Dipangkuan sofa cokelat tua yang sudah sangat renta, Pak Nur merebahkan tubuhnya. Kacamata bingkai hitamnya melorot jatuh hampir kepuncak hidung demi menamatkan buku yang tengah dibuka. Ini buku bukan sembarang buku. Ini adalah buku sakral milik guru setengah malaikat yang keberadaannya sering tidak diperhitungkan bahkan acap kali dicaci siswa, guru BK.
Buku Catatan Siswa.
...................................................................................(19)
Informasi Siswa
Nama : Manggaleo Adji Utomo
Tempat, tanggal lahir : Malang, 17 Juli 2000
Mata Pak Nur kembali bergulir menjelajah seluruh informasi diatas kertas. “Ayah, kuli bangunan. Ibu, ibu rumah tangga. Jumlah saudara, dua.” Bacanya lirih, “Data konseling satu, ibunya pergi dari rumah bersama anak pertamanya saat Leo berumur 14 tahun. Data konseling dua, ayahnya pemabuk dan abusive. Data konseling tiga, Leo terlibat kelompok preman lokal. Data konseling empat, menolak hadir. Data konseling lima, menolak hadir. Data konseling enam, menolak hadir.”
Pak Nur terdiam sejenak, menatap foto 3x4 milik Leo yang tertempel disudut kiri kertas. Ia kembali membaca satu data yang paling membuatnya miris, “Cita-cita, apapun yang menghasilkan uang.”
Benar, tujuh belas tahun adalah masa yang paling pilu. Masa dimana orang tua akan menudingkan tangan dan berkata, “Ini waktunya membalas budi.”; Masa dimana orang sekitar akan tertawa dan bertanya “Jadi Cuma segini usahamu?”; Dan bahkan masa dimana diri sendiri menangis dan berteriak putus asa “Dasar tidak berguna!”
Tok! Tok! Tok!
Suara kepalan tangan yang beradu dengan kaca meja membuyarkan lamunan Pak Nur. Guru itu mengerjap sejenak dan tersenyum pada siapa yang datang.
“Satu ceret kopi dan empat gelas plastik.” Ujar Kinan sambil meletakkan senampan pesanan Pak Nur diatas meja, “Kembali 76.000.”
“Ambil aja. Buat beli ice cream adik-adikmu.”
Kinan menggeleng, ia tau Pak Nur selama ini sengaja sering menyuruhnya untuk membeli hal-hal remeh dengan selembar uang merah demi memberinya sedikit uang –yang selama ini selalu ia tolak jika diberi Cuma-Cuma. “Kembalian bulpoint kemarin aja masih utuh, Pak. Bunda nggak ngebolehin adik-adik beli ice cream lagi.”
“Ya sudah beli cilok.”
Gadis itu terdiam sejenak, ia tau Pak Nur tidak akan menyerah sampai Kinan memutuskan untuk menerima uang kembalian, “Makasih Pak, nanti biar saya beli cilok seabang-abangnya sekalian.”
Pak Nur terkekeh mendengar jawaban Kinan.
“Kok tumben beli kopi banyak, Pak? Mau ada rapat? Asik, nggak ada bimbel lagi!”
“Ngimpi kamu.” selorohnya, “Kalau males bimbel, bolos sana! Yang penting ikut absen.”
“Bimbelnya Bu Cicip, Pak. Mana bisa.”
Kinan tak sengaja melirik buku yang masih terus terbuka dipangkuan Pak Nur. Matanya menyipit membaca nama diatasnya. “Alan sudah tiga hari nggak masuk, Pak.” Ujarnya tiba-tiba, “Saya nggak punya nomornya, dia juga belum masuk grup kelas.”
Pak Nur mengangguk tipis paham arah bicara Kinan, ia segera menutup buku catatan siswa itu dan kembali tersenyum menenangkan, “Alan masih istirahat.” jawabnya.
“Bapak dari rumah Alan?”
Lelaki itu mengernyitkan senyum sebagai jawaban.
“Alan baik-baik aja kan, Pak? Waktu pulang dari panti, kakinya agak pincang.”
“Sudah lebih baik, kok, Nan. Jangan khawatir.” Ujarnya, “Kenapa? Kamu ngomong tentang Alan karena mau protes soal hukumannya Leo?”
Kinan menghela nafas kesal, “Iya Pak. Dia itu tukang bully tapi Cuma dihukum bersih-bersih sekolah selama satu minggu. Kenapa Leo nggak dikeluarkan saja dari sekolah? karena dia Alan sampai sekarang belum masuk sekolah, Jodhi juga pasti was-was terus kalau ditinggal berdua sama Leo.”
“Apa menurutmu itu solusi?” tanya Pak Nur.
Gadis dihadapannya mengangguk ragu.
“Salah. Itu malah menjadi masalah baru, Nan. Kalau Leo berasal dari keluarga mampu, ia akan merasa tenang. Karena dimanapun kakinya memijak, uang akan menjadi alasnya. Tidak ada efek jera. Kalau Leo berasal dari keluarga menengah kebawah, itu akan menjadi masalah baru. Kalau Leo dikeluarkan dari sekolah, ia akan menjadi apa dimasyarakat? Preman?” tanya Pak Nur mencoba mengetuk jalan pikiran Kinan, “Sekolah sebagai tempat pendidikan karakter, tidak bisa begitu saja menerapkan zero tolerance. Sekolah harus mencari cara yang lebih bijak daripada mengeluarkan siswa. Sekolah harus memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk memperbaiki diri.”
“Sekolah bukan sekadar penjara yang memaksa kalian menghitung rumus-rumus matematika. Tapi, sekolah juga adalah benteng pelindung dari kesalahan yang menjerumuskan.”
“Walaupun begitu, Pak, Leo tetap harus dihukum sepantasnya. Dia harus dibuat jera.”
“Benar, memang harus ada konsekuensi untuk membuatnya jera. Yaitu hukuman. Tapi, apa menurutmu membersihkan sekolah bukanlah hukuman yang layak, Nan?” tanya Pak Nur.
“Siapa yang akan jera kalau hanya dihukum membersihkan sekolah, Pak.”
“Sebagai orang sekuat dan seberkuasa Leo, dihukum membersihkan selokan dan memilah sampah didepan orang-orang yang ditindas itu adalah paling pas untuk mencoreng harga dirinya. Sanksi sosial adalah hukuman yang paling menyakitkan.” terang Pak Nur enteng, “Lagi pula, kemarin sepulang bimbel, Leo sudah meminta maaf secara langsung pada Jodhi. Jodhipun memaafkannya. Maka kamu juga harus begitu.”
Kinan terdiam mencermati seluruh penjabaran Pak Nur.
“Ini sekolah, Nan, bukan pengadilan. Mungkin kamu akan selalu merasa tidak adil, tapi ini adalah cara yang kami anggap paling pas untuk mendidik.”
***
Pak Nur terdiam menatap rumah kosong tempat pertempuran Alan dan Leo tiga hari yang lalu. Rumah itu kini telah berbeda dari apa yang ia ingat. Tidak ada tanaman liar, tidak ada sarang laba-laba, tidak ada sampah berserakan malah telah berpintu kayu walau dicat sekadarnya. Mereka benar-benar berniat mengubah tempat tak layak huni ini menjadi markas besar.
Dari dalam, sayup-sayup suara tawa dan pekikan u*****n hangat menyapa telinga Pak Nur. Ia semakin giat melangkah mendatangi mereka. Dengan bantuan siku, ia membengkokkan gagang pintu. Seluruh penghuni markas yang tengah duduk melingkar bersama tumpukan bungkus rokok itu pun menoleh terkejut.
“Kopi.” Ujar Pak Nur sembari mengangkat kecil nampan ditangannya.
Fajar, murid yang pernah menjadi anak didiknya dikelas sepuluh dulu segera menghampiri dan membantu membawakan. Pak Nur mengeluarkan lima pack rokok dan melemparkannya ditengah lingkaran. Semua siswa dari berbagai almamater yang berbeda itu semakin tegang menatapnya.
“Santai saja, saya juga mau numpang ngerokok.” Ujar Pak Nur sembari duduk diantara mereka, “Diatas ini rooftop?”
“I-iya, Pak.” Jawab salah satu dari mereka.
Pak Nur membuka salah satu bungkus rokok dan menyalakannya. Ia merebahkan punggungnya ditembok, “Nggak usah tegang gitu mukanya. Saya nggak hafal nama kalian dan saya juga gak niat menghafalkan. Jadi, saya nggak akan lapor ke sekolah. Rokok-rokok an aja sana. Saya lagi istirahat jadi guru.”
Dari tengah kerumunan, Leo yang sedari tadi berusaha menghindari kontak mata dengan Pak Nur pun memilih menyerah. Ia menyembulkan kepala dengan dengusan nafas marah, “Pak Nur kesini nyari saya?” tanyanya tiba-tiba.
Pak Nur menyemburkan asap rokoknya kearah pintu, “Sedikit.”
Leo berjalan terburu mendekati, “Ada apa, Pak? Inikan masih jam istirahat.”
“Mau minta temenin ngerokok aja.” Jawabnya enteng, “Mau keatas?”
Lelaki itu menyorotkan picingan mata kasar, “Ini masih istirahat, Pak!” Tegasnya sekali lagi.
“Emang, makanya saya minta temenin ngerokok.” Pak Nur bangkit dan mengawali langkah menuju tangga, “Ayo keatas. Bawakan kopi sekalian.”
Leo benar-benar muak dengan perilaku Pak Nur. Tidak ingin memperlama waktu, ia segera menuangkan kopi kedua gelas plastik dan segera beranjak menuruti jejak Pak Nur. Disudut puing-puing tembok lantai dua, guru nyeleneh itu duduk terpejam sembari terus menamatkan hisapan rokoknya diantara desir panas angin siang. Dengan sedikit gusar, Leo meletakkan segelas kopi disisinya.
Tanpa membuka mata, Pak Nur menoleh kearah datangnya Leo, “Terimakasih.” ucapnya tulus, “Duduk Leo, ngopi kita.”
Lelaki itu duduk bersila dihadapan Pak Nur yang kini mulai perlahan membuka mata menatapnya. Leo menunduk menatap dua gelas kopi yang menghening, “Ada apa, Pak?” tanyanya lagi-lagi.
“Saya mau nagih PR.”
Leo mendongak menatapnya, “PR?”
“Iya. Pertanyaan saya tiga hari yang lalu.” ia mengangkat gelas kopi, “Menurutmu apa yang lebih pahit daripada kopi?”
“Itu PR?” tanyanya setengah tertawa, “Siapapun jelas tau jawabannya, Pak.”
Pak Nur mengangguk, “Lalu, menurutmu apa jawabannya?”
“Hidup.”
“Kenapa?”
“Karena melelahkan.” Jawabnya malas.
“Kenapa hidup melelahkan?” tanyanya lagi.
Leo menatap Pak Nur lebih serius, “Karena kita dipaksa hidup setiap hari, sedang hanya diberi satu kesempatan untuk mati.”
“Tidak ada yang bisa memaksa kita untuk terus hidup, selain diri kita sendiri.” Ujar Pak Nur sembari menggenggamkan gelas kopi pada tangan muridnya itu.
Lelaki itu menghela nafas berat. Matanya ia lemparkan pada gugusan awan menghitam di utara langit, “Benar juga, Pak.”
“Lalu, kalau hidup semelelahkan katamu, kenapa kamu masih bertahan?”
Leo menggedikkan bahunya.
“Pikir dulu, saya tunggu.”
Setelah sekian menit Hening, Leo tiba-tiba buka suara, “Mungkin karena saya penasaran, akhir seperti apa yang sedang disiapkan takdir.”
Pak Nur melengkungkan senyum sempurna, “Singkatnya, harapan.” Ujarnya membenarkan, “Saya rasa benar, jika para pujangga berkata bahwa separuh nyawa kita dibuat dari harapan.”
Leo meneguk kopinya, “Mungkin.” Ujarnya lagi-lagi.
“Mungkin.” Ulang Pak Nur, “Kita memang hidup diantara ketidakpastian.”
“Dan omong kosong.”
“Dan omong kosong.” Ia menoleh menatap Leo yang kini menyalakan rokoknya, “Tapi walau hidup sangat melelahkan dan penuh omong kosong, kita tidak pernah sendiri, Leo. Ada bermiliyar nyawa lain yang hidup sama muaknya dengan kita.”
“Seperti kalian semua, anak-anak Bapak di kelas 12 MIA 7.” Tambah Pak Nur, “Mungkin kalian sama-sama umur tujuh belas tahun, tapi kalian menjalani beban hidup yang berbeda-beda. Ada yang terbebani harapan orang tua, ada yang terbebani omongan tetangga, ada yang terbebani masalah keluarga, ada yang terbebani ekonomi keluarga bahkan ada yang terbebani cita-cita diri sendiri. Maka dari itu, selalu dan selalu bersikap baik pada siapapun. Karena kita sama-sama tinggal dikehidupan yang sama melelahkan.”
“Dan orang dengan beban masalah keluarga akan tumbuh menjadi pribadi seperti saya.” Leo menoleh penuh emosi tertahan, “Itukan yang sedang Bapak coba sampaikan?”
“Kenapa kamu berpikir saya akan mengatakan semua itu?”
Leo mengangkat sudut bibirnya penuh hinaan, “Karena semua guru selalu mengatakan hal yang sama. ‘Pantas saja jadi preman, keluarganya saja bermasalah’ begitu kata mereka. Kalau Pak Nur kemari Cuma untuk mengatakan hal itu, maka terimakasih, saya sudah lebih dari cukup mendengarnya. Saya gak butuh diingatkan terus-terusan bahwa saya berangkat dari keluarga bermasalah!” sentaknya.
Pak Nur menatapnya sendu, Lebih banyak luka di hati daripada di tubuh lelaki itu. “Kamu luar biasa, Leo. Terimakasih telah bertahan sejauh ini.” pujinya.
“Saya tidak perlu diapresiasi, Pak, toh saya sendiri yang memilih untuk hidup sejauh ini.”
“Bagus.” Pak Nur tersenyum teduh, “Tetaplah menjadi baik dikeadaan yang tak baik.”
Pak Nur beranjak dari tempatnya dan menepuk pelan bahu Leo, “Terimakasih, upacara rokok siang saya lebih bermakna hari ini.” ujarnya lantas berlalu pergi.
Leo mengantarkan setiap langkah kaki sang guru dengan sudut matanya. Hingga tepat diambang pintu, Pak Nur menjeda perjalan dan menoleh menangkapnya basah. Leo seketika melemparkan mata kesembarang arah.
“Ah iya, saya lupa.” Ucapnya, “Tiga hari yang lalu saya datang kerumah Alan. Memarnya cukup parah. Kamu jago juga. Padahal, kalau dari segi postur, kamu kalah jauh sama pemain bola.”
Leo meringis, “Terimakasih, Pak.”
“Saya punya pekerjaan cocok buat bakatmu itu. Mau?”
“Pekerjaan? Jadi bodyguard?” tebak Leo asal.
Pak Nur tertawa terbahak, “Heh! Kalau kamu jadi bodyguard saya bisa diketawain sama helokitty!”
“Terus pekerjaan apa, Pak? Kan nggak mungkin Pak Nur nyuruh saya jadi Preman.”
“Kamu pernah kerumah saya, ‘kan?”
Leo mengangguk ragu, “Pernah. Waktu kelas sepuluh dulu.”
“Kalau begitu, kamu tau ‘kan saya punya usaha apa?”
Leo mengangguk lebih ragu, “Pembuatan cobek.”
“Nah! Saya lagi cari pegawai baru yang punya otot tangan kuat.” Pak Nur menyipitkan matanya seolah sedang mengukur tangan Leo, “Kamu seperti cocok. Kalau kamu mau, datang setiap hari sabtu kerumah saya. Saya bayar dua ratus ribu plus makan tiga kali sehari plus rokok satu bungkus. Gimana, tertarik?”
Lelaki itu tersenyum remeh, “Itu bukan bayaran yang pas untuk tukang pahat batu. Bapak sedang berusaha membantu saya, kan?” tanyanya.
“Saya nggak sedang berusaha membantu kamu. Karena yang bisa membantu kamu adalah dirimu sendiri. Saya menawarkan pekerjaan ini semata-mata karena cita-citamu. Apapun yang menghasilkan uang, begitu kan?” jawab Pak Nur enteng.
Leo terdiam menatap Pak Nur. Ia penasaran, jika separuh nyawa dibuat dari harapan, apakah separuh lain milik guru itu dibuat dari nafas malaikat?
“Tapi tentu ada syaratnya.” Tambah Pak Nur.
Kening Leo berkerut, “Syarat?”
“Iya syarat. Kamu bisa mendapatkan uang itu asalkan selama satu minggu kamu tercatat tidak pernah sekali pun bolos kelas. Saya nggak minta kamu menaikkan nilai, saya nggak minta kamu dapat rangking, saya Cuma minta kamu tidak absen. Mudahkan?”
Leo mengangguk-angguk paham, “Oh, Jadi bapak ngelakuin ini karena absen saya sudah diambang syarat tidak lulus? Nggak perlu repot-repot, Pak. Saya juga tau diri, kok.”
“Loh! Saya malah nggak tau kalau absenmu sudah sebanyak itu.” jawab Pak Nur pura-pura terkejut, “Ah, yasudahlah! Kita sambung nanti. Lima menit lagi masuk. Jangan lupa balik dulu ke kelas. Angkat tangan dua detik, izin kekamar mandi, baru balik kesini. Ingat-ingat syarat saya, Oke?”
***
Mobil sedan putih Pak Nur berhenti diseberang studio musik yang sesore ini lampu halamannya tak kunjung nyala. Ia menurunkan kaca mobilnya, meyakinkan diri bahwa telah tiba diujung pencarian. ‘Hanggalan Music Studio’. Studio yang bagian depannya dipenuhi kayu-kayu artistik ini nampak redup, rak sepatunya nihil pengunjung. Jadi ini tempat persembunyian Alan tiga hari belakangan?
Pak Nur segera beranjak dan berjalan mengetuk pintu yang terang-terang mengusirnya dengan tulisan ‘Studio tutup sampai waktu yang tidak ditentukan.’
Dari dalam, lampu tiba-tiba menyala. Seorang lelaki dengan rambut berantakan berjalan sedikit terburu membukakan pintu. Dari wajahnya yang terlihat sama sekali tak terkejut, ia pasti mendengar kedatangan sang guru.
Pak Nur mengulurkan rantang pink yang dibawanya, “Soto buatan istri saya. Nomor satu sedunia.” Guraunya.
Alan menerimanya, “Terimakasih, Pak.” Ucapnya kecil.
“Kembali kasih.” Jawabnya enteng.
Tidak perduli dengan sang empu yang belum mempersilahkannya masuk, Pak Nur membiarkan kakinya menjelajahi ruang. Rumah selebar 9x10 meter ini dibagi apik menjadi tiga bagian utama. Ruang tunggu dengan majalah-majalah bekas, sudut perkopian dan foto-foto Alan bersama berbagai penghargaan; Studio musik bernuansa putih yang didindingnya dihiasi drywall dan panel kayu; serta ruang tertutup yang dipintunya tertulis besar-besar ‘Hanggalan Crew’.
Pak Nur menoleh kearah Alan yang sedang sibuk meracikkan kopi untuknya, “Gulanya jangan banyak-banyak, Lan!”
Alan diam saja tak menanggapi. Tangganya terus sibuk berkutat dengan sendok kopi.
“Kenapa namanya Hanggalan?”
“Gabungan nama.” Jawabnya cepat, “Nama Papa, Abang dan saya. Hamid, Angga, Alan. Hanggalan.”
Pak Nur menggangguk-angguk kecil. Sudut batinnya tersenyum, tak biasanya Alan membiarkan diri repot-repot menjelaskan. Ia menyaut gitar akustik yang tergeletak di sofa studio. Jemarinya mendentingkan nada-nada lirih, berusaha membunuh bosan akibat kopi pesanan yang tak kunjung datang.
Anak muda diujung jalan
Petik gitar jilati malam
Mata merah hatinya berdarah
Sebab apa tiada yang mau tau
Pada kelelawar ia mengadu
Pada lampu-lampu jalan sandarkan angan
Pada nada-nada lontarkan marah
Pada alam raya ia berterus terang
Aku gelisah!
(Lagu Gelisah – Iwan Fals)
Alan meletakkan kopi di kursi kayu yang dibawanya dari luar. Kini, tangannya turut menanggalkan bubuk-bubuk kopi yang tertinggal dan berbaur pada dentingan senar gitar.
Orang tua diremang-remang
Cari teman hamburkan uang
Senyum ramah tak ada di rumah
Sebab apa tiada yang mau tau
Pada kelelawar ia mengadu
Pada lampu-lampu jalan sandarkan angan
Pada nada-nada lontarkan marah
Pada alam raya ia berterus terang
Aku gelisah!
Saut-sautan nyanyian dan dentingan gitar beradu ganas mengisi ruang yang sempat hampir kosong di studio ini. Ada kelegaan luar biasa diwajah Alan saat lagu mulai mencapai akhirnya. Pak Nur yang menyaksikan semua itu terdiam sejenak membiarkan Alan memiliki ruang khusus untuk berteriak dengan cara lain.
“AKU GELISAH!” pekiknya.
Alan tersenyum tipis menatap Pak Nur yang memandangnya penuh rasa bangga, “Diminum dulu kopinya, Pak.” Tawarnya.
“Makasih.” Ujar Pak Nur sembari menyeruput kopinya.
“Pak Nur nggak bosen cari saya terus? Katanya nenek, sehari yang lalu Bapak kerumah.”
“Kamu sendiri gak bosen lari dari masalah terus? Katanya coachmu, tiga hari yang lalu kamu memutuskan nggak kembali ke team.”
Kening Alan berkerut tersinggung, “Walaupun begitu, pilihan saya atas team nggak ada hubungannya sama sekolah. Jadi Pak Nur nggak berhak untuk tau.”
“Oh ya? Bukannya botol-botol itu bukti bahwa kamu menyesal telah memutuskan kontrak dan merasa tidak punya alasan lagi untuk kembali kesekolah?” dagu Pak Nur menunjuk ke botol-botol miras kosong yang tersembunyi dibalik sound system.
“Jangan karena merasa seorang walikelas, Bapak bisa seenaknya ikut campur urusan saya.” kecam Alan, “Saya paling tidak suka melihat seseorang berlagak paling paham tentang hidup saya.”
“Saya juga nggak berniat ikut campur. Tapi dengan kamu membuka pintu, membuatkan saya kopi, duduk disamping saya dan bernyanyi. Bagi saya, itu sudah lebih dari cukup untuk saya punya alasan datang kemari lagi.” jawab Pak Nur Santai.
Alan terdiam malas menanggapi.
“Saya nggak tau Lan, persoalan seberat apa yang kamu hadapi dirumah sampai nenekmu berpesan supaya saya menyuruhmu pulang. Saya nggak tau juga kenapa coach mu mempertahankanmu sebegitunya dan meminta saya datang kemari untuk membujuk kamu kembali kesekolah. Saya nggak tau apa-apa tentang hidupmu.”
“Tapi yang saya tau Cuma satu,” Pak Nur menjeda, “Kamu boleh kehilangan segalanya, asal jangan kehilangan dirimu sendiri.”
Kalimat itu sempurna membekukan dunia Alan. Pikiran lelaki kaku yang batinnya penuh luka itu mendadak hening. Ruangan sempurna lenggang.
“Saya nggak minta kamu kembali kerumah, saya nggak minta kamu kembali ke team, saya juga nggak minta kamu kembali kesekolah. Tapi yang saya minta, kelak ketika kamu dihadapkan dengan skenario terburuk, dimana dunia memintamu memilih antara kehilangan segalanya atau kehilangan diri sendiri. Kamu jangan pernah meninggalkan dirimu. Jangan mengorbankan dirimu demi kesegalaan yang semua.”
“Atau itu masuk konjungsi koordinatif. Konjungsi yang menggabungkan dua klausa yang sederajat. Sedangkan ‘segalanya atau diri sendiri’ bukanlah hal yang sepadan untuk bisa dipilih.” protes Alan dengan nada melemah.
“Benar. Perbandingannya tak sepadan. Maka dari itu, kamu harus menentangnya. Jawablah dengan keras ‘Aku rela kehilangan segalanya, asal tidak kehilangan diri sendiri’!” Pak Nur mendentingkan gitarnya kembali, “Seperti sekarang. Kalau bola memang berbalik meninggalkanmu, biarkan saja. Selama kamu masih punya gitar, jangan pernah menyerah pada keadaan.”
Alan terdiam menatap gitarnya, “Bola nggak meninggalkan saya, Pak. Saya meninggalkannya lebih dulu. Dan ketika saya ingin kembali, keadaan menendang saya jauh-jauh.”
“Bagus.” sergah Pak Nur, “Kamu kan kiper, pasti tau cara permainan lapangan. Setelah bola berhasil kamu lempar jauh, biar saja lini depan menunaikan tugasnya menyerang. Dan kamu cukup berdiri dengan sabar dan tunggu tanggal mainnya.”
“Nggak gitu konsepnya kiper, Pak.”
“Ya maaf, saya rocker bukan kiper.” Gurau Pak Nur, “Oh ya, Lan, tawaran saya masih sama. Posisi gitaris masih kosong.”
Alan menghela nafas, “Pak Nur nggak ada capek-capeknya nyuruh saya ikut lomba begituan? Sudah berapa kali saya bilang, saya nggak cocok, Pak.”
“Kamu juga nggak ada capek-capeknya nolak saya.” Jawab Pak Nur sekenanya, “Ingat, kamu boleh-”
“Saya boleh kehilangan segalanya, asal tidak kehilangan diri sendiri.” Potong Alan cepat, “Tapi saya sudah bilang kan, Pak. Lomba itu percuma buat saya. Sertifikatnya nggak akan saya gunakan untuk daftar kuliah. Bapak tawarkan saja ke yang lain. keorang yang gila prestasi non akademis. Lagi pula, lombanya sebentar lagi ‘kan?”
Pak Nur menggeleng tipis, “Ini bukan soal sertifikat. Ini soal perjalananmu mengembalikan diri sendiri.” Ujarnya, “Saya tunggu. Sampai kapanpun, saya tunggu.”
Alan menatap Pak Nur terheran, “Pak Nur nggak capek ngurusin satu persatu siwa bermasalah seperti saya?”
“Capek sekalipun, selama anak dan istri saya masih makan dari gaji seorang guru, maka saya nggak berhak menyerah pada apapun dan siapapun. Termasuk kamu.”
“Jangan hidup menderita, Pak, masa bodoh juga perlu.”
“Sebelum nasehatin saya, ngomong sama diri sendiri dulu sana!”