BAB 2 : PEYORASI

3554 Kata
Dibawah terik mentari pukul dua belas lewat sekian menit, pagelaran istirahat digelar besar-besaran. Siswa-siswa berlarian tertawa sepanjang koridor dengan seragam basah keringat, siswi-siswi dengan tangan tak berhenti menyuapkan cemilan duduk bersenda gurau disisi taman. Namun, dikoridor paling sepi sekolah ini masih terus menyepi. Disetiap kelas, pemandangan serupa terjadi. Para siswa siswi tahun terakhir itu duduk melingkari rumus cepat fisika, prediksi tryout pertama dan segelas minuman penambah stamina. Betapa memuakkannya menjadi anak kelas dua belas.             Dibangku paling ujung belakang kelas, Alan yang dibalut hoodie kelabu membenamkan wajah diantara kedua lengan. Kegiatan wajib yang selalu dilakukannya disetiap jeda. Baginya, ketidakperdulian adalah cara paling romantis untuk menghargai jeda.             “JODHI!” seorang lelaki yang sedang memeluk bola basket itu berteriak kencang dari ambang pintu.             Dengan kaki bergetar, lelaki berkacamata tebal yang dipanggil ‘Jodhi’ itu segera berdiri tegak. Ia tau, cepat atau lambat hal ini akan terjadi lagi.             Lelaki itu berjalan penuh tatapan intimidasi mendekati Jodhi. Dengan sekali hentakan, ia memukul meja keras-keras. Jodhi beringsut mundur dan menunduk penuh ketakutan, “Hey! Katanya lo mau join main bola?” tanyanya sengit, “Ditungguin dilapangan kok nggak dateng-dateng? Kenapa? Anak mami takut kepanasan? Mau sunblock gak?”             “M-maaf Leo, a-aku masih nyalin catetanmu. N-nanti kan jam terakhir kan kimia. I-ini belum selesai. Tinggal empat nomor.” Jawabnya terbata.             Leo tertawa remeh, “Oh, jadi lo nyalain gue? Karena gue nyuruh nyalin catetan kimia, lo nggak bisa main bola, gitu? Iya? Wah, gede juga nyali lo.”             Jodhi menggeleng cepat, “N-nggak g-gitu, Leo. A-aku-”             Leo yang tak tahan dengan racauan Jodhi, seketika melemparkan bola basket kedadanya. “Banyak bacot!”             Ditengah erangan tertahan, Jodhi segera mengambil bola basket tersebut dan mengembalikan ketangan Leo, “M-maaf, Leo.”             “Main atau nggak?”             “M-main.”             “Nah gitu dong, pinter!” Ujarnya sembari memukul-mukulkan bola basket pada kepala Jodhi.             Alan yang muak mendengar keributan itu menoleh kasar kearah Leo. Matanya tajam runcing menyorot. Melihat ekspersi itu, Leo tertawa kecil dalam hati. Sepertinya ia menemukan kawan baru untuk berolahraga sepulang sekolah nanti             “Jodhi, main bola disini aja yuk, mumpung ada kiper. Kan jago kalau disuruh nangkepi bola. Gimana? Yuk!” Ajak Leo.             Alan yang sadar terang-terangan diprovokasipun segera kembali pada rutinitasnya semula. Ia tidak sedang ingin membunuh lebih banyak lagi.             Leo meletakkan bola basket ditangan Jodhi dan menariknya berdiri, “Yang pertama latihan dribble.” Perintahnya. Tangan Leo membimbing jemari Jodhi mengenggam bola dan menghentakkan berulang ke meja, “Tu wa ga pat, ma nam ju pan. Ayo lebih keras, tu wa ga pat, ma nam ju pan!”             “Jodhi pinter!” ia mengacak kasar rambut Jodhi, “Sekarang latihan Shooting.”             Jodhi yang membaca pergerakan Leo segera menahan tangannya, “J-jangan Leo! J-jangan!” Sergahnya.             “Tenang Jodhi, Kan sudah kubilang, dia itu kiper, jago nangkap bola. Gapapa, santai aja. Sekarang lo pegang bolanya dan lembar kearah sana! Anggap aja itu ring.” Ujar Leo sembari mengarahkan badan Jodhi kearah Alan. “Yuk Lempar!” Jodhi tak tinggal diam, ia terus meronta menolak perintah. Leo yang kehilangan kesabarannya pun mendorong Jodhi hingga jatuh berdebam kelantai, “CUPU LO!” makinya, “Masa ngelempar bola aja nggak berani?”             Kinan yang baru saja datang dan tak sengaja menyaksikan kejadian itupun segera berteriak lantang, “LEO!” langkahnya tergesa menghampiri Jodhi, “Kamu nggak papa?”             Leo tertawa melihat satu babak adegan dihadapannya, “Hah! Kamu nggak papa.” nyinyirnya, “Sumpah. Dari dulu gue mikir, kenapa lo selalu belain Jodhi. Ah, hari ini akhrinya ketemu juga alasannya. Pangeran katak dan Putri panti asuhan.”             Mendengar itu, Kinan seketika melemparkan tatapan nyalang, “Apa dengan ngelakuin ini semua kamu ngerasa paling jago? Paling oke? Paling kuat?” tanyanya tajam.             Lelaki itu hanya tertawa kecil. Kakinya maju selangkah demi selangkah mendekati Kinan. Tapi gadis itu pantang takut. Ia sama sekali tidak mencoba melangkah mundur. Ia terus menegak dan melemparkan u*****n lewat picingan mata.             Leo menjajarkan wajahnya dengan tatapan Kinan, “Lain kali kalau mau jadi pahlawan, bangun lebih pagi ya?”             Kinan tersenyum remeh dan membalas tatapan Leo lebih s***s lagi, “Kamu kalau mau jadi jagoan, yang laki ya. Masa cari lawan Jodhi terus. Kenapa? Karena kamu nyadar kalau sama yang lain bakalan kalah?” ia terkikik kecil, “Berhasil membuat orang yang lebih lemah menderita, nggak bakal bikin kamu terlihat paling kuat.”             Harga diri Leo sempurna ditelanjangi. Dengan gusar, ia mendorong bahu Kinan kasar. Seluruh isi kelas, apalagi Gavinda dan Okta, berteriak kecil menyerukan nama Kinan. Leo menyibakkan dengan kasar sisi kanan rambut Kinan. Ia memang sengaja mempertontonkan bekas luka sayatan melingkar yang selama ini selalu disembunyikan gadis itu dari khalayak.             Gadis itu tercekat dan buru-buru membenarkan posisi rambutnya.             Leo tertawa menatap gelagat Kinan, ia memang sangat ahli dalam mencari titik lemah lawan, “Monster.” Desisnya.             Tatapan Kinan yang semula tajam, mendadak menyendu. Ia mengerjap berulang mencoba memastikan apa yang baru saja didengar. Disekolah ini, seharusnya tidak ada lagi yang memanggilnya seperti itu.             Lelaki yang merasa menang itu berbisik, “Monster!” Ujarnya lagi-lagi.             BRAKKK!!!             Dari sisi kiri Kanan Kinan, Alan yang semakin tak tahan dengan pergulatan dihadapannya pun unjuk bicara. Ia menendang keras-keras meja kearah Leo.             Leo tertawa menatap ujung meja yang tipis menabrak pinggangnya, “Lagi-lagi pahlawan kesiangan.”             “Gue Cuma mau bilang, kiper itu nggak Cuma jago nangkep bola tapi juga jago nendang.”             “Ah, gitu. Oke siap bang jago!”             “Oiya, gue juga mau bilang.” tambah Alan, “Manusia itu dibagi menjadi tiga, perempuan, laki-laki dan sampah. Dan sekarang, gue sadar lo yang mana.”             Mendengar pernyataan Alan, emosi Leo memuncak. Dengan langkah cepat ia menghampiri alan dan mencengkeram erat kerah seragamnya, “Lo berani main-main sama gue?”             “Easy boy, gue Cuma bilang kalau manusia dibagi menjadi tiga. Perempuan, laki-laki dan sampah. Dan gue tau, lo yang mana. Gue nggak pernah bilang kalo lo sampahnya.” Ia terkikik menahan tawa, “Kok lo malah ngaku sampah sendiri sih?”             Leo yang muak mendengar suara Alan pun segera mengangkat kepalan tinju tinggi-tinggi. Tiba-tiba suara hentakan kaki kasar bergema mendekat, seluruh penghuni kelas tergopoh-gopoh masuk. “BU CICIP! BU CICIP!” teriak mereka memperingatkan kehadiran seorang guru matematika paling killer disekolah.             Mendengar kabar itu, Leo menghentakkan tubuh Alan kasar. Urusan akan panjang jika Bu Cicip mengetahui perbuatannya. “Urusan kita belum selesai.” Bisiknya lalu berbalik pergi.             Alan hanya diam menatap Leo yang kembali duduk disinghasananya. Tanpa berpikir lebih lama, ia segera membenarkan posisi meja yang menjadi korban hentakan kakinya. Namun gerakannya tertunda kala matanya lagi-lagi tak sengaja jatuh pada Kinan yang menunduk dalam sembari menangkupkan kedua tangan dihidung. Gadis itu bernafas cepat dan tak beraturan. Ia terlihat sedang melawan sesuatu yang menyakitkan.             “Lo nggak papa?” tanyanya. *** Bel pulang sekolah bergema, seluruh siswa –termasuk kelas dua belas yang dibebaskan dari kegiatan bimbel siang pun dengan gembira berhamburan keluar. Wajah-wajah mereka yang sepanjang hari lesu menahan kantuk itu kini berubah segar bugar. Suara tawa ceria serta langkah-langkah ringan pun berlomba berlari jauh dari pagar sekolah. Di sudut parkiran, di atas jok motor CB100 yang sudah dimodif sedemikian rupa, Alan menatap murung sekitar. Pikirannya sedikit carut marut. Ponsel ditangannya bergetar menyala, satu pesan dari orang yang sama kembali menyeruak. 5 menit lagi, sob –isinya.   Alan menghela nafas frustasi. Diam-diam batinnya mengutuki keraguan dan omong kosong pikirannya sendiri. Seperempat menit kemudian, tanpa berpikir panjang, ia segera memacu motornya dan berkelok buas menuju belakang sekolah. Deru mesinnya kasar menampar telinga-telinga sesiapa saja. Satu dua gadis yang roknya tak sengaja tertiup pun berlomba-lomba mengumpat keras-keras. Tapi lelaki itu tidak perduli, ia terus meliuk-liukkan badan motor menghindari siswa-siswi yang berjalan serampangan kearah datangnya angkutan umum. Sesampainya ditempat yang telah ditentukan, Alan menghentikan mesin motor didepan gerbang hijau kecil. Gerbang yang dikenal sebagai jalur sutra untuk melarikan diri dari kelas. Gerbang yang merupakan ujung persimpangan jalan tikus sekolah. Diseberang kanan gerbang hijau itu, seonggok rumah kosong yang halamannya tenggelam oleh tanaman liar menyambut. Dari ambang bangkai pintu, kepala seseorang yang membuatnya repot-repot datang kemari menyembul dan tersenyum misterius. Dagunya bergerak kecil, memerintahkan Alan untuk masuk. Kepalang tanggung, hajar saja –batin Alan. Lelaki itu segera berjalan menyibak kasar tanaman liar yang mencumbu kakinya dan bersiap memulai pesta. Bagian dalam rumah kosong ini nampak sedikit bersahabat. Bola lampu, karpet, rokok, makanan ringan, botol bekas minuman keras dan sampah bungkus kopi bertebaran diseluruh ruangan. Rumah kosong yang terasingkan dari kerumunan warga ini bukanlah sembarang rumah. Rumah ini adalah markas besar Leo dan kawan-kawannya. Dari ruangan lain, dua lelaki berwajah asing datang bersama Jodhi diantara cengkeraman tangan mereka. Dari badge yang hampir lepas dari seragam mereka, dua lelaki itu tidak datang dari sekolah yang sama dengannya. “Lo nggak papa?” tanyanya dingin pada Jodhi. Jodhi yang tangannya bergetar hebat itu hanya menggeleng lemah. Leo tertawa, “Kenapa, menyesal ya kesini tapi Jodhi baik-baik aja? Apa gue harus bikin dia kenapa-kenapa?” ia mematahkan lehernnya kanan-kiri, “Olahraga yuk, pengen tau rasanya main sama kiper.” Kiper? Decih alan dalam hati. “Ah, sorry. Gue lupa, lo udah bukan kiper lagi.” “Yaiyalah, mana ada kiper yang kena ACL (arterior cruciate ligament)” Ujar salah satu dari mereka penuh tawa. Alan menggepalkan tangannya, nafasnya berderu berat menahan marah. Tidak. Ia tidak boleh terprovokasi. Ia harus bertahan dan mengendalikan emosi. Lelaki itu mengurungkan niat pertarungan dan memilih berbalik melenggang pergi. Leo yang merasa umpannya tak tepat sasaran berteriak marah, “ALAN! Tadi lo sok banget jadi pahlawan, kok sekarang menciut gitu? Kenapa? Lo nggak boleh kena masalah ya selama ‘cuti’?” ejek Leo, “Lo takut nanti ada berita dikoran ‘Kiper Timnas terlibat dalam perkelahian sekolah’ gitu? Hahaha!” Alan tidak perduli dan terus berjalan melenggang. Tiba-tiba dua suara debaman tangan dan teriakan tertahan meraung mengisi telinganya. “Hey, pahlawan, Lo yakin mau pergi? Lo yakin biarin ni anak mati disini?” teriak salah satu dari mereka, “Jaga image banget sih lo, emang yakin habis ini masih main bola?” Pertanyaan terakhir itu sempurna menghentikan kaki Alan. Lelaki itu tergugu sejenak. Benar juga. Sebagai seorang manusia yang kehilangan hak untuk berbahagia, bukankah ia tidak lagi layak untuk sekadar mencumbu mimpi dan cita-cita? Jadi untuk apa ia repot-repot menahan diri, toh hasil akhirnya selalu sepakat; ketidak beruntungan berada dipihaknya.  Alan kembali berbalik, menatap kaki yang sempurna bernaung dikepala Jodhi. Ketika langkah dendam mulai berhentak, suara dari sang coach berputar keras dikepala. Lelaki itu kembali menjeda langkah. “Kamu belum keluar dari team, Lan. Kamu Cuma dianggap cuti. Indonesia nggak akan pernah rela kehilangan kiper terbaiknya. Jadi, manfaatkan satu tahun ini buat istirahat, memulihkan keadaan dan berdamai sama masalahmu. Terus fokus sama terapimu, jangan berurusan pada sesuatu yang tidak perlu. Oke?” “Lan, lo nggak kasihan lihat Jodhi begini?” tanya Leo sambil terus menekan keras kepala Jodhi, “Gini deh, kalo lo mau nemenin gue olahraga, Jodhi boleh pergi. Gimana?” Alan menyunggingkan sudut bibirnya remeh, “Gue heran, kok ada ya orang yang betah banget jadi sampah?”  ujarnya sembari melemparkan tas kesembarang arah, “Keluar Jod!” Leo tersenyum bangga, “Pilihan yang bagus.” ujarnya. Tangan Leo langsung menarik Jodhi kasar dan mendorongnya kearah Alan, “Sungkem dulu sama yang udah nyelametin, Lo.” Perintahnya. Jodhi menatap Alan takut-takut, “L-lan, m-makasih.” Lirihnya. Alan mendorongnya keras, “Gue nggak ngelakuin ini buat, Lo. Gue ngelakuin ini supaya nggak ada lagi sampah-sampah yang berserakan.” Ujarnya, “Pergi, Lo.” Tanpa kata, Jodhi lari cepat meninggalkan rumah kosong dan kehancuran didalamnya. “Gue suka gaya, Lo.” Puji Leo. “Sorry, Coach.” Lirihnya. Alan yang tak pandai berbasa-basi pun segela melompat tinggi dan mendang d**a Leo keras. Lelaki itu jatuh tersungkur. Kedua tangan kanan Leo tak tinggal diam, mereka segera membalas Alan dengan pukulan bertubi. Kini gilirannya terbaring sia-sia diatas tumpukan bungkus mie instan. Kaki-kaki segera menendangnya tak kenal ampun. Satu tangan kasar mengangkat kerah bajunya. Lebam berdarah tercetak dipelipis. Alan susah payah kembali berdiri. Ia tersenyum kecil, sudah lama ia ingin memukuli dirinya sendiri. “MAJU LO SEMUA!” teriaknya. Ketika pukulan kasar dan tendangan ganas menyambangi tubuhnya, gema suara sepatu beradu dengan tanaman liar tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka. dihalaman, seorang satpam berkumis tebal berdiri garang sambil mengangkat tongkatnya tinggi-tingi. “WOY!” teriaknya, Leo dan kawan-kawanpun segera berhambur kabur melompati jendela. Satpam berkumis tebal itu tergopoh-gopoh mengejar mereka. Diposisi yang masih sama, Alan tertawa dalam kebisuan. Tubuhnya mungkin perih dihujami rasa sakit, namun hatinya luar biasa lega. Seharusnya, rasa sakit itu seperti ini –ujarnya lirih pada sarang laba-laba dilangit-langit. “A-lan!!!” Alan terkejut mendengar suara asing yang tiba-tiba datang meneriaki namanya itu. Namun ia lebih terkejut lagi saat menyadari siapa yang sedang terengah-engah berdiri diambang pintu. Kinan. “M-maaf aku telat kesini, baru baca chatnya Jodhi.” Dengan mata penuh sorot khawatir, ia berlarian kecil mendekat. “Yaampun, bibirmu berdarah, Alan!” Alan menghapus darah disudut bibirnya, “Santai.” Jawabnya pendek. “Kita ke UKS dulu, ya, buat ngobatin lukamu.” Ajak Kinan. Lelaki itu menghela nafas malas, “Nggak usah, nggak papa.” “Kamu memar, kalau nggak diobati nanti-” Mata Alan menatap Kinan tajam, “Nggak usah.” Ketika ia beranjak berdiri, kaki kanan yang sedari tadi terus ia lindungi itu tiba-tiba mengilu. Alan berdesis kecil meremas lututnya. Kinan yang menyadari Alan kesakitanpun segera mengenggam lengan Alan, “Kita ke UKS dulu.” Ajaknya lagi. Alan menyibakkan kasar jemari Kinan dan berjalan menjauhinya, “Nggak usah ya nggak usah.” Pekiknya. Kinan terkejut dengan perilaku Alan. Kenapa ia semarah itu, padahal Kinan bermaksud baik? “Gue pulang dulu.” Ujar Alan sembari menggendong tasnya.             Walau hatinya sedikit mencak-mencak karena sentakan Alan, Kinan tak sampai hati ketika melihatnya berjalan sembari menyeret kaki. Dimatanya, lelaki itu hanya berpura-pura kuat. Otak Kinan bekerja cepat menuliskan skenario baru untuk menurunkan ego,  “ALAN!” teriaknya. Lelaki yang sudah jauh melangkah itu menjeda. “Anterin aku pulang!” teriaknya lagi-lagi.             Alan menoleh terheran. Ia tidak mengenal siapa gadis itu, tapi kenapa tiba-tiba memintanya mengantarkan pulang?             “Aku lari dari rumah ke sekolah terus ke sini demi kamu, tau! Kamu harus tanggung jawab, anterin aku pulang.”             “Gue nggak pernah minta lo ngelakuin semua itu.” jawabnya dingin.             “Emang. Tapi Jodhi yang minta, jadi protes aja sama dia.” Kinan melangkah tergesa menjajari Alan. Dagunya menunjuk motor merah, “Itu motormu kan? Yuk anterin pulang.”             “Nggak mau! Emangnya lo siapa harus gue anterin?”             “Kinan Tha Almathea.” jawabnya santai. Ia melenggang kearah motor Alan dan menepuk kecil joknya, “Yuk!” ***             Di sudut pertigaan kedua setelah gedung sekolah, diseberang tanah lapang yang selalu ramai setiap sore, sebuah rumah tingkat tiga yang halamannya penuh dengan tawa anak-anak berdiri kokoh. Berkanvaskan tembok bangunan utama, sebuah lukisan bertuliskan ‘PANTI ASUHAN KASIH BUNDA’ terpampang mentereng turut mewarnai bunga-bunga yang mekar. Disudut taman, dibangku kayu tua yang dipahat panjang, Alan duduk pasrah merekam pemandangan itu dengan matanya.             “Ahh-” sentaknya perih saat Kinan dengan sengaja menekan lebih keras kassa obat merah.             Gadis itu mengulum bibir menahan tawa, “Sakit? Gitu sok banget nggak mau diobatin.” Ejeknya.             “Nggak kok, nggak papa.”             Sudut mata Kinan melirik kaki Alan, “Kakinya sakit? Mau diambilkan es batu buat ngompres?”             Alan menggeleng cepat, “Nggak usah, gue baik-baik aja.”             Kinan menghela nafas dan menatap Alan penuh, “Peyorasi.” Ujarnya.             “Apa?”             “Zaman sekarang, kata ‘baik-baik saja’ itu mengalami pergeseran makna menjadi lebih buruk.” Kinan menghentikan pekerjaan tangannya, “Peyorasi.”             “Kenapa gitu?”             “Karena ‘baik-baik saja’ hanyalah formula yang digunakan orang-orang terluka untuk menutupi perasaannya.”             Alan tersenyum tipis, “Itu Cuma tafsiranmu dan faktor utama pergeseran makna dimulai dari sana.”             Kinan menggeleng menolak setuju, “Kamu salah, faktor utama pergeseran makna adalah konteks.” Jawabnya cekatan, “Dengan konteksmu yang sekarang, apa masih mau ngotot bilang ‘baik-baik saja’?”             Alan bungkam tak menanggapinya.             “Kenapa sukar sekali mengaku ‘Tidak baik-baik saja’? Padahal, terluka bukanlah dosa.” Ujarnya, “Awan saja selalu hujan ketika bebannya terlalu berat, maka kamu juga boleh begitu.”             “Ngoceh apa sih lo, bikin pusing.”             “Nggak papa kalau kamu pusing, itu artinya, kamu mikirin kata-kataku.” Jawab Kinan tenang.             “Lo emang sering ya sok tau kayak gini ke orang yang nggak dikenal?”             “Orang yang nggak dikenal?” ulang Kinan sambil terkikik geli, “Kamu sendiri, emang sering ya mau-mau aja disuruh nganterin pulang sama cewek yang nggak dikenal?”             Alan terdiam menatap gadis yang pintar bermain kata-kata dihadapannya itu, “Iya deh, terserah lo aja.” Jawabnya mengalah. ***             Alan menghentikan motor di halaman rindang sebuah rumah bercat putih. Bayangan timangan sang nenek dan belaian halus dikepala membuat kakinya melangkah cepat mengabaikan perih. Sesampainya didepan pintu cokelat, matanya tergugu melihat sepasang sepatu berhak tinggi tergeletak. Tangan yang semula meraih gagang pintu seketika urung.             Tiba-tiba dari balik jendela, kepala seorang perempuan yang masih lengkap dengan seragam dinasnya menyembul. Alan cepat-cepat memalingkah wajah. “Nggak jadi masuk karena ada mama?” tanyanya sinis. Alan menghela nafas jengah. Ia tak perduli lagi. Jemarinya mantap membuka pintu. Seketika, matanya bertemu dengan raut terkejut sang nenek. “Alan kamu kenapa?” tanyanya khawatir. “Kok mukamu sampai begitu?” “Jatuh. Kepleset tadi diperempatan. Tapi nggak ada yang lecet kok, Nek.” Jawabnya tenang, “Alan masuk dulu ya, Nek. Nanti lagi.” ujarnya sembari berlalu pergi. “Setelah apa yang kamu lakukan ke mama dan abang, apa lagi yang mau kamu lakukan?” tanya perempuan itu dingin, “Kamu ngaku aja deh. Kamu habis berantem kan? Seberapa banyak lagi kami harus menderita karena kelakuanmu, Lan? Kamu itu kurang apalagi sih? Disekolahkan sudah, dikasih tempat tinggal sudah. Bisa nggak sih berhenti bermasalah? Bisa nggak kamu biarkan mama hidup tenang?” Alan menghentikan langkah dan menoleh kearah sang Mama yang duduk dengan tenang menatapnya penuh hinaan, “Memangnya apa yang aku lakukan, ma? Apa yang aku lakukan sampai bikin mama nggak tenang?” tanyanya. “Kamu masih belum sadar juga?” “Dewi!” sentak Nenek, “Biar Alan istirahat dulu.” “Aku harus sadar gimana lagi sih, ma? Setelah tujuh tahun dibuang, aku harus sadar seperti apa?” tantang Alan dengan nada lebih tinggi. “Aku harus sadar bahwa semua ini terjadi karena kesalahanku? Mama coba deh buka mata, yang seharusnya sadar siapa. Aku atau mama sendiri?” “Hah, Wajar kamu nggak sadar. Karena setelah semua yang terjadi, kamu Cuma kehilangan kesempatan masuk U-17. Sedangkan Mama dan Abang? Kami kehilangan segalanya karena kamu!” “Cuma.” Lirihnya remeh, “Lalu mama minta aku kehilangan seberapa banyak lagi untuk menebus dosa itu? Mama minta apa lagi!” teriaknya. “Berani ya kamu teriak ke orang tua!” “Orang tua?” tanyanya, “Disaat seperti ini, mama baru sadar bahwa mama adalah orang tua? Dulu-dulu kemana aja, ma?” Alan melangkah masuk kedalam kamarnya, malas memperpanjang perdebatan. Suara pintu yang dibantingnya keras-  mengaung diseluruh ruang. Dari balik pintu, sang nenek terus memanggil namanya lirih. Alan tak perduli lagi, malam ini ia harus keluar dari sini. Pilihannya ternyata salah, keputusannya tak memperbaiki apa-apa. Seharusnya ia tetap di Bandung, entah hidup terlunta bahkan sebatang kara, yang penting ia jauh dari rumah. Matanya bergulir ke pigura berdebu diujung rak buku. Sebuah pigura yang membingkai kenangannya bersama sang kakak tujuh tahun lalu, “Bang, lo minta gue tanggung jawab juga? Ah, walaupun lo nggak minta, gue emang harus tanggung jawab lah bang. Gue kan udah ngancurin idup lo dua kali.” “Tapi anehnya, gue nggak pernah ngerasa bersalah sama sekali, bang. Gue nggak ngerasa bersalah entah sama lo atau mama. Bahkan gue ngerasa, lo sama mama lah yang harusnya ngerasa bersalah sama gue.” Alan tertawa kecil, “Kurang ajar ya gue, bang? Bangun dong, tonjok gue kaya tujuh tahun lalu. Teriak lagi ke muka gue, kalau lo menyesal punya adek kayak gue. Asal bisa bikin lo bangun, gue ikhlas.”             Ia merengkuh gitar yang tergelat disisi ranjang, “By the way, Bang, apa gue bikin novel aja kali ya?” tanyanya, “Orang-orang kan suka banget beli kisah sedih. Gue bakalan kaya dari airmata mereka. Ide bagus nggak, bang? Tapi gue nggak pinter ngerangkai kata-kata sih. Yang ada dikepala gue Cuma u*****n untuk takdir yang bikin kita seperti ini.”             Jemarinya mulai mendentingkan nada-nada, “Bang, tadi mama nuntut gue buat kehilangan semuanya. Tapi mama nggak sadar, gue aja udah ilang dari lama.”   Wise man said just walk this way To the dawn of the light The wind will blow into your face As the years pass you by Hear this voice from deep inside Its the call of your heart Close your eyes and you will find Passage out of the dark Here I am Will you send me an angel Here I am In the land of the morning star   The wise man said just find your place In the eye of the storm Seek the roses along the way Just beware of the thorns Here I am Will you send me an angel Here I am In the land of the morning star             (Send me an Angel – Scorpions)               “Selama ini, gue bekerja keras atas hidup. Tapi kapan hidup akan bekerja keras buat gue?”  keluh Alan pada langit-langit kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN