BAB 4 : KALIMAT TAK LANGSUNG

2018 Kata
Ditemani dengan dentingan gitar Pak Nur dan AC lab bahasa yang rusak sejak minggu kemarin, Kinan terus melahap soal-soal latihan tryout fisika. Sungguh, sebenarnya gadis itu sudah mati kebosanan sejak lima hari yang lalu. Tapi berhubung Pak Nur yang meminta, ia urung melarikan diri.             “Sampai kapan Pak kita mau nungguin Alan? Dia kayaknya bener-bener nggak minat deh.” Ujar Kinan buka suara.             “Tau dari mana kalau Alan nggak minat?”             “Ya kalau dia minat, seharusnya semenjak masuk sekolah –hari jumat kemarin bakalan langsung kemari.”             “Kan itu dari penilaianmu, siapa tau Alan emang belum kebuka hatinya.”             Kinan tertawa kecil, “Saya udah kaya ditolak cowok aja, Pak. Nunggu hatinya kebuka baru dateng ke saya.”             “Lagian, hari ini kamu nggak kerja ‘kan. Daripada nganggur di panti, mending disini nemenin saya gitaran.”             “Yeu! Bilang aja Bapak kesepian di rumah. Si R lagi study tour, Bu Ratna lagi seminar keluar kota sama bunda.” Ejek Kinan, “Ya kan?”             “Kok kamu tau R lagi study tour?” tanya Pak Nur terheran.             “Kemarin malam habis telepon saya.” Jawab Kinan enteng.             “Nggak ada takut-takutnya emang anak satu itu sampai deketin murid bapaknya sendiri.” Ujar Pak Nur tak habis pikir, “Minta oleh-oleh sana! Kalau kamu yang minta, pasti dibawain setugu-tugu Jogjanya.”             “R sama saya Cuma temenan kali, Pak.”             “Lebih juga nggak papa, kapan lagi saya punya menantu dokter.”             Kinan tertawa geli, “Aamiin aja dulu.”             “Kamu jadi ambil kedokteran dimana, Nan?” tanya Pak Nur tiba-tiba, “Jadi di Malang atau di kampusnya bundamu?”             Kinan terdiam sejenak menatap rentetan soal dihadapannya, “Di Malang, Pak.” Jawabnya cepat.             “Kamu milih di Malang karena biar bisa bantu bundamu jaga adik-adik ‘kan?”             Gadis itu menggeleng ringan, “Nggak kok, Pak. Lagian kalau di kampusnya Bunda passing gradenya tinggi.”             “Saya yakin kamu sadar kalau nilaimu lebih dari cukup buat masuk kampus itu.” Pak Nur menghentikan dentingan gitarnya dan menatap Kinan penuh, “Sudah cukup SMP – SMA kamu milih tempat yang dekat dari panti biar lebih gampang jagain adik-adikmu. Padahal nilaimu lebih dari cukup buat masuk sekolah favorit. Sekarang giliranmu buat cari perguruan tinggi yang sesuai sama kemampuan dan keinginanmu. Saya yakin, bundamu nggak akan keberatan.”             “Bunda nggak akan keberatan, Pak. Tapi saya yang keberatan ninggalin bunda. Adik saya yang paling tua masih kelas enam SD. Kalau saya jauh dan bunda lagi keluar kota, belum ada yang bisa dipasrahi ngurusin keperluan adik-adik.”             “Bundamu pasti sudah memikirkan itu, Nan. Pasti bunda akan nyewa orang buat jagain panti.”             Kinan terdiam membenarkan ucapan Pak Nur dalam hati.             “Kamu punya alasan lain ‘kan kenapa nggak kuliah diluar Malang? Alasan yang kamu anggap saya nggak akan bisa mengerti?”             Gadis itu tersenyum tipis dan mengangguk pelan.             “Yasudah, dimanapun dan kemanapun kamu, saya pasti dukung. Tapi, kamu juga harus mendukung dirimu sendiri. Jangan mau kalah sama keadaan.”             Pak Nur kembali mendendangkan gitar dan mulai bernyanyi,               Please save me now             I’m never gonna leave this town             I’ll hang arround             ‘Til all the buildings crumble down             Stacking up my dreams inside             I watch another train go by             Can’t find my ticket to ride             (Karmin Save me – Now)               Mendengar lirik yang dinyanyikan Pak Nur, Kinan menutup buku soalnya keras-keras. “Pak pulang yuk, Alan nggak akan datang hari ini. Besok lagi.” potongnya.             “Kok? Jam empat saja belum.”             “Bosen nunggu, Pak.”             “Menunggu nggak selamanya menjemukan, apalagi menunggu harapan datang.” Ujar Pak Nur menenangkan.             “Dari pada menunggu saya malah lebih bosan berharap, Pak.”             “Jangan bosan berharap, Nan.” sergahnya, “Harapan adalah cara Tuhan yang paling romantis untuk memastikan kebahagiaan hidup hambaNya.”             Kinan berdecak kecil, “Susah deh ngomong sama pujangga s***h rocker.”             Pak Nur tertawa menanggapinya.             Setelah sekian menit berlalu, setelah satu persatu soal berhasil dipecahkan Kinan, setelah lagu-lagu yang dihafal Pak Nur telah dinyanyikan, sebuah ketukan pintu bergema mengisi ruang. Kinan dan Pak Nur terperanjat terkejut –lebih banyak senang. Gadis itu pun segera terburu berlarian membuka pintu. Akhirnya, seorang lelaki yang telah ditunggu datang juga.             Alan dengan lesu pipinya yang tersembul malu-malu berdiri canggung diambang pintu. Lelaki itu menatap Kinan sejenak kemudian mengangguk dalam menyapa sang Guru, “Maaf pak, saya telat.” ***             Sore ini, kala senja dipermalukan mendung dilangit-langit lorong, dua muda sedang berjalan seiring dalam diam. Tapak kaki mereka bertaut mencoba melepaskan keheningan canggung yang telah bergelanyutan sejak perkenalan singkat di lab bahasa. Mata Kinan dibuang sembarangan, mencoba mencari inspirasi topik percakapan sebelum dipisahkan gerbang sekolah.             “Kok tiba-tiba mau gabung? Dipaksain Pak Nur terus ya?” tanyanya.             Alan menghela nafas, ia sedang malas berbicara. “Lo sendiri kenapa nurut disuruh nunggu gue tiap hari?”             Kinan mengerjap kehilangan kata-kata, “Aku nggak nungguin kamu tiap hari, ya!” bantahnya, “Begini-begini aku juga punya kesibukan, tau! Kebetulan aja, hari ini aku nunggu kamu sampai sesore ini.”             “Oh.” Jawab Alan Singkat.             Gadis itu mendengus kesal, “Oh?” sautnya. Ia benar-benar tidak habis pikir, “Kalau kamu tau lagi ditungguin kenapa nggak dateng-dateng?”             “Ngaku juga kalau nungguin.”             Hah! Kinan melongo mendengar jawaban Alan. Kalau ia tidak ingat harus membangun chemistry yang baik sebagai team, pasti sekarang Kinan sudah mengomel panjang lebar padanya. Bagaimana bisa ia berkata seenteng itu setelah membuat Kinan menunggu berhari-hari tanpa kepastian?             “KINAN!”             Tiba-tiba, satu suara yang amat sangat familiar diingatannya berteriak kencang. Kinan segera menoleh kesumber suara. Dari arah lapangan sepak bola, seorang lelaki yang seragamnya basah keringat sedang melambai menghampirinya. Dengusan nafas gadis itu semakin kasar dilontarkan. Orang-orang benar-benar menguji kesabarannya.             “Johan?” sentak Kinan terheran, “Kok kamu masih disini? Ngapain? Ini udah jam berapa? Kamu nggak berangkat les? Katanya hari ini ada evaluasi? Kok malah main bola? Kamu bolos ya?”             Mendengar cecaran sahabatnya, Johan segera memutar otak mencoba mengalihkan pembicaraan, “Oh jadi ini gitarismu yang baru, Nan?” tanyanya mencoba mengakrabi Alan, “Hai, Bro. Aku Johan, MIPA 3. Kamu kelas mana, kok kayak gak pernah lihat?”             “Sekelas sama Kinan.” jawabnya pendek, “Duluan, ya?”             “Eits tunggu!” Cegah Johan, “Kalau sekelas sama Kinan, kok aku gak kenal?”             Alan tersenyum remeh, “Terus? Lo kira gue kenal sama lo?” tanyanya ketus, lantas pergi begitu saja mendahului mereka.             Johan berdiri mematung menatap punggung Alan yang semakin menjauh, “Woah, garang banget.” Komentarnya, “Siapa, Nan?”             Kinan hanya diam menatapnya penuh picingan tajam.             “Ah, iya! Dia anak baru dikelasmu itu kan? Yang katamu kiper Timnas?” tanyanya penasaran, “Pantes sebongsor itu. Tinggi badannya berapa, Nan?”             “Penting?” jawabnya sinis.             Johan melingkarkan tangannya dileher Kinan dan memaksanya kembali berjalan, “Sinis banget sih, neng. Kamu cemburu ya aku tanya-tanya tentang cowok lain?”             “Apaan sih, Jo!” gadis itu melepas kasar tangan Johan, “Jawab aja pertanyaanku yang tadi!”             Lelaki itu mengalah, “Iya, aku bolos les.” Jawabnya santai, “Jadi, sekarang Tuan putri mau kemana? Nonton? Main? Ngopi? Paralayang? Alun-alun Batu?”             Kinan memukul lengan Johan keras-keras, “Johan, kamu mau dimarahin mamamu lagi? Sumpah ya, berhenti berantem sama mamamu Cuma masalah ini.”             “Masalahnya bukan sekadar ‘ini’, Nan. Aku yang dari awal nggak cocok masuk IPA, dipaksa ikut intensif kedokteran. Dan hari ini jadwalnya evaluasi. Mau digimanakan pun, hasilnya pasti jauh dari harapan mama. Jadi mending nonton sama kamu dari pada susah-susah ngerjain ujian.”             “Tapi nggak gini caranya. Seharusnya kamu tetap ikut evaluasi! Nanti hasilnya tunjukkan ke mamamu dan bilang ‘Ma, ini hasilku. Mama bisa lihat kan kalau aku nggak cocok masuk kedokteran? Aku mau lintas jalur ma, aku mau ngambil hukum.’ Gitu. Kalau gini, kamu sama aja menentang mamamu dan itu malah nggak bikin kamu dapat apa yang kamu inginkan.”             “Aku udah sering bilang ke mama, Nan, kalau aku pengen ambil yang sesuai dengan cita-citaku dari kecil –pengacara. Tapi mama tetap keras kepala dan maksa aku masuk kedokteran. Aku yakin, walaupun aku gagal ujian sekalipun mama bakal masukin aku ke univ pilihannya untuk melanjutkan tittle ‘keluarga dokter’ yang kami sanding.”             Kinan melemah, ia menepuk pelan bahu Johan, “Mungkin, ini jalanmu untuk ber-”             “Jangan kamu juga, Nan. Jangan kamu juga yang berkata aku harus masuk kedokteran demi berbakti kepada orang tua.” Potongnya cepat, “Merelakan mimpi diatas kehendak orang tua bukan berbakti. Tapi, memaksakan diri.”             Gadis itu mengembangkan senyumnya, “Berjuang.” Ujarnya, “Siapa yang mau bilang berbakti? Aku juga tau perasaanmu kali.”             Johan berdecak kencang mendengar jawaban Kinan.             Kinan mengulurkan tangannya dan memijat kecil kedua daun telinga Johan –hal yang selalu ia lakukan sejak kecil, “Aku bersihin dulu telinganya dari perkataan yang menyakitkan. Tapi, habis ini senyum ya?”             Lelaki itu menghentikan pergerakan tangan Kinan, “Kamu nggak bosen selalu bersihin telingaku?”             “Kamu dulu juga nggak bosen bersihin telingaku.” Jawabnya asal, “Nah, sekarang udah bersih. Ayo senyum!”             Johan merekahkan senyumnya perlahan. Ia mengacak kasar puncak kepala Kinan, “Yaudah yuk berangkat, Tuan putri mau kemana?”             “Aku mau kemana aja, asal kita bahagia.” ***             Setelah hari panjang yang membahagiakan, Johan melemparkan tubuhnya keras-keras diatas ranjang. Lelaki itu tersenyum lebar memandangi langit-langit kamar yang sedang mengulas kembali senyum Kinan hari ini. Proyeksi imajinya terus berputar menampilkan apa-apa tentang Kinan. Kinan yang antusias bercerita tentang bagaimana harinya, Kinan yang murung menggambarkan latihan pertamanya dengan Alan, Kinan yang berteriak kencang saat motor Johan meliuk-liuk kabur dari kota, Kinan yang merentangkan tangannya lebar-lebar menyambut desiran angin senja menjelang malam, Kinan yang duduk dengan senyum terindah saat menatap bebintangan di Paralayang hingga Kinan yang menanggalkan tangannya disaku jaket sepanjang perjalanan pulang.             Lelaki itu menghela nafas, menutup proyeksi imaji dan beranjak kembali kemeja belajar. Ia mengeluarkan satu persatu buku tebal yang seharusnya ia bawa ke lembaga bimbel. Tiba-tiba, diantara pergerakan tangannya, selembar kertas foto melayang jatuh dari tumpukan bank soal itu. Johan segera memungutnya.             Senyum Johan kembali bersinar. Dalam bingkai kolase foto itu, tercetak senyum dan tawa bahagia Kinan dibalik balutan seragam SMA. Foto ini diambil tiga senin yang lalu, sepulang bimbel sore di bioskop dua puluh lima ribu. Dibingkai bawah foto itu tertulis rapi sebuah kalimat : Cukup di foto kita memaksakan senyum, selebihnya mari menjadi diri sendiri.             Kinan selalu punya cara untuk menghiburnya. “Kamu juga, Nan, cukup diantara semua orang kamu memaksa tenang, dihadapanku jadilah diri sendiri.” Lirihnya.             Belum sempat Johan menamatkan senyum, pintu kamarnya dibuka kasar. Sang ibu dengan wajah tak bersahabat berkacak pinggang diambang. Lelaki itu sebenarnya terkejut, yang ia tau ibunya tak akan pulang malam ini. Tapi ternyata, takdir bersandiwara dengan naskah lain.             “Johan! Kata Mbak Anne kamu tadi nggak masuk les ya?”             Johan menghela nafas panjang, “Mama udah pulang, gimana seminarnya? Lancar?”             “Kok malah nanya balik?” gertaknya.             “Aku nggak nanya, ma. Cuma ngasih contoh, gimana caranya menyapa anak setelah dua minggu nggak ketemu.”             Merasa ditelanjangi oleh anak sendiri, perempuan itu naik pitam, “Berani ya kamu ngomong gitu sama mama? Kamu tadi kemana kok nggak les? Pasti bolos kan! Pasti main lagi kan sama Kinan! Kata budhe, dia lihat kamu belok dari gangnya Kinan. Sudah berapa kali mama bilang-” “KATANYA! KATANYA! KATANYA TERUS!” potong Johan muak, “Percuma ma, kalau mama terus dengerin ‘katanya’ daripada tanya langsung ke anak sendiri!” “Tapi emang benar kan kamu bolos les dan keluar sama si Kinan. iya kan!” “Kalau iya, kenapa Ma?” tantangnya, “Hari ini itu evaluasi bulanan. Ngapain aku harus evaluasi kalau hasilnya pasti sama? Aku tetap nol. Percuma buang-buang waktu. Mending aku main sama Kinan.” Sang ibu menghela nafas mencoba meredakan emosinya, “Kamu kenapa sih nantang terus sama Mama? Mama Cuma berharap yang terbaik buat kamu! Mama Cuma mau meneruskan gelar-” “Yang terbaik?” tanya Johan dengan nada menyindir, “Yang terbaik untuk anak adalah membiarkan ia menjadi dirinya sendiri.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN