Bab tiga

1011 Kata
"Gue masih bingung sama cewek yang tadi malem, bisa-bisanya dia nggak lapor polisi," ucap Kenzo lalu mengunyah sepotong pizzanya. "Anggap aja, tadi malam kita ketemu bidadari," ujar Gabriel dengan mulut penuh pizza. "Bidadari?" Beo Kenzo mengeryit. "Iya. Bidadari 'kan baik. Nah, cewe tadi malem 'kan baik, itu artinya dia bidadari," tutur Gabriel lalu meneguk minuman kaleng. "Ada-ada aja lo," balas Kenzo terkekeh. "tuh cewek cantik juga yah," lanjut Kenzo tersenyum. "Anak orang kaya, pastinya cantik. Cantik dan baik, bidadari banget dah pokoknya," timpal Gabriel. "Malam ini kita ke rumah dia lagi, gimana?" "Uhuk... uhuk... Ngapain? Ngerampok? Kan kemarin udah," Tanya Gabriel terbatuk-batuk. "Iya. Kali ini bukan uang. Tapi orang." ••• Setelah pelajaran pertama dan kedua, Aurora memilih untuk membaca buku, ia tak perlu jajan. Seperti biasa, saat jam istirahat Aurora berdiam diri di dalam kelas, dengan buku pada tangannya. Lebih baik ia belajar dari pada menghabiskan uangnya di kantin, lagi pula, ia harus menabung untuk membeli ponsel. Ia mengikat rambutnya terlebih dahulu dengan rapi. Di karenakan rambutnya yang tadi basah karena di keramas pagi-pagi, jadi tidak di ikat olehnya. Ia meregangkan jari jemarinya, lalu mulai membuka buku tebal itu dan membacanya. Belum sampai berapa menit ia membaca, suara gaduh tiba-tiba memenuhi kelas dan sangat mengganggunya, Aurora berdecak, bukannya semua tadi ke kantin yah? "Hy Rara..." Sapa seorang siswa dengan lantang. Aurora menurunkan buku yang menutupi wajahnya. DEG Saking senangnya dia karena dapat pesanan nasi kuning yang banyak, dia sampai lupa dengan banyaknya masalah yang di alami di sekolah itu. Mendadak Aurora gemetar dengan mata melotot. Itu adalah tiga pemuda troublemaker, perundung dan juga pemuda yang banyak di kenali oleh orang di sekolahnya. Mereka harus di hindari, mereka terkenal suka merundung dengan sadis, dan korbannya tidak menentu, mau itu laki -laki ataupun perempuan. Mereka tidak memandang jenis kelamin. "Panik banget," ujar Justin, lalu mencolek dagu Aurora dan diiringi kekehan geli. Aurora yang hendak berdiri, di dudukkan kembali oleh Edgar. "Eits, duduk dulu dong!" Seru Edgar. "Mau kemana sih? Ha?" Tanya Gavin, yang notabenenya adalah ketua dari geng mereka. Mari kita berkenalan dengan ketiga pemuda b******k ini. Gavin, ia adalah anak dari salah satu polisi. Justin anak dari kepala sekolah SMA Cempaka, dan Edgar, dia anak pemilik butik. Mereka anak dari keluarga terpandang, namun kelakuan mereka sangat buruk, tidak jauh beda dengan Saskia. "Ka-kalian, mau apa?" Tanya Aurora panik. "Jangan takut... Gue nggak mau ngapa-ngapain kok, cuma mau nyapa," ucap Gavin, tersenyum licik. Gavin mengacak rambut Aurora yang tadi sudah di ikat hingga berantakan, suara tawa mereka pecah, tawa itu sangat terdengar menakutkan bagi Aurora. "Gavin!" Suara lantang seorang gadis terdengar dari ambang pintu. Sontak mereka berempat menoleh, dan mendapati Megan selaku pacar Gavin yang kini berjalan mendekat. "Lo bertiga, ngapain di sini? Pake pegang-pegang nih cewe lagi," ucap Megan melirik Aurora jijik. Aurora makin panik, Megan juga harus di hindari, mereka semua adalah perundung di sekolah itu. "Lagi main sama boneka, ya nggak Gav?" ucap Justin. Lalu di iringi tawa. Aurora hanya diam, ia tak mau angkat bicara, nanti yang ada masalahnya akan semakin rumit. "Gak jelas banget," ketus Megan, ia melihat ke arah Aurora yang tertunduk. "Lo bertiga keluar sana," lanjut Megan mengusir tiga cowok itu. Setelah Gavin dan dua temannya keluar, Megan memukul meja Aurora kuat Aurora tersentak, tubuhnya merinding ia mengangkat kepalanya, lalu kembali tertunduk saat Megan menatapnya tajam. "Gausah, ke-ga-te-lan! Udah miskin, jelek, gatel lagi," ucap Megan merendahkan Aurora. Sepertinya Megan perlu kaca mata, gadis secantik Aurora malah di katai jelek. Kulit putih, rambut lurus, tubuh yang ideal. Setelah memaki Aurora, Megan melangkah keluar dari dalam kelas tersebut, entahlah dia mau kemana. Aurora yang sedari tadi mengepal tangannya kuat, dan matanya yang berkaca-kaca, akhirnya menangis, ia menangis pelan tanpa mengeluarkan suara, lalu dengan cepatnmenyeka kasar air matanya. Ia mengipasi matanya yang memerah. Ini sudah biasa baginya, selalu di pandang rendah. Untuk apa menangisi hal yang sudah biasa ia alami. Aurora gadis yang kuat. Dengan bertahan di sekolah ini selama dua tahun lagi, Aurora yakin dia bisa lulus dan mendapatkan ijazah. Lalu menjadi dewasa agar bisa meninggalkan rumahnya, tidak perlu ada alasan lagi untuk tinggal bersama dengan ayahnya yang pemabuk. Ia ingin sekali beranjak dewasa agar bisa tinggal sendirian dan mencari pekerjaan, usianya yang masih 16 tahun membuat dia tidak bebas, harus tinggal dan mendapat kekerasan dari sang ayah. ••• Kini waktunya jam istirahat di sekolah Saskia. Setelah guru keluar dari dalam kelas, satu persatu murid juga meninggalkan kelas Saskia ikut berjalan santai ke kantin. Setibanya ia di sana, ia hanya membeli roti dan juga segelas jus melon, ia duduk sendirian, tak ada teman makan dan juga teman berbincang. Meski sendirian, ia tak ambil pusing. Jam istirahat berlalu begitu saja, Saskia kini kembali ke kelas saat perutnya selesai di isi. Dan melanjutkan pelajaran seperti biasa. Setengah hari ia lewati, kini Saskia mengumpulkan bukunya, bersiap untuk pulang setelah jam ketiga. Ia menyelempang tas merahnya, tidak lupa aksesoris yang biasa ia gunakan, sebuah earphone bluetooth. Tak ada semangat hidup di wajah Saskia. Ini benar-benar membosankan. Pergi sekolah, diam, makan, lalu pulang. Gadis itu berlenggak keluar dari sekolah, pasang mata dari murid-murid melihatnya hingga ia menghilang. Mereka semua berbisik-bisik, semua yang ada pada tubuh Saskia di bicarakan. Tak terlewatkan, karena hanya dia yang bergaya seperti itu di sekolahan tanpa ada yang menegur atau memberikan sanksi. Mobil hitam Saskia sudah menunggu, saat Saskia semakin dekat dengan mobil, seorang supir membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Saskia naik dengan loyo, menghempaskan tubuhnya di kursi mobil yang empuk. Dengan musik yang keras dari earphone menyeruak indra pendengarannya. Setelah mobil di tutup, ia melihat keluar kaca mobil. Melihat pemandangan indah para murid lain yang pulang dengan jemputan dari orang tua mereka. Meski tidak semuanya dengan orang tua, Saskia tetap iri melihat mereka yang pulang dengan tawa bahagia terlihat seperti banyak cerita yang mereka alami di sekolah. Saskia memutar bola matanya malas, lalu menghela nafas, ia iri melihat semua itu. Mobil Saskia melesat jauh meninggalkan lingkungan sekolah. Gadis itu menutup mata, lebih baik ia tidur. "Pak, ntar kalau udah sampai. Bangunin saya yah?" Ucapnya dengan mata tertutup. "Baik Non," jawan supir itu cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN