Bab 9. Tertangkap Basah

1187 Kata
“Pak Thomas,” ucap Agnes pelan. Agnes kaget dengan kemunculan pria penguasa perusahaan di ruang kerjanya. Dia tidak menyangka kalau Thomas akan terus memburunya sampai ke ruang kerjanya. Thomas yang sudah sangat geram, langsung duduk di depan Agnes. Dia melihat ruangan yang tidak seberapa besar itu dilengkapi dengan barang-barang sederhana, namun tetap terlihat nyaman. Agnes melihat foto anaknya masih bertengger di atas meja. Dia takut kalau Thomas akan mengambilnya, lalu melihat putranya. “Ad-ada apa, Pak?” tanya Agnes, tidak nyaman dengan pandangan Thomas. Thomas menarik napas panjang dan dalam. Dia kemudian menegakkan badannya dan mengatur posisi duduknya lebih serius. “Agnes, apa kamu tidak tahu kalo di kantor ini ada peraturan di larang pacaran sesama karyawan?” tanya Thomas. “Hah? Larangan pacaran?” Agnes kaget dengan apa yang dikatakan atasannya itu. “Iya.” Senyum devil Thomas muncul. “Maaf Pak, saya gak pernah dengar ada peraturan seperti itu. Lagi pula kalau pun memang ada, saya juga tidak pacaran di kantor. Jadi say—“ “Gak pacaran? Serius kamu gak pacaran?” potong Thomas. “Tidak, Pak.” “Jangan bohong kamu!” nada suara Thomas sedikit meninggi. “Tidak, Pak. Saya tidak pacaran dengan siapa pun di sini.” Agnes tetap tenang saat ini, karena dia tidak merasa melakukan kesalahan Thomas semakin geram dengan sikap Agnes. Apa lagi, sikap Agnes yang tetap terlihat tenang, padahal dia sedang kesal. “Bagaimana dengan Doni?” tanya Thomas. “Doni? Oh, maksudnya Pak Doni?” “Saya gak pacaran sama Pak Doni,” lanjut Agnes. “Jangan bohong kamu! Ada yang melapor katanya kamu pacaran sama dia.” “Saya gak bohong, Pak. Kami hanya berteman saja dan tidak ada hubungan apa-apa. Tidak lebih dari sekedar teman dan rekan kerja.” “Teman. Tapi sering pergi bersama di luar kantor.” Agnes mulai tidak suka dengan ucapan Thomas. Pria itu benar-benar seperti sedang menginterogasinya setelah menyelidiki kehidupan pribadinya. “Pak Thomas. Bapak menyelidiki kehidupan pribadi saya?” tanya Agnes kesal. “Em, sa- saya cuma ngecek aja. Ternyata ada kabar itu,” jawab Thomas beralasan. Tentu saja kesalahan Thomas lebih parah kepada Agnes. Akan bahaya jika Agnes tahu dia mengorek kehidupannya. Agnes menggeleng. “Salah Pak, tidak benar itu. Saya dan Pak Doni tidak punya hubungan apa pun selain rekan kerja.” Agnes terus membantah karena dia tidak mau kalau Doni akan kena masalah juga karena dirinya. “Cih! Orang kalo udah ketahuan itu emang pasti bakalan ngelak. Akui aja, Nes.” “Tidak, Pak. Saya akan tetap membantahnya.” “Kenapa? Apa kamu takut dapet hukuman?” “Tidak, Pak. Saya tidak takut mendapat hukuman, karena saya memang tidak melanggar.” “Jadi kamu tetap membantahnya?” “Iya, Pak.” “Hmm ... tapi sayangnya saya lebih percaya pada apa yang saya dengar. Jadi kam—“ “Ya gak bisa gitu dong, Pak. Itu namanya pe—“ “Bu Agnes. Ada ap—“ Tiba-tiba pintu ruang kerja Agnes terbuka kembali dari luar. Santi, atasan Agnes tiba-tiba muncul karena dia kaget saat suara Agnes terdengar kencang sampai ke luar. Tapi ucapan Santi terhenti saat dia melihat ada orang nomor 1 di perusahaan sedang duduk di depan Agnes. “Pak ... Pak Thomas,” ucap Santi terbata-bata. Beni muncul di balik pintu. Dia langsung menatap tajam ke arah Santi. “Bu Agnes sedang sibuk,” ucap Beni. “I-iya, Pak. Maaf.” Santi langsung keluar dari ruang kerja Agnes. Suasana di dalam ruang kerja Agnes sedikit tenang. Tekanan udara panas yang membakar Agnes dan Thomas sedikit turun. Agnes masih kesal pada sikap atasannya yang jelas sekali sedang mencari masalah dengannya. Dia memilih cuek saja dari pada seluruh mood-nya akan rusak sepanjang hari. Sementara itu, keberadaan Thomas yang sudah terungkap, memilih untuk segera pergi. Dia tidak ingin mata-mata papanya akan mengadu dan akan membuat omelan papanya sampai di telinganya. Thomas berdiri. “Sekali lagi saya ingatkan, jangan pacaran di kantor. Ini kantor, bukan tempat buat pacaran!” tegas Thomas. Agnes menatap tajam ke arah atasan usilnya itu. “Saya juga berminat pacaran, Pak. Bapak gak perlu khawatir!” jawab Agnes memberikan jaminan. “Baik, saya pegang ucapan kamu. Kita pergi!” ucap Thomas tegas sambil sedikit melirik ke Beni. Beni membuka pintu ruangan Agnes, siap mengantar kembali atasannya ke ruangannya. Thomas melihat ke Agnes. Sorot mata wanita itu sama sekali tidak gentar, seolah ingin mengatakan kalau semua yang diucapkannya benar. Thomas pergi meninggalkan ruangan Agnes. Wanita cantik itu segera menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kerjanya lagi. “Kurang kerjaan banget sih tuh orang. Ngapain juga dia bikin peraturan gak penting kayak gitu. Nyebelin!” geram Agnes kesal. Sementara itu Thomas sudah masuk lagi ke dalam lift. Dia akan kembali ke ruangannya lagi, meski sempat menjadi pusat perhatian saat keluar dari ruang kerja Agnes. “Tetap awasi dia. Kalo sampe dia ketahuan pacaran, pecat saja dia!” titah Thomas sambil mengetatkan rahangnya. Thomas menjadi sangat kesal, karena usahanya membuat Agnes menderita gagal lagi. Sepertinya wanita satu ini cukup tangguh, sehingga dia butuh strategi kuat untuk membuat Agnes menyesal pernah berurusan dengannya. ** Sesuai janji, Doni pagi ini menjemput Agnes dan Kenzo untuk berenang. Tentu saja ini adalah cara bagi Doni, agar dia bisa dekat dengan Kenzo, untuk mendapatkan hati mamanya. Kenzo yang sangat suka berenang, sangat bersemangat sejak semalam. Tidak ingin hanya pergi berdua saja dengan Doni, Agnes juga mengajak ibunya. “Pak, bisa mampir ke minimarket bentar? Saya mau beli camilan buat Kenzo. Kalo beli di dalem suka mahal,” pinta Agnes. “Boleh. Ntar kita beli di dekat kolam renang aja ya,” jawab Doni sambil terus menyetir. Mobil Doni berhenti di depan sebuah minimarket. Agnes melarang Kenzo ikut, agar dia cepat berbelanja. Doni ikut turun bersama Agnes. Dia ingin ke ATM sekaligus ingin membayari semua belanjaan Agnes. “Pak, jangan semua dibayarin gini, saya gak enak,” ucap Agnes malu. “Gak papa. Pokoknya acara hari ini semua saya yang bayar. Ada lagi yang kamu butuhkan?” tanya Doni. Agnes menggeleng. Dan mereka pun segera pergi meninggalkan minimarket. Saat akan menuju mobil, sebuah sedan mewah berhenti di depan minimarket. Seorang pria tampan keluar dari mobil dengan senyum tipis di bibirnya. “Ck! Gak pacaran. Tapi pergi belanja berdua,” gumam geram Thomas melihat Agnes berdiri di depannya bersama Doni. Agnes kaget saat melihat kehadiran Thomas di sana. Apa lagi saat ini dia sedang bersama dengan Doni, pria yang kemarin dituduhkan Thomas menjadi kekasihnya. “Pak Thomas,” sapa Doni ramah sambil mendatangi atasannya itu. Thomas tidak menjawab. Dia malah melihat Agnes yang tampak gugup dan berusaha menyembunyikan badannya di belakang Doni. “Sendirian, Pak?” tanya Doni. “He em. Kalian mau ke mana?” tanya Thomas sambil tersenyum miring melihat Agnes tidak setangguh kemarin. “Mau berenang, Pak. Nganter an—“ “Mama. Ayo cepetan!” panggil Kenzo yang mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil. “Kenzo,” ucap Agnes pelan dengan wajah yang makin tegang. Thomas yang sedari tadi melihat Agnes, menangkap juga perubahan mendadak ekspresi wajah Agnes. Thomas yang penasaran dengan anak Agnes, ikut menoleh ke belakang, di mana anak Agnes berada. “Itu anaknya Agnes? Dia-"“
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN