Suasana di dalam ruang rapat menjadi sangat sunyi. Tapi aroma ketegangan menyelimuti tubuh Agnes.
Wanita cantik itu sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya yang tertunduk. Dia tidak tahu, apa maksud atasannya itu menahannya di tempat ini sendirian.
Thomas menyandarkan punggungnya di kursi. Dia mengamati Agnes yang hanya terdiam di depannya.
Ingin sekali Thomas menuntut tanggung jawab dari Agnes saat ini. Tapi dia masih ingin mengintimidasi mental Agnes, sehingga membuat wanita itu kabur dari perusahaannya sendiri, tanpa perlu dia usir.
“Baru kerja 3 tahun, tapi udah 2 kali dapet promosi. Hebat banget kamu,” ucap Thomas.
Agnes tidak menjawab. Dia masih tetap menunduk.
Bukan tidak peduli, tapi rasa takut tiba-tiba datang menyergapnya.
“Katanya kamu juga punya prestasi luar biasa di kantor. Sehebat apa kamu, hah?” tanya Thomas penasaran.
Agnes masih diam. Dia tidak tahu apa dia sudah boleh menjawab atau belum.
“Kalo ditanya itu jawab!” bentak Thomas kesal yang merasa diabaikan Agnes.
Agnes yang kaget, spontan mengangkat wajahnya lalu melihat ke arah Thomas. Tapi baru sebentar saja dia melihat, Agnes segera menunduk kembali.
Ngeri! Satu kata yang bisa menggambarkan perasaan Agnes saat ini setelah melihat wajah Thomas yang sedang marah.
“Ma-maaf, Pak. Saya juga tidak tahu dengan semua promosi. Saya hanya bekerja dengan baik dan saya rasa itu adalah reward yang saya dapat,” jawab Agnes tanpa berani mengangkat wajahnya.
“Karena kamu sudah bekerja dengan baik. Apa itu berarti karyawan lainnya tidak bekerja baik?”
Entah keberanian dari mana, kini Agnes berani menatap wajah Thomas.
“Saya gak bilang gitu, Pak. Saya cuma bilang kalo saya berusaha kerja sebaik mungkin!” tegas Agnes tidak ingin Thomas salah paham.
Melihat wajah dan sorot mata Agnes menjadi sangat serius, Thomas memilih mengalah dulu. Ternyata wanita yang dia hadapi ini agak sedikit berbeda dari wanita yang biasa dia temui.
“Ok, anggaplah begitu. Tapi mendapat promosi 2 kali dalam 3 tahun itu apa tidak berlebihan?”
“Kalau masalah itu saya tidak tahu, Pak. Saya juga tidak pernah meminta. Saya hanya diberi tahu mendapat promosi saja. Kalau Bapak ingin tahu kenapa saya dapat promosi, silakan tanya pada pihak yang lebih berwenang, Pak.”
“Hmm ... gigih juga ni cewek. Jadi makin penasaran, sejauh mana dia bisa bertahan,” gumam Thomas dalam hati.
Agnes menatap sinis pada Thomas. “Ni orang maunya apa sih? Sengaja banget dia nyari masalah kayaknya!” geram Agnes di dalam hatinya.
Thomas berdiri dan berjalan pelan menuju kursi yang diduduki Agnes. Tentu saja hal ini membuat nyali Agnes yang tadi sangat besar, mendadak menciut lagi.
Aroma wangi parfum dari 7 tahun lalu itu kini kembali menyeruak di hidung Agnes. Wangi yang sama dengan pria yang pernah menghabiskan malam dengannya sampai menghasilkan malaikat kecil.
Thomas berdiri di samping Agnes. Dia menempelkan bokongnya di meja dan melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Kamu tidak berbuat curang kan?” tanya Thomas sambil menyipitkan matanya saat dia menatap Agnes.
Agnes kembali menaikkan pandangannya ke arah Thomas. “Maksud Bapak apa?”
Thomas mengetatkan rahangnya. Tatapannya kian tajam saat melihat wanita yang telah berani menipunya 7 tahun lalu.
Thomas sedikit membungkukkan badannya mendekati Agnes. “Gak usah sok polos. Saya tau wanita macam apa kamu,” ucap Thomas lirih.
“Pak Thomas!” Kekesalan Agnes meledak.
Thomas tersenyum miring. “Kenapa? Kaget? Gak usah sok polos, Agnes. Perempuan penipu sepertimu, gak ada bedanya dengan perempuan haus uang di luar sana!”
Agnes berdiri dan menatap Thomas penuh kebencian. “Pak Thomas! Jangan sembarangan menuduh orang. Saya bukan penipu!”
“Bukan penipu? Ck! Trus apa yang sudah kamu lakukan ke saya 7 tahun lalu, Agnes!” bentak Thomas di depan wajah Agnes, sambil membalas tatapan tajam Agnes.
“Tu-tujuh tahun lalu,” ucap Agnes pelan.
Agnes kaget. Ternyata Thomas masih mengingat pertemuan singkat dan panas mereka dulu.
Tebakannya tentang sikap Thomas ternyata salah. Pria itu hanya menunggu waktu yang tepat untuk menangkapnya.
Thomas semakin mendekat ke Agnes. Tentu saja Agnes semakin mundur dan terdesak di dinding ruangan yang membuatnya tidak bisa menghindar lagi.
Tatapan tajam Thomas seperti memasung tubuh Agnes, sampai wanita itu tidak bisa menghindar lagi dan hanya bisa berusaha menghindari tatapan mengerikan itu.
“Berani sekali kamu menipu saya. Berani sekali kamu mengatakan kalo kamu masih perawan demi 3 milyar!” geram Thomas.
“Menipu? Saya tidak pernah menipu Anda, Pak. Saat itu saya memang masih perawan!” ucap Agnes membela diri.
“Gak usah bohong kamu!”
“Saya gak bohong, Pak. Saya beneran masih perawan!”
Bug!
Thomas melepaskan kekesalannya dengan memukul tembok di samping Agnes.
Pukulan yang sangat mengagetkan dan menakutkan itu, membuat Agnes langsung memalingkan wajahnya, takut kena pukulan.
“Kalo kamu perawan, kamu akan mengeluarkan darah. Tapi malam itu tidak ada darah sama sekali. Tidak ada!”
“Da-darah?” Agnes kini dilanda kebingungan. Dia tidak menyangka kalau Thomas akan memperhatikan hal ini juga.
Malam itu, Thomas memang menyuruh Beni mencari perawan untuk dia tiduri. Bukan tanpa alasan, Thomas berani mengeluarkan uang sebanyak itu untuk Agnes.
Thomas yang malam itu dipaksa untuk bertunangan dengan seseorang yang tidak dia suka, mengatakan pada calon istrinya kalau dia suka tidur dengan perawan. Padahal pengalaman bersama Agnes, adalah pengalaman pertama Thomas dengan seorang perawan.
Calon istri Thomas, sangat tidak menyukai hal ini. Oleh sebab itu, tadinya Thomas berniat untuk mengundang calon istrinya datang ke kamar hotel, agar bisa melihatnya tidur dengan perawan.
Tapi semua ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Agnes tiba-tiba menghilang dan wanita itu juga tidak meninggalkan darah perawannya di sana.
“Iya, apa kamu masih akan mengatakan kalau kamu perawan?” tanya Thomas dengan nada merendahkan Agnes.
“Gak mungkin. Ini pasti bohong,” ucap Agnes masih tidak percaya.
“Itu kenyataannya Agnes. Kamu ... penipu!”
“Saya bukan penipu, Pak. Saya belum pernah tidur dengan siapa pun sebelumnya.” Agnes mencoba membuat Thomas percaya.
“Tapi buktinya gak ada! Kamu udah nipu saya 3 milyar!”
“Saya gak nipu, Pak. Saya bersumpah kalo saya tidak menipu Bapak!”
“Tunggu bentar. Bukannya terkadang keperawanan memang tidak semua mengeluarkan darah. Itu diseb—“
“Gak usah banyak alasan kamu! Jelas-jelas kamu udah tipu saya!” Thomas tidak mau mendengar jawaban apa pun.
Thomas mendekatkan wajahnya ke Agnes. Kini wajah Thomas, sudah berada di samping wajah Agnes.
Agnes merasa risih saat atasannya itu mendekat. Tapi semakin dia menghindar, atasannya kian mendekat.
Thomas yang semakin kesal karena Agnes terus menghindar, akhirnya dengan cepat meraih tangan Agnes dan mencengkeramnya dengan kuat.
Thomas menyipitkan matanya. “Kamu harus kembalikan uang saya, Agnes,” bisik Thomas dengan suara pelan namun penuh penekanan.
“Kem-kembalikan uang?” ucap Agnes pelan dengan suara bergetar.