Bab lima

1025 Kata
Rara bernafas lega, ia menyapu dadanya yang sempat berdetak kencang. Setelah makan siangnya habis, ia buru-buru mencuri piring kotor yang hanya berjumlah dua piring. Setelah selesai, Rara masuk ke dalam kamarnya untuk ganti baju. Ia harus ke kios untuk mengambil nasi kuning yang biasa ia titipkan, semoga saja nasi kuningnyaa habis. Rara berjalan keluar dari rumahnya, rumah kecil namun tampak indah dan asri. Ia mengunci rumahnya terlebih dahulu, seperti biasa, kuncinya di sembunyikan di dalam pot bunga mawar. Rara sangat suka dengan bunga mawar, sampai-sampai, bunganya ia beli dengan harga yang menurutnya sangat mahal, sekitar 100 ribu perpot, dan hanya ada satu pot di rumahnya. Jika suatu saat dia pergi, bunga itu akan dia bawa ikut bersamanya. Rara mengikat rambutnya dengan rapi, lalu berjalan santai menuju kios yang jaraknya sekitar 20 meter dari rumahnya. Terpaan sinar matahari tak membuat Rara mengeluh kepanasan, toh, neraka akan lebih panas dari matahari. "Assalamualaikum," sapa Rara setibanya di kios. "Walaikumsalam," sahut seorang ibu-ibu dari dalam kios. "Buk," Rara tersenyum manis. "Eh, Rara. Mau ambil nasi kuning yah?" Tanya pemilik kios. Rara mengangguk semangat. "Nasi kuning kamu sisa 3 bungkus, yah." Pemilik kios itu memberikan kantongan hitam yang isinya tiga bungkus nasi kuning, serta uang pembeliannya, berjumlah 100 ribu. Seharusnya, jumlah uang itu ada 120 tapi, ia harus sedikit membagi hasil dengan pemilik kios. Rara menerima kantongan itu,"Makasih buk." "Sama-sama." Rara terlihat buru-buru, dengan cepat ia berbalik namun tak sengaja menabrak seorang pemuda. Kantongan yang di pegang oleh Rara sempat terjatuh, namun dengan sigap ia meraih kembali. "Eh, sory sory." Sesal pemuda itu. Rara mendongak, lalu sedikit mundur untuk melihat wajah pemuda itu dengan jelas. Rara tersenyum ke arah pemuda itu,"Nggak apa-apa, gue yang salah, ngak liat-liat." Sebelum mendapat balasan dari pemuda itu, Rara melangkah meninggalkannya. Sang pemuda tersenyum, lalu melangkah menuju depan kios. "Nasi kuningnyaa masih ada, buk?" Tanya pemuda itu. Rara yang belum terlalu jauh sontak berhenti melangkah setelah sayup-sayup mendengar ucapan pemuda tadi, "Nasi kuning?" Beo Rara. Ia berbalik berjalan kembali ke kios tadi, berharap pemuda tadi benar-benar mencari nasi kuningnya. "Mau beli nasi kuning, yah?" Tanya Rara to the poin. Pemuda itu memutar tubuhnya mengarah Rara, "iya." "Lo mau beli berapa bungkus?" "Dua." Rara merogoh kantongan pada genggamannya, lalu mengeluarkan dua bungkus nasi kuning. "Harganya__" "Tiga puluh ribu 'kan?" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, pemuda itu memotong. Gadis berambut panjang itu mengangguk. Pemuda itu mengeluarkan uang senilai 50 ribu, lalu di berikan kepada Rara. "Wait, gue tuker ke kios dulu, yah?" "Ngyak usah, besok gue ke sini lagi buat beli nasi kuning, jadi ambil aja." "Besok hari Minggu, gue nggak jualan. Soalnya, kiosnya tutup. Kalau lo mau pesen, kasi alamat aja ke gue." Tutur Rara. "Oh iya yah." Pemuda itu menjeda, "kasih gua nomor telepon lo, nanti gue share lock." Rara terdiam. Mungkin apa yang akan dia katakan tidak akan di percaya oleh pemuda itu. Sebenarnya dia tidak memiliki ponsel, bahkan seumur hidupnya tidak pernah menyentuh benda canggih itu sekalipun. "Gue..." Pemuda itu mengeryit, menatap Rara serius menuggu kata apa yang selanjutnya akan gadis itu katakan. "Gue... Nggak punya, hape," ucap Rara tersenyum kikuk. Pemuda itu lagi-lagi mengeryit, "masa, remaja kayak lo, nggak punya hape," pemuda itu menentang perkataan Rara. "Beneran, suer." Gadis itu mengangkat jari telunjuk dan jari tengah. Pemuda itu menyipitkan matanya, apa benar remaja seusianya tidak punya ponsel? Tapi kalau di lihat dari taut wajahnya, terlihat benar-benar serius. "Kalau lo mau, kita ke rumah gue. Biar lo tau tempatnya di mana." Pemuda itu menyarankan. "Tinggal spil alamatnya, ribet!" Cibir Rara. "Rumah gue nggak ada, alamatnya." Rara mengeryit. "Masa rumah nggak ada alamatnya." Rara menyipitkan matanya, melihat pemuda itu dari atas sampai bawah. Rara menghela napas. "Kasi gue KTP lo." Pemuda itu dengan cepat merogoh kantongnya, lalu mengeluarkan dompet kulit dan menarik sebuah kartu lalu di berikan kepada Rara. Nama: Gabriel Gol. Darah: A Alamat: Desa Kemayoran Jakarta. Nik: 12345678910 TTL: Jakarta 21 November 2004 Status: Belum Kawin Berlaku Hingga: Seumur Hidup Setelah membaca KTP pemuda itu , Rara mengembalikan kartu itu kepada pemiliknya. Benar sekali yang di katakan oleh pemuda itu, alamatnya hanya meliputi alamat desa, tidak ada alamat rumah seperti blok atau nomor rumah. "Makasih Gabriel." "Nama lo?" "Aurora. Rara," jawab gadis itu cepat. Gabriel mengeryit, "Rara atau Aurora?" "Rara." Mereka berdua, berjalan bersamaan. "Jadi nggak nih?" Tanya Gabriel. Rara berhenti melangkah, ia menoleh ke arah Gabriel. "Kita cod, di sini besok." Rara meninggalkan Gabriel dengan langkah jenjang, Gabriel tersenyum. "Jam berapa!" Tanya Gabriel dengan lantang, karena Rara yang sudah mulai menjauh. Rara berbalik lalu menganggat jari jempol dan jari telunjuknya, dengan mulut yang manyun mengatakan 'tujuh'. Gabriel mengangguk, lalu menuju kios tadi untuk membeli rokok. ••• "Lo bener mau ke rumah tuh cewek?" Tanya Gabriel yang tengah mengeluarkan dua bungkus nasi kuning dari kantongan bening. "Yap!" "Kita mau nyulik dia? Terus, minta tebusan?" Tanya Gabriel lagi. "Iya, iya, iya." Gabriel hanya mengangguk, semuanya terserah Kenzo, pemuda itu akan melakukan apapun untuk uang, meski harus berurusan dengan kepolisian dia pun akan tetap nekad. "Sepertinya biasa, rasanya tetap enak!" Gumam Gabriel mengunyah nasi kuning miliknya. Gabriel memang selalu membeli nasi kuning milik Aurora, karena rasanya enak dan harganya tidak terlalu mahal. Setelah menyudahi makannya, dua pemuda itu mematik rokok, sebagai pencuci mulut. Dua pemuda tampan itu harus menunggu malam untuk bersaksi, kini target mereka bukan uang, tapi seorang gadis. Gadis yang mereka anggap bodoh mungkin akan sangat gampang untuk di culik. Dari informasi yang mereka dapat, ayah dari gadis itu pun sudah pulang dari luar negri. Kenzo masih memikirkan, berapa uang yang akan mereka minta sebagai tebusan? 100 juta? 200 juta? Atau 1 miliar? Mereka akan menjadi kaya bila meminta sejumlah uang yang besar. Sedangkan Gabriel, ia memikirkan gadis penjual nasi Kuning itu, ia baru tau ternyata yang selalu membuatnya makan dengan lahap adalah gadis itu. Sepertinya jika Gabriel menggoda Rara, mereka akan cocok. Gabriel sontak terkekeh geli dengan pikirannya sendiri. "Ken, kalau nanti gue punya pacar, lo jangan iri yah?" Ucap Gabriel mengejek Kenzo. Sang lawan bicara pun hanya terkekeh geli dengan ucapan sahabatnya itu. "Kalau lo punya pacar, bisa di bagi dua kan?" "Bagi dua? Gila lo!" Mereka pun tertawa nyaring dengan apa yang baru saja di katakan oleh Kenzo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN