"Tampang lo saat ini, ngingetin gue sama om-om m***m lagi ngeliatin ABG semok."
"k*****t!"
"Hahaha."
Bobi berguling-guling di tempatnya, ngakak maksimal, seolah mendengar u*****n Dean barusan adalah satu hal menyenangkan yang dia tunggu seharian ini.
"Lagian tampang lo ngeri banget, mesem-mesem kayak orang kesambet setan, ada apa sih?" Tanya Bobi ingin tahu.
Dean yang tadinya kesal kembali cengengesan, hidungnya mengembang, pipinya merona, mata coklat itu berbinar penuh ceria. Ah, hanya dengan membayangkan kejadain beberapa hari lalu sukses membuat Dean segini senangnya. Tidak menghiraukan Bobi yang mati penasaran di tempatnya, Dean sekali lagi mereka ulang kejadian yang menjadi sumber penyakit gilanya beberapa hari ini.
[D E A N]
"Gimana kalau gue bilang, "Aku cinta kamu, Zade?"
Gue ngeliat Zade tergugu atas penyataan cinta gue yang sejujurnya emang tidak ‘oke’ banget. Seharusnya gue nyiapin something special atau apalah itu namanya untuk nembak dia jadi cewe gue. Ngucapin janji-janji mainstream yang nantinya belum tentu bisa gue penuhin, lalu gue tersadar, gue hidup untuk realita man, di mana hidup tidak selamanya lurus. Gue tidak bisa menjajikan seseorang hidup tenang tanpa masalah dengan gue, tapi gue akan berusaha buat dia senang dengan menghadapi masalahnya bersama gue.
Zade masih diam untuk beberapa detik ke depan, membuat gue was-was. Apa gue terlalu lancang?
"M-maksudnya?" Tanya Zade dengan suara serak, sarat akan kegugupan.
Gue tersenyum menahan kedua tangan untuk tetap di stir mobil dan tidak melenceng untuk memperbaiki poni gadis itu, yang jatuh nakal menutupi wajahnya meronanya.
"Aku cinta kamu, Zade. Ada yang kurang jelas? Atau perlu dengan bahasa lain? Aishiteru, Wo ai ni, Je t'aime, Ana baheki, Ich liebe dich, Saranghae, I love you--"
"Bu-bukan itu..."cicitnya, pipinya memerah karena malu. "Lo lagi nembak gue, nih?"
Suara lembut Zade dan ekpresi malu-malunya membuat gue geli, sehingga kekehan tidak tertahan lolos dari bibir gue.
"Iya, gimana, lo mau kan jadi pacar gue ?"
"Bukannya ini terlalu-"
"Cepat?" Potong gue, Zade mengangguk.
"Malahan, gue rasa ini udah terlalu lama, mengingat betapa meledak-ledaknya perasaan gue ke elo saat ini. Lo tau petasan banting? Nah, lebih parah dari itu!"
Sip, Dean.
Zade terdiam lagi. Dia melirik gue dari ujung matanya, ada keraguan di sana, namun gue tau, dia juga suka sama gue. Gue terlalu percaya diri? Nggak! Cuman berfikir logis, kalau dia ga suka sama gue, pasti dia udah berusaha kabur sedari tadi, buktinya sekarang dia hanya diam, duduk manis di sana dan melirik gue malu-malu kucing.
Dan gue ingat kata-kata orang bijak, ehem. Diamnya wanita adalah emas. Jadi kenapa ga gue gali emasnya dulu, sebelum digali sama orang lain?
So let cut to the case, shall we?
"Karena lo diam, gue anggap diam lo adalah iya... Zade Lunar Almiqdam, now you're mine. So beware, lo akan terjebak selama-lamanya dengan gue." Ucap gue tersenyum lebar.
Si mungil mengangkat kepalanya dan mentap gue dengan dua mata berbinar itu, lama sekali dia menatap gue sampai senyuman manis terulas di bibirnya, dia mengangguk pelan dan senyumannya semakin lebar.
"Lo adalah cowok ter-paling-enggak-romantis-banget, yang gue kenal." Ucapnya masih dengan senyum manis itu.
"Emangnya udah berapa cowok romantis yang lo kenal?" Tanya gue, disertai kekehan kecil karena hati gue yang berbunga-bunga saat ini.
Rasanya pengen lari jingkrak-jingkrak sambil t*******g keliling kompleks, Hahahah.
"Ga ada, hehehe." Zade tertawa kecil, pipinya semakin merona, dia kembali melirik gue yang masih tersenyum lebar ke arahnya.
"Gue pegang omongan lo ya, Dean!" Ucapnya menatap gue serius.
Gue mengangguk mantap.
***
[ A U T H O R ]
"Dean, gue bener-benar harus ngirim lo ke psikiater. Seseorang, tolong! Dean di culik Alien, dia mulai gila!"
Teriakan Bobi kembali menyadarkan Dean dari lamunan indahnya. Teriakan itu melengking, mengalahkan suara tinggi Mariah Carrey yang keselek biji durian.
"Ga usah teriak-teriak boleh kali, bang." Dean menggumam malas melihat mahluk yang heboh di sampingnya. Mereka tengah nongkrong di koridor lantai dua, memperhatikan beberapa junior yang sedang asik menggiring bola di lapangan basket.
"Abisnya, dari tadi gue nungguin lo ngerespon, eh elonya malah senyam-senyam horor, ada apa sih? Jatuh cinta ya?" Tembak Bobi tepat sasaran, dia menaik-turunkan alisnya menggoda Dean yang kini senyum-senyum malu.
Dean memutar badannya ke arah Bobi lalu lompat-lompat tidak jeas memeluk bahu temannya itu.
"Boob, baru tau gue jatuh cinta se indah ini Boob!" Teriak Dean tak tahu malu.
Bobi menyentak lengan Dean yang bersarang di bahunya lalu mendengus pelan, meski begitu senyum tersemat di wajahnya.
"Oh, ya? Berarti gue ada lagu bagus buat lo!"ucap Bobi tersenyum penuh maksud.
"Apa apa!?" Dean tesenyum sumringah.
"Aku lah wanita yang sedang jatuh cinta aa.."
"s****n lo, Bob!" Umpat Dean kesal, kini Bobi kembali ngakak di tempatnya.
Bobi masih saja ngakak, membuat Dean keki. Menggesek kepala cowok itu dengan gemas, Dean beranjak dari sana, sedikit menghentakkan kaki, membuat tawa Bobi semakin keras. Terkadang sifat mereka seperti dua pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri.
"Tau ah Bob, mamam tuh mamam!"
***
Dean berjalan santai, kedua tangannya tersalip di saku celana seragamnya, menyusuri koridor lantai tiga sambil bersenandung pelan. Walaupun dia terlihat santai saat ini, berbanding terbalik dengan hatinya yang gedebag-gedebug tidak karuan. Pasalnya, setelah jadian dengan Zade beberapa waktu lalu, hari inilah Dean kembali bertemu dengan gadis mungilnya, pasalnya dia harus mengurus sesuatu dengan Ayahnya ke Singapura dan baru balik kemaren sore. Jantung Dean semakin dangdutan seiring dengan langkahnya yang makin mendekat ke arah kelasnya. Beberapa langkah dari ruangan kelasnya seseorang di ujung lorong membuat Dean bergidik.
Gadis manis dengan rambut curly sepinggang itu menatapnya dengan murka. Ransel merahnya di sampirkan ke pundak lalu dia berjalan anggun ke arah Dean yang meringis gaje.
"Hey Sepupu!" Sapa gadis itu tersenyum mengejek, mencibir Dean yang masih meringis tidak jelas ke arahnya.
"Begini ya, seseorang yang gue anggap sepupu selama ini. Gue sakit dua minggu, ga dijenguk-jenguk!" Semprot gadis itu sesampainya dia di samping Dean, bibirnya yang di poles lipgloss pink bergerak-gerak.
"Sorry," ucap Dean sama sekali tidak merasa bersalah. "Gue ga ngejenguk lo, karena gue yakin lo bakalan sembuh kok, lo ga bakalan mati, kan lo punya 9 nyawa kaya kucing, meooong!" Goda Dean membentuk tangannya seperti seorang kucing yang sedang merajuk.
Gadis itu akhirnya tertawa, manis sekali, memperlihatkan eyesmile-nya yang menawan.
"Kangen banget gue sama loo, Demaaan!" Dia mengacak rambut Dean gemas.
"Ish, rusak nih rambut gue!" Dean menggerutu, namun tersenyum juga."Gimana, udah baikan? Bunda bilang, lo sempat balik ke Padang beberapa waktu lalu, itu sakit, apa liburan?" Tanya Dean.
Gadis itu mendelik. "Gue berobat kali, emang sekaligus nengokin nenek sih, plusplus liburan, heheh." Cengirnya.
Dean mendengus,"Dasar Lian Lahat!"
"Yee dari pada elo, Deman!"
Mereka akhirnya tertawa karena kekonyolan masing-masing. Berlian Zeladyo, gadis manis itu tersenyum manis ke arah Dean yang kini melirik penampilannya dari atas sampai bawah. Di hapal benar dengan sifat sepupunya yang satu ini, bagaimana tidak, umur mereka hanya terpaut beberapa bulan, dan semenjak kematian Ayahnya yang adalah Paman Dean, Berlian atau Lian—biasanya di panggil—sering menghabiskan waktunya di rumah orang tua Dean, dia bahkan meanggil Zilo dengan sebutan Ayah.
"Itu rok lo makin pendek aja, mau gue tambah ga? Ada tuh bekas daster bunda di rumah!"
Lian mendelik," Yeee, dulu aja, lo bilang gue cute pakai beginian!"
"Itu dulu, Lian Lahat, waktu kita masih bocah banget!"
Seseorang yang baru saja keluar dari kelas mengalihkan perhatian Dean. Gadis itu tampak kaget melihat Deanyang tengah mengobrol asik dengan cewek. Dia mengalihkan pandanga nya, namun malah bertuburukan dengan mata Dean yang berkilat rindu, membuat gadis itu merona malu.
"Eh eh, Lian jangan dekat-dekat, ntar cewe gue cemburu." bisik Dean kepada Lian, matanya sama sekali tidak lepas dari gadis itu, juga senyum menggoda yang tersalip di bibirnya.
Lian mengedarkan pandangannya, lalu berhenti pada seorang gadis yang kini menatap mereka berdua. Gadis itu terlihat cute dengan rambut kuncir kudanya dan seragam AHS yang sedikit kebesaran di badan mungilnya. Manis, tapi kan bukan ini tipe idaman sepupunya yang somplak ini.
"Dia cewe lo?" Tanya Lian heran.
"He'em" sama sekali tidak mengalihkan pandangannya.
"Bukannya, tipe idaman lo yang kaya gue ini?" Lian menggoda, membuat Dean akhirnya mengalihkan pandangannya dan mendesah dramatis.
"Mimpi!" Ucapnya meleletkan lidah.
"Eh, buktinya, lo pernah naksir gue kan!"
Skak.
Ah, itu lagi. Iya, Dean emang pernah naksir sama sepupu seksinya ini. Tipe-tipe Dean selama ini ya seperti Berlian ini. Mungkin karena sudah punya wanita perkasa, blak-blakan di rumah aka bunda, sehingga sekali bertemu cewek seksi-manis menarik seperti Berlian, Dean langsung tertarik.
"Bodo ah!" Dean ngambek, dia berjalan ke arah gadisnya yang masih mematung di sana, namun Berlian lebih dulu berlari ke aeah Zade, menerjang gadis itu dengan pelukan hangat.
"Hey!" Ucapnya semangat, pelukannya erat membuat Zade sesak.
Zade melirik Dean yang tersenyum simpul melihat mereka.
"H-hey!"
Lian melepas pelukannya dan tersenyum manis ke arah Zade yang menatap nya heran.
"Gue Lian, sepupunya Dean. Lo Zade, kan?"
Zade mengangguk, tidak biasa dengan interaksi macam ini.
"Karena lo pacar Dean, berarti lo pacar gue juga." Dia berhenti sebentar, lalu menggeleng, "Eh engga, maksudnya, berarti sekarang lo jadi temen gue!" Dia mengoreksi sebelum tawa Dean meledak.
Zade mengangguk kaku, lalu tersenyum kecil. "Iya," ucapnya, masih belum terbiasa.
"Hati-hati ya sama si Deman, dia emang gitu orangnya!" bisik Lian, dia tertawa saat Dean meliriknya penuh peringatan.
"Deman?" Tanya Zade tertarik, dia menatap Dean yang sekarang sudah berada di sampingnya.
"Dedek Manja, Hahahah!" Tawa Lian pecah, sementara dia sudah berlari kecil menuju kelasnya 12 IPA 1 di ujung koridor,
"Sampai ketemu lagi, Zade!" Lian melambai pelan, lalu semakin menjauh dari mereka.
Kini tinggal mereka berdua. Ugh, great. Zade memutar tubuhnya, mati-matian menahan tawa yang sedari tadi berada di ujung bibir. Dia menatap Dean yang menggeleng malu, jari-jari panjangnya itu mengusap ujung hidungnya, malu banget.
"Deman?" Tanyanya dengan senyum kecil.
"Itu dulu, masa lalu." Elak Dean sambil meringis kecil.
"Oh.." Zade berucap penuh maksud.
Keduanya masih berdiri canggung, tidak tau apa yang harus di ucapkan. Ah, begini ya rasanya, saat berjauhan, ada saja yang ingin di bicarakan, namun saat sudah berjumpa seperti ini, semua kata lenyap begitu saja.
"Tau ga sih," Dean memecah keheningan.
Zade mendongak menatap Dean yang senyum-senyum manis ke arahnya.
"Gue kangen banget sama lo.