Setelah tiba di rumah, bagaikan tuan putri, Siska di sambut oleh dua orang pelayan. Sontak para pelayan itu membawakan tas selempang Saskia ke atas kamarnya, sedangkan pelayanan satunya sudah sigap membawakan sebotol minuman yang sudah satu tahun ini rutin gadis itu minum, minuman yang akan membuat perutnya kenyang, tapi tidak menambah berat badan. Dia memerlukan body goalsnya untuk memamerkan di akun media sosialnya.
Saskia masih belum naik ke atas kamarnya, ia masih sibuk meneguk minuman perisa anggur pada genggamannya di sofa, dengan melipat kakinya santai, hingga suara berat yang Saskia yakini adalah ayahnya, memenuhi rongga telinga gadis itu, apa lagi kali ini?
"Sasa! Kenapa uang papa bisa berkurang?" Sentak Wiliams mendekati Saskia dengan nafas memburu. Urat-uratnya mencuat saking emosinya.
Saskia menghela nafas kasar, lalu menoleh ke samping, memandang ayahnya yang sudah berdiri tegap sambil mengepal tangannya.
"Nggak tau," ketus Saskia, lalu kembali menuangkan minuman tadi ke dalam mulutnya dengan santai.
"Kenapa tidak tahu? Selama seminggu papa pergi, uang yang papa transfer ke kamu kurang?" William kini benar-benar naik pitam, pria tua itu menuduh Saskia yang mengambil uang miliknya.
"50juta satu minggu, apa itu kurang?!" Lanjut pria tua itu dengan cambang memenuhi dagunya. William menyapu kasar wajahnya.
Saskia berdiri, "Pelit banget sama anak sendiri," balas Saskia sinis. Lalu beranjak menuju kamar meninggalkan sang ayah yang masih tersulut emosi.
William lagi-lagi menyapu wajahnya, ia geram dengan sikap anaknya itu, tidak ada sopan santunnya sama sekali.
Dring... Dring...
Suara ponsel William membuatnya tersentak lalu dengan cepat ia angkat.
"Halo?" Sapanya terlebih dahulu.
[Malam ini jadi 'kan?] Tanya seorang wanita dari dalam ponsel William.
"Iya. Kita ketemu di club ****, nanti saya jemput," jawabannya Dengan senyuman bahagian.
William memutuskan sambungan telepon, lalu tersenyum, seperti seseorang yang barusan menelepon membuat amarahnya mereda.
Saskia kini sudah selesai mandi. Ia menganti bajunya dengan baju rumahan yang seperti biasa ia kenakan bila di rumah. Setelah selesai, gadis itu keluar dari dalam kamar menuju meja makan untuk makan siang, makan siang bersama dengan sang ayah.
Kini Saskia tiba di meja makan. Seperti biasa, meja selalu penuh dengan berbagai macam makanan, Saskia benar-benar tidak berselera untuk makan, semua makanan itu membosankan. William juga ikut duduk, lalu pelayan mulai menyendok nasi pada piring William. Berbeda dengan Saskia, pelayan tidak bisa menebak mood gadis itu, pelayan-pelayan biasanya tidak akan menyendokan nasi untuknya, Saskia yang akan memilih makanannya sendiri.
Saskia memutar bola matanya malas, lalu meraih satu buah apel yang ada di mejanya, ia mulai menggigit apel itu hingga habis.
William tak peduli, anaknya itu memang sudah biasa seperti itu, makan kalau mau makan, tidak makan kalau tidak mau makan.
William tidak ingin memaksa atau melarang, jika sedang marah, ia akan mencari wanita penghibur, dari pada harus meluapkan amarahnya kepada anaknya itu.
Seperti yang baru saja terjadi, ia marah kepada anaknya, jika sudah lewat beberapa saat, semuanya akan hilang seperti tidak ada sesuatu yang terjadi, ia tak ingin memperpanjang masalah. Hanya ingin tau, apa putrinya yang mengambil itu, William tau, gadis itu yang telah mencuri uang dari berangkas miliknya, pria tua itu hanya ingin kejujuran dari sang anak, bukan pelit atau hal lain.
Setelah menghabiskan satu buah apel, Saskia meraih satu lagi, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya, tanpa menyentuh makanan lain.
William berhenti sejenak mandangin pundak Saskia yang mulai menghilang di balik pintu kamarnya. Pria itu menghela nafas panjang lalu kembali fokus ke makanan.
Saskia mengunci kamarnya, lalu menutup jendelanya, tersisa pentilasi di atas jendela yang menjadi saluran udara keluar masuk.
Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam laci mejanya, lalu mulai mematiknya. Tak lama kemudian asap rokok memenuhi kamar bernuansa biru itu. Setelah menghabiskan sekitar dua batang rokok, ia menyudahi kegiatannya lalu membuka jendelanya agar asap keluar.
Hal yang paling utama harus dia lakukan, yaitu menyemprotkan parfum hingga beberapa kali di setiap sudut kamar, tidak lupa pada bajunya.
Setelah cukup yakin ia tidak berbau rokok, ia memakan apel yang di bawanya tadi, agar nafasnya tidak berbau rokok.
Saskia terdiam sebentar, ia mulai berfikir. Untuk apa dia menyembunyikan kegiatannya ini? Toh, ayahnya tidak akan peduli.
Saskia sontak tersenyum, lalu tertawa lepas seperti orang gila, ia tertawa terbahak bahak hingga memegangi perutnya. Lalu kembali memasang wajah masam.
"Bodoh. Ngapain juga gua sembunyi-sembunyi kayak gini?" Monolognya.
Ia melirik jam weker yang menunjukkan pukul dua siang, lalu menghela nafas.
Kenapa hari-harinya membosankan seperti ini?
Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu mengigit apel yang tadi. Ini benar-benar sangat membosankan, batinnya.
•••
"Siang," sapa Rara saat memasuki rumahnya, rumah kecil yang terbuat dari kayu yang hanya memiliki dua kamar. Kamarnya dan kamar ayahnya.
Tak ada jawaban, ia menuju dapur untuk meneguk segelas air. Setelah itu ia duduk untuk mengatur nafasnya yang tadi berjalan kaki dari sekolah, karena tidak ingin buang-buang uang untuk ongkos, ia memilih jalan kaki dari sekolah yang jaraknya 2KM dari rumahnya.
Rara hendak berdiri menuju kamarnya, namun suara serak dari arah belakangnya membuat ia mengendik ngeri lalu berhenti.
"Uang hasil jualan kamu, mana?" Tanya ayah Rara, Rudi.
"P-papa," lirih Rara gemetar.
"Mana uangnya?!" Sentak Rudi lalu merampas tas anaknya.
Rudi merogoh tas milih Rara, lalu mengeluarkan sejumlah uang, yang totalnya mungkin sekitar 100 ribu.
"Cuma segini?" Geram Rudi.
Rara mengangguk lirih, Rudi berdecak lalu keluar dari rumah, entah ingin kemana.
Rara menghela nafas lega, untung saja tadi sisa uangnya di simpan di dalam saku seragamnya.
Ia harus menabung separuh dari uang itu, untuk keperluannya, lalu separuhnya lagi ia gunakan untuk membeli bahan nasi kuningnyaa yang sudah habis.
Andai saja ayahnya tidak memalaknya setiap dia pulang sekolah, pasti uangnya sekarang sudah cukup untuk membeli ponsel yang ia inginkan. Sudah tiga tahun ia menabung, satu tahun lalu tabungannya sudah cukup untuk sebuah ponsel, namun sialnya, ayah Rara melakukan kesalahan dan harus menganti rugi kerusakan yang ia lakukan. Tabungannya habis tak tersisa saat itu.
Dan sekarang ia memulai dari nol lagi.
Meski begitu, Rara tidak akan pernah menyerah. Ia akan terus bekerja agar bisa menghasilkan uang, bagaimanapun caranya.
Dan satu lagi, jika uangnya sudah banyak, ia akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan pernah kembali kerumah ini lagi. Itu adalah keinginan terbesar Rara.
Apapun caranya, dia akan menghasilkan uang.