Bab 7. Negosiasi

1202 Kata
Tubuh Agnes mendadak menjadi kaku. Dia yang tadi masih bisa memberontak, kini dibuat diam oleh Thomas. Wajah Agnes juga memucat, seolah aliran darahnya tidak berjalan dengan baik. Thomas kembali menyeringai, setelah dia berhasil membungkam wanita di depannya. Dia sangat menyukai pemandangan Agnes yang tunduk kepadanya. Terlihat cantik dan sangat menarik. Tidak! Thomas menyingkirkan pikiran itu. Dia tidak mau tertipu dua kali dengan wajah lugu wanita di depannya itu. Tidak ingin kembali terpesona dengan kecantikan Agnes, Thomas memilih segera berdiri dan berjalan kembali ke kursinya. “Waktumu satu bulan untuk melunasinya,” ucap Thomas sambil kembali duduk. Agnes langsung menoleh ke Thomas. “Satu bulan, Pak? Saya dapat uang dari mana, Pak. Uang itu gak di—“ “Bukan urusan saya. Yang pasti, kamu harus kembalikan. Ato kamu akan berurusan dengan hukum, Agnes!” “Tap-tapi saya beneran gak nipu, Bapak. Say—“ “Kamu pikir saya bodoh hah?! Kamu pikir saya gak bisa bedakan mana perawan mana gak?!” nada suara Thomas kembali meninggi. “Tapi saya gak punya uang sebanyak itu, Pak.” “Kamu pikir saya peduli! Saya akan temui kamu lagi bulan depan. Dan uang itu sudah harus ada!” Thomas menatap tajam ke arah Agnes. Dia kemudian berdiri dan segera meninggalkan Agnes sendirian di ruangan itu. Saat Thomas sudah keluar ruangan, dia melepas napas dalam. Dia melirik ke arah Beni yang masih setia menunggunya di depan ruangan sejak tadi. “Terus awasi dia. Dan cari tahu lagi tentang kehidupannya,” titah Thomas. “Baik, Pak.” Thomas melangkah pergi meninggalkan ruang rapat. Dia menuju ke ruang kerjanya dan menyuruh Beni menjadwal ulang rapat direksi. Tentu saja Thomas harus tahu keadaan perusahaan yang akan dia pimpin. Dia sama sekali tidak mengetahui tentang perusahaan ini, karena awalnya dia memang sangat tidak tertarik. Sementara itu, Agnes masih ada di dalam ruang rapat. Pikirannya kosong dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Karena terlalu bingung, Agnes bahkan tidak bisa berpikir atau menangis. Pertemuannya dengan Thomas selalu saja membawanya dalam masalah. “3 milyar. Dari mana aku dapet uang sebanyak itu. Kenapa semua jadi kayak gini. Kenapa dia malah menuduhku penipu. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang,” gumam Agnes pelan penuh kebingungan. Agnes menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air matanya tumpah, meluapkan perasaan yang mengimpit dadanya sejak tadi. Sisa uang dari Thomas tidak banyak lagi di tabungannya. Dia sudah gunakan untuk membeli rumah baru dan rumah lamanya juga belum laku sampai sekarang. Dan pastinya, meski dia bisa menjual rumah lamanya, uang yang terkumpul juga tidak akan mencukupi. Pikiran Agnes benar-benar kacau saat ini. Agnes menumpahkan semua perasaannya lewat tangisan. Setidaknya, dia ingin merasa sedikit lega, saat akan keluar dari ruangan ini. Sejak di kantor sampai pulang ke rumah, Agnes lebih banyak diam. Bahkan hari ini dia tidak keluar kamarnya, untuk bermain dengan putranya. Pikiran Agnes masih tersita dengan ancaman Thomas. Sangat mengerikan dan dia yakin kalau pria kaya itu mampu melakukan apa-pun yang dia inginkan. “Nes,” panggil Rini yang melihat malam ini putrinya sikapnya sedikit berubah. Lamunan Agnes buyar dan dia melihat ke ibunya yang duduk di tepi ranjang, sambil memijat kakinya. “Kamu kenapa? Kok Ibu liat dari pulang kerja tadi kamu banyak diem. Apa ada masalah?” tanya Rini ingin tahu. Agnes segera menggelengkan kepalanya. “Enggak kok, Buk. Agnes gak papa.” “Trus kenapa kamu diem aja?” “Biasalah, Buk. Ada sedikit masalah di kantor. Tapi gak papa kok. Bukan masalah besar,” bohong Agnes. “Beneran?” “Iya, Buk. Ini diem juga lagi nyari ide.” Rini tersenyum. “Jangan terlalu capek, nanti kamu sakit.” Agnes membalas senyum ibunya. “Iya, Buk. Eh ya, rumah kita uang dulu, udah ada kabar belum ya, Buk?” tanya Agnes. Rini menggeleng. “Belum ada yang nanyain. Malah kata tetangga, rumputnya udah tinggi lagi.” Agnes menghela napas berat. “Kalo kondisinya kayak gitu, gak akan mungkin laku mahal,” keluh Agnes dalam hati. “Nes, dari pada rumahnya rusak, gimana kalo kita kontrakkan aja. Lumayan kan hasilnya.” “Terserah Ibu aja. Agnes ngikut aja.” Agnes pasrah karena rumah itu tidak akan bisa diharapkan. “Ya udah, kamu istirahat dulu ya. Ibu mau nemenin Kenzo di depan.” “Iya, Bu. Maaf ya, Agnes ngerepotin Ibu.” Rini membalas dengan senyuman. Dia tahu putrinya butuh istirahat, jadi dia akan menjaga cucunya. Pikiran Agnes semakin ruwet sekarang. Satu-satunya harapan, mendadak pupus, karena dia juga tidak akan mungkin menjual rumah dalam keadaan terbengkalai. Agnes menutup kepalanya dengan guling. Ingin sekali rasanya dia berteriak, melepaskan kepenatan pikirannya. *** Tanpa terasa tiga hari sudah Agnes galau akut. Dia hampir tidak bisa konsentrasi bekerja, setiap dia melihat Thomas di kantor. Saat semua orang sedang memuji kesempurnaan fisik Thomas yang sudah resmi berkantor di tempat ini, di sisi lain Agnes malah mual setiap dia mendengar Thomas dipuji-puji. “Nes, kamu belakangan kok banyak diem kenapa sih?” tanya Linda saat mereka makan siang bersama di kantin. “Gak papa, lagi banyak pikiran aja,” jawab Agnes. “Eh Lin, kalo misal ya ... kamu punya utang. Trus kamu mau nyicil tuh gimana ya ngomongnya yang halus?” tanya Agnes. Linda melihat ke arah sahabatnya. “Utang? Kamu punya utang, Nes?” “Misalnya Lin, aku lagi survey ini.” Meski ada perasaan tidak percaya, tapi Linda berusaha tetap berpikir positif tentang sahabatnya. “Ya kalo aku sih, mending ngomong apa adanya aja. Tekankan kamu janji mau nyicil.” “Yakin berhasil?” “Ya coba aja. Siapa tau berhasil kan.” Agnes mengangguk. Ini adalah satu-satunya jalan yang terpikirkan olehnya sejak kemarin. Selain mencicil, dia tidak punya solusi lain. Meski dia akan mencicilnya seumur hidup. Setelah makan siang, Agnes berpura-pura ke toilet dan menyuruh Linda meninggalkannya. Tentu saja Agnes tidak ingin ketahuan kalau dia akan menemui Thomas. Setibanya di lantai ruang kerja Thomas, Agnes kembali bimbang. Keadaan sangat sepi, sehingga membuat nyalinya kian menciut. “Cari Pak Thomas?” tanya seseorang dari belakang Agnes. Agnes berbalik, melihat orang di belakangnya. “I-iya, Pak,” jawab Agnes. “Ikut saya.” Beni memimpin jalan menuju ke ruang kerja Thomas. Ingatan Agnes kembali ke malam itu, di mana Beni juga mengantarnya menemui Thomas. Setelah menunggu di depan ruangan, akhirnya Agnes dipersilakan masuk ke dalam ruangan. Hawa dingin mulai menyergap Agnes yang berjalan perlahan masuk ke ruang kerja Thomas. Thomas duduk di singgasananya. Dia menatap Agnes yang duduk sambil menundukkan kepalanya di depannya. “Ada apa? Apa kamu mau lunasi sekarang?” tanya Thomas. Agnes memberanikan diri mengangkat pandangannya. “Maaf, Pak. Saya datang ke sini, mau ... mau minta keringanan, Pak,” jawab Agnes pelan, takut tiba-tiba atasannya akan marah lagi. “Keringanan? Maksud kamu?” “Sa-saya ... saya berniat ingin mencicilnya, Pak.” “Mencicil? Heh! Kamu pikir saya ini pemberi kredit yang bisa kamu bayar dengan cicilan, hah?!” Thomas kembali di buat geram. “Tapi saya beneran gak bisa bayar, Pak. Uangnya udah saya pake.” Thomas menatap kesal ke arah Agnes. Dia merasa kembali dipermainkan oleh Agnes. Tiba-tiba pandangan Thomas berubah. Senyum licik kembali muncul di bibir pria tampan itu. “Saya punya solusi lebih baik. Saya yakin kamu pasti lebih cepat melunasi hutang kamu,” ucap Thomas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN