"Dean Agif Delmias. Enam puluh, lagi ?"
Dean meringis mendengar suara menggelegar itu, dia menyengir tidak jelas ke arah wanita paruh baya yang kini menyodorkan selembar kertas penuh coretan merah kearahnya. Suara tawa tertahan terdengar dari berbagai penjuru ruangan membuat telinga Dean memanas. Malu.
"Kamu ini, sudah berapa kali saya bilang. Kamu harus serius, UN sudah dekat ini bukan waktunya untuk main-main lagi."
Dean terdiam. Ah, itu lagi, itu lagi. Seharusnya buk Atik bersyukur Dean tidak mendapat angka nol di pelajarannya yang ga penting ini. Lagian, mendapat nilai jelek juga bukan kemauannya kok.Buk Atik menghabiskan sepuluh menit pertama jam pelajaran dengan menasehati Dean. Sementara dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Berkali-kali melirik ke arah belakang bahunya, mendapati gadis mungil itu larut dengan dunia sendiri, tanpa memperdulikan eksekusi Dean yang sedang berlangsung. Ah, setidaknya Dean tidak perlu 'malu-malu banget' di hadapan Zade nanti, gadis itu juga tidak memperhatinkan kok.
Dean mengerang pelan. Biasanya, dia tidak perlu mengerahkan usaha yang berarti untuk menarik perhatian seseorang. Malah terkesan mereka yang mati-matian menarik perhatian Dean. Nah, lain lagi dengan Zade, Dean bahkan terkesan overacting, dan norak alay, namun Zade masih tidak menggubris sinyal-sinyal penuh maksud yang dia kirim.
Berawal dari teror nenek kucing pekan lalu, sampai hari ini. Tidak ada perubahan yang berarti pada hubungan mereka. Zade bahkan masih menolak setiap kali Dean mengajaknya pulang bareng. Selalu saja ada alasan yang menurut Dean tidak masuk akal sama sekali. Dean berasa seperti om-om c***l yang memaksa gadis ABG naik ke mobilnya setiap kali dia menawari Zade untuk pulang bareng. ‘You should see her face, I swear.’ Dean membatin.
"Dean kamu dengar apa yang ibuk bilang?"
Dean tersentak dari lamunannya dan mengangguk, mengucapkan sesuatu tentang dia yang berjanji akan lebih fokus, lalu memutar tubuhnya untuk kembali ke tempat duduk. Dean melirik dari ujung matanya saat dia melintasi bangku Zade, namun gadis itu masih tidak menoleh sama sekali. Dia tengah membaca sesuatu yang di salipkan diantara tumpukan buku pelajaran di mejanya. Dean terkekeh jahil, berniat mengerjai Zade, untuk itu dia menghambur tepat ke kursi kosong di sebelah Zade dan menarik sebuah kabel yang terselip di sela helaian rambut tebal gadis itu.
Zade tersentak dia menoleh dan menatap Dean dengan mata membulat kaget.
"Ckckckck." Dean berdecak sambil menggeleng geli. "Za, lo tau kan kita lagi dimana, lo harusnya fokus, UN udah dekat-"
Zade memutar bola matanya, antara malas dan geli. "Gue rasa itu nasihat buat lo deh." Ucapnya dengan wajah innocent yang dibuat-buat.
Dean meringis, dia melempar headset Zade ke atas meja dan menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya, menghela nafas kasar.
"Oke, oke cukup tau lah ya.." gumam Dean, lalu dia menengadah melirik Zade, membuat cewek itu gelagapan, tidak biasa mendapat tatapan segitu intensnya. Detik berlalu, namun Dean masih menatapnya dari arah bawah, dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Zade, bahkan kini senyum manis tersalip di bibirnya. Membuat Zade berkali-kali menelan ludah dan menggerak-gerakkan bola matanya tak fokus.
"Lo ngeliat apa sih!?" Cicit Zade tidak tahan dengan tatapan Dean.
"Oh nggak." Dean tersenyum manis. "Gue cuman lagi mikir, apa sih yang bisa ngalahin indahnya mata lo?"
Asdfghjkl. Zade merasa pipinya memanas.
Melihat Zade yang salah tingkah dan memerah karena ucapannya, membuat Dean terkekeh, gemas melihat kelakuan cewek di depannya. Dengan gerakan luwes dia bangkit dan berjalan ke arah tempat duduknya, setelah sebelumnya mengacak rambut Zade sayang.
"Dasar mungil!" Ucapnya, lalu berlalu, meninggalkan Zade dengan pipi memanas dan jantung yang menghentak gila-gilaan.
***
Saat istirahat tiba, Zade melangkah santai melewati koridor lantai dua, dia diminta menghadap wakil kesiswaan mengenai naskah cerpennya yang baru-baru ini didaftarkan untuk lomba. Zade tentu senang sekali menurut wakil kesiswaan, pengumuman lomba itu beberapa hari lagi. Walaupun tidak berharap banyak untuk menang, namun Zade tetap senang bisa menyalurkan hobinya selama ini. Langkah santainya terhenti saat melewati beberapa ruangan di sebelah kanan lorong. Ada tiga ruangan berderet di sana, terpisah dari ruangan kelas yang lain, pintunya tampak tertutup rapat, kecuali ruangan sebelah kiri. Zade menyipit membaca papan di depan pintu tersebut.
Namun, belum sempat dia mendekat untuk membaca kalimat itu lebih jelas. Bulu kuduknya meremang, lututnya terasa lemas tak bertenaga. Sesuatu terasa mencekik lehernya, membuat Zade terjatuh meringkuk di lantai dan mulai megap-megap mencari udara.
"Le-pas."rintihnya kesakitan, namun belitan itu semakin kuat, sehingga Zade merasa akan mati saat itu juga. Matanya bergerak liar, mencari-cari kalau ada seseorang di sekitarnya. Namun tak ada, tidak ada yang dapat di mintai pertolongan. Ruangan ke tiga itu semakin terbuka lebar, menampakan pemandangan mengerikan yang membuat Zade menutup matanya erat. Belitan di lehernya semakin menjadi-jadi. Saat Zade berfikir hidupnya akan berakhir di sini, dibunuh oleh hantu, sebuah suara terdengar, lalu disusul oleh sentuhan halus di pundaknya, membuat belitan kuat itu terlepas. Zade merasa ada cahaya yang membuat matanya silau.
"Za.." suara itu terdengar cemas. Membuat Zade mau tak mau membuka bola matanya dan menemukan wajah khawatir Dean, cowok itu menatapnya takut-takut.
"B-bawa gue pergi." Pintanya dengan lirih, membuat Dean dengan sigap mengangkat tubuh mungilnya ke gendongan.
Semua mata menatap Dean yang setengah berlari menggendong Zade ke arah UKS, beberapa menjerit heboh dan beberapa lagi merengek tak jelas. Dean tidak memperdulikan itu, dia menatap cemas ke arah Zade yang terlihat pucat. Setibanya di UKS Dean membaringkan Zade di ranjang, jari-jarinya melap dahi Zade yang berkeringat dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah dan lehernya. Dean segera mencari air minum untuk Zade dan membantu meminumkan. Dia terlihat sangat khawatir. Bagaimana tidak, dia yang sedang berjalan santai mencari keberadaan cewek itu menemukan Zade tengah meringkuk di lantai, mencekik lehernya sendiri. Itu adalah pemandangan terhoror yang pernah Dean saksikan.
"Lo ga papa?" Tanya Dean beberapa menit kemudian, dia duduk di tepi ranjang, mengenggam tangan Zade, takut kalau-kalau cewek itu kembali mencekik lehernya sendiri.
Zade mengangguk lemah. "Makasih udah bawa gue ke sini." Ucapnya berusaha tersenyum, walaupun dia tidak tau lagi bagaiman menjelaskan kejadian barusan.
Dean tampak ragu-ragu saat menanyakan, "Kenapa lo bisa di sana dan maaf ... kenapa lo nyekik leher lo sendiri Za?"
Zade mendesah, menutup matanya letih. Kejadian ini tidak sekali, dua kali dialaminya, di saat dia merasa ada orang yang sedang mencekik dirinya, orang lain akan melihat dia sedang mencekik dirinya sendiri. Tidak itu saja, dulu Zade bahkan pernah berjalan sambil tidur tau-tau saat bangun dia sudah berada di kuburan. Hal ini terjadi kalau ada mahluk halus yang tidak tenang dan berusaha meminta pertolongannya, namun dengan cara yang salah, seperti yang di lantai dua tadi.
"Gue ga sebodoh itu utuk mencekik diri sendiri, De." Zade berucap sedikit malas.
"Terus?"
"Lo yakin mau tau?" Ada kilat jenaka di kata Zade, melihat Dean yang mulai merapat ke arahnya.
Dean mengendik acuh. "Kalau boleh.." cicitnya.
"Lo tau sama Marisa?" Dean mengeleng. "Dia murid SMA ini beberapa tahun yang lalu, sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu." Ucap Zade meneruskan.
Dean menatapnya bingung.
"Dia meninggal karena overdosis, juga di sekolah ini beberapa tahun yang lalu."
Deg.
Dean segera mengangkat kepalanya, menatap Zade yang kini terlihat menerawang, di lehernya ada bekas lilitan merah.
"Barusan dia minta tolong sama gue. Dia mau gue ketemu seseorang dan nyampein sesuatu sama dia."
"Nyampein apa?"
Zade tersentak, dia berhenti sebentar, menatap Dean yang menatapnya dengan ekspresi takut bercampur penasaran. Lalu Zade tersenyum kecil, membuat kedua mata indahnya melengkung menyerupai bintang sabit.
"Rahasia. " Ujarnya sambil mengedip, lalu dia berusaha bangkit dari tidurnya. Dean beranjak memberi jalan untuk Zade.
"Balik ke kelas yuk. Marisa barusan ke sini, minta maaf karena udah belit leher gue, padahal niatnya cuman meluk." Zade tertawa kecil, tidak memperdulikan Dean yang menatapnya horor.
"Terus, lo mau bantuin?" Tanya Dean saat Zade memperbaiki tali sepatunya.
"Hmm. Ga ada pilihan lain." Celetuk Zade diikuti hela nafas pasrah. Dia berdiri dan keluar dari ruangan UKS, diikuti oleh Dean.
Dean memperhatikan Zade yang berjalan di depannya. Cewek itu beberapa kali merabai lehernya, Dean tadi melihat ada goresan kecil di sisi kanan lehernya. Tepat sebelum Zade melangkah menaiki tangga menuju lantai tiga, Dean mencegat tangannya, membuat cewek itu berhenti dan menatapnya heran.
"Kenapa?"tanya Zade heran.
Dean berdehem canggung, mengeluarkan plester dari saku baju seragamnya dan membuka kemasan itu, sementara pandangannya tak lepas dari Zade.
"Maaf." Dean menyentuh helaian rambut Zade, menyelipkannya di belakang telinga gadis itu, lalu memasangkan plester yang tadi dipegangnya.
Zade terpaku, membiarkan Dean menyentuh lehernya dengan tanganya yang terasa dingin di permukaan kulit lehernya, membuat Zade menyerngit saat ujung jari Dean tidak sengaja menyentuh kulit lehernya. Saat pekerjaannya selesai, Dean melangkah menjauh, masih menatap Zade, lalu dia tersenyum manis.
"Nanti gue anter ya?"
Zade terpaku sejenak melihat lesung pipi cowok manis itu, lalu mengangguk canggung.
"Oke."
***
[Z A D E]
Aku menoleh melihat Dean yang sedang memperhatikan sesuatu di ujung sana. Di sudut cafe Cangkir, tempat kami berada saat ini, yangannya meraih gelas juice di depannya- tanpa mengalihkan perhatiannya dari objek yang semenjak beberapa jam lalu kami amati, lalu menenggak jusnya.
"Kayaknya dia masih lama di sini." ucap Dean lalu menoleh ke arahku, membuatku kelagapan karena ketahuan sedang memperhatikannya. Dean tersenyum miring, aku memutar bola mata.
"Za harusnya lo merhatiin yang di sono, bukannya merhatiin gue. Ckckck."
Aku merasa pipiku memanas karena godaan Dean. Berdehem canggung, aku membalas ucapannya.
"Siapa yang merhatiin elo!" Elakku, lalu kembali menatap pria di sudut ruangan ini. Dean mendengus geli, lalu kembali memusatkan perhatiannya kepada objek kami.
Sepulang sekolah tadi, aku dan Dean—yang memaksa ikut—pergi mencari orang yang dimaksudkan oleh Marisa. Tidak sulit menemukannya, karena Marisa membantu kami.
Ngomong-ngomong, Marisa adalah hantu yang tadi membelit leherku dan meminta pertolongan. Aku memang tidak pernah mau ikut campur dengan urusan mereka. Walaupun beberapa kali aku selalu kalah karena tidak tega menolak mereka dan sebagian lagi karena takut selalu diganggu. Namun aku jarang sekali mengurusi masalah hantu-hantu ini. Lain lagi dengan Marisa, ada sesuatu yang membuatku ingin menolongnya.
"Eh-eh, ceweknya udah pergi." ucap Dean.
Benar saja, gadis yang sedari tadi menemani Leo, pemuda yang di maksudkan Marisa, bangkit dari duduknya. Dia mencium pipi pemuda itu singkat lalu melenggang keluar dari cafe. Saat gadis itu tidak terlihat lagi, kami kembali memperhatikan Leo. Dia berumur sekitar 22 atau 23 tahun. Wajahnya panjang dan putih bersih, kacamata berbingkai hitam bertengger di hidungnya. Dia pria yang menarik, pantas saja Marisa dulu sangat menyukainya. Ah, bahkan sampai sekarang.
"Sekarang apa?" Tanya Dean, kedua alisnya mengkerut bingung.
"Lo tunggu di sini-" Dean sudah hendak memprotes, namun aku mengangkat tanganku memintanya berhenti. "Biar gue yang selesain ini sendiri." Ucapku, membuatnya mendesah pasrah. Punggungnya merosot di sandaran sofa, lalu dia mengibaskan tangannya memintaku untuk cepat pergi.
Aku mengabaikan Dean, lalu melangkah mendekati Leo. Dia tampak terkejut saat melihatku tersenyum ke arahnya, dan tanpa tahu malu duduk di sebrang kursinya.
"Kak Leo." Ucapku sambil mengulurkan tanganku ke arahnya. Leo tampak heran, namun tetap menyambut uluran tanganku.
"Namaku Zade. Aku dari AHS."
Wajah Leo langsung berubah, rahangnya mengeras dan dia sudah bersiap-siap bangkit dari tempatnya, saat aku melontarkan sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
"Kenapa jauh-jauh mencari, kalau nyatanya, apa yang kamu butuhkan tepat berada di depanmu, Le?"
Leo berbalik, menatapku dengan dua mata melebar. Berbagai emosi bercampur di sana.
"Kamu siapa? Dari mana kamu tau itu?" tanyanya heran.
"Bukan siapa-siapa. Kakak, masih ingat pertanyaan itu?" Leo mengangguk lalu kembali mendudukkan dirinya di depanku.
"Kak Marisa datang kepadaku. Dan ingin aku menyampaikan sesuatu kepada kakak." Ucapanku membuat mata hitam Leo melebar tidak percaya namun dia tidak menyanggah ucapanku.
"Dia bilang-"
***
Dean menutup pintu mobilnya, lalu menatapku yang masih tersenyum ke arah luar. Dimana Leo berdiri sambil menatapku penuh terimakasih. Pandangannya yang tadi terang-terangan mengatakan bahwa aku sudah gila, kini berubah bersahabat dan sendu dalam waktu bersamaan.
Marisa melambai pelan, seiring dengan dirinya yang mulai menghilang bersama angin. Dia bergumam terimakasih berulang kali kepadaku. Senyuman manis menghiasi wajah putih pucatnya.
Aku tidak akan bisa melakukan apapun tanpamu, dan dia tidak akan pernah tau apa yang kurasakan selama ini. Dan, apa penyebab kematianku yang sebenarnya. Dia akan tetap membenciku, mengenangku sebagai seorang yang putus asa dan tidak menghargai hidupku. Terimaksih Zade, aku tidak tau bagaimana bisa membalas kebaikanmu.
Aku mengangguk pelan. Melihatnya menatap ke arah Leo penuh cinta. Merasakan perutku melilit menyadari betapa tidak adilnya takdir berpihak kepada mereka berdua. Namun, setidaknya aku sudah melakukan apa yang seharusnya Marisa lakukan atau Leo lakukan beberapa tahun lalu. Mereka adalah alumni AHS, sepasang sahabat yang saling memendam cinta satu sama lain. Tidak ada satupun dari mereka yang berani menyampaikan perasaannya. Sampai saat Marisa meninggal karena kecelakaan obat pun, Leo masih tidak tau perasaan Marisa, cowok itu malah beranggapan Marisa bunuh diri dan meninggalkannya begitu saja. Sementara mereka berjanji untuk selalu bersama.
"Sekarang gue tau, apa yang Marisa suruh bilang sama cowok itu." Suara Dean membuyarkan lamunan ku. Aku menoleh ke arahnya dan sedikit menggigil melihat tatapan tajam dari dua bola mata indahnya itu.
"Apa?"
"Aku cinta kamu, kan?"
Jantungku berdegup kencang, tidak tahu malu. Padahal Dean hanya mengutip apa yang ada di pikirannya. Kenapa aku malah mengartikan dia sedang menyatakan perasaanya saat ini?
Aku mengangguk kaku. Dean masih belum mengalihkan pandangannya.
"Berarti tujuan Marisa sama ama gue ya.."
Heh?
"Maksudnya?"
"Gimana kalau gue bilang, 'Aku cinta kamu, Zade?'"