             Gadis itu menggeleng kecil, “Masih mau bimbingan privat.”             Lelaki itu mengangguk paham, “Ah iya, anak intensif kedokteran.” Jawabnya.             “Kayak kamu enggak aja.”             “Emang enggak, buktinya ini mau pulang.”             “Jam segini pulang bimbel mau dianggap apa?” selorohnya, “Kalau mau masuk kedokteran ya harus belajar sampai pagi.”             “Sarkas ke siapa nih? Ke aku atau diri sendiri, Del?”             Della menoleh menatap Johan sejenak, “Siapa aja boleh.” Ujarnya asal.             Diantara hening yang menyelimuti hening diantara dua jiwa lelah itu, dentingan musik dari pengeras suara ruang bimbel mengalun lembut. Baik Johan maupun Della mendadak menghentikan pelarian pikirannya. Telinga mereka tergugu sejenak mendalami apa-apa yang didengar.               Cause all the kids are depressed             Nothing ever make sense             Im not feeling alright             Staying up till sunset             And hoping s**t is okay             Pretending we know things             I dont know what happened             My natural reaction is that we’re scared             So i guess we’re scared             (All the Kids are Depressed - Jeremy Zucker)               “Kok gini sih lagunya.” Keluh Della.             “Kenapa? Aku suka, relate soalnya.” Ujar Johan setengah terkekeh, “All the Kids are depressed ‘kan emang.”             “Nggak semua.”             “Nggak semua, tapi kebanyakan?”             “Bisa jadi.” Della tersenyum tipis.             “Biasanya les privat sampai jam berapa?”             “Tergantung soal.” Jawabnya asal, “Paling pol ya jam dua belas. Kenapa? Mau ikut privat juga?”             Johan menggeleng ngeri, “Bisa gila aku.” Ujarnya, “Jangan malam-malam kalau pulang, bahaya.”             “Aku juga nggak mau kali pulang malam. Tapi mau gimana lagi, selama si nomer satu jadi bayang-bayang langkahku, aku harus terus gerak.”             Kening Johan berkerut, “Si nomor satu? Kinan maksudnya?”             “Emang mau siapa lagi?” gerutunya.             “Emang Kinan ngapain?”             “Dia rangking satu, penghargaannya setumpuk, catatan absen nol dan naasnya dia juga mau masuk kedokteran. Waktu aku tanya, dia mau masuk univ mana, dia bilang masih belum tau. Tapi kemungkinan besar di Malang. Lalu kemungkinan kecilnya apa? Kampus yang sama kayak aku?” Della menghela nafas, “Selama Kinan belum pasti, itu artinya aku harus lari. Menghindar sejauh mungkin dari bayang-bayangnya.”             “Kamu salah.” Saut Johan, “Sebenarnya, kita nggak dibayangi siapapun, kita hanya dibayangi oleh ketakutan sendiri.”             “Bener juga.” Jawab Della, “Kalau gitu enak ya jadi Kinan, nggak punya ketakutan seperti aku.”             “Kata siapa?” sergahnya, “Jangan terlalu gampang menilai, Kita nggak pernah tau sebenar-benarnya orang. Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau, padahal kalau didekati itu Cuma rumput sintetis.”             Della berdecak kasar, “Daripada masuk kedokteran, kayaknya kamu lebih cocok masuk filsafat deh, Jo!”             “Ide bagus, boleh deh dicoba!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN