Bab 8. Kabar Pembakar Amarah

1194 Kata
“Sol-solusi? Solusi apa itu, Pak?” tanya Agnes penasaran. Agnes penasaran dengan solusi yang akan dicetuskan oleh Thomas. Tapi dia berharap, agar solusi itu bukan sesuatu yang aneh dan merugikan dirinya. Tapi mengingat Thomas sedikit licik, Agnes perlu waspada juga menghadapi pria ini. Yang pasti, kalau Thomas menginginkan dia naik lagi ke ranjang pria itu, maka dia akan menolak dengan sangat tegas. Thomas menyandarkan punggungnya, sambil sedikit menggoyang-goyangkan singgasananya. Dia menatap Agnes lebih santai, berharap wanita yang ada di depannya itu juga akan santai. “Saya rasa solusi ini akan lebih menguntungkan buat kita. Kamu cepet lunasi hutang dan saya juga gak perlu nagih uang receh ke kamu,” ucap Thomas. “Maksud Bapak?” tanya Agnes yang menaruh curiga pada niatan Thomas. “Kamu hanya perlu menuruti semua permintaan saya. Maka hutang kamu akan saya potong 100 juta per permintaan,” ucap Thomas memaparkan solusi yang dia punya. “Menuruti perintah? Maaf Pak, perintah apa itu?” Agnes ingin mendapat penjelasan lebih spesifik. “Apa aja. Bisa aja saya minta kamu nemenin saya makan, buatin saya proposal ato mungkin ....” Thomas mencondongkan badannya ke depan. “Menemani saya tidur,” ucapnya lirih. “Pak Thomas!” bentak Agnes. “Jangan sok suci kamu, Agnes! Kamu pikir saya gak tau apa yang kamu lakukan selama ini, hah?!” gertak Thomas. “Apa? Apa yang saya lakukan emangnya?” Thomas yang asal bicara, kini malah dibuat bingung oleh Agnes. “Ya ... ya semuanya! Gimana dengan solusi tadi? Kalo kamu gak setuju, maka saya gak akan menerima cicilan di bawah 100 juta!” Thomas kembali menyudutkan Agnes. “100 juta? Gajiku aja gak sampe 100 juta sebulan. Ni orang bener-bener nyebelin!” umpat Agnes dalam hati. Agnes terdiam. Dia melihat ke arah Thomas, berharap pria itu tidak akan minta yang aneh-aneh kepadanya. “Baiklah. Saya terima,” ucap Agnes yang sudah tidak punya pilihan lain. Senyum kemenangan mengembang di bibir Thomas. “Nah, gitu dong. Okey, tunggu tugas pertamamu. Nanti akan saya beri tahu,” ucap Thomas sambil sedikit menaikkan dagunya. Agnes menatap Thomas penuh kebencian. Dia ingin sekali menghajar pria di depannya itu yang meletakkannya lagi di pojok kalau sudah mengenai uang. Tidak ingin berlama-lama melihat wajah menyebalkan Thomas, Agnes segera berpamitan. Lagi pula ini sudah masuk jam kantor. Masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan di ruangannya. Setelah Agnes keluar dari ruang kerja Thomas, kini ganti Beni yang duduk di depan Thomas. Asisten pribadi Thomas itu sejak tadi hanya berdiri di dekat Agnes sambil membicarakan negosiasi dua orang yang berseteru itu. “Pak, apa saya perlu menyiapkan surat perjanjian?” tanya Beni. “Gak perlu, saya mau mengecek kejujurannya.” “Baik, Pak.” Thomas sengaja tidak menyuruh Beni mencatat, berapa kali dia dan Agnes pergi bersama secara terang-terangan. Dia ingin tahu, seberapa jujur Agnes dan seberapa besar tanggung jawabnya untuk melunasi hutang. Kehilangan uang 3 milyar sama sekali bukan hal penting dan besar. Sementara itu Agnes kembali masuk ke dalam lift, menuju ke ruang kerjanya. Sejak keluar dari ruang kerja pimpinan perusahaan, Agnes terus mengumpati Thomas. “Awas aja kalo minta yang aneh-aneh ya. Aku bakalan nolak!” gumam Agnes bermonolog sendiri di dalam lift. “Seenaknya aja dia bilang tau semua kehidupan aku. Sok tau!” Tiba-tiba Agnes terdiam. Dia melihat bayangan dirinya sendiri di pintu lift sambil mengerutkan kedua alisnya. “Tunggu dulu! Gimana kalo dia bener-bener tau apa yang aku alami selama ini. Kenzo, apa dia juga tau tentang Kenzo?” Agnes teringat putranya. “Gak mau. Kenzo milikku! Gak akan pernah aku ijinin dia nyentuh Kenzo!” geram Agnes bertekat bulat. Agnes yang selama ini berjuang sendirian membesarkan Kenzo, tidak akan mengizinkan siapa pun mengambil Kenzo darinya. Dia akan mempertahankan putra semata wayangnya itu meski harus kehilangan nyawanya. ** Sudah beberapa hari, sejak perjanjian antara Agnes dan Thomas dibuat, pria itu masih belum menghubungi Agnes sama sekali. Entah apa yang sebenarnya sedang direncanakan Thomas, Agnes tidak bisa menebaknya. Thomas sedang sibuk. Dia sedang beradaptasi dengan kantor barunya, sehingga dia masih belum bisa mengurusi Agnes. Tapi meski begitu, dia tetap menyuruh Beni menyelidiki tentang Agnes. Thomas ingin tahu lebih banyak tentang wanita itu. “Janda?” tanya Thomas kaget saat dia mendengar laporan kalau Agnes adalah seorang janda. “Menurut kabar begitu, Pak. Dia juga punya anak dan tinggal di sebuah perumahan sederhana, tidak jauh dari sini,” lapor Beni. Thomas terdiam. Dia masih tidak percaya kalau ternyata Agnes pernah menikah sebelumnya. “Dia nikah. Wajar sih, dia kan orang miskin. Dia pasti butuh orang yang bisa ngasih dia duit,” gumam Thomas berusaha mengerti keadaan. “Wait! Tapi dia punya 3 milyar! Ke mana dia pake uang itu kalo akhirnya dia cuma jadi janda!” geram Thomas. “Beni, cari tahu siapa mantan suaminya!” titah Thomas. “Man-mantan suaminya, Pak?” Beni sedikit kaget karena ternyata atasannya sangat tertarik dengan kehidupan mantan penghangat ranjangnya. “Hem ... jangan-jangan wanita bodoh itu kena tipu sampe dia dibuang. Cari tau semuanya!” Entah sadar atau tidak, Thomas menjadi sangat penasaran dengan kehidupan Agnes. Padahal dia sendiri tidak mau berurusan dengan wanita yang membuatnya kesal itu. “Ada satu lagi, Pak,” ucap Beni. Thomas mengangkat pandangannya. “Apa lagi?” “Menurut kabar, katanya Agnes saat ini dekat dengan Pak Doni. Manajer senior di kantor ini,” lapor Beni. “Apa? Dia deket sama manajer di sini?” “Iya, Pak. Mereka sangat dekat bahkan Pak Doni juga akrab dengan anak Agnes.” Ada gemuruh amarah di hati Thomas saat ini. Dia tidak terima kalau wanita yang pernah membuatnya tergila-gila atas pelayanannya itu kini dekat dengan pria lain. Thomas yang malam itu bisa mendapatkan kenikmatan hingga 3 kali, langsung hilang selera pada wanita lain. Thomas tidak bisa menghilangkan bayangan Agnes yang diam-diam bersemayam dengan tenang di pikirannya. Tapi keangkuhan Thomas menutupinya. Dia tidak ingin terlihat terjajah oleh Agnes, apa lagi sampai Agnes tahu. Gengsi! “Dasar perempuan murahan. Dia bener-bener kayak parasit. Gak bisa hidup tanpa laki-laki,” gumam Thomas sambil berdecih. “Tampaknya seperti itu, Pak.” “Terus awasi dia. Laporkan apa saja yang dia lakukan, terutama tentang pekerjaannya.” “Baik, Pak. Kalau begitu say—“ “Ikut aku!” Belum selesai Beni bicara, Thomas sudah berdiri dan pergi ke arah pintu. Tidak punya pilihan lain, Beni pun langsung mengekor di belakang atasannya. “Di mana ruang kerjanya?” tanya Thomas saat mereka sudah di dalam lift. “Ruang kerja siapa, Pak?” tanya Beni bingung. Thomas menoleh ke arah Beni dengan tatapan tajam. “Oh iya, Pak. Lantai 4,” ucap Beni yang tahu siapa yang dimaksud atasannya dan langsung menekan tombol lantai 4. Suasana di dalam lift sangat tenang namun dingin. Tidak ada seorang pun yang bicara, sampai pintu lift terbuka. Thomas langsung berjalan menuju ke ruang kerja Agnes, mengikuti langkah Beni. Agnes sedang bekerja di dalam ruang kerjanya. Dia tidak tahu kalau sang penguasa sedang berjalan menuju ke ruang kerjanya. Brak! Pintu ruang kerja Agnes terbuka dari luar. Membuat pemilik ruangan melihat ke arah pintu. Mata Agnes membulat saat melihat Thomas tiba-tiba ada di depan meja kerjanya. “Pak Thomas,” ucap Agnes pelan sambil terus melihat ke arah Thomas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN